The Cursed Wife & God'S Blessed Husband

The Cursed Wife & God'S Blessed Husband
Resmi Menjadi Partner, Resmi Berpacaran


__ADS_3

SHEN YIN SEGERA bangkit dari pangkuan pria itu dan kini Jun Haobei tidak menahannya lagi. Awalnya dia sangat ingin tahu bagaimana rasanya mencium bibir gadis itu. Jari telunjuknya yang menyentuh bibir Shen Yin masih menyisakan kelembutan.


Namun hubungan mereka baru saja dimulai dan dia tak terburu-buru untuk mengejutkannya. Shen Yin akan memiliki kesan yang buruk terhadapnya jika langsung bersikap tak tahu malu seperti mencium dan memeluknya secara paksa.


"Mati kita bicarakan saat makan malam!" Shen Yin segera pergi ke dapur untuk membuat hidangan makan malam.


Jun Haobei terkekeh dan menggelengkan kepala. Gadis itu pemalu juga.


"Jangan lupa ganti seragammu lebih dulu," katanya.


"Besok ganti seragam, tidak masalah." Suara Shen Yin terdengar dari dapur.


"Tidak baik! Ganti dulu, jangan jadi kebiasaan. Sepertinya aku harus memberi tahu kakakmu tentang kebiasaan buruk ini." Jun Haobei sedikit mengancam dengan nada konyol.


Tak lama, Shen Yin keluar dapur dan pergi ke kamar tidur setelah menatap Jun Haobei dengan ekspresi jengkel.


Jun Haobei tidak merasa itu jelek, tapi sangat imut.


Di saat Shen Yin kembali ke dapur setelah berganti pakaian, aroma masakan mulai tercium. Dia melihat Jun Haobei memakai celemek merah muda bergambar bebek yang selalu dipakai, entah kenapa sosoknya menjadi lebih bagus?


Shen Yin tidak tahu jika Jun Haobei pandai memasak. Pria itu sudah memotong beberapa sayuran dan daging ayam untuk dibuat sup.


"Apa yang ingin kamu makan?" tanya pria itu.


Shen Yin segera pulih setelah melihat sosok Jun Haobei yang memakai celemek. Jasnya sudah dilepas dan kini memakai kemeja putih yang mahal, lengan bajunya digulung beberapa kali dan jam tangan mewah di pergelangan tangan kiri pria itu menjadi ciri tersendiri.


"Aku ... ingin makan mi instan," jawabnya tanpa sadar.


"Apakah kamu selalu makan itu?" Jun Haobei menaikkan sebelah alisnya.


"Aku jarang memasak karena terlalu merepotkan, jadi ... beli saja beberapa makanan siap saji." Shen Yin mengerut kening dan membantunya mengurus yang lain.


Kulkas kecilnya penuh saat ini karena kakaknya telah membeli banyak persiapan untuk memasak, susu cair, yogurt, jus, telur, sosis dan lainnya. Setidaknya cukup untuk satu minggu lebih.


Jun Haobei sedikit tidak setuju dengan kebiasan Shen Yin yang ternyata cukup berantakan baginya. Lagi pula, Jun Haobei yang telah hidup bersih dan pola makan teratur setiap hari, tidak terbiasa dengan makanan instan atau makanan siap saji yang kurang sehat.


Kadang makanan yang terlalu berminyak juga tidak baik untuk kesehatan. Makanan terlalu asin juga akan membuat tubuh mudah dehidrasi. Mengonsumsi terlalu banyak makanan manis juga bisa merusak gigi, diabetes dan lain sebagainya.

__ADS_1


Karena Shen Yin tetap ingin makan mi instan, Jun Haobei membuatkannya lengkap dengan sayuran, daging dan telur mata sapi di atasnya.


"..." Shen Yin sedikit tertekan ketika melihat mangkuk mi instan yang harum itu penuh dengan toping.


"Setidaknya itu cukup sehat untuk dimakan," kata Jun Haobei.


"..." Sudut mulut Shen Yin berkedut.


Keduanya makan malam dengan tenang, tanpa ada gangguan dan suara jarum jam dinding bisa terdengar.


Sesekali, Shen Yin memperhatikan cara makan pria itu dan gayanya sangat elegan. Duduk tegak, kedua tangan memegang sendok dan garpu dan ekspresinya tidak berubah sama sekali.


Benar-benar gaya seorang bangsawan kelas atas.


Meski Shen Yin juga diajari seperti itu ketika masih berada di keluarga Shen, kebiasaannya sudah membosankan. Jadi dia lebih suka makan dengan cara sederhana seperti orang biasa kebanyakan.


"Apakah kamu yakin ingin menganggap pertunangan ini serius?" tanyanya.


