The Cursed Wife & God'S Blessed Husband

The Cursed Wife & God'S Blessed Husband
Menjadi Rebutan Para Murid Laki-laki


__ADS_3

SHEN YIN sepertinya tidak mengharapkan Jun Ye akan bertanya demikian. Dia sebenarnya hanya menawarkan jimatnya secara acak karena Jun Ye sering diganggu oleh sosok tak kasat mata. Ada aura gelap di tubuhnya. Terlebih lagi, Shen Yin juga tak bisa melihat masa lalu dari laki-laki ini.


Marga Jun … mungkin Jun Ye ini masih kerabat keluarga Jun? Pikirnya.


“Hei, apa yang kamu pikirkan? Apa kamu serius menawariku jimat?” tanya laki-laki itu.


“Oh …” Shen Yin mengeluarkan jimat pelindung dari tas kecilnya dan memberikannya pada Jun Ye. “Harga perlembar, seratus Yuan,” katanya.


“...” Apakah jimat seperti ini sangat mahal? Bukankah hanya selembar kertas kuning? Batin Jun Ye sedikit tidak puas.


Seratus Yuan mungkin bukan uang yang besar untuknya. Namun untuk selembar jimat kuning bertulisan simbol aneh, Jun Ye merasa membuang-buang uang jajannya.


“Jangan khawatir, jimatnya ampuh. Bahkan jika kamu berguling ke jurang karena gangguan para makhluk tak kasat mata, jimat ini akan menunjukkan efeknya.” Shen Yin menjelaskan sedikit tentang jimat tersebut.


Secara tidak sadar, ini mungkin promosi.


Sekolah tidak melarang siapapun membawa jimat atau sebagainya. Lagi pula, jimat seperti kebutuhan biasa bagi orang-orang yang mempercayai adanya makhluk tak kasat mata. Meski begitu, zaman sudah banyak berubah dan orang-orang lebih percaya dengan teknologi dan penelitian ilmiah di bandingkan takhayul seperti itu.


Jun Ye tidak peduli dengan penjelasannya dan segera mengambil jimat itu, menyimpannya di saku celana olahraga yang dipakai. Setelah itu, dia fokus membaca bukunya lagi.


Shen Yin juga tidak banyak bicara dan duduk dengan tenang. Yi Er juga meminta jimat itu dengan harga diskon. Tapi Shen Yin tidak memberikannya karena Yi Er sudah memiliki kalung penangkap roh jahat. Dia khawatir jimatnya akan bertentangan dengan fungsi kalung tersebut.


Ketika semua murid sudah naik bus dan mulai melakukan perjalanan, Shen Yin secara tidak sengaja melihat Jun Haobei berdiri di dekat gerbang sekolah. Pria itu menatapnya entah sejak kapan. Shen Yin hanya menghela napas dan pada akhirnya mengalihkan perhatian.


Tunangan? Apakah hubungan keduanya bisa berjalan dengan baik sampai akhir?


“Xiao Yin, ada apa denganmu?” tanya Yi Er saat mengeluarkan bekal makan malamnya.


“Bukan apa-apa.”


“Sebentar lagi makan malam. Guru meminta kita membawa bekal masing-masing. Kamu tidak lupa bukan?”

__ADS_1


“...” Shen Yin sepertinya tidak ingat tentang ini.


Yi Er menghela napas dan berniat membagi makanannya. “Kalau begitu kita makan bersamanya saja. Lagi pula, ibu menyiapkan banyak makanan untukku kali ini.”


Shen Yin ingin menolak namun sebelum itu, Guru Ling yang duduk di kursi terdepan bus pun menghampirinya sambil menyerahkan sebuah kotak makanan.


“Murid Shen Yin, tuan Jun meminta Guru untuk menyerahkan ini padamu. Nah, jika makanannya kurang, kita bisa berhenti sebentar dan membeli makanan,” kata Guru Ling sopan.


Sebagai wali kelas, Guru Ling sangat memperhatikan semua muridnya. Kotak makan malam ukuran sedang itu diberikan oleh Jun Haobei setelah mengetahui jika murid harus membawa bekal makan malam sendiri.


Bisa dikatakan, Shen Yin ceroboh tentang ini. Jika Jun Haobei tidak mengetahuinya lebih awal, mungkin Shen Yin akan makan satu kotak dengan Yi Er saat ini.


Ketika Shen Yin menerima kotak makanan itu, Guru Ling menghela napas lega. Jika bukan karena tuan Jun yang memberinya tatapan yang begitu misterius, Guru Ling tak akan berani memberikan kotak makanan itu ada Shen Yin.


