
MENDENGAR NAMA tunangan dari mulut Yi Er, Shen Yin tanpa sadar menoleh ke arah di mana para pembina berada. Ada dua pria jangkung berseragam olahraga datang dan masih membawa tas. Ada juga beberapa anak buah di belakang yang membawa banyak kebutuhan berkemah.
Shen Yin tertegun. Kenapa Jun Haobei ada di sini?
Menjadi pembina? Tidak mungkin, 'kan? Pikirnya.
Sayangnya, Shen Yin mungkin ditakdirkan untuk salah. Jun Haobei saat ini datang setelah semalam berkendara menuju pedesaan perbatasan kota dan menyusul mereka. Dia dan Li Yugang menjadi pembina.
Sejak mendapatkan pesan dari Jun Ye, pria itu memutuskan untuk memotong semua bunga persik busuk (saingan cinta) yang naksir Shen Yin secara pribadi.
"Ah, tunanganmu sangat perhatian." Yi Er mengagumi pria seperti Jun Haobei. Memiliki pacar yang sedikit lebih tua juga baik-baik saja. Mereka tak akan main-main dengan wanita sembarangan.
Shen Yin tidak mau membicarakan masalah ini. Tapi Tong Yue juga penasaran dan bertanya siapa kedua pria yang menjadi pembina tambahan saat ini.
Yi Er tentu saja memberi tahunya dan berkata pada Tong Yue untuk merahasiakan masalah ini dari siapapun. Shen Yin tidak mau banyak orang yang mengetahui hubungannya dengan Jun Haobei.
Tentu saja Tong Yue bukan gadis yang merepotkan jika menyangkut masalah pribadi. Dia juga punya tunangan yang saat ini kuliah di sebuah universitas kota terdekat. Hubungannya juga cukup baik meski belum tentu akan menuju ke pernikahan di masa depan.
Ternyata Shen Yin juga memiliki tunangan. Bahkan tunangan gadis itu sepertinya sedikit lebih tua bukan?
"Kita harus mengumpulkan kayu bakar dan mengambil air untuk memasak. Mari kita bagi tugas," kata Yi Er.
"Aku mau mengumpulkan kayu bakar saja," kata Tong Yue.
Shen Yin setuju. "Kumpulkan kayu bakar bersama Yi Er. Sekalian cari kayu yang sedikit lebih kokoh atau batu untuk dijadikan tungku. Aku akan pergi ke sungai untuk mengambil air dan melihat apakah ada sesuatu yang bisa digunakan nanti," jelasnya.
"Apakah tidak apa-apa kamu pergi sendirian?" Yi Er sedikit khawatir.
"Kamu tahu siapa aku, ini bukan masalah besar. Kalian pergi bersama." Shen Yin menggelengkan kepala dan merasa jika ini bukan masalah besar.
Dia ingin tahu seperti apa sungai di hutan perkemahan ini.
Segera ketiganya berpencar untuk mencari kayu bakar dan air.
__ADS_1
Shen Yin mengambil ember yang cukup besar dan pergi ke sungai yang jaraknya sekitar seratus meter dari wilayah perkemahan.
Ada jalan setapak yang telah dibuat untuk pergi ke sungai sehingga para murid tak akan tersesat. Shen Yin melihat pepohonan yang menjulang tinggi dan tampaknya telah berusia puluhan tahun. Sesekali ada makhluk tak kasat mata yang melintasi dan kadang menyerupai asap lalu menghilang.
Shen Yin sudah terbiasa dan tidak mau memperhatikannya lagi. Sampai akhirnya, dia tiba di pinggiran sungai.
Air sungai yang jernih dan segar pun mengalir tenang. Airnya cukup dalam bahkan ikan-ikan terlihat berenang di sekitar. Melihat bahwa ikannya cukup besar, Shen Yin berniat untuk menangkapnya.
Dia meletakkan ember di salah satu batu besar yang cukup datar lalu menggulung celana olahraganya. Kulitnya yang putih dan bersih terlihat oleh mata telanjang hingga beberapa murdi laki-laki yang ada di sekitar sedikit memerah.
Shen Yin tidak mempedulikan masalah tersebut dan segera turun untuk menangkap ikan.
"Itu, Shen Yin ... Kami mencoba menangkap ikan di sini tapi tidak berhasil. Ikan di sini terlalu liar dan pintar. Kami tak mampu menangkapnya. Tunggu kami membuat alat pancing dulu ..." Salah satu murdi laki-laki mencoba menjelaskan.