Jun Haobei meneguk setengah gelas air putih dan menatap Shen Yin seperti teringat sesuatu. "Jika kamu tidak mengatakannya saat ini, aku sudah lupa," jawabnya melenceng.


"..." Haruskah aku tidak menanyakannya sejak awal? Pikir Shen Yin.


"Baiklah, tidak masalah. Ingat, kamu partnerku sekarang." Shen Yin mengembuskan napas panjang. Memakan udang kukus yang ada dalam kuah mi instan.


"Kalau begitu, kita bisa resmi pacaran malam ini." Jun Haobei membuat keputusan lain, sudut mulutnya membentuk kurva naik (senyum).


Tangan Shen Yin yang memegang sendok sedikit gemetar sebentar. Setelah memenangkan suasana hati, dia menelan kata-kata yang ingin diucapkan.


"Apakah ini terlalu cepat?" tanyanya.


"Tidak, kurasa ini normal. Anggap saja malam ini adalah makan malam pertama hubungan kita."


"..." Shen Yin curiga jika pria ini sudah memikirkannya sejak lama?


Akhirnya, suasana di meja makan hening lagi. Hingga akhirnya, Shen Yin ingat jika pria itu datang untuk sesuatu padanya.


"Oh, omong-omong, ada apa kamu mencariku hari ini?" Shen Yin menggigit potongan daging ayam panggang.

__ADS_1


Jun Haobei memikirkan tujuannya hari ini dan mengangguk. "Mari kita bicarakan setelah makan."


Setelah selesai makan dan membereskan meja, keduanya kembali ke ruang tamu. Shen Yin menyediakan secangkir teh hangat untuk pria itu untuk pencuci mulut setalah makan. Lagi pula, Jun Haobei memiliki kebiasaan bangsawan yang nyata.


"Aku ingin mengonfirmasi sesuatu tentang kemarin malam," kata pria itu.


"Kemarin malam?"


"Waktu kita di kantor Li Yugang."


"Oh? Ada apa?"


Shen Yin menaikkan sebelah alisnya. Dia tidak menyangka jika Jun Haobei akan datang untuk menanyakan masalah kemarin.


"Apakah kamu menanyakan kemampuan supernatural ku?" tanya Shen Yin.


"Tidak. Bukan masalah ini ..." Jun Haobei menggelengkan kepala. "Jika kamu tidak keberatan, bisakah memberitahuku tentang jiwa seseorang yang telah meninggal, apakah ... masih ada di dunia ini?" tanyanya.


Shen Yin tidak langsung menjawab atau menanggapi pertanyaan tersebut. Dia sepertinya memikirkan sesuatu tentang dunia lain yang berdampingan dengan manusia.


Lagi pula, tidak semua manusia memiliki keyakinan atau rasa percaya bahwa jiwa orang mati itu gentayangan.


"Sebenarnya, itu bukan jiwa asli, melainkan jiwa gelap dari orang tersebut." Shen Yin hanya bisa menyimpulkannya dengan kata-kata yang mudah dicerna.


Jun Haobei mendengarkan tanpa berniat untuk menyela.


"Ketika manusia masih hidup, ada dua sisi yang melekat pada diri sendiri. Cahaya dan aura kegelapan. Seseorang yang sangat baik dan berada di jalan yang benar, tubuhnya mengeluarkan cahaya samar. Dan sebaliknya, jika orang itu merupakan orang jahat, iri hati atau lebih tepatnya orang dengki, tubuhnya dipenuhi aura kegelapan, suram dan dingin," tutur Shen Yin.


Selain itu, ada juga tipe orang yang dengan dua sisi tersebut, seperti Yin dan Yang, berdampingan tapi tidak bisa menyatu. Orang dengan sisi ganda seperti ini biasanya diliputi rasa bingung dan bimbang. Pada akhirnya, terlambat menyadari segala sesuatu di sekitarnya.


Ketika seseorang meninggal, cahaya di tubuh itulah yang akan menentukan ke mana selanjutnya akan pergi. Entah itu ke dunia hantu, alam reinkarnasi atau sepenuhnya lenyap. Sisanya hanyalah potongan jiwa penasaran yang urusannya di dunia belum sepenuhnya usai.


"Li Nuo memiliki urusan yang belum selesai ketika meninggal dan jiwa gelapnya terbentuk sehingga lahirlah jiwa penasaran," katanya lagi.


"Apakah itu sama dengan hantu?" tanya Jun Haobei dengan wajah menggelap.


Sebenarnya dia tak percaya hantu sama sekali.

__ADS_1


Shen Yin mengerucutkan bibirnya sejenak. " Bagaimana menurutmu?"


__ADS_2