Terlebih lagi, saat Jun Haobei berkata jika Shen Yin adalah tunangannya. Guru Ling sempat tidak berpikir dengan benar sebelumnya.


Tunangan?


Untung saja apa yang ingin dia katakan sebelumnya tidak terucapkan. Jika Jun Haobei langsung mendengarnya, mungkin tidak akan senang. Bagaimana pun juga, pria besar seperti Jun Haobei jatuh cinta. Siapa yang berani berkomentar tentang kehidupannya?


"Terima kasih," kata Shen Yin sedikit canggung.


"Tidak apa-apa. Ini bukan masalah besar." Guru Ling tersenyum padanya.


Beberapa murid laki-laki yang tak jauh dari keberadaan keduanya pun langsung menoleh dan berpikir untuk membagi makanannya dengan Shen Yin. Lagi pula, Shen Yin cantik dan tidak pernah membuat masalah. Beberapa siswa selalu ingin dekat dengannya. Namun Shen Yin terlalu dingin dan tidak suka bergaul. Kali ini mungkin kesempatan yang baik.


Setelah Guru Ling pergi, beberapa murid laki-laki di bus tersebut segera berbondong-bondong menawarinya makanannya. Beberapa siswi cemburu tapi siapa yang menjadikan Shen Yin sebagai gadis tercantik di kelasnya?


"Shen Yin, aku punya beberapa udang rebus dengan saus yang cukup pedas. Para gadis biasanya suka dengan udang. Aku akan membaginya untukmu." Salah satu dari murid laki-laki itu membuka kotak makannya dan aroma udang kukus yang sangat harum pun menguar.


Tapi murid laki-laki di sampingnya mendengus. "Tidak, jangan! Shen Yin, dia sudah memiliki pacar di kota sebelah. Dia berani selingkuh, tentu pasti bukan laki-laki yang baik. Lihat, makananku lebih mewah dan yang lebih penting, aku belum punya pacar."

__ADS_1


"Tidak, ambil punyaku."


"Jelas harus punyaku!"


"Ck, kamu bocah bau (nakal). Jelas aku lebih cocok untuknya."


"Tidak, aku yang cocok untuk Shen Yin. Kamu siapa?"


Pertengkaran di antara para laki-laki akan terkesan konyol jika menyangkut tentang seseorang yang disukai. Akhirnya, suasana sedikit gaduh.


Jun Ye jelas terkejut. Meski dia sudah tahu bahwa banyak anak laki-laki yang mendambakan Shen Yin diam-diam, kejadian seperti ini cukup langka di kelas. Pria itu menunduk dan segera melihat Shen Yin sekilas. Gadis itu juga agak bingung pada umumnya.


Makanan yang diberikan oleh Jun Haobei memang lengkap dan tergolong mewah, tapi tidak tahu apakah sesuai seleranya. Jun Ye diam-diam mengeluarkan smartphone nya dan mengambil video singkat.


Dia merekam para laki-laki yang sedang bertengkar. Kamera dialihkan ke bawah tapi merekam suara pertengkaran mereka. Setelah itu, Jun Ye mengirimkannya pada nomor Jun Haobei yang sudah tidak asing lagi.


Jun Ye: Sepupu, kamu punya banyak saingan. Mungkin kamu harus datang sebagai pembina.


Segera, pesan itu dikirim. Jun Ye akhirnya tidak ikut campur. Setidaknya dia sudah memberi tahu sepupunya tentang masalah ini.


Keluarga Jun sebenarnya memiliki beberapa keluarga samping, tapi yang paling utama tentu saja rumah tua Jun, di mana Pak Tua Jun berada. Jun Haobei adalah pewaris berikutnya keluarga Jun.


Jun Ye merupakan anak yang lahir dari keluarga samping cabang kedua. Atau ayahnya adalah adik kedua ayah Jun Haobei.


Namun tidak banyak orang yang tahu tentang keluarga samping. Jun Ye sendiri sengaja tidak mencolok di sekolah. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian.


Untungnya, dia ditempatkan di kelas yang tidak memiliki banyak anak bangsawan sehingga statusnya sebagai anak keluarga Jun juga tenggelam. Dia menikmati hari-harinya sebagai ketua kelas yang suka membaca buku tentang penelitian ilmiah.


"Apakah kamu dari keluarga Jun?"


Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Jun Ye hampir tersedak nasi yang baru saja ditelannya.

__ADS_1


__ADS_2