
Waktu telah berlalu setelah mereka membahas perkembangan pasien dan penurunan stok medis akhirnya Angel mulai keluar dari ruang kerja tante Novi untuk menuju dapur, karena ia tahu jika beni belum memakan sesendok nasi apalagi sepanjang waktu dia selalu mengurung diri diruang perawatan
Setelah di ruang konsumsi Angel meminta jatah makan untuk pengungsi, sekaligus dirinya sendiri kepada staff di sana. "Paman, saya ingin meminta sepaket makanan pengungsi dan untuk diriku" ujar Angel kepadanya
Karena jatah pengungsi dan petugas sangat berbeda bisa jika dibandingkan 7:10, karena petugas lebih banyak bekerja ketimbang pengungsi yang meminta bantuan
Setelah menunggu lama, akhirnya tersedia makanan tersebut dalam sebuah kotak plastik. "Ini makanannya nona Angel" ujarnya kemudian memberikan dua kotak kepada gadis hingga ia berkata
"Terimakasih, paman" ucap Angel dengan membungkukkan tubuh
"Haha.. Tidak perlu sungkan begitu, lagian selama ini kami selalu mendapatkan perawatan dari nona dan nona Novi" tawa pria paruh baya tersebut dengan lantangnya
Karena dia adalah koki disebuah restoran ternama ibu kota yang kebetulan sedang pulang kampung ke kota A namun ketika bersama keluarga dunia harus bernasib sial, karena bencana zombie datang hingga dirinya terpaksa harus dibawa ke bunker
Karena semua keluarganya harus tewas dimakan zombie. Awalnya paman juna adalah orang yang pendiam namun setelah di beri support dan masukan oleh Tante Novi dan asistennya yaitu Angel
Akhirnya paman Arjuna berhasil keluar dari traumanya dan mulai melanjutkan hobinya yaitu menjadi seorang koki.
"Ah.. Paman terlalu sungkan lagian disini kita adalah keluarga, jadi seharusnya saling membantu adalah hal yang wajar"
"Nona memang berhati baik" gumam paman Arjuna dengan senyum merekah di bibir
"Kalau begitu saya pamit dulu, paman" sahut Angel kemudian pergi meninggalkan paman Arjuna di dapur. Dirinya bergegas menuju ruang beni untuk menghantarkan makanan
Tok.. Tok.. Tok...
"Masuk" titah beni dari dalam dengan suara lantang. hingga secara spontan Angel masuk kedalam dan melihat Beni telanjang dada sambil melakukan push-up dilantai
"Aaaah.... Kenapa kamu membuka baju!!" jerit Angel dengan menutupi matanya
"Hah.. Aku buka baju karena panas, lagian hanya baju bukan celana" gerutu beni kemudian berdiri
"Yah.. Tetap saja, jika membuka tubuh dihadapan seorang gadis akan terlihat.." seketika angel terhenti mengoceh ketika mengintip tubuh beni yang bidang pada bagian perut dan dadanya hingga terlihat gagah, walaupun tidak terlalu menonjol seperti adiknya
"Aahh.. Sekarang pakai baju mu dulu" pinta Angel sehingga beni hanya menghela nafas dan melakukan tanpa membantah
Setelah mengenakan pakaian beni duduk disamping ranjang karena di sana tidak ada satupun kursi, kecuali meja yang digunakan untuk menaruh barang, jadi di ruangan tersebut bisa dikatakan sangat terisolasi sekaligus panas karena tidak memiliki ventilasi
"Ada apa kamu datang kemarin?" tanya Beni untuk membuka pembicaraan sedangkan wajah Angel masih merasa malu karena sudah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat oleh gadis remaja
"Kenapa kamu masih berdiri di situ?" tanya Beni dengan datar kerena sembari tadi Angel terus berdiri dihadapannya
"Ah.." angel terkejut kemudian duduk di samping Beni dengan wajah merona
"Aku membawakan makanan untuk mu!!" ujar angel sambil memberikan satu kotak makanan yang ada di tangannya. "Terimakasih"
"Apa kamu anak sekolah?"
"Iya.. Aku berada di kelas 3 SMA, sebelumnya"
"Berarti kita seangkatan dong, kamu masuk jurusan apa?" tanya angel dengan antusias. "Ipa" jawab Beni datar.
