
KETIKA SHEN YIN fokus pada pikirannya sendiri, sosok Jun Haobei sudah muncul. Pria itu menegur penjaga pintu restoran yang kini wajahnya berubah warna (memiliki perasaan campur aduk).
Penjaga pintu itu jelas tidak menyangka jika gadis yang baru saja dia usir sebagai orang miskin tersebut, ternyata merupakan orang penting salah satu kartu hitam di restoran.
Ada tiga jenis kartu utama di restoran tersebut. Kartu VIP perak, VIP emas dan VIP hitam. Jika pelanggan memiliki kartu VIP hitam, maka pemilik restoran telah memperlakukannya dengan sangat hormat.
Oleh karena itu, penjaga pintu tadi terkejut saat melihat Jun Haobei menanyakan tentang gadis sekolah yang baru saja datang.
Wajahnya sungguh pucat saat ini. Jika dia kehilangan pekerjaan, hidupnya selesai. Dia tak bisa sombong di luar ataupun pada orang-orang yang telah dia singgung.
Bahkan jika itu hanya penjaga pintu restoran binatang lima yang terkenal di ibu kota, status seorang pelayan sudah sangat baik di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.
"Ini bukan tempat di mana kamu bisa sombong. Identitas gadis itu bahkan lebih baik darimu," kata Jun Haobei pada si penjaga pintu yang kini gugup.
Setelah berkata demikian, Jun Haobei melihat ke arah di mana Shen Yin berada. Gadis itu tidak memiliki ekspresi yang menyenangkan, sedikit pucat dan bahkan linglung di tempat.
Jun Haobei mengerutkan kening. Si kecil ini pasti tidak bahagia. Dia langsung menghampiri gadis itu dan meraih tangannya.
"Jangan khawatir, hal ini tidak akan terjadi lagi," ujarnya.
"..."
Shen Yin sepertinya mulai mengerti jika arti tatapan dan perkataan pria itu, sepenuhnya salah paham.
Shen Yin tidak memedulikan perkataan si penjaga pintu restoran yang menyebalkan. Dia hanya sedikit tidak berdaya dengan jiwa gelap dari hantu wanita berpakaian penuh darah itu. Ketika Jun Haobei memegang tangannya, jiwa gelap hantu wanita itu langsung menghilang.
Gadis itu menghela napas. Jun Haobei ini sungguh penangkal, pikirnya.
"Kenapa tanganmu begitu dingin?"
Jun Haobei merasa suhu tangan Shen Yin sangat dingin. Melihat ekspresi gadis itu yang cukup pucat, ia mungkin memikirkan sesuatu. Mungkinkah bersentuhan dengan aura dari hantu bisa membuat tubuh seseorang tidak nyaman? Pikirnya.
"Aku baik-baik saja." Shen Yin menggelengkan kepala. Lebih baik tidak mengatakan masalah ini.
Jun Haobei tidak lagi mengejar rasa penasarannya dan segera membawa Shen Yin memasuki restoran. Ada beberapa pengunjung yang melihat Shen Yin di depan pintu restoran sebelumnya. Mengira jika Shen Yin hanya gadis biasa yang tidak memiliki apa-apa.
__ADS_1
Sekarang, mereka melihat Shen Yin dipegang oleh seorang pria jangkung yang tampan, rasa masam memenuhi hati mereka. Lagi pula, gadis itu memang cantik. Berdampingan dengan pria tampan, pasti lebih seraya.
Jun Haobei merasa puas dengan pandangan itu para pengunjung restoran yang ada di sekitar. Dia langsung membawa Shen Yin ke lantai khusus yang telah dipesannya.
Di salah satu meja, seorang wanita bergaun putih elegan duduk tenang sambil memperhatikan smartphone nya. Saat melihat Jun Haobei kembali, wanita itu segera tersenyum ramah.
Shen Yin telah melihat wanita itu di kediaman keluarga Jun saat dirinya datang untuk menyelamatkan Pak Tua Jun.
"Haobei ...," ujar wanita itu pada Jun Haobei tidak lalu menatap Shen Yin tanpa rasa penasaran lagi. Dia tahu Shen Yin adalah gadis yang menyelamatkan kakeknya waktu itu.
"Nona Shen, kita akhirnya bertemu. Ayo, duduk, duduk." Wanita itu, Jun Haoran, memiliki karakter yang periang dan mudah bergaul. Di saat dia melihat Shen Yin, cahaya di matanya tak bisa disembunyikan.
