THE DAY ZOMBIE

THE DAY ZOMBIE
Eps 70 (Part³)


__ADS_3

     Di Sebuah ruangan yang senyap dan hening itu terlihat sosok pria berpakaian militer, tengah duduk di salah satu sofa dengan di sisinya ada dua penjaga bersenjata, yang prioritas untuk melindungi tuan mereka dari sosok pria remaja di hadapannya. Seperti yang sudah dikatakan suasana hening sebelum pria berpakaian militer itu bertanya pada pemuda itu, 


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanyanya dengan nada dingin 


"O-orang yang tuan kirim, telah berkhianat" jawabnya dengan ketakutan, tapi yang membuat suasana jadi lebih tegang adalah melihat reaksi dari pria militer tersebut yang seperti tersambar petir disiang bolong sehingga wajahnya terlihat muram dan matanya terbelalak kaget


"Apa!!.. Bisa kamu ulang ucapanmu barusan" titah pria militer itu dengan wajah muramnya. "I-yah.. Orang yang tuan kirim, telah berkhianat dengan kami"


"Tidak mungkin, bagaimana bisa bonekaku membelot dariku!!" batin pria militer itu yang sekilas memasang wajah kesal


"Lalu bagaimana dengan pasukan kalian?" tanya militer itu kepada pria dihadapannya. "Orang-orang kami sudah di bantai, dan kami sudah kalah" 


"Kurang ajar" umpatnya memperlihatkan wajah merah padam karena marah. Tapi suasana langsung berubah ketika dari arah pintu terdengar dobrakan yang cukup kuat hingga pintu tersebut hampir hancur. 


"Ridwan!!.."


Teriakan yang memekakkan telinga tersentak membuat kaget pria militer tersebut yang tak lain adalah ridwan, tentu dia tahu siapa orang itu karena selama orang itu ada maka dirinya juga akan selalu bersama orang tersebut. 


"Ridwan,... Apa maksud dari semua ini!!!" hardik pria berbadan kekar itu dengan emosi yang telah dipenuhi oleh amarah


"Tuan besar, tenang dulu saya bisa jelaskan" terlihat Ridwan sedikit ketakutan sampai-sampai berdiri dari sofa dan melambaikan tangannya. 


"Jelaskan sekarang, sebelum kamu mati!!" tegasnya yang segera melangkah mendekat dan mencekik ridwan dengan kuat sambil mengangkatnya hingga tak menyentuh permukaan. 


"Ahh... Ugh.. Uhuk.., " terlihat ridwan sempat memberontak meronta-ronta tapi karena tenaganya kalah jauh, akhirnya ridwan hanya bisa bernafas secara perlahan sembari menahan sesak dan sakit 


"Jelaskan!!" tegas bos besar dengan nada mengintimidasi sekitar, bahkan dua penjaga dan satu informan pun hanya bisa melihat dengan seluruh tubuh bergetar hebat 


"Sebenarnya saya juga.. Uhuk.. Tidak tahu mengapa... Ugh.. Mengkhianati saya... Tapi saya bisa jamin kalau dia melakukan hal tersebut, karena ada alasan yang kuat... Uhuk..."


"Aku tidak suka bertele-tele, yang terpenting sekarang, jelaskan bagaimana caranya kamu bertanggung-jawab dengan anak didik mu itu, karena aku gak mau sampai dia menyusahkan ku di masa depan"


"Kalau masalah itu, Uhuk,.. Saya tidak tahu, tapi saya akan pikirkan masalah ini, karena saya juga, Ugh... Tidak menyangka jika dia mengkhianati saya" 


"Ck.." beruntung bos besar mereka masih mau memberi kesempatan untuk Ridwan, sehingga dirinya mau melepaskan cekikikannya. 


"Aku ingin kamu segera selesaikan masalahmu, ridwan" titahnya kemudian meninggalkan ruangan dengan tampang yang penuh oleh rasa amarah. Sementara ridwan hanya merintih sambil memegang lehernya yang terasa sakit. 


*****


Di lokasi lain Beny dan Bagus sudah duduk di salah satu sofa yang ada di ruang guru tempat black dragon berada, hanya saja tiada seorang pun di sana selain mereka berdua karena memang Bagus meminta agar ceritanya tak didengar oleh orang lain, selain beny, begitupun sebaliknya dimana mereka saling bertukar cerita dan pikiran untuk sesaat


"Begitu ya.. Aku tidak menyangka jika manda meninggal, dengan keadaan begitu tragis" ucap beny


"Dan saat itu aku tidak bisa berbuat apapun selain melihat" timpal Bagus


"Yah.. Keadaan kita serupa, dimana aku melihat Ahmad dan Sinta tewas di depan mataku dan disaat itu aku juga tak tahu kenapa itu bisa terjadi, apa karena takdir atau memang karena aku lemah" 


"Seandainya waktu bisa diulang, aku ingin melindunginya dengan nyawaku sendiri" Gumam Bagus


"Yang sudah terjadi biarlah terjadi, karena sekarang yang terpenting adalah kita harus menghentikan kebengisan dari kamp Devil" 


"Jangan bilang, kamu ingin melawan mereka?"


