THE DAY ZOMBIE

THE DAY ZOMBIE
Eps 74 (Part³)


__ADS_3

    "Aku tidak tahu kenapa kamu berkata seperti itu, tapi hal dapat aku simpulkan adalah kamu masih memendam rasa bersalah atas kepergian teman-teman kita, bukan!!" ucapan Bagus, telah membuat beni tertegun hingga mematung di posisi dengan mata melebar. 


Tetapi sesegera mungkin dia berbalik dan tertawa dengan nyaring. "Haha.. Nggak mungkin lah, aku masih menyimpan rasa bersalah, karena itu sudah lama berlalu"


"Ben,.. Jiwa yang terbelenggu tidak akan menemukan kebahagiaan" 


"Kamu terlalu membual untuk hal begituan, sudahlah mari kita lanjutkan misi" seru beni kembali berjalan, sementara Bagus hanya mengekor dengan perasaan iba menatap punggung temannya. 


Akan tetapi hanya berjalan beberapa langkah Bagus kembali mengucapkan satu kata namun dengan nada lirih


"Kenapa?"


Mendengar ucapan Bagus membuat Beny terhenti dan kembali melirik ke arahnya untuk memastikan temannya. "Maksudnya 'kenapa' Apa?" tanya Beni memandang temannya dengan dalam. 


"Bagaimana bisa kamu yang sangat terluka masih berbuat baik pada orang lain?" 


"Hmm.. Simpelnya begini, untuk apa kita hidup jika seorang diri dan manusia hidup tidak sendiri, butuh orang lain untuk melengkapi hidup kita, dan ada kalanya melihat orang lain tertawa juga sudah membuat kita bahagia" 


"Begitu yah.."


"Oleh sebab itu, mari kita sama-sama buat peradaban yang mana isinya adalah orang-orang yang bisa hidup dengan bahagia sampai mereka lupa akan keadaan sekarang"


"Coba seandainya Manda masih ada" gumam Bagus dengan nada lirih sembari menundukkan kepala menatap permukaan semen. 


"Tegakkan badanmu, gus!!"


"Hah?"


"Jangan memasang wajah muram, apa kamu tidak malu jika dilihat oleh manda di atas sana, tapi sebelum itu apakah kamu masih percaya dengan yang nama nya surga?'


"Tentu saja" jawab Bagus yang menatap dengan nanar. 


"Jangan salahkan dirimu atas kematian manda, karena bukan kamu yang salah melainkan aku lah yang membuatnya meninggal" 


"Apa maksudmu?" tanya Bagus kebingungan


"Kan kamu sendiri yang bilang kalau kematian manda disebabkan olehku, aku masih ingat kok" ucapan Bagus membuat Beny terdiam seribu bahasa 


Entah apa yang terjadi tapi seketika itu isi kepalanya begitu rumit, sampai-sampai dalam benak Bagus sendiri di isi oleh pikiran yang tak terkira hingga ucapan temannya sendiri pun sampai tak di gubris.


"Jangan terlalu dipikirkan" ujar Beni. "Tenang saja, aku juga gak akan memikirkan hal yang tak penting kok" 


"Haha.. Oke-oke, aku tahu kok" beni tersenyum tipis sembari menatap Bagus dengan tatapan hangat. 


Namun disaat mereka sedang saling bertukar tatapan, tiba-tiba dari jauh, terdengar suara bertempo namun tak bernada, suaranya nyaring hingga bergema memenuhi seisi tempat Beny dan Bagus, suara penuh pantulan yang berbunyi berulang kali


Plok.. Plok.. Plok 


Yah, tepukan tangan yang berulang-ulang hingga membentuk suara yang mengisi sunyi nya tempat parkiran tersebut 


"Wah.. Wah, tak kusangka jika kalian berdua akan datang dengan beraninya kesini!!" 


Suaranya berat dan serat itu bergema di sekeliling parkiran, alih-alih membuat Beny dan Bagus terkejut hingga berpaling menatap ke sumber suara yang memang dari suaranya tidak jauh. 


