THE DAY ZOMBIE

THE DAY ZOMBIE
Eps 21


__ADS_3

~ Minggu 25 Desember 20XX


Dini hari dimana beni dan temannya akan melanjutkan perjalanan menuju lokasi tempat mereka akan berkumpul, walau masih satu hari lagi tetapi mereka juga tidak bisa terlalu berdiam diri dibalik rumah dalam keadaan negeri yang kacau balau apalagi waktu sangat berharga bagi mereka untuk bertahan hidup.


"Kalian sudah siap?" tanya Beni untuk memastikan temannya yang kala itu mempersiapkan semuanya, seperti atribut defense dan media attack lain yang bakal berguna nantinya


Sementara Ahmad dan Sinta hanya menganggukkan kepala dengan isyarat setuju, karena keadaan mereka sudah kembali fit setelah makan pagi beberapa waktu lalu sesaat sebelum berangkat pergi melangkah menuju tempat berikutnya


Ditambah semalam mereka sudah berencana untuk singgah ke markas militer pusat untuk menyelidiki apakah masih ada bantuan di sana, apalagi posisinya dekat dengan tujuan mungkin hanya berjarak 1 km dari tempat mereka berkumpul


Cklek...


Ahmad membuka jendela dengan sangat hati-hati sambil memperhatikan sekeliling untuk memastikan zombie disekitar. "Sepertinya aman, kalau gitu aku keluar dulu" ujar Ahmad kemudian mengeluarkan badan dari jendela dan menahannya supaya memberi ruang agar temannya dapat kesempatan untuk keluar


Sesaat setelah keluar dari jendela mereka langsung melangkah meninggal pekarangan rumah Ahmad menuju gerbang utama kompleks tetapi sebelum itu sekali lagi Ahmad memperhatikan sekelilingnya karena merasa aman dengan segera mereka berjalan menelusuri jalan kecil


Karena situasi sekarang dan sebelumnya, sangat jauh berbeda dimana kemarin zombie sangat ramai sedangkan kini sebatang pun tidak terlihat dimata mereka


"Kemana perginya zombie-zombie itu?" tanya Ahmad yang berjalan dengan posisi paling depan. "Aku juga tidak tahu tapi aneh saja, masa dalam semalam seluruhnya hilang bagaikan ditelan bumi"


"Kalian ini gimana sih, giliran ada mengumpat sekarang gak ada malah ngeluh, maunya apa coba" cetus Sinta dengan bingung


"Yah.. Gak ada, cuman aneh aja" gumam Beni dengan senyum kecut


Selama perjalanan mereka tidak menemukan zombie sama sekali namun itu bagus karena beberapa saat mereka sampai di gerbang utama kompleks dalam keadaan selamat.


"Setelah ini kita harus kemana?" tampak ahmad bingung karena setelah ini bukan lagi kawasannya


"Jika diingat-ingat, tidak ada jalan tercepat jika tidak lewat jalur utama tapi kita juga tidak bisa kesana karena di sana pasti banyak zombie, jadi terpaksa kita harus lewat jalur alternatif, gimana menurut kalian?" tanya Beni


"Aku setuju saja dengan pendapat mu, ben" usul Ahmad dengan menyilang tangannya di dada begitu juga dengan Sinta yang hanya mengangguk karena memang tidak ada jalur lain kecuali harus berputar


Beberapa saat berdiri di trotoar akhirnya mereka mulai melangkah menuju jalur yang telah ditetapkan selama perjalanan tidak ada hambatan walau begitu mereka harus tetap hati-hati karena mereka selalu melawati gedung yang ada di sekeliling jalan hingga tidak terasa sudah beberapa menit berlalu


Sampai di perempatan jalan yang di sana ada sebuah rumah sakit ukuran mega jadinya tampak mewah, hanya saja jika di lihat situasi seperti saat ini akan terkesan horor karena keadaan sudah sangat sepi tanpa pengunjung


"Rumah sakit ini kan?" Beni bertanya kepada yang lainnya sambil memperhatikan bangunan tersebut dengan intens.


