
JUN HAORAN dan Jun Haobei melihat gelagat Shen Yin yang aneh pun mau tidak mau mengerutkan kening. Keduanya melihat gadis itu pergi. Toilet hanya ada di lantai pertama, butuh waktu cukup lama bagi Shen Yin untuk pergi ke sana.
"Kakak, apakah dia baik-baik saja?" tanya Jun Haoran merasa ada yang salah dengannya.
"Aku akan memeriksanya." Jun Haobei bangkit dari duduknya dengan ekspresi yang masih datar, namun hatinya penuh tanda tanya.
Jun Haoran mengangguk. "Pergi, pergi. Kamu adalah tunangannya. Jangan biarkan dia kecewa. Kakek sangat antusias saat tahu dia adalah tunangan yang telah ditetapkan oleh para tetua lama di masa lalu. Cepat, cepat!" Dia mengusir.
"..." Jun Haobei tidak berdaya melihat antusias adiknya dan tersenyum. "Tunggu di sini dan jangan ke mana-mana."
"Aku tahu."
Segera, Jun Haobei pun meninggalkan meja dan pergi ke mana Shen Yin berada saat ini.
***
Di toilet restoran.
Shen Yin menuju salah satu wastafel. Setelah beberapa pengunjung datang dan pergi untuk mencuci tangan atau lain sebagainya, Shen Yin berpura-pura mencuci berkumur.
Ketika para pengunjung sudah tidak ada di sana lagi, Shen Yin menyentuh mata kanannya yang kesakitan. Dia menjepit poninya ke samping sebelum melihat ke cermin wastafel.
"Kenapa seperti ini?" gumamnya.
Iris mata kanan Shen Yin saat ini masih menunjukkan iris merah darah samar. Meski tidak terlalu terlihat aneh, namun dia merasa tidak nyaman.
Arah keluar dari kelopak mata, sedikit perih.
Akhirnya, Shen Yin membasuh sekitar mata kanannya, membersihkan darah yang masih tersisa.
Di saat itu pulalah, dia berpikir lagi tentang adegan berdarah yang dilihatnya dari tubuh Jun Haoran.
"Ini merepotkan. Mungkinkah kutukan pada diriku mampu mengubah nasib keseluruhan keluarga Jun?" gumamnya lagi mulai serius.
Shen Yin mulai benci jika ketergantungan ini muncul. Mengandalkan orang lain dan meminta bantuan mereka, terlihat lemah di matanya. Dia suka melakukan apapun yang diinginkan. Tapi tidak bergantung pada orang lain secara khusus.
Tak lama kemudian, Shen Yin mendengar langkah di luar toilet. Dia buru-buru membersihkan sisa darah di sudut mata kanannya dan mengambil tisu wajah dari saku rok sekolah. Lalu jepit rambut yang menjepit poninya segera dilepaskan.
Tanpa diduga, orang yang datang tak lain adakah Jun Haobei.
__ADS_1
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya pria itu.
Shen Yin meliriknya dari cermin wastafel dan mengangguk ringan. "Bukan masalah."
"Ada apa dengan matamu?" Pria itu curiga.
"Bukan apa-apa. Ini hanya masalah kecil." Shen Yin tidak mau pria itu tahu tentang masalah matanya yang berdarah.
Tapi siapa yang tahu, Jun Haobei segera maju dan berdiri di dekat Shen Yin yang membelakanginya. Dia membalikkan tubuh gadis itu dan mencubit dagunya dengan gerakan lembut.
Shen Yin tidak siap untuk menepis dan pada akhirnya terperangkap di dekat tubuh Jun Haobei. Pinggangnya dipeluk. Lalu dagunya dicubit lembut. Saat ini aura di tubuh Jun Haobei penuh dengan kesombongan dan rasa percaya diri.
Aura ungu keemasan yang dilihat Shen Yin dari tubuh Jun Haobei cukup tirani namun juga menenangkannya.
"Xiao Yin ... Kita adalah tunangan dan juga partner. Masalah ini, tolong jangan sembunyi dariku," bisiknya. "Aku mencium bau darah di tubuhmu. Apakah mata kananmu terluka?” tebaknya.
"Bagaimana kamu bisa menebak?"
"Karena aku pintar."
"..." Shen Yin tidak menduga jika Jun Haobei akan begitu narsis.
Shen Yin menghentikannya dan ekspresinya langsung menggelap. "Aku baik-baik saja."
"Aku akan percaya jika melihatnya sendiri."
Pria itu memiliki tenaga yang lebih besar dari pada Shen Yin sehingga mudah untuk menyingkirkan poni yang menutupi mata kanannya.
