
SUASANA DI kuil terbengkalai agak salah. Tapi Shen Yin tidak takut. Dia yang sedikit mengantuk dan kelelahan pun mencari tempat di sekitarnya untuk beristirahat.
Tapi semuanya dipenuhi salju. Cuaca musim dingin kali ini agak buruk. Shen Yin mencari tempat untuk berteduh. Salju yang menumpuk tidak terlalu tebal. Ketika gadis itu berjalan, ada jejak yang ditinggalkan.
Kuil selalu memiliki beberapa tempat peristirahatan. Shen Yin pergi ke salah satu gazebo kecil yang hanya bisa ditempati oleh empat orang saja.
Dia sangat mengantuk.
Tato bunga peoni merah di punggungnya tidak terlalu panas lagi saat ini. Dia merasa lega. Namun rasa kantuknya juga menjadi lebih besar.
Shen Yin ingin mengatakan sesuatu, namun tidak sempat. Dia langsung tertidur.
Di sisi lain saat ini ....
Jun Haobei menaiki puluhan anak tangga sebelum akhirnya bertemu dengan seorang pendeta Tao tua berambut putih, memiliki janggut panjang serta mata sipit yang hampir tenggelam oleh kelopak mata.
Awalnya Jun Haobei terkejut. Tidak mungkin ada orang di tempat seperti ini. Sepertinya pendeta Tao itu telah menjaga kuil tersebut selama beberapa dekade. Atau mungkin lebih.
Salju yang turun di tempat tersebut tidak membuat pendeta Tao itu kedinginan. Dengan senyum ramahnya yang menenangkan, Jun Haobei diajak masuk ke kuil.
Ada patung salah satu dewi yang cukup besar. Beberapa dupa doa dan juga banyak hal lainnya. Lonceng angin sesekali menimbulkan bunyi nyaring yang khas.
Suasananya kali ini cukup menenangkan.
__ADS_1
"Anak muda ini pasti datang untuk mencari jawaban," kata pendeta Tao itu sambil mengelus janggutnya.
Jun Haobei mengangguk. "Aku harap ada jawaban yang diinginkan. Ini menyangkut tentang tunanganku."
Pendeta Tao itu mengangguk ringan, sepertinya tidak terkejut sama sekali.
Jun Haobei melihat sekitar. Kuil tua ini seharusnya tidak lagi dipakai. Tapi rasanya kini seperti masih baru. Sama sekali tidak ada jejak penuaan atau debu yang menempel.
Dia mengambil tiga batang dupa doa seperti yang diperintahkan oleh pendeta Tao. Lalu mulai menyembah sesuai dengan kepercayaannya. Tak lama setelah itu, pendeta Tao tersebut memberikan sebuah gantungan giok hijau dengan tali merah. Ukurannya tidak terlalu kecil.
"Berikan ini pada tunanganmu. Biarkan dia membawanya ke mana pun dia pergi. Hari ini, kamu diberkati sang dewi kehidupan. Di masa depan, kalian berdua akan menjadi pasangan yang saling melindungi," jelas pendeta Tao itu sangat tenang. Suaranya begitu jernih dan berpengalaman. Sepertinya ini bukan pertama kali bagi pendeta Tao itu bertemu tamu seperti Jun Haobei.
Pria itu menerima gantungan giok hijau dan menggenggamnya. Lalu dia menanyakan apa yang terjadi pada tunangannya saat ini.
"Anak muda, dunia ini diliputi oleh cahaya dan kegelapan. Jahat dan baik. Lemah dan kuat. Kesialan dan keberuntungan. Hidup dan mati, serta kasta bawah dan kasta tinggi. Masing-masing dari mereka memasuki jiwa manusia dan menjadikannya satu. Tunanganmu adalah gadis yang hidup di antara itu semua. Tidak bisa hidup tapi juga tidak bisa mati. Di dunia ini, kasus seperti ini memang langka," jelas pendeta Tao itu. Ekspresinya agak menyayangkan.
"Meskipun begitu, dia harus membuat pilihan. Membantu orang dan mencelakakan orang, tidak ada bedanya. Langit dan bumi menyaksikan tapi surga tidak menerima, neraka mungkin menginginkannya. Selama hatinya kuat dan hidupnya tidak dipengaruhi oleh dendam yang dalam, para dewa bisa menyelamatkannya."
Mendengarkan penjelasan dari pendeta Tao itu, Jun Haobei sama sekali tidak melewatkan satu kata pun. Keduanya berjalan hingga ke tepi. Dari atas kuil, pemandangan bisa terlihat jelas. Anak tangga diselimuti oleh salju, agak licin.
Tiba-tiba saja, Jun Haobei merasa sebuah bawahan seorang gadis di antara anak tangga. Sosoknya semakin jelas, menyerupai Shen Yin. Tapi gadis itu memakai gaun hitam, bola matanya hitam, bibirnya berwarna merah darah, rambutnya dipotong pendek sebahu.
Meskipun sama seperti penampilan Shen Yin dalam versi lain, Jun Haobei yakin itu hanyalah ilusinya.
__ADS_1
Pendeta Tao itu sepertinya tahu dan menepuk pundak Jun Haobei. "Jika kamu ingin menyingkirkan tubuh kutukan bermata unik padanya, maka kamu harus membunuh jiwa gelapnya terlebih dahulu. Saat ini, ada sosok raja dunia bawah yang menjaga tubuhnya agar tetap hidup. Namun itu tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, dia juga akan kembali ke dunia bawah."
Jun Haobei mengepalkan kedua tangannya dan segera mengucapkan terima kasih pada pendeta Tao itu. Setelah itu, dia meninggalkan kuil.
Pendeta Tao melihat sosoknya semakin menjauh, hanya bisa menggelengkan kepala. Dia tersenyum mengerti dan menatap langit.
"Tubuh kutukan ini muncul lagi setelah ribuan tahun. Siapa yang akan menduga jika manusia yang diberkahi para dewa akan menemaninya. Setidaknya, tugasku sudah selesai. Para dewa memberkati umatnya," gumam pendeta Tao itu sebelum akhirnya menghilangkan tanpa jejak.
Ketika Jun Haobei tiba di anak tangga terakhir, dia menoleh ke belakang. Tapi dia terkejut karena kuil yang baru saja dilihatnya berbeda dari sebelumnya.
Jika sebelumnya terlihat baru, maka kini terlihat lebih tua dan telah lama tidak diurus. Menekan rasa bingung di hatinya, dia meninggalkan tempat tersebut.
Di dunia ini, ternyata banyak hal baru yang dia lihat. Setidaknya setelah bertemu dengan Shen Yin.
Dia melihat gadis itu tertidur di gazebo halaman. Jun Haobei menepuk salju di pundaknya dan menghampiri gadis itu.
"Xiao Yin?" Jun Haobei mencoba membangunkannya. Namun gadis itu tidak bergerak sedikit pun.
Jun Haobei hanya membopongnya keluar dari gerbang halaman kuil. Dia tidak curiga sama sekali dengan apa yang baru saja menimpa gadis itu.
Setelah meninggal kuil dan memasuki mobil, gadis itu perlahan membuka matanya.
"Oh ... Apa kamu sudah kembali? Apa yang kamu lakukan di kuil tua itu?" tanya Shen Yin tiba-tiba.
__ADS_1