"Wah.. Berarti kamu tahu tentang biologi?"
"Aku tidak terlalu berfokus kepada tubuh, melainkan sains"
"Berarti kamu tahu banyak tentang sains?"
"Tidak banyak, tapi aku bisa menciptakan bahan peledak dari beberapa zat"
"Eh" Angel bergeming bingung karena setahunya sains tidak hanya menciptakan boom dari kimia, akan tetapi seketika angel tersadar oleh sesuatu
"Jangan bilang sains yang kamu maksud adalah membuat boom molotov, yang membuatnya dari minyak tanah"
Seketika itu juga Beni langsung mematung, karena rahasia terbesarnya telah terbongkar, karena memang dia tidak mengetahui apapun tentang pelajaran, oleh sebab itu nilainya selalu standar di setiap mata pelajaran
Karena sudah ketahuan akhirnya Beni hanya memasang wajah malu, sampai-sampai Angel menyadarinya dan tertawa. "Hahaha... Jadi begitu yah, ternyata kamu berkata tahu sains akibat pernah membuat alat berbahaya tersebut" tawa angel dengan cekikikan karena melihat Beni begitu lucu ketika malu
"Ternyata kamu cukup pintar hingga tidak bisa di bohongi"
__ADS_1
"Tentu saja, karena aku seorang siswa yang selalu mendapatkan juara umum seangkatan"
"Ha-ha.. Kurang ajar, pantesan saja kok, aku malah seperti orang bodoh" batin Beni dengan memasang wajah datar
"Tapi jika kamu seorang siswa, kenapa tubuhmu itu seperti seorang atlet?" tanya Angel
"Yah.. Memang dulu aku memang pernah ikut dalam Olimpiade olahraga tinju, namun siapa sangka jika aku tidak berbakat dan pada akhirnya gugur pada final"
"Bagaimana kamu bisa bilang tidak berbakat jika kamu saja sudah menduduki final" gerutu gadis tersebut yang terlihat sudah jengkel
"Bukankah itu sama saja aku tidak berbakat"
"Kamu berkata seperti itu seperti mengatakan jika kamu adalah orang yang rendah, kalau orang sepertimu dianggap tidak berbakat, lalu orang yang tereliminasi di babak penyisihan kamu anggap apa?"
Mendengar ucapan dari Angel membuat Beni diam seribu bahasa kecuali melirik wajahnya yang terlihat sedang kesal
"Apa dia marah?" batin pria tersebut yang melirik angel dari waktu ke waktu
"Sudahlah,.. Kamu makan dulu, aku mau ketemu kak via" seru Angel kemudian beranjak dan pergi meninggalkan Beni meninggalkan ruang perawatan
Disaat itu Beni mulai berpikir apakah yang dikatakan angel benar, jika pun benar apa dia akan merasakan rasa bersalah atas apa yang terpikirkan olehnya.
Selama termenung sejenak Beni kembali sadar untuk memakan kotak nasi yang dibawah oleh gadis tersebut. Sedangkan disisi lain Angel bertemu Via di ruangannya tentu saja sebelum masuk ruangan dia melihat dua penjaga yang berdiri diambang pintu
"Nona Enjel, kenapa anda datang kemarin?" tanya salah satu dari penjaga sambil membawa senjatanya ditangan
"Hanya ingin ketemu kak via" jawabnya. "Baiklah nona, maaf menganggu waktu anda" tutur tentara tersebut dengan lembut, kemudian membukakan pintu ruang via sehingga Angel bisa masuk kedalam namun sebelum masuk ia menundukkan tubuhnya sambil berkata "terimakasih"
Setelah berjalan memasuki ruangan. Terlihat di sana Via sedang duduk di kursinya sambil mencatat sesuatu di notebook. "Kak via, mari makan bersama" ajak Angel dengan senyum lebar
"Ah.. Ayo" jawab Via kemudian menutup kembali buku dan membuka sebuah kotak nasi di atas meja yang diantar oleh salah satu tentaranya untuk makan malam
Selama mereka makan, Via membuka pembicaraan dengan berkata. "Bagaimana dengan anak itu?" tanyanya yang terlihat sedikit jengah namun masih berusaha untuk bersifat tenang. "Dia, sudah baikan, untuk kejadian kemarin.."