Namun Shen Yin segera memejamkan mata, berusaha untuk menunduk dan menghindar. Tapi masih gagal.
"Buka matamu." Jun Haobei tersenyum, sedikit menggoda. Dari dekat, wajah gadis ini memang cantik. "Sayang, buka matamu," bisiknya.
Sekuat apapun Shen Yin bertahan, pada akhirnya kesal juga ketika dipanggil 'sayang' oleh pria itu. Apakah dia dan pria itu begitu intim hingga memasuki tahap panggilan yang cukup ambigu.
Jadi, Shen Yin akhirnya membuka mata tanpa mengingat jika mata kanannya masih memiliki iris merah darah samar.
"Jun Haobei, hubungan kita tidak sedekat itu. Tolong perhatikan citramu!" gumamnya seraya menggertakkan gigi.
Jun Haobei tidak menimpali perkataannya dan memperhatikan iris mata kanan Shen Yin. Namun tidak ada yang aneh. Iris mata kanan Shen Yin yang awalnya kemerahan kini normal kembali setelah Jun Haobei menyentuh sudut matanya.
__ADS_1
"Yah, tidak apa-apa. Apakah masih sakit?" tanyanya.
Shen Yin terkejut dan akhirnya diam. Dia tidak merasakan sakit lagi di mata kanannya setelah Jun Haobei menyentuh sudut matanya.
Dia pun menggelengkan kepala.
Terdengar jika pria itu akhirnya terkekeh dan merasa sangat bangga. Sekarang dia akhirnya mengerti tentang kemampuannya sendiri.
Setelah meminum pil pencuci sumsum tulang malam itu, Jun Haobei merasa pikirannya jernih, napas ringan, tubuh bersih dan yang lebih penting, kakeknya memberi banyak pengetahuan tentang dunia supernatural.
Pada akhirnya, Shen Yin akan tetap bergantung padanya di masa depan. Hanya dirinya yang bisa mengatasi masalah gadis itu. Secara alami, Jun Haobei merasa bangga.
Sepertinya hubungan pertunangan ini akan berjalan dengan baik di masa depan.
"Apa yang kamu lakukan padaku?" tanya gadis itu.
"Tidak ada. Hanya menyentuhnya saja. Ini mungkin keajaiban." Jun Haobei terlihat polos.
Shen Yin ingin memuntahkan darah mudanya. Keajaiban pantatku! Ejeknya dalam hati.
Di mana itu keajaiban? Semuanya hanya omong kosong semata. Jika bukan karena aura ungu keemasan yang memancar dari tubuh Jun Haobei, Shen Yin berpikir mata kanannya tidak akan sembuh secepat sekarang.
"Ayo, makan malam sudah tiba," kata Jun Haobei.
Keduanya segera kembali ke meja. Jun Haoran sudah menunggunya dan bertanya tentang kondisi mata Shen Yin. Untuknya Shen Yin mencuci wajahnya saat itu dan Jun Haoran percaya.
Sambil makan malam, ketiganya mengobrol tentang penulis buku Deep Story yaitu Li Nuo. Jun Haoran memiliki banyak kesan tentang penulis itu dan berkata orangnya sangat ramah.
"Little Rabbit memang dekat dengan Lan Miao. Tapi aku tidak pernah bertemu dengannya. Sayang sekali." Jun Haoran mengerutkan kening. "Namun sahabatnya itu tidak terlalu baik seharusnya. Tapi aku tidak tahu mengapa, Little Rabbit mau berteman dengannya."
Shen menyimak semua cerita yang diketahui oleh Jun Haoran.
"Aku adalah penggemarnya dan telah mempromosikan novelnya secara luas hingga dikenal banyak pembaca. Tapi siapa yang tahu dia akan meninggal setelah novelnya difilmkan? Ini kabar yang menyedihkan."
Jun Haoran telah membaca novel itu sebelumnya dan sangat bagus. Karena itu dia mencoba untuk membiarkan rumah produksi film meninjau ceritanya lebih dulu.
Tapi setelah Li Nuo mendapatkan banyak popularitas, berita bunuh dirinya langsung membuat Jun Haoran tidak makan dengan baik selama beberapa waktu.
"Aku tidak percaya jika Little Rabbit menyerahkan semua kerja kerasnya pada Lan Miao. Lan Miao ini jelas bukan orang baik."
__ADS_1
"Kenapa kamu selalu mengatakan jika Lan Miao bukan orang baik?" tanya Shen Yin seraya menyipitkan mata.