"Panggil saja aku Shen Yin," ujar Shen Yin sedikit canggung.
"Kalau begitu, aku akan memanggilmu Xiao Yin mulai sekarang. Kamu bisa memanggilku Saudari Ran sekarang, aku calon adik iparmu di masa depan." Jun Haoran tertawa ringan dan mengangguk.
Meski Shen Yin sedikit malu, dia tidak menolak panggilan itu.
Setelah melihat apa yang terekam di benaknya, Shen Yin sedikit terkejut. Dia tidak tahu harus mengatakan apa tentang masalah ini.
Jika iris mata kanannya berubah hitam pekat maka ada kematian. Shen Yin melihat gambaran berdarah keluarga Jun dan ... Jun Haoran ini tidak akan selamat!
Setidaknya, Shen Yin melihat gambaran merah di mana calon suami Jun Haoran akan menjadi dalang di balik semua bencana berdarah.
Lalu jika iris mata kanannya berubah hijau, berarti melambangkan ramalan besar. Keluarga Jun ini, setelah mengalami bencana berdarah karena kematian Jun Haoran, mungkin akan berakhir.
Kematian dan ramalan besar. Dengan kata lain, keluarga Jun akan dilanda kesedihan karena kematian Jun Haoran lalu mundur dari salah satu keluarga rahasia.
Siapa sebenarnya pria yang akan menikahi Jun Haoran ini pada akhirnya? Kenapa begitu membenci keluarga Jun?
Karena terlalu lama melihat adegan berdarah di pikirannya, Shen Yin merasakan sengatan menyakitkan di mata kanannya.
"Oh!" Dia tanpa sadar menyentuh menyentuh matanya secara refleks hingga membuat kedua Jun bersaudara itu terkejut.
__ADS_1
"Xiao Yin, apa yang terjadi?" Jun Haoran tengah memegang secangkir kopi dan baru saja hendak meminumnya.
Shen Yin segera menggelengkan kepala. "Tidak ... Tidak apa-apa. Aku hanya merasa gatal di mataku," jawabnya mencari alasan.
"Kamu memanjangkan poni dan menghalangi mata kananmu. Bukankah itu tidak nyaman?" Jun Haoran merasa aneh.
"Ini nyaman bagiku dan lebih baik saat poni menghalangi mata kananku."
"Uh, maaf ... Apakah kamu memiliki penyakit mata hingga mengharuskanmu menutupinya?" Jun Haoran sedikit bersalah saat menanyakan ini.
Jika pihak lain tidak memiliki penyakit mata apapun, lalu kenapa memanjang poni bagian kanan hingga menutupi sebelah matanya? Tidak ada gadis-gadis yang akan melakukan hal tersebut.
"..." Shen Yin tertegun. Dia tidak menyangka jika Jun Haoran akan mengira dia memiliki penyakit mata.
Ketidakberdayaan sepertinya muncul di pikiran Shen Yin. "Tidak ada. Mataku baik-baik saja ...."
Jun Haobei juga memperhatikan ekspresi Shen Yin yang sedikit lelah, matanya langsung menyipit.
Mata kanannya itu ... mungkinkah seperti yang dijelaskan Shen Yin sebelumnya? Mampu meramal dan melihat adegan berdarah di masa lalu atau kejadian yang akan datang?
Apakah bisa menyakiti diri sendiri juga?
Namun Jun Haobei tidak berniat untuk membicarakan masalah ini di depan adik perempuannya. Dia menyodorkan kue kecil yang terlihat enak di depan gadis itu.
"Makanlah ini dulu. Waktu makan malam akan segera tiba. Mari kita bicarakan beberapa hal," kata pria itu mengalihkan pembicaraan.
Jun Haoran mudah mengambil topik lain untuk dibicarakan dan segera melupakan tentang kejadian mata kanan Shen Yin.
Tapi gadis itu masih menunduk dan menyentuh mata kanannya kembali. Dia tertegun. Shen Yin mencium bau darah. Serta tangannya yang menyentuh mata kanannya berdarah.
Shen Yin tidak menyangka jika hanya melakukan penglihatan mata uniknya pada Jun Haoran, serangan baliknya akan begitu fatal.
Agar tidak dicurigai, Shen Yin segera bangkit dan berpura-pura akan mencuci matanya yang kemasukan debu.
"Maaf, aku akan segera kembali. Ini tidak akan lama," kata Shen Yin langsung meninggalkan meja.
__ADS_1