"Bukan ingin lagi tapi memang harus aku lawan karena mereka sudah memiliki ambisi untuk menyingkirkan orang lain" 


"Tapi mereka bukan kelompok yang mudah untuk dilawan!!" 


"Aku tahu, justru itu aku ingin kamu membantuku, gus, mari kita ciptakan dunia baru untuk orang lain" ujar Beni menyuguhkan senyum tipis. Begitupun sebaliknya, dimana Bagus menghela nafas kemudian berkata seakan-akan sudah mengerti dengan watak Beni

__ADS_1


"Huh... Dari dulu kamu selalu saja, memperdulikan orang lain ketimbang dirimu sendiri, ben" 


"Tentu saja, karena aku ini ketua kelas" balas beni dengan tawa dan senyum menyatu hingga suasana yang baru tercipta di hati Bagus. 


"Baiklah, aku akan membantumu sebisa mungkin untuk mengalahkan devil, tapi ini bukan karena aku ingin mengkhianati mereka namun aku sendiri tahu seluk-beluk dari mereka dan kebusukan yang mereka lakukan layaknya iblis" 


"Terimakasih, Bagus" ucap beni sembari menjulurkan kepalan tinju sebagai lambang semangat. Begitupun sebaliknya, Bagus yang melihat langsung ikut mengajukan tinjunya sehingga terjadi sebuah tos dengan kepalan tinju. 


Walau hari yang mereka lalui penuh dengan cobaan, tapi dengan semangat yang disertai keyakinan maka mereka pasti bisa menghadapinya bersama-sama, itulah yang dipikirkan Beny disaat dirinya bersama Bagus. 


Namun bagaimana masa depan, itu masih tanda tanya, oleh sebab itu kita perlu mencari tahu bagaimana rencana mereka setelah semua sudah siap. 


Ketika mereka sudah membahas masa lalu Andika kembali masuk keruangan, namun Beny tanpa diberi tempat duduk, Andika langsung dicecar oleh pertanyaannya. 


"Andika, semua kekuatan negatif telah kita singkirkan dari kota ini, tapi ada satu hal lagi yang perlu kita hadapi" ujar beni ketika itu mereka sudah di satu ruangan


"Maksud kakak kamp devil?"


"Benar, di sana akar permasalahan kita jadi maukah kamu membantu kami, karena kami pasti membutuhkan kekuatan kalian!?" tanya Beni. 


"Tentu saja, melihat kakak sudah melakukan sebanyak ini pasti teman-teman, mau membantu kakak apalagi tujuan kakak itu baik" 


"Baguslah tapi sebelum itu aku ingin kita menghubungi seseorang dari tanah timur" 


"Kakak ingin meminta bantuan dari sana juga?" tanya Andika. "Benar, semakin banyak sekutu maka semakin besar peluang kita untuk menang" 


"Kalau begitu aku akan membantu kakak kesana" 


"Baiklah. Sementara kamu Bagus, karena posisimu saat ini masih lemah, jadi tolong tinggal disini, bantu orang sebisa mu, usahakan kamu mendapat kepercayaan dari mereka, kamu paham?" 


"Yah.. Aku paham" 


**


Keesokan harinya Beni dan Andika sudah bersiap sesuai dengan rencana mereka, walaupun banyak orang yang ingin ikut kesana, tetapi andika menolaknya karena memang menurutnya perjalanan kali ini cukup pemimpin utara dan perwakilan selatan saja yang berkunjung sisanya hanya perlu menunggu arahan


"Kamu yakin tidak aku temani?" tanya Bagus yang berdiri di hadapan beni. "Tenang saja, aku akan baik-baik saja kok, kamu tahukan kalau aku ini bukan orang lemah" 


"Baiklah, aku percayakan semuanya padamu"


"Kamu juga Gus, tolong jaga disini selagi aku dan dika tak ada, aku percaya padamu" ujar Beny dibalas anggukkan dari Bagus


Setelah semua siap Andika juga sudah berpamitan dengan yang lainnya di tambah memberi sedikit penjelasan, akhirnya dia dan Beny berangkat menggunakan mobil armor yang diberi oleh Warz dengan beberapa penjaga yang ditugaskan untuk mengikuti mereka dari belakang. 


Selama perjalanan seperti biasa semua lancar kecuali jika jalur yang mereka lewati rusak, maka mereka akan memilih untuk mencari jalur alternatif lainnya supaya mobil tetap aman, akan tetapi jalur lain tentu  memakan waktu lama untuk bisa sampai ke lokasi. 


Jadi selama perjalanan Beny sempat tidur untuk sesaat karena mobil yang dia tumpangi sudah ada supir yang standby di kursi depan jadi tubuhnya bisa rileks untuk beberapa saat. Berbeda dengan Andika yang terus membaca buku untuk mengisi waktunya


Apalagi di zaman apocalypse ini, pasti manusia akan menghabiskan waktu untuk survive dari pada membaca buku yang tidak meningkatkan fisik, karena sejatinya pada zaman ini kepintaran dan fisik harus setara, tidak bisa jika orang itu hanya pintar tapi tidak kuat atau mungkin sebaliknya, dimana orang itu kuat tetapi tidak dilandasi oleh kepintaran maka ia hanya akan menjadi tong kosong. 