"Tidak usah diteruskan, lagian kejadian itu sudah lumrah selama aku ada di sini" potong via. karena dia paham betul bagaimana kondisi psikis dari seseorang korban bencana, apalagi yang mereka hadapi bukan hanya luka lara melainkan kematian
"Namun kak, apakah dia bisa masuk kedalam bagian kita?"
"Soalnya dia memiliki potensi dalam bidang militer, siapa tahukan dia bisa menjadi pasukan ekspedisi?"
"Memang benar, apalagi semua bisa dilihat kemarin, akan tetapi aku juga tidak bisa menerima seseorang dengan menyimpan trauma berat" tegasnya
"Tidak perlu khawatir, karena ibu Novi sudah memastikan jika dia baik-baik saja"
"Kamu yakin, lalu kejadian kemarin?"
"Justru itulah sampai sekarang aku dan ibu Novi masih bingung karena melihat kondisinya"
"Kenapa?" tanyannya
"Susah untuk menjelaskannya, namun ada kemungkinan kalau dia bukan orang biasa"
Deg.. Secara tiba-tiba jantung via berbunyi karena dia teringat dimana Beni menghindari peluru salah satu prajuritnya, walaupun bisa dibilang beruntung namun sangat tidak mungkin kecepatan amunisi bisa ditandingi oleh gerak tubuh
Kecuali beni sudah mengetahui lebih dulu akan penembakan. "Baiklah, aku akan coba untuk berkonsultasi dengan komandan Kristian" ujarnya dengan memasukkan sendok terakhir kedalam mulut
"Iyah.."
Setelah ngobrol cukup lama dengan Kak via akhirnya Angel memutuskan untuk istirahat di kamarnya, karena dia sudah seharian bekerja untuk orang lain. Sedangkan beni sibuk untuk kegiatannya yaitu berolahraga malam seperti push-up dan lain sebagian untuk mengencangkan kembali otot-otot nya yang sempat kaku
Karena selama di sekolah dia tidak memperdulikan tubuhnya dan lebih mementingkan study, walaupun mau sekeras apapun dia berusaha nilainya berada di standar
"Intinya aku harus menjadi kuat, jauh lebih kuat dari sebelumnya agar kejadian tersebut tidak terulang lagi" batin beni yang hatinya terus membara dengan amarah
Usaha yang keras akan membuahkan hasil apapun bentuknya walaupun kecil namun itu sudah menjadi kemajuan untuk diri sendiri.
Termasuk Bagus, karena melalui kejadian brutal tersebut ia menjadi orang pendiam yang sadis karena setiap dia bertemu dengan zombie di jalan tiada rasa segan dan takut dalam menghabisinya
Bahkan ketika menghajar senyumnya selalu terbentuk di bibirnya. Malam itu dia dipertemukan dengan seseorang pria paruh baya yang menggunakan jubah serba hitam dengan tudung kepala yang menutupi rambut beserta masker hitamnya
__ADS_1
Mereka bertemu disalah satu jalan alternatif perumahan, yang dimana Bagus sedang berjalan menuju markas militer pusat kota A
Awalnya Bagus sedang menghajar seluruh zombie yang menghalangi jalannya, namun ketika semua tumbang datang seorang pria yang berjalan mendekatinya yang nafasnya masih tersengal karena lelah
"Siapa kamu?" tanya Bagus dengan memasang wajah was-was, karena pria paruh baya tersebut datang dalam penampilan yang mencurigakan
"Kamu cukup berpotensi, gimana jika kamu gabung dalam camp kami?" tawar pria tersebut kepada bagus yang duduk di salah satu zombie yang telah di kalahkan.
"Aku menolak" jawab singkat dari Bagus dengan cetus dan dingin
"Eh.. Kenapa?"
"Aku tidak ingin bergabung dengan manusia yang picik seperti kalian"
"Apa maksudmu?"