"Kamu!!!" Beny dengan tatapan sinis menatap orang tersebut dengan sorot mata yang menghardik. 


"Dialah lawan terberat kita, ben" bisik Bagus yang tatapannya tak kalah sinis, walaupun begitu entah apa yang dipikirkan Alex, tapi musuh mereka tampak memasang wajah santai, seperti tidak menganggap mereka berdua. 


"Bagaimana bisa dia tahu dengan keberadaan kita?" batin Beny sembari menatap lawan dan sekitarnya sebab dia khawatir jika mereka sudah masuk dalam perangkap musuh 


"Kalian pasti bingung, kenapa aku bisa mengetahui kalian, bukan?" seru Alex memasang mimik wajah menghina. 

__ADS_1


"Aku beri tahu kalian, sebenarnya aku sendiri sudah tahu akan serangan dadakan ini" 


"Apa!!" beni dan Bagus sama-sama terkejut, karena dimana semua skenario ini seharusnya tidak diketahui oleh musuh, tapi kenapa musuh bisa tahu, jika tidak diberitahu maka, ada spionase di antara mereka.


"Gus?"


"Aku tidak membocorkan apapun ben, percayalah denganku" ujar Bagus ketika itu mendapat tatapan curiga dari Beni


"Baiklah, aku percaya denganmu"


"Jadi apa yang akan kamu lakukan?" tanya beni pada Alex yang saat itu sedang mendengar obrolan mereka


"Tentu saja membumihanguskan kalian, tidak hanya kalian berdua tapi seluruh kamp yang ada di kota ini akan aku taklukkan sampai kalian benar-benar patuh terhadapku"


"Ambisi mu masih belum berubah yah!" sambung Bagus menatap Alex atau mantan bosnya


"Diam kau penghianat!!, diantara orang yang akan aku bunuh, kamulah yang paling menyakitkan nantinya"


"Ck..."


"Apakah kamu akan melawan kami berdua sendirian?" tanya Beni ketika itu merasa kalau situasinya hanya ada mereka bertiga. 


"Aku? Untuk apa aku repot-repot menghajar kalian berdua" 


Satu jentikan jari, muncul berbagai orang dari balik mobil dengan membawa senjata berupa kentongan yang terbuat dari kayu maupun besi, mereka datang menghampiri dengan jumlah tidak sedikit kira-kira 13 orang yang diantaranya adalah Ridwan yang sangat Bagus kenal. 


"Ridwan!!" ucap Bagus yang kala itu mulutnya terbuka lebar karena terkejut melihat mentornya sudah berdiri di hadapannya.


"Siapa dia?" tanya beni membuyarkan rasa kaget Bagus. "Dia.. Mentor ku semasa latihan, tapi yang jelas dia adalah lawan yang merepotkan untuk kita hadapi"


"Tambah lagi lawan merepotkan kita, gus!!" sahut beny memperhatikan sekeliling memang secara kuantitas mereka sudah kalah jumlah ditambah dengan kekuatan dari kedua pemimpin Devil, itu pasti akan menjadi kesulitan tersendiri bagi Beny dan Bagus


"Kalian tahu, sebenarnya pasukan aliansi sudah hangus bersama misil, cuman keberuntungan berada di pihak kalian, yang waktu itu memilih untuk membagi penyerangan menjadi dua kelompok, kalau tidak pasti kalian sudah kalah, tapi toh kalian juga bakal kalah dalam hitungan waktu saja" seru Alex


"Huh, apakah kamu marah nak, tentu saja sih, disaat melihat rekan sendiri yang di boom tentu dimana-mana orang akan naik pitam"  


"Bajingan!!" beni mengumpat dengan suara pelan namun gigi menggertak kuat, seakan-akan pembuluh darah yang mendidih itu akan meledak. 


"Sayangnya kamu tidak akan bisa membalas amarahmu padaku, karena kamu akan mati oleh mereka" ujar Alex dengan senyum jahat yang merekah di bibir liciknya 


"Gus, tahan mereka semua, biar aku hajar sih bajingan itu!!" hardik Beny memberi perintah kepada Bagus yang kebetulan itu berada di samping beni dengan tubuh sedikit gemetar. 