"Suasana ini membuat ku nostalgia" ujar Beny sembari duduk disamping adiknya yang kala itu masih berkutat dengan bukunya. 


"Yah.. Suasana dimana kita berangkat sekolah, bukan?" 


"Benar, Bagaimana dengan keadaan paman sekarang ya". Segera Andika timpal "Apa kakak sudah bertemu nenek?" 


"Sudah"


"Bagaimana keadaannya, apa dia masih sehat? Aku gak bisa mencarinya di rumah, jadi aku pikir dia sudah kakak bawa ke tempat pengungsian" 

__ADS_1


"Nenek sudah aku makamkan" 


"Hah... Apa?" raut wajahnya seketika berubah seperti melihat petir di siang bolong. "Apa!!..kakak nggak bohong kan?" lanjut dika, sementara Beny hanya mengangguk tapi masih tetap memejamkan mata. 


"Begitu ya.." ujar Dika memasang tatapan sayu sembari mengepalkan telapak tangan. "Apa setelah ini kita akan kehilangan lagi!?" lanjut Andika 


"Di dunia yang hancur ini, apa yang ingin kamu harapan lagi, dik" 


"Memang menyakitkan tapi inilah yang terjadi, menurutku kematian bukan hal yang buruk, karena kematian hanya untuk batu loncatan agar kita bisa menemukan kehidupan yang sesungguhnya" sambung Beni


"Lalu setelah semua ini selesai apa yang akan kakak lakukan?" 


"Kalau kamu?" 


"Aku?"


"Iyah.. Kamu!!" tegas Beni. "Kalau aku, ingin membangun kehidupan menjadi lebih baik lagi"


"Berarti kamu akan membangun peradaban?" 


"Iya.. Memangnya apa yang kakak lakukan setelah ini?!"


"Entahlah tapi aku merasa ada sesuatu yang harus aku selesaikan terlebih dahulu"


"Hal apa itu?" 


"Aku juga tidak tahu, tapi setelah waktunya tiba kamu akan paham" 


"Aku akan tunggu waktu itu" ujar Andika yang menatap kakaknya penuh semangat. "Haha.. Aku harap itu bukan sesuatu yang buruk" 


****


Perjalanan yang panjang akhirnya membuat mereka sampai pada kota A bagian timur yang di sana sangat padat dengan perumahan yang tidak terlalu besar dan bertingkat, karena dari arsitektur rumah di sana sangat menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat bagian timur dalam sektor ekonomi yang minim


Karena dibandingkan dengan wilayah lainnya bagian timur adalah bagian dimana permukimannya masih tertinggal dari kemajuan ekonomi jadi wajar jika daerah itu tiada bangunan yang mencolok layaknya di utara dengan sekolah besar, barat supermarket dan bangunan yang digunakan untuk berwirausaha dan selatan dengan benteng pertahanan militer


Menggambarkan bagaimana majunya setiap bagian kota, hanya saja tidak dengan timur yang tidak terlihat mencolok. "Beginilah keadaan timur" ujar Andika sembari menatap perumahan dari jendela mobil. 


"Sederhana, tetapi padat" gumam Beni menyipitkan matanya. "Walaupun tempat ini kurang unggul dari sektor pembangunan tapi ada hal yang membuatku tertarik loh" 


"Apa itu?" tanya Beni namun tidak digubris oleh Andika. Kecuali senyum tipis yang menghiasi wajah. 


Entah bagaimana tiba-tiba mobil armor yang ditumpangi oleh Beni dan andika berhenti di sebuah gerbang yang di sana sudah terbentang luas halaman dari sebuah bangunan besar yaitu jika dilihat itu adalah mansion. 


"Apa itu mansion?"


"Iyah.." jawab Dika. "Tapi bagaimana bisa di tempat ini ada bangunan semegah ini?" 


"Ini adalah tempat kedutaan makannya berbeda dari bangunan lainnya" 


"Aku baru tahu"


"Kakak akan terkejut setelah melihat bagian dalamnya" ujar dika, setelah mobil berhenti di depan gerbang turunlah dia bersama dua pengawalnya untuk menemui penjaga gerbang. Dari dalam mobil Beni melihat dengan jelas kalau Andika sedang ngobrol dengan penjaga di sana 


Sembari menunggu Beni memperhatikan pekarangan dari mansion yang super besar itu bahkan terbesit di benaknya kalau tempat itu adalah tempat para pemimpin bangsa berkumpul. 


Walaupun tidak bisa dipastikan kalau ekspektasinya benar tetapi rasa terkejut sudah pasti benar apa adanya, bahkan Beni hanya bisa tertegun memperhatikan bangunan dan pekarangan rumah itu untuk pertama kalinya. 


BERSAMBUNG... 

__ADS_1


__ADS_2