"Nama rumah sakit ini bintang harapan, dimana merupakan hospitals di terbesar di kota" jawab Sinta


"Pantesan aja besar banget" seru Ahmad dengan mendongak ke atas


"Kita harus hati-hati" ujar Beni memecahkan suasana karena tampak dari sekitar mereka, mobil berhamburan dimana-mana tanpa ada driver dan itu sudah ada disepanjang jalan


Apalagi di rumah sakit, sudah dipastikan jika mobil berjejer rapi diparkiran. "Setelah ini kita akan belok ke kiri kan?" tanya Ahmad sambi menunjuk ke jalan bagian kiri dari perempatan


"Yah.. karena hanya di sana satu-satunya jalur menembus rute pusat" Beni jongkok dan membuka ranselnya sambil mengambil secercah kertas putih dimana sudah tergambar sketsa denah jalan


Selama beberapa menit beni mulai memberitahukan informasi yang dirinya tahu akan tujuan yang mereka tempuh dengan persiapan yang telah matang di malam hari. "Jika tidak salah mungkin sebentar lagi kita bakal sampai dijalan utama"


"Kalau begitu, mari percepatan langkah" ujar Ahmad yang membuat Beni menyimpan kembali kertasnya dan berjalan menelusuri trotoar karena cukup bahaya jika berjalan ditempat terbuka atau tengah jalan dengan dikelilingi bangkai mobil


Akan tetapi nahas ketika mereka berjalan di samping gerbang rumah sakit tampak jumlah zombie yang cukup banyak sedang mengamuk hingga suara mereka terdengar oleh mereka.


"AAAAGGGGHHHRRRKKK..."


Raungan zombie mulai terdengar menyeramkan ketika sekumpulan zombie mulai berlarian keluar dari gerbang rumah sakit dan mengejar kelompok Beni yang ketika itu berjalan menelusuri jalanan. "Sialan" Umpat Beni dengan kesal sambil mengambil ancang-ancang sebelum lari

__ADS_1


"Bagiamana ini ben, mereka sangat banyak" ujar ahmad dengan perasaan panik dan gusar


"Yah.. Lari lah" potong Beni dengan nada tinggi kemudian mereka berlari dari arah berlawanan dari rute mereka atau istilahnya mereka putar balik dari arah seharusnya


Tak... Tak... Tak...


Mereka terus berlari tanpa berani melihat belakang dengan perasaan sangat takut karena jumlah mereka sangat banyak jika dihitung berjumlah sekitar 23 orang dalam keadaan lapar hingga tampak agresif, jadinya Beni dan temannya kalang kabut sendiri


Tanpa sadar mereka kembali ketempat semula yaitu tempat dimana mereka keluar gang kompleks tempat Ahmad tinggal. "Belok kiri" ujar Ahmad kepada temannya. "Kalau gitu balik lagi dong" bantah Beni dengan keringat dingin bercucur deras


"Lalu gimana dong?" tanya Ahmad dengan perasaan yang kebingungan. "Ah.. Berisik, lagian mana ada waktu untuk mikir sih" ucap Beni kemudian berbelok ke kiri hingga mereka terpaksa balik lagi untuk lolos dari kejaran zombie


Akan tetapi karena Beni memimpin jadinya dia tidak ingat dengan jalur tempat Ahmad bernaung yang ada malah tersasar ke lain arah sehingga tanpa diduga mereka kembali dipertemukan dengan sekumpulan zombie yang sempat mereka temuin kemarin


Aaaggghhrrrkk...


Terdengar raungan zombie di depan gang membuat Beni dan temannya menghentikan langkah.


"Mampus" gumam Beni ketika melihat depan sudah ada puluhan zombie sedang mengejar tempat mereka berdiri, begitu juga dibelakang ada zombie yang mengejar mereka dari hospitals


"Apa yang harus kita lakukan?" Sinta tampak membulatkan mata dengan perasaan tak percaya akibat situasi mereka yang benar-benar dalam bahaya hingga Sinta hanya melihat kematian semata


"Tidak ada jalan lain selain, bertarung lagi" ucap Ahmad dengan lirih. "Bodoh, jumlah mereka jauh lebih banyak dari kemarin, gimana kita mau melawan mereka" hardik beni dengan tegas yang sudah tidak mampu berkilah


"Ini salah ku karena memandu kalian kejalan yang salah sehingga kita harus terjebak disini"


"Bodoh.. Jika pun aku yang memimpin mungkin tidak ada bedanya, karena siapa tahu jika kita selama ini selalu beruntung"


"Beruntung? tidak ini bukan salah kita melainkan salahnya karena tidak mau memberi tahu masa depan" batin beni yang seketika teringat dengan sisi gelapnya


Buk..


