THE DAY ZOMBIE

THE DAY ZOMBIE
Eps 46 (Part²)


__ADS_3

Seperti yang telah dibahas. Dimana pasukan jendral sudah memukul mundur serdadu dari pihak Warz dengan begitu mudah tanpa perlawanan. kenapa demikian? Semua itu karena pasukan Kristian tidak menyadari penyerangan hingga mereka belum mempersiapkan apapun untuk berperang walaupun mereka sudah balik menyerang tapi itu tidak berhasil memukul mundur pasukan yang dipimpin Via


Sehingga beberapa saat setelah distrik 2 diambil alih membuat sang pemimpin sementara yaitu Steven mengadakan pertemuan darurat dengan dua prajurit yang notabene sebagai pemimpin satuan dari regu yang akan di pimpin, karena sebenarnya pemimpin regu berjumlah 3 orang hanya saja satu