Namun saat dia bicara, Shen Yin sudah bertindak dan menggunakan tangan kosong untuk menangkap ikan yang cukup besar. Ikan di tangan Shen Yin menggerakkan ekornya dengan cepat dan mulutnya seperti ingin mengambil air.
Beberapa murid laki-laki yang ada di sana segera tertegun dan menganga. Apa-apaan ini? Kenapa ikan itu mudah ditangkap oleh Shen Yin dengan tangan kosong?
Martabat mereka sebagai seorang laki-laki benar-benar hilang.
"..." Para murid laki-laki yang memegang ember dan membuat alat pancing merasa kehilangan semangat.
Namun karena ini jugalah mereka bertekad untuk memancing ikan.
Ada banyak ikan di sungai dan semuanya bisa diambil. Kecuali untuk ikan kecil yang harus dilepaskan agar ikan-ikan di sungai tidak punah.
Shen Yin memasukkan ikan ke ember yang telah diisi air. Lalu menangkap ikan yang lain dengan tangan kosong seperti biasa. Beberapa murid laki-laki sangat gatal dan ingin segera menangkap ikan.
"Itu ... Shen Yin, bisakah kamu menangkapnya untuk kami juga? Nanti kami akan membantumu untuk memasak ikan ini. Kami juga pandai memasak," usul salah satu murid laki-laki sekelas.
"Betul. Ayahku seorang koki di restoran bintang lima. Aku juga belajar dari ayahku untuk memasak ikan. Tidak masalah." Salah seorang di antara mereka juga berkata.
"Benar, benar ..." Yang lain mendukung.
__ADS_1
"..." Jun Ye yang sedang memancing ikan juga ingin setuju. Tapi ...
Jun Ye melihat ke arah lain dan tiba-tiba saja saja berkeringat dingin untuk teman-teman sekelasnya. Dia ingin memberikan peringatan pada mereka tapi tampaknya sudah terlambat.
Jun Haobei muncul dari arah lain dengan ember di tangannya. Dia pergi ke sungai untuk mengambil air namun alasan lainnya tentu saja untuk menemui Shen Yin.
Siapa yang tahu, Shen Yin menangkap ikan dengan tangan kosong dan para murid laki-laki sekelas ingin meminta bantuannya. Begitu murah hati?
Shen Yin jelas pasti akan menangkap ikan untuk mereka karena terlihat mudah bukan?
Jadi Jun Haobei segera berdeham cukup keras hingga suasana menjadi hening. Murid laki-laki segera melihat Jun Haobei datang dengan ember di tangan, entah kenapa suasananya menjadi tidak benar.
Sementara para gadis sudah memiliki bagian ikan mereka sendiri dari Shen Yin. Setidaknya cukup untuk makan siang nanti.
Jun Haobei menghampiri mereka dan memberikan tatapan peringatan. "Sebagai pembina kalian, aku akan memberikan tugas untuk menangkap ikan. Apakah meminta seorang gadis untuk menangkap ikan termasuk prinsip seorang pria?" tanyanya.
"..." Para murid laki-laki memerah dan tentu saja menyadari masalah ini.
"Tentu saja bukan prinsip kami!" Mereka menjawab serentak.
"Bagus!" Jun Haobei mengangguk puas. "Kalau begitu buat alat pancing dan mulai memancing sebelum makan siang."
"Ya!" Mereka mengangguk.
Jun Haobei akhirnya menatap Shen Yin yang sedang memegang seekor ikan yang agak besar. "Siswi Shen Yin, datanglah dan lihat berapa banyak ikan yang ditangkap," perintahnya.
Shen Yin menoleh dan segera membawa ember ikan ke arah Jun Haobei. Pria itu menghitung ada belasan ikan di dalamnya dan mengangguk puas. Gadis ini selalu memberinya kejutan.
"Tangkap beberapa lagi untuk para pembina. Sedikit lebih banyak," kata Jun Haobei seraya mengecilkan suaranya di bagian kalimat terakhir.
Sudut mulut Shen Yin tidak berkedut. "Yang ingin makan banyak itu pembina lain atau kamu?" gumamnya.
"Tentu saja aku," bisik Jun Haobei. "Jangan lupa memasak untukku," imbuhnya.
__ADS_1
"..." Pria tak tahu malu! Batin Shen Yin tak berdaya.
Memerintah murid lain untuk menangkap ikan sendiri tapi Jun Haobei malah manja dengannya? Bukankah harusnya malu?