The Cursed Wife & God'S Blessed Husband

The Cursed Wife & God'S Blessed Husband
Tiba Di Tempat Tujuan


__ADS_3

SHEN YIN tidak langsung menjawab. Makhluk entitas di luar jendela yang awalnya menjilat kaca pun kini menyipitkan mata. Sepertinya merasakan aura samar dari kalung berliontin pedang mahoni milik Yi Er.


Shen Yin khawatir jika makhluk itu berubah impulsif dan menjauhkan tangan Yi Er. "Bukan apa-apa. Jangan menyentuh jendela. Terkadang, apa yang aku lihat tidak mampu kamu rasakan," katanya.


"Eh? Tapi ..." Yi Er sepertinya melihat bayangan samar di luar kaca jendela bus di dekat Shen Yin. Seperti ada sesuatu. "Aku melihat sesuatu yang aneh."


Mendengar itu, Shen Yin justru telah bertekad untuk tidak memberi tahu apa-apa. Dia menyentil dahi gadis itu. "Bukan apa-apa. Kembalilah tidur dan jangan menebak apa pun."


"Ah, sakit!" Yi Er sedikit mengerang dan melihat Shen dengan aneh. "Kamu sangat pelit."


Yi Er mengerutkan kening dan melihat kembali jendela bus tapi tidak apa-apa, hanya beberapa pohon dan kegelapan.


"Aneh, rasanya tadi aku melihat sesuatu," gumamnya. Yi Er tidak menyadari pada saat Shen Yin menyentil dahinya, sebuah cahaya samar muncul di tangan gadis itu.


"..." Shen Yin tidak berkata-kata lagi.


Dia baru saja menutup penglihatan Yi Er dari makhluk entitas tersebut. Berbeda dengan makhluk halus lainnya, entitas bisa terlihat oleh orang biasa. Jadi Shen Yin tidak mau Yi Er ketakutan saat melihat wajah menyeramkan makhluk itu.


Akhirnya, Yi Er kembali melanjutkan tidurnya. Namun kali ini dia tidak bersandar di bahu Shen Yin karena khawatir gadis itu akan merasa tidak nyaman.


Sementara Jun Ye yang duduk di kursi depan yang sejajar dengan Shen Yin, wajahnya sudah pucat lebih awal. Dia tak berani menoleh ke arah jendela yang ada di sampingnya. Mendengarkan percakapan pendek Shen Yin dan Yi Er, dia semakin aneh.


Apakah Shen Yin tidak takut tentang makhluk yang ada di luar sana? Pikirnya.


Hingga akhirnya, waktu diperjalanan terus berlalu dan mereka hampir tiba di daerah pedesaan menuju hutan perkemahan. Semua siswa sudah tertidur, kecuali Shen Yin. Gadis itu tak bisa tidur sama sekali karena suara yang berisik terus menerus terdengar di sampingnya.


Tentu saja makhluk entitas itu masih ada di luar sana dan belum menyerah pada Shen Yin yang terlihat memiliki aura yang menggoda.


Suasana di dalam bus wisata yang tenang tiba-tiba berubah saat sopir yang memegang setir pun langsung menginjak rem dan memutar setir ke arah lain.


Para murid dan guru pembimbing di bus tersebut terbangun dan rasa kantuk menghilang setelah mengalami goncangan.


"Ada apa ini? Kenapa bus tiba-tiba saja berhenti?" Salah satu murid yang duduk di depan penasaran.

__ADS_1


"Aku pikir aku akan mati malam ini." Suara lain juga terdengar ketakutan, panik dan sedikit bingung.


Yi Er juga terbangun dan mulai menjadi gadis penggosip. Dia mengumpulkan berita dari mulut beberapa murid. Shen Yin juga penasaran dan mengerutkan kening. Dia memilih bangkit dan berjalan ke depan untuk menghampiri Guru Ling yang kini ekspresinya sedikit salah.


"Guru, apa yang terjadi?" tanya gadis itu.


"Ah, ini ... Guru juga tidak tahu," jawab wanita itu. "Tiba-tiba saja supir berkata jika dia melihat seseorang berguling dari atas dan jatuh ke hutan," jelas Guru Ling.


Jalanan yang mereka lewati kali ini memang diapit oleh lereng yang cukup terjal tapi dipenuhi oleh pepohonan dan juga tanaman hijau sehingga tidak khawatir akan terjadi longsor. Sementara di sisi lain jalan, pepohonan tinggi dan hutan lindung terlihat.


Meskipun begitu, jalanan tersebut sering dilewati orang-orang dan ada banyak lampu penerangan.


"Satu kilo meter lagi kita akan sampai di desa. Ini hampir jam sepuluh malam dan kita harus membuat tenda besok pagi," kata Guru Ling lagi. Dia tidak memperhatikan jika Shen Yin sedang mencari tahu apa yang terjadi.


