
JUN HAOBEI melihat Shen Yin dan menyipitkan matanya. Gadis itu menguap dan sepertinya melupakan sesuatu. Dia memberi tahu gadis itu jika sebelumnya tertidur di gazebo halaman kuil. Tapi Shen Yin mengerutkan kening.
Dia tidak merasa pergi ke sana dan hanya berdiri di gerbang halaman kuil.
Jun Haobei tidak berkata lebih banyak. Sepertinya Shen Yin baru saja tertidur begitu saja karena aura dari Shin Mose ditekan oleh kekuatan spiritual di tempat tersebut. Dia mulai mempercayai beberapa hal yang tak kasat mata.
"Tidak apa-apa. Kamu mungkin lelah. Aku akan membawamu kembali ke apartemen," kata Jun Haobei mengambil topik lain.
"Ya." Shen Yin terlalu malas untuk bicara dengannya.
Jun Haobei menggelengkan kepala dan tersenyum tidak berdaya. Lupakan saja. Yang penting gadis ini aman dan sehat.
Di alam bawah sadar Shen Yin.
Shin Mose yang kepanasan kini ingin keluar dan mencari air dingin untuk memadamkan hawa panas di tubuhnya. Tapi dia tidak bisa keluar karena keberadaan Jun Haobei. Pria manusia itu memiliki aura naga ungu keemasan yang mengerikan.
Dia hanya bisa menahan diri hingga akhirnya mereka tiba di apartemen ....
Jun Haobei tinggal di apartemen gadis itu selama beberapa jam. Ketika tiba, hari sudah gelap. Dia menyiapkan makan malam. Gadis itu mandi terlebih dahulu dan menonton televisi.
Ketika makanan sudah siap, Jun Haobei melihatnya mengerutkan kening.
"Ada apa?"
"Aku sudah cuti sebulan lebih. Beberapa ujian kecil terlewatkan. Besok aku akan kembali sekolah dan mengikuti ujian susulan." Shen Yin baru saja menerima pesan dari Yi Er jika beberapa tugas harian telah menumpuk.
"Kamu akan naik ke kelas tiga dalam beberapa bulan. Setelah lulus SMA, universitas mana yang akan kamu masuki?" Jun Haobei sangat ingin tahu apa cita-cita gadis itu.
__ADS_1
"Hmmm?" Shen Yin tidak pernah memikirkan ini sebelumnya. Tapi kini dia mulai berpikir apa adanya. "Entahlah. Lihat saja nanti," katanya.
"Yah, tidak apa-apa. Jalannya masih panjang."
"..." Shen Yin melihat pria itu tersenyum, entah kenapa merasa aneh di hatinya.
Pria itu pasti memiliki pikiran yang buruk tentang dirinya bukan?
"Aku ingin segera menikahimu setelah lulus SMA. Bagaimana menurutmu?"
"..." Topik ini lagi, batin Shen Yin segera memutar bola matanya. "Aku tidak mau."
"Oh." Jun Haobei terkekeh, tidak kesal dengan penolakannya. Dia memiliki banyak cara untuk meyakinkan gadis itu. Lagi pula saat ini, dia masih dalam tahap pengujian.
Pria yang layak untuk gadis itu hanyalah dirinya sendiri.
"Aku mengambil ini dari kuil. Bawalah ke manapun kamu pergi. Itu bisa menenangkan jiwamu," jelasnya.
Shen Yin memperhatikan jika giok hijau itu memancarkan aura kehidupan yang sangat kaya. Ketika menyentuhnya, Shen Yin merasa sejuk di tubuhnya. Bukan rasa dingin yang menggigil atau hawa aneh yang membahayakan, justru seperti kedamaian dan segarnya hawa pegunungan.
Namun setelah menyentuhnya cukup lama, Shen Yin akhirnya mengerti kenapa Jun Haobei memberikan benda tersebut. Dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya.
Bagi Shen Yin, benda ini sangat penting. Dia akhirnya bisa merasakan napas lega setelah tujuh belas tahun hidup.
Karena malam semakin larut, Shen Yin mengizinkan pria itu untuk menginap di apartemennya. Ketika Shen Yin pergi tidur, tato bunga peoni di punggungnya mengeluarkan sinar.
Sosok Shin Mose muncul dengan tubuh berasap. Jun Haobei kebetulan baru saja mengambil selimut tebal dari lemari dan hendak tidur di sofa. Siapa yang tahu pria aneh itu akan muncul lagi.
__ADS_1
"Kenapa kamu muncul?" Jun Haobei yang wajahnya sudah gelap pun mencoba menahan diri untuk tidak marah di tempat.
Jika dia meninggalkan apartemen, kemungkinan besar Shin Mose akan melakukan tindakan ilegal pada tunangannya.
Sayangnya Shin Mose tidak berminat untuk bertengkar dengan Jun Haobei. Dia segera melarikan diri ke kamar mandi.
"Tubuhku seperti terbakar. Ini sangat panas. Aku butuh air dingin!" Suara Shin Mose terdengar dari kamar mandi.
"..." Jun Haobei mengerutkan kening. Melihat sekilas tubuh Shin Mose yang menang berasap, mungkinkah terjadi sesuatu?
Tak lama kemudian, Shin Mose keluar kamar mandi dengan tubuh basah. Asap di tubuhnya masih terlihat walaupun tidak setebal sebelumnya. Kulitnya memerah. Rambutnya agak berantakan. Pria berjubah brokat merah itu terlihat seperti seseorang yang baru saja keluar dari rumah yang terbakar.
Shin Mose mengeluh sejak Shen Yin berani menginjakkan kaki ke halaman kuil tua tadi. Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Percuma saja jika dia keluar untuk menghentikannya, bukankah Shen Yin akan pingsan lagi?
"Kupikir raja dunia bawah tidak bereaksi terhadap kuil?" Jun Haobei menaikkan sebelah alisnya. Dia melirik Shen Yin yang benar-benar tak sadarkan diri di tempat tidur.
"Manusia tanpa hati nurani! Aku tentu saja bereaksi. Sejak dulu, dunia bawah dan aura para dewa tidak pernah akur!" Shin Mose mencibir.
Tentu saja kuil merupakan tempat suci yang tidak bisa dimasuki oleh makhluk dunia bawah seperti dirinya.
Tubuhnya segera kering dalam sekejap mata berkat kemampuannya. Rambutnya tidak berantakan lagi dan kulitnya jelas putih pucat. Bisa dikatakan normal. Kukunya yang agak panjang memang sedikit menakutkan. Seperti iblis yang baru saja memasuki mode keganasan.
"Yah, seperti kucing dan anjing," ujar Jun Haobei seraya berbaring di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut.
"..." Apakah dia baru saja dihina oleh pria yang diberkahi dewa ini? Sudut mulut Shin Mose berkedut sedikit.
Shin Mose tidak memiliki banyak waktu untuk muncul di dunia manusia. Dia segera menghilang lagi.
__ADS_1
Dengan begitu, Jun Haobei merasa lebih tenang.