
SHEN YIN tidak menyembunyikan niatnya untuk membantu Jun Haobei membuka jalan meridian yang terblokir. Lagi pula dengan adanya token giok merah miliknya di tangan Pak Tua Jun sebelumnya, dia harus memenuhi tanggung jawab.
Memikirkannya saja sudah membuatnya tercekik.
“Yah, bantu saja, tidak apa-apa. Lagi pula tubuh pria itu juga memiliki aura yang mampu mengusir hantu dan roh jahat, bahkan iblis tak mampu mendekatinya. Itu keuntungan untukku juga,” jelasnya.
“Ternyata seorang pria. Nona Shen sudah dewasa,” goda Kakek Liao langsung tertawa senang.
“...” Shen Yin memiliki tiga garis hitam di kepalanya. “Ini hubungan murni tanpa penyimpangan,” katanya dengan sudut mulut berkedut.
“Percaya saja padamu.” Kakek Liao tidak mempermasalahkan alasannya. Urusan anak muda, dia tak ingin ikut campur.
Untungnya percakapan yang cukup menyimpang itu segera berakhir setelah wanita paruh baya yang memakai celemek keluar sambil membawa barang yang diinginkan Shen Yin.
Kakek Liao selalu memberinya diskon sebagai bentuk pertemuan. Setelah Shen Yin mengambil barang dan membayarnya, gadis itu mengucapkan selamat tinggal.
"Kenapa tidak makan malam saja di sini? Pria tua ini cukup kesepian," kata Kakek Liao sambil memasang ekspresi pura-pura sedih.
"Sayangnya temanku menginap selama beberapa hari di rumah. Aku tak bisa meninggalkannya sendiri." Shen Yin menggelengkan kepala.
"Apakah kamu juga mengumpulkan potongan jiwa gelap yang bergentayangan akhir-akhir ini?" tebak Kakek Liao.
Shen Yin mengangguk, tidak terkejut jika Kakek Liao tahu tentang itu. Sebelum dia berbicara, wanita paruh baya yang baru saja melayani Shen Yin pun tersenyum.
"Mungkinkah itu potongan jiwa dari penulis yang baru saja naik daun itu? Sayang sekali meninggal begitu awal. Siapa itu? Kalau tidak salah namanya Little Rabbit?" tebaknya.
Kakek Liao memandangnya dengan heran. "Bagaimana kamu tahu itu?"
"Aku membaca novelnya. Tapi belum sempat nonton filmnya."
__ADS_1
"..." Kakek Liao baru tahu jika pengurus tokonya ini ternyata salah penggemar kecil seorang penulis novel.
Shen Yin tidak berkata lebih banyak lagi dan mengucapkan selamat tinggal pada mereka. Kakek Liao mengantarnya hingga ke pintu toko, tanpa diduga, gerimis sudah turun lagi.
Melihay Shen Yin yang memakai tudung jaket dan berjalan ke gang sempit itu, Kakek Liao menghela napas.
"Anak baik yang malang. Takdirnya sudah dekat," gumamnya.
"Tuan, apakah nona Shen Yin sudah memiliki pacar?"
"Belum. Tapi segera ..." Kakek Liao menggelengkan kepala.
"Oh, siapa itu?"
"Tentu saja seseorang yang ditakdirkan untuknya. Dia memiliki bakat yang melawan langit tapi juga mampu ditutup langit. Gadis ini sebenarnya adalah bencana bagi keluarga tapi untungnya bencana itu telah dihapuskan. Hanya saja ...."
Kakek Liao tidak melanjutkan kata-katanya, hanya merasa kasihan pada gadis itu. Entah Shen Yin tahu atau tidak tentang dirinya sendiri sebagai bencana keluarga, Kakek Liao hanya berharap hatinya tetap baik.
"Lupakan. Semuanya akan baik-baik saja." Dia segera meninggalkan ruangan toko dan kembali ke kamarnya.
Wanita paruh baya itu menutup mulutnya dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia segera menutup pintu dan gorden seolah-olah toko tidak pernah buka.
Kakek Liao memang tahu kapan Shen Yin akan datang untuk membeli sesuatu dan tokonya hanya buka untuk gadis itu saja hari ini.
Jika Shen Yin tahu hal tersebut, mungkin kejutannya tidak sedikit. Namun sayangnya Shen Yin tidak memiliki waktu untuk berurusan dengan masalah di belakang. Setelah keluar dari gang, gerimis semakin lebat dan akhirnya tergantikan oleh hujan.
Shen Yin tidak bisa terlambat pulang. Dia menerobos hujan. Tidak masalah jika dia pulang dengan tubuh basah, tapi berada di luar rumah saat menjelang malam itu tidak bagus.
Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir di halaman kedai kopi.
__ADS_1
Jun Haobei hendak keluar dari mobil untuk mampir di kedai kopi. Tapi pandangannya langsung tertuju pada seorang gadis yang berada di seberangnya.
Sosok itu terlihat familiar. Bahkan jika memakai tudung jaket, Jun Haobei masih bisa samar-samar mengingatnya.
Dia mengerutkan kening dan masuk kembali ke mobil.
"Tuan?" Supirnya terkejut saat melihat bosnya kembali masuk.
"Berkendara dan kejar gadis berhoodie hitam itu," perintahnya tenang.
"Ah ... Ya." Supirnya tidak banyak bertanya dan menyalakan mesin mobil sebelum akhirnya berkendara mengejar keberadaan gadis itu di trotoar.
Setelah mendapatkan intruksi, supirnya segera membunyikan klakson seraya mengimbangi kecepatan berjalan gadis itu.
Shen Yin menoleh dan melihat mobil hitam melaju perlahan di sampingnya. Dia mengejutkan kening, tidak memasang ekspresi apapun. Ketika kaca jendela mobil diturunkan, sosok Jun Haobei terlihat.
Gadis itu tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini. Sungguh jalan yang sempit.
Mobil hitam itu akhirnya berhenti.
"Masuk mobil," kata Jun Haobei dengan nada memerintah.
Shen Yin ragu-ragu sejenak kemudian masuk, duduk di samping Jun Haobei sambil menepuk tetesan air hujan di jaket hoodie nya. Mobil kembali berkendara menuju kompleks apartemen di mana Shen Yin tinggal.
"Maaf, jok mobilmu mungkin harus basah," kata gadis itu datar.
"Tidak masalah." Jun Haobei meliriknya dan mengeluarkan tisu dari saku jasnya. "Gunakan ini, keringkan wajahmu."
Gadis itu mengambil tisu dari tangan Jun Haobei dan menyeka tetesan air hujan di wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu ada di sini? Apakah demammu sudah sembuh?" tanya Jun Haobei masih memiliki ekspresi yang tenang.