The Cursed Wife & God'S Blessed Husband

The Cursed Wife & God'S Blessed Husband
Jujur Saja, Kamu Melihatnya Bukan?


__ADS_3

SHEN YIN mengerutkan kening. Dia tidak pernah memantau berita apapun. Bahkan apa yang dibicarakan di forum sekolah saja tidak tahu. Semuanya selalu Yi Er yang mengetahuinya lebih awal.


Meski dia mendengar sedikit dari Jun Haobei tentang kematian mengenaskan beberapa orang, Shen Yin berpikir itu hanyalah pembunuhan berantai.


Yi Er menjelaskan sedikit tentang kasus yang ditemukannya di internet. Semuanya terdengar mengerikan. Bahkan ada foto buram korban yang kebanyakan meninggal di tempat sepi.


“Pelaku benar-benar kejam. Apa tujuan dari semua ini?” gumam Yi Er.


“Biarkan aku melihat,” kata Shen Yin.


Yi Er memberikan smartphone-nya pada gadis itu lalu menggigit roti isi daging.


Ketika Shen Yin melihat berita tersebut, tidak ada reaksi apapun. Lagi pula, kematian akan terjadi pada semua orang. Namun saat Shen Yin melihat foto yang diburamkan demi kenyamanan publik, tiba-tiba saja tubuhnya membeku.


Meski foto korban diburamkan, Shen Yin masih bisa melihat dengan jelas seberapa parahnya luka di tubuh korban. Terlebih lagi ada bekas cakaran di perutnya. Isi perut tidak lengkap, terutama jantung.


Jantung!


Shen Yin segera teringat dengan satu makhluk yang suka dengan darah manusia.


Bukankah itu makhluk entitas?


Dia sedikit berkeringat dingin. Bukan takut, tapi lebih ke ngeri yang luar biasa. Makhluk entitas bukan makhluk biasa, mereka bisa memakan organ dalam manusia, mengisap darah serta vitalitasnya. Terakhir kali Shen Yin  melihat makhluk itu … setidaknya saat perjalanan perkemahan akhir musim gugur.


Siap yang tahu jika makhluk entitas akan menyebar ke perkotaan dan memangsa manusia. Shen Yin tak bisa membiarkan hal ini terjadi. Dia harus memeriksa kasus ini dan mengusir mereka. Jika tidak berhasil … maka lenyapkan saja.


“Xiao Yin …?  Xiao Yin?!” Yi Er tanpa sadar menepuk pundak Shen Yin.


Mendapati jika Shen Yin melamun, Yi Er mengerutkan kening.

__ADS_1


“Ada apa denganmu? Takut hingga akhirnya melamun?” canda Yi Er.


“Bukan … bukan apa-apa. Aku hanya berpikir jika ini memang meresahkan banyak orang.” Shen Yin menggelengkan kepala dan segera mencari berita yang masih berkaitan dengan masalah tersebut.


“Memang. Aku tidak bisa membayangkan hal ini akan terjadi. Bukankah ini aneh?”


“Apa yang aneh?”


“Mungkinkah ada harimau atau singa yang lepas dari penangkaran atau dari hutan? Korban-korban ini memiliki bekas cakaran dan gigitan. Itu pasti dibuat oleh binatang buas.” Yi Er menghela napas.


“...” Benar saja, polos tetaplah polos, pikir Shen Yin. Dia sudah mendapatkan berita yang diinginkannya.


Ada satu foto yang menurutnya agak familiar. Korban yang ditemukan polisi ada di sebuah gang yang cukup sempit. Shen Yin ingat jika saat pulang sekolah kemarin, dia juga melewati tempat itu. Apa yang dilihatnya melalui mata unik, seseorang memang akan mati di sana.


Siapa yang tahu jika itu benar-benar terjadi malam tadi. Banyak darah mengotori salju. Mayatnya terlihat terbujur kaku dan membeku. Organ dalamnya juga tidak lengkap.


“Aku harus memeriksanya nanti,” gumamnya.


* * *


Ketika jam pelajaran terakhir berbunyi, Shen Yin meninggalkan sekolah dan berjalan di trotoar seperti rutinitasnya setiap hari. Tapi kali ini dia berniat untuk memeriksa gang sempit yang kemarin. Sesekali, Shen Yin akan menundukkan kepala. Meski merasa ada makhluk tak kasat mata yang mengikuti, dia tidak khawatir.


Tanpa diduga, Shen Yin bukan hanya diikuti oleh makhluk tak kasat mata, tapi juga Jun Ye, sepupunya Jun Haobei.


"Shen Yin, tunggu!" Laki-laki itu berlari kecil menghampirinya.


Shen Yin menghentikan langkah dan menoleh. "Sesuatu?" tanyanya.


Jun Ye terkejut dengan ekspresi gadis itu yang terlihat biasa saja. "Ah, tidak ada. Bukan masalah besar," jawabnya seraya menggelengkan kepala.

__ADS_1


Karena Jun Ye tidak langsung mengatakan sesuatu, Shen Yin melanjutkan perjalanan pulangnya.


Kali ini Jun Ye membuntuti Shen Yin. Hanya berjarak lima langkah di belakangnya.


"Apakah kamu memperhatikan berita tentang kematian beberapa orang secara tragis?" tanyanya tiba-tiba.


"Apa hubungannya denganmu?" Shen Yin menghela napas.


"Jujur saja, kamu melihatnya bukan?" Jun Ye menyipitkan mata.


Ketika di dalam bus saat perjalanan menuju perkemahan akhir musim gugur, Jun Ye jelas juga melihat makhluk entitas. Mereka sangat mengerikan hingga membuatnya tidak mampu melakukan tindakan apa pun.


Namun kali ini berbeda. Jun Ye selalu merasa jika Shen Yin mengetahui sesuatu dan sama seperti dirinya yang mampu melihat mereka.


Langkah Shen Yin terhenti lagi. Tapi kali ini dia tidak menoleh ke arah Jun Ye.


"Ini bukan sesuatu yang bisa kamu atasi. Lebih baik tidak tahu apa-apa, itu aman untukmu," kata Shen Yin dengan tatapan agak dalam. Sayang sekali Jun Ye tidak melihat ekspresinya.


"Makhluk itu membunuh orang?"


"Ya. Jadi kukatakan lagi, lebih baik tidak tahu apa-apa," jawab Shen Yin mengulangi hal yang sama.


"Lalu bagaimana denganmu?"


Jun Ye membenarkan syal yang melindungi lehernya dari terpaan angin musim dingin. Hidungnya memerah. Berbeda dengan Shen Yin yang terlihat tidak kedinginan sama sekali.


Dengan pertanyaan ini, Shen Yin tidak langsung menjawab. Dia paling tidak suka orang lain ikut campur dalam urusannya.


Dia berbalik dan menatap Jun Ye dengan mata kirinya terlihat menyipit. Angin musim dingin berembus kali, menggoyangkan helaian rambut sebahu Shen Yin.

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan dan tidak aku lakukan, itu bukan urusanmu. Jika kamu ikut campur, maka ..."


Suhu di sekitar tubuh Jun Ye tiba-tiba semakin dingin hingga wajahnya pucat.


__ADS_2