The Cursed Wife & God'S Blessed Husband

The Cursed Wife & God'S Blessed Husband
Pergi Ke Perguruan Abadi


__ADS_3

LIHATLAH Jun Haobei, sama sekali tidak terkejut. Shen Yang curiga ada sesuatu yang disembunyikan keduanya selama dia tidak ada. Hanya saja tidak tahu harus memulai percakapan dari mana.


Tapi sebagai seorang kakak, Shen Yang tentu saja tidak akan lunak. Dia meminta Jun Haobei untuk bicara empat mata dengannya. Keduanya pergi ke luar apartemen dan berhenti di salah satu lorong lantai bawah.


Shen Yin tidak mengikutinya. Dia terlalu bosan. Lagi pula, Shen Yin tidak merasa ada yang aneh dengan dirinya sendiri sejak bangun dari pingsan hari itu.


Shen Yang menatap Jun Haobei dengan ekspresi memata-matai. "Katakan, apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanyanya.


Jun Haobei tidak menjawabnya. Ekspresinya juga tidak berubah. Dia bersikap seperti tidak ada apa-apa.


"Dengar, jiwa adikku tidak stabil, guru ku bisa mengetahuinya. Sejak dia lahir, guru ku sudah memberinya aura khusus untuk menenangkan jiwanya. Yang aku ingin tahu, selama aku tidak ada tiga hari terakhir, apa yang terjadi pada Xiao Yin?" tanyanya.


Jun Haobei memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Apa yang kamu tebak pada akhirnya?"


"Apapun itu, jelas bukan kamu penyebabnya. Aura naga ungu di tubuhmu mampu membantu adikku pulih." Shen Yang akui itu dan tidak mau munafik.


Pada akhirnya, Jun Haobei menceritakan semua kronologinya dari awal hingga akhir. Shen Yang mendengarnya tanpa melewatkan satu kata.  Wajahnya langsung pucat. Pikirannya kosong dan kata-kata gurunya mulai terngiang lagi.


Awalnya Shen Yang tidak menganggap serius perkataan gurunya. Tapi kini ... dia mulai mempercayainya.


Ada jiwa lain di tubuh adiknya. Dan itu masih jiwa raja dunia bawah, Shin Mose. Setelah menerima banyak pukulan batin, Shen Yang menenangkan dirinya.


Tak lama setelah Jun Haobei meninggalkan lorong, Shen Yang mengembuskan napas panjang.


"Ini ... bagaimana ini mungkin?" gumamnya.


Sementara itu, Jun Haobei kembali ke apartemen Shen Yin. Gadis itu sedang menonton televisi sambil makan keripik kentang. Ada potongan buah di piring, segelas jus, cokelat, beberapa permen dan juga mi instan yang masih belum diseduh.


Jun Haobei menyipitkan mata. Melihat beberapa camilan yang bisa merusak gigi, dia tampak tidak senang.


"Kurangi makan makanan manis. Camilan seperti ini tidak terlalu bagus untuk kesehatanmu, terutama keripik dan mi instan. Makanlah buah lebih banyak," katanya.


Shen Yin menatapnya dengan acuh tak acuh. Dia sudah terbiasa seperti ini. Jarang menikmati waktu santai di hari-hari biasa.

__ADS_1


Tapi dia masih menanggapi kata-katanya. "Aku tahu."


Setelah itu, Shen Yin fokus lagi ke layar televisi. "Di mana kakak?'


"Dia masih di luar. Sebentar lagi akan kembali," jawabnya.


Jun Haobei tahu jika Shen Yang butuh waktu untuk mencerna semua informasi yang diberikannya. Dia menatap Shen Yin yang sedang mengunyah keripik kentang. Gadis ini sangat imut. Meski mata kanannya sering tertutupi poni, Jun Haobei tidak merasa terganggu.


Tanpa diduga, hanya selama beberapa waktu mengenal gadis ini, Jun Haobei melihat jika rambut Shen Yin telah tumbuh panjang. Kini telah menyentuh bahu.


Jun Haobei menyentuh rambut gadis itu dan merasakan kelembutannya.


"Xiao Yin, jangan potong rambutmu, oke?" Alih-alih bertanya, ini lebih mirip keputusan.


"Kenapa? Aku suka rambut pendek, lebih mudah diatur," kata gadis itu tidak peduli.


"Tapi aku suka rambut panjang. Ini tidak sulit diatur. Biarkan aku mengaturnya di masa depan."


"Tergantung." Shen Yin masih tidak terlalu memperhatikan. Namun diam-diam mencatat dalam hatinya.


Jun Haobei terkekeh. Dia menunggu rambut gadis itu memanjang seiring berjalannya waktu. Pasti sangat menggemaskan. Dia bisa memainkan rambutnya kapan pun dan di mana pun.