"Kamu kira aku bodoh, kamu rekrut diriku karena kekuatan ku, bukan"
"Tentu saja"
"Lalu kamu akan menggunakan ku untuk kepentingan pribadi mu, walau aku tidak tahu apapun, tapi diriku yang sekarang masih bisa melindungi diri sendiri!!" jawab Bagus dengan datar
"Hehe... Kamu ternyata cukup angkuh yah, kalau begitu mari kita lihat, seberapa kuatnya kamu" ucap pria tersebut yang memasang kuda-kuda
"Dasar manusia tidak tahu diri" cetus Bagus kemudian berdiri dan memasang persiapan untuk melawan musuh, karena jika dilihat musuhnya sangat kuat, karena kuda-kudanya adalah ilmu dari teknik muaythai.
Setelah bertatap mata cukup lama akhirnya mereka maju dengan mengeluarkan potensi didalam diri masing-masing. Awalnya pertarungan unggul pada Bagus karena setiap serangannya sangat brutal dan cepat sehingga lawannya tidak mampu untuk menyeimbangi
Namun semakin lama akhirnya sang musuh dapat mempelajari gerakan Bagus, walaupun Bagus menggunakan teknik tinju tetapi hampir sebagian gerakannya di dominasi oleh pondasi yang berantakan hingga mampu di baca dan dihindari
Jika kalian bertanya kenapa bisa begitu, karena Bagus bergerak berdasarkan emosi dan insting predator yang terancam.
Bugh...
Pukulan telak diluncurkan oleh Pria paruh baya tepat di ulu hati menggunakan siku sehingga dalam satu serangan Bagus langsung knock di aspal dengan keadaan yang kesakitan.
"Argh.... Sial" gerutu Bagus dengan memegangi perutnya
"Aku tahu jika kamu benci kepada manusia, karena sesuatu hal, bukan" ucapnya namun tidak direspon
"Tapi kamu harus tahu satu hal yang penting dari camp kami, yaitu kami bergerak bukan kepada siapapun"
"Apa maksudmu?!"
"Aku tidak akan bergerak untuk siapapun tapi juga tidak akan bergerak karena sesuatu, jadi camp kami adalah kumpulan netral yang akan membuat circle sendiri di era 4 sword"
"4 sword?"
"Yah,.. Dimana circle yang kuat akan mendominasi kota A secara menyeluruh"
Bagus hanya bisa tercengang melihat senyum sadis yang terpancar dari pria tersebut karena jika dilihat dia akan langsung tahu, jika dirinya telah menentang orang yang salah.
"Aku tidak perduli tentang siapa kamu, tapi apapun niat mu adalah jahat" ucap Bagus kembali beranjak berdiri kemudian kembali menyerang secara brutal
Walau begitu setiap serang Bagus dapat dibaca dengan jelas sehingga tidak butuh usaha besar pria paruh baya tersebut terus menghindar. "Sial, dia terlalu kuat" batin Bagus dengan melangkah mundur beberapa langkah karena harus memasang persiapan kembali sebelum menyerang musuh
"Kenapa kau mundur?" tanyanya tapi lagi dan lagi tidak direspon kecuali melihat tatapan intimidasi dari Bagus. "Sepertinya susah untuk membuatmu bicara" sambungnya dengan melangkah maju menyerang
Awalnya Bagus berpikir jika pria tersebut hanya bertahan dari serangannya, tapi siapa akan menyangka jika dirinya memiliki kekuatan besar hingga serangannya tidak mampu ditahan oleh Bagus
Bugh.. Bugh.. Bugh...
Pukulan demi pukulan terus meluncur ke tubuh Bagus, entah itu siku, tinju ataupun kaki semua ibaratkan Bagus seperti bantal tinju, hingga tidak ada satu patah pun yang dapat keluar dari mulutnya kecuali rintihan dari setiap serangan
Hingga tidak butuh waktu lama, Bagus pun ambruk karena luka memar yang di terima setiap pukulan.
"Sepenuhnya kamu sudah tidak bisa bertarung lagi?" ucap Pria paruh baya tersebut yang berdiri dihadapan Bagus
"Sial.. Dia terlalu kuat" batin Bagus dengan menatap tajam kearah wajah pria tersebut walaupun tertutup oleh masker dan tudung kepala
__ADS_1
"Lebih baik sekarang kamu tidur untuk sejenak" ucap pria misterius tersebut kemudian menendang kepala Bagus dengan begitu kuat, tapi sebelum mengenai lawan, Bagus lebih dulu menangkapnya dengan tangan kanan.
BERSAMBUNG...