Dan ketika itu Beny terkejut sebab Bagus sedari tadi berdiri menatap seseorang dengan tubuh dan pupil mata yang bergetar, entah karena takut atau hal lainnya namun yang jelas, butiran keringat sudah membasahinya dengan seluruh tubuh yang tengah bergetar. 


"Kamu baik-baik saja gus?" tanya Beny membuat lamunan Bagus terpecah. "Ben, seperti kita tidak akan bisa menang" 


"Hah!! Bicara apa kamu?!"


"Lihat saja situasi pasukan dan terkhusus kita sendiri yang sudah terpojok oleh musuh, apakah kita masih punya kesempatan untuk menang" 


Beni langsung terdiam untuk sesaat sebelum dirinya menatap mata Bagus dengan tajam. "Dengar!!" 


"Sebelum berangkat kita sudah berjanji kepada semua orang, bahwasanya kita akan bertempur hingga mencapai kemenangan, bukan? Jadi tidak menutup kemungkinan jika mereka sedang berjuang, meskipun keadaannya sulit, aku percaya pada Kristian dan yang lainnya, mereka pasti bisa membalikkan keadaan" 


"Tapi gak ada hal bisa menjamin kemenangan kita dan lagi posisi seperti ini mana bisa berubah seperti membalikkan telapak tangan sih" 


"Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, percaya bukan pasrah, jika tujuan kita baik pasti semua akan dikehendaki dewata, katanya kamu masih percaya dengan surga, gimana sih" ujar Beny tersenyum kecil


Bagus terdiam untuk beberapa saat, karena ucapan beni membuatnya sadar bahwasanya untuk apa mereka berjuang, jika ujung-ujungnya hanya untuk menyerah, sebab menyerah bukanlah pilihan, lebih baik pulang hanya nama dari pada harus kabur dari medan pertempuran. 


"Benar juga sih, lagian masih ada janji yang harus kamu penuhi, bukan?" 

__ADS_1


"Tentu saja, kawan, oleh sebab itu tolong bantuanmu!!" ujar Beni yang menatap dengan raut wajah serius ke arah musuh-musuhnya. 


"Bagus kenapa kamu mengkhianati kami!!" ujar salah satu dari musuh kami yaitu ridwan. 


"Maaf saja, tapi sepertinya mengikut kalian hanya menambah dosa ku saja!!" jawab Bagus dengan bergurau. "Bajingan kau Bagus, dasar manusia gak tahu di untung!!".


"Ajarin dong puh, bagaimana menjadi orang yang tahu balas budi" senyum sumringah terlihat begitu mengerikan begitupun tatapannya yang tak kalah mengerikan saat itu 


Sehingga saat itu baik beni maupun Bagus sama-sama mengeluarkan aura membunuh yang begitu lekat sehingga seluruh orang menjadi musuh secara tidak langsung mendapat intimidasi batin dari aura itu. 


"Apa-apaan mereka" ucap salah satu pria yang memegang tongkat besi di genggaman tangan 


"Mengerikan sekali" gumam temannya yang ketika itu, memperhatikan Beny dan Bagus yang sama-sama mengeluarkan aura begitu mengerikan, bahkan tatapan mereka seperti saling melengkapi untuk membunuh. 


"Ridwan, aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus selesaikan masalahmu dengan muridmu, biarkan aku urus sih anak selatan itu" ujar Alex ketika itu menatap tajam Beny yang tengah berdiri di antara anak buahnya. 