Dia merasakan aura dingin di luar. Jelas sosoknya manusia tapi memiliki tubuh dingin, bau darah serta sedikit aroma air mayat.


Shen Yin mengerutkan kening lagi dan berpikir jika ini ada hubungannya dengan ....


"Ada apa?" Tiba-tiba saja Jun Ye berdiri di belakang Shen Yin dan menepuk bahunya.


Shen Yin menggelengkan kepala. Dia juga tak bisa mengatakan pada siapapun tanpa melihatnya lebih dulu. Pada akhirnya, semua murid tenang kembali.


"Oke, kembali ke tempat duduk masing-masing. Kita lanjutkan perjalanan," kata guru pembina yang lain. Lalu guru itu menoleh ke arah si supir bus wisata yang belum pulih dari rasa terkejutnya. "Apakah kita bisa melanjutkan?" tanyanya.


Supir paruh baya yang telah berpengalaman itu mengangguk ringan. "Tentu saja, bukan masalah," jawabnya positif.


Ini jelas pertama kali bagi supir itu melihat seorang pria berguling dari atas bukit yang cukup terjal, lalu sempat berhenti di tengah jalan sambil melihat ke arah bus yang datang.


Supir itu ketakutan bukan karena kemunculannya yang tiba-tiba, melainkan pria yang berguling dari atas bukit itu memiliki mata merah darah, taring dan juga kulit pucat seperti mayat.


Bagaimana mungkin supir itu tidak takut?


Shen Yin akhirnya membaca pikiran dan gambran yang ada pada supir tersebut. Tebakannya ... memang benar.

__ADS_1


Dia menghela napas dan berbalik, melirik Jun Ye yang berwajah sedikit pucat dan kurang tidur. "Jaga darahmu dengan baik di masa depan," katanya.


"..." Jun Ye tidak tahu kenapa Shen Yin berkata demikian. Apa hubungannya bus yang tiba-tiba behenti dengan darahnya?


Shen Yin sudah duduk kembali di tempatnya dan Yi Er langsung melayangkan banyak pertanyaan. Tapi Shen Yin menjawabnya dengan kata-kata pendek. Makhluk entitas yang menempel di kaca jendela bus kini sudah pergi begitu saja. Entah sejak kapan.


Sepertinya, makhluk ini masih sedikit takut dengan para vampir.


Vampir mungkin manusia yang meminum darah dengan ritual memperpanjang usia dan diberkahi wajah rupawan. Tapi tubuh mereka jelas sudah mati rasa, tak ada detak jantung, darah mendingin, kulit pucat dan banyak tanda-tanda lainnya.


Menjadi vampir berarti berani untuk mati dan hidup sebagai cangkang tanpa jiwa sempurna.


Akhirnya, perjalanan dilanjutkan dan bus wisata tiba di jalan pedesaan yang cukup luas. Setidaknya jalanan selalu dirawat dengan baik agar para wisatawan yang datang tidak akan merasa bosan.


Para pengurus di sana telah menunggu dan menyambut kedatangan mereka dengan baik. Di saat Shen Yin menginjakkan kaki di jalan berlumpur yang sedikit basah, rasanya seperti ada dunia baru menghampirinya.


Dia jarang sekali bepergian ke tempat-tempat yang lebih dominan dengan tanah, rerumputan dan bebatuan khas pedesaan lama.


Meski beberapa murid mengeluh tentang tempatnya yang tidak sebagus rumah peristirahatan di pinggiran kota lain, tapi penginapan yang ada di pedesaan sudah dikhususkan untuk para tamu dan wisatawan.


Para pembina memberikan beberapa nasihat dan arahan sebelum akhirnya pergi ke kamar yang telah disiapkan.


Satu kamar bisa ditempati oleh tiga orang. Yi Er dan Shen Yin selalu bersama dan ada satu siswi lainnya yang cukup dekat dengan mereka.


Shen Yin ternyata sudah berbaring di tempat tidur setelah meletakkan tas berisi pakaian dan peralatan pribadi.


"Xiao Yin, tidakkah kamu ingin makan sesuatu? Aku lapar." Yi Er menyentuh perutnya yang keroncongan.


"Aku juga. Aku hanya makan sedikit saat di dalam bus. Selera makanku tidak bagus saat berada di dalam mobil," kata siswi sekamar yang ada di samping Yi Er.


Shen Yin membuka matanya sedikit dan menarik selimut sambil membelakangi mereka.


"Aku tidak lapar. Kalian bisa makan saja," kata gadis itu.

__ADS_1


"..." Yi Er dan siswi sekamar tidak tahu apa yang terjadi dengan Shen Yin. Tampaknya, gadis itu sedikit pucat? Pikir keduanya.


__ADS_2