"..." Shen Yang baru saja kembali sambil memegang kantong keresek berisi beberapa bahan memasak. Dia mendengarkan sedikit apa yang dikatakan Jun Haobei.


Sial! Tercela! Pria itu berani menggoda adiknya. Tapi meski demikian, dia juga ingin Shen Yin memanjangkan rambutnya.


Shen Yang terbatuk secara disengaja hingga pasangan yang sedang menonton televisi itu menyadarinya. Dia kesal! Sejak Jun Haobei mengakui dirinya sebagai tunangan Shen Yin, dia merasa adiknya akan dirampok kapan saja.


"Kakak, cepatlah buat makanan. Aku lapar," kata gadis itu.


"..." Shen Yang curiga jika dia kembali ke sini hanya untuk menjadi koki.


Jun Haobei pergi membantu Shen Yang. Lagi pula, untuk mendapatkan restu dari suadara gadis itu, Jun Haobei harus berusaha lebih banyak lagi. Meski keluarga Shen kini hanya menyisakan Shen Yin dan Shen Yang, tapi keluarga telah menghormati.

__ADS_1


***


Pada keesokan harinya, Shen Yin dan Shen Yang pergi ke pegunungan, tempat di mana perguruan keabadian berada. Jun Haobei tidak bisa ikut karena bukan bagian dari pedalaman kuil keabadian.


Tapi meskipun begitu, pria itu tetap mengantarkannya hingga ke kaki pegunungan dan berencana untuk mencari penginapan terdekat. Shen Yin berjanji akan bertanya pada guru Shen Yang, apakah Jun Haobei bisa naik atau tidak.


Shen Yin menghabiskan waktu di perguruan keabadian selama satu bulan lamanya. Ini di luar perkiraan Shen Yang dan Jun Haobei. Pada akhirnya, Shen Yin cuti sekolah selama satu bulan.


Tanpa diduga, musim dingin di pegunungan cukup ekstrem.


Di kuil keabadian, Shen Yin duduk sambil berdoa pada Tuhan kepercayaannya. Tak banyak yang dia minta, hanya ingin dewa memberinya keadilan untuknya. Jika dirinya benar-benar dikutuk dan tak bisa pergi ke surga, maka buatlah neraka untuk memaafkannya.


Selama satu bulan, Shen Yin telah menyeimbangkan jiwanya. Dibantu oleh guru yang mengajar Shen Yang. Setiap kali datang ke kuil, tubuhnya akan merasa panas—seolah-olah dewa tidak menerimanya.


Meskipun begitu, Shen Yin tidak menyerah.


Setelah selesai berdoa, Shen Yin meninggalkan kuil keabadian. Di perjalanan, dia bertemu dengan pria tua berjubah putih, memegang untaian manik-manik giok. Wajahnya terlihat bersih dan menyegarkan.


Aura yang terpancar dari tubuh pria tua itu jelas sangat murni, menenangkan dan penuh vitalitas. Shen Yin benar-benar iri padanya. Aura yang diberkahi para dewa, ternyata sangat menenangkan.


"Guru Zhinghu," sapa Shen Yin.


"Ya." Guru Zhinghu mengangguk sedikit. "Bawa tunanganmu ke sini. Guru ingin bicara dengannya."


Shen Yin terkejut. "Jun Haobei ada di kaki pegunungan?" tanyanya. Dia tidak menanyakan tentang kabar pria itu selama sebulan terakhir.


Lagi pula, tidak ada sinyal di pegunungan dan dia juga sibuk menyesuaikan tubuh kutukannya.


"Dia sudah menunggu selama sebulan di sana. Ini sudah waktunya untuk memanggil dia ke sini." Guru Zhinghu mengangguk dan tersenyum.


Anak muda di kaki pegunungan itu sungguh memiliki tekad yang besar, sangat memperhatikan Shen Yin. Dapat dilihat jika Shen Yin akan memiliki nasib besar di masa depan, berubah menjadi lebih baik dengan kehadiran Jun Haobei.


Guru Zhinghu awalnya khawatir jika Shen Yin akan menderita karena memiliki tubuh kutukan mata unik. Tapi kini kekhawatiran itu ditekan. Meski ada jiwa raja dunia bawah dalam alam bawah sadar Shen Yin, setidaknya tidak mengganggu aktivitas apapun.

__ADS_1


Shen Yin yang mengetahui itu segera turun gunung. Dia menggunakan jubah bulu bertudung cukup besar untuk melindungi tubuhnya dari salju yang tengah turun.


Benar saja, Jun Haobei memang menunggu di kaki pegunungan. Sepertinya tahu dia akan datang.


__ADS_2