***


Disaat yang bersamaan Beny dan Bagus segera bergerak ke dua arah yang berbeda menghabisi seluruh musuh bagaikan mobil yang menabrak manusia, karena musuh-musuh yang mereka hit harus terpental dalam keadaan terkapar lemas di lantai


"Gila, kuat sekali mereka berdua!!" ucap salah satu anak buah yang tubuhnya sudah gemetaran karena ia melihat secara langsung bagaimana serangan yang dilancarkan oleh musuh dengan begitu singkat dan cepat namun berdampak besar bagi korbannya 


"Mereka bukan manusia!!" teriak salah satu temannya yang kemudian memberanikan diri untuk mengambil resiko dengan bergerak mengikuti alur pertarungan, akan tetapi dirinya malah harus terkena serangan berupa tinju dari Beny yang mengenai tepat di rahang kanan hingga harus mengalami retak


Walaupun jumlah anak buah berkali-kali lipat lebih besar dari mereka berdua, namun berkat kekuatan luar biasa akhirnya mereka berhasil melumpuhkan musuh dengan cepat dan menyisihkan beberapa orang yang masih menggenggam senjata dengan sekujur tubuh telah bergetar hebat. 


Kira-kira 3 orang yang masih berdiri terpaku melihat teman mereka sudah tergeletak dengan mengeluarkan suara rintihan yang begitu memilukan dari mereka, ada yang memegang leher, ulu hati dan rahang yang pastinya sudah retak. 


"Bagaimana ini, apa tidak sebaiknya kita menyerang mereka berdua?" ucap anak buah A


"Kamu sudah gila!!, Mereka saja yang jumlahnya jauh lebih banyak bisa dikalahkan dengan mudah, apalagi kita yang hanya bertiga" bentak pria B


"Lalu bagaimana ini, ketua sudah memperhatikan kita, masa kita gak bergerak dan malah ketakutan disini" ujar pria C


"Bacot lah dari pada aku harus di hajar oleh mereka lebih baik kalian saja yang-.."


Door... Door... Door.. 


Tiga peluru telah bersarang di kepala ketiga pria itu hingga mereka tewas ditempat dengan keadaan mengenaskan. 


Dengan suara dari seorang pria berbadan besar yang ketika itu berkata. 


"Tiada ampun untuk seorang pecundang" ujar Alex yang menggenggam pistol di tangan kanannya 


Dan ketika itu akhirnya yang tersisa hanya ada Beny, Bagus dan dua lawannya yaitu Alex dan Ridwan yang sebentar lagi akan PvP untuk menentukan siapa yang hidup dan yang mati di antara kedua belah pihak tersebut. 


"Tak kusangka kalau kamu itu adalah orang yang tega terhadap anak buahmu, yah" ujar Beny


"Hahaha.. Untuk apa mempertahankan orang lemah yang gak ada harganya, lagian mereka hanya aku gunakan sebagai pion tak lebih dari itu" tawa jahat melengking di rongga tenggorokannya


"Mau bagaimana tetap saja sampah akan bertemu sampah" ujar Beny menyeringai sinis


"Berani sekali kamu menghina ku, bocah" hardik Alex yang menggertak gigi. "Baiklah aku ingin lihat seberapa lama kamu akan bertahan dari keadaan ini" lanjutnya 


"Tentu saja, sampai semua ini selesai" balasnya kemudian mengeluarkan sebuah bayonet dari sarungnya 


Begitupun Bagus yang segera memasang kuda-kudanya yang telah menandakan kalau mereka berdua siap untuk bertarung. 


"Ridwan, seperti yang sudah aku bilang tadi, urus muridmu biar, aku lawan bocah itu!!" titah Alex. Sementara Ridwan hanya membalas dengan anggukkan 


Selang untuk beberapa lama, mereka berempat hanya saling menatap satu sama lain untuk menganalisis musuhnya, karena sejauh yang dilihat lawan diantara PvP telah ditentukan yakni. Bagus dengan mentornya (Ridwan) sementara Beny dengan bos besar kamp Devil atau di sering disebut Alex. 

__ADS_1


Bagaimana dan siapa yang akan memenangkan pertempuran tersebut. semua hanya dapat terjawab pada episode akhir dari fase 3 yang kemudian akan berlanjut pada fase 4 atau last fase yang dimulai pada chapter 76.


BERSAMBUNG... 


__ADS_2