"Gunakan ini untuk mengalahkan mereka, ingat gunakan ketika terdesak karena disini hanya ada 5 peluru saja"


"Baik" jawab sinta dengan menerima senjata pemberian beni


"Baiklah mat, kita tukar tempat dimana aku bagian belakang dan kau depan"


"Tapi disini sangat ramai"


"Halah... Berisik, aku bisa menghadapinya seorang diri" potong Beni kemudian berjalan kebelakang sedangkan ahmad ke depan.


Sebelum mereka bertarung tampak Beni menelan liur karena melihat jumlah sangat banyak apalagi disekitarnya tidak ada benda lain kecuali senjatanya yang merupakan senjata jarak dekat, karena mau bagaimana pun mereka memang harus bertarung karena selama ini mereka sudah hidup dengan tenang tanpa pertarungan


Sehingga dengan kekuatan penuh Beni pun berlari menghampiri mereka dengan senjatanya sambil berteriak seraya mengeluarkan tenaga dan ketika itu juga Beni menghunus pisau kearah leher zombie namun sesaat sebelumnya.


Bagus dan Manda baru keluar dari rumah dalam keadaan penuh persiapan menuju tempat dimana mereka akan bertemu. "Kamu siap, man?" tanya Bagus dengan tatapan yakin. "Yah.. Aku sudah siap" jawabnya kemudian mereka berjalan dari halaman rumah menuju jalan raya melewati jalur motor yang ada di gang perumahan


"Semoga mereka baik-baik saja" sahut Manda sambil berjalan seiringan dengan Bagus


"Tenang saja, ada Beni jadi aku percaya kalau mereka pasti selamat"


"Tapi entah kenapa perasaan ku nggak enak yah" ujarnya dengan mengepalkan pergelangan tangan erat-erat


"Dimana pun kalian berada tolong untuk tetap hidup" batin Bagus dengan menatap langit pagi yang cerah.


***

__ADS_1


Bugh..



Pukulan ahmad tepat di pelipis zombie membuat mayat tersebut terpental dengan kepala yang pecah sambil mencucurkan darah hitam ke jalanan. "Mereka banyak banget" keluh Ahmad menggenggam palunya kuat-kuat sambil menghembuskan nafas panjang sehingga sesaat datang satu zombie lagi menghampirinya


"Ck.. Mereka banyak sekali" gerutunya kemudian memukul palu tepat di dahi zombie hingga tumbang, sementara dibelakang sinta sudah bersiap-siap sambil membidik senjatanya tepat ke dua arah supaya ketika diperlukan maka ia sudah siap menarik pelatuk


Chaaarsss...


Sayatan beni tepat dileher zombie membuatnya tumbang dalam sekali tebas. "Jumlah mereka bukan main-main" gumam beni kemudian mengumpulkan tenaganya lagi dan mengayunkan setiap serangannya dan pisau yang dimainkan sangat lihai hingga dalam sekali serang zombie menerima luka yang tidak ringan


Setelah beberapa menit berlalu beni hanya mempu menumbangkan 10 zombie saja, hingga masih banyak zombie yang lolos dari jangkauannya dan berlari mengejar sinta. "Sini kau brengs*k" umpat beni kepada zombie yang berlari mengabaikannya


"Sial.." Beni langsung berpaling dan ingin mengejar namun sebelum melangkah datang zombie yang berusaha untuk menerkamnya dari belakang namun beruntung dapat dihindari


"Ck.. Merepotkan" gerutu beni dengan menyerang zombie yang sebelumnya menerkam dengan sebuah tendangan tepat di wajah hingga dalam waktu singkat zombie tersebut terpental kebelakang


"Aaaggghhhrrrkkk.."


Lagi-lagi ada Zombie mencengkram pundak beni membuatnya hanya bisa bertahan tanpa bisa melangkah menolong sinta, sambil memasang posisi was-was supaya tidak tergigit. "Jangan mengganggu ku, monster" celoteh beni dengan nada tinggi sambil menusuk leher zombie


Hingga menciptakan darah hitam ke wajahnya tapi dengan begitu zombie yang terkena serangan langsung terkulai lemas hingga mudah disingkirkan oleh beni


Akan begitu datang lagi zombie yang menyerang beni hingga tidak ada henti-hentinya ia menghunus pisau, walau begitu satu zombie telah ia serahkan kepada sinta yang berada dibelakang dengan membawa sebuah pistol


Hingga di satu sisi, sinta terus membidik senjatanya tepat kearah zombie yang berada dibalik punggung beni. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam sinta dengan tangan gemetaran, karena mau gimana pun itu merupakan pengalaman pertamanya dalam menembak


"Aku takut jika pelurunya meleset dan mengenai beni yang ada dibelakangnya" semakin dipikirkan justru tangan sinta semakin gemetaran, hingga perasaan takut mulai merasuki hatinya hingga tiada tempat untuk menjamah ketenangan


"Aku takut" gumam sinta dengan air mata sudah tertampung di pelupuk mata


Walau begitu zombie yang berlari semakin mendekat hingga tiada waktu untuk sinta berfikir kecuali termenung sejenak.


"Untuk apa aku berjuang sekeras ini?, apakah semua akan kembali semula, dimana aku hidup dengan normal bersama keluarga, bahagia bersama, hingga menghabiskan hari dengan bahagia, apa semua itu masih bisa aku gapai, ataukah selama ini aku hanya berjuang sia-sia?" batinnya yang terus berkata akan dirinya sendiri


"Jikapun semua perjuangan ini karena aku suka dengan dirinya, apa sebanding dengan kebahagiaan yang bisa aku gapai sebelum semua hilang?"


"Sepertinya aku sudah lelah melihat perjuangan tiada akhir, walaupun aku selamat tapi semuanya tidak berupa, dimana fakta selalu menghancurkan ekspetasi" batin sinta sedang bergulat dengan pikirannya hingga pada akhirnya mulut pistol dia masukan kedalam mulut sambil berkata didalam hati


"Selamat tinggal beni, selamat tinggal ahmad dan untuk semua, selamat tinggal, semoga kalian selalu diberi kebebasan dan hidup bahagia sesuai dengan apa yang kalian mau, tidak seperti aku yang menyedihkan ini"


Sinta menangis di detik akhir sambil menatap punggung Beni yang tengah sibuk-sibuknya bertarung dengan zombie untuk melindunginya, karena ia tahu, semakin lama dia bersama beni maka hal tersebut akan membebaninya


Jadi untuk terakhir kali sinta ingin mengucapkan kata terimakasih kepadanya tetapi tidak ada waktu, karena zombie sudah didepan mata dengan keadaan berlari menghampirinya


Dengan menutup mata sinta menarik pelatuk hingga terdengar suara tembakan begitu kuat membekas di telinga.


Dor...


Sekali tembakan mampu menembus rongga gigi milik sinta hingga hancur, jadinya dalam satu peluru sinta tewas ditempat dalam keadaan mengenaskan, ditambah dengan zombie yang menerkamnya dan mencabik kulitnya dengan brutal


Beni yang mendengar suara tembakan berbalik dan menatap kebelakang. Namun ketika melirik alangkah terkejutnya dia melihat sinta sudah disantap zombie dalam keadaan penuh darah. "Sinta!!" panggil beni dengan berteriak, sampai-sampai ahmad yang dibelakang mendongak ke belakang dan melihat sinta sudah tewas


"Ada apa ini?" bingung Ahmad dengan tatapan tak percaya hingga dia tidak sadar dan lengah karena sesaat zombie menyerangnya dan menyebabkan luka gigit begitu dalam di leher. "Aaaaahhhhh..." Ahmad menjerit dengan rintih sambil berusaha untuk melepaskan serangnya


Namun terlambat karena seketika itu juga Ahmad terjatuh ketanah dengan tenaga telah hilang terbawa oleh angin yang menyisakan tubuh telah kejang-kejang. "Tolong" seru Ahmad dengan rintih sambil menatap beni dengan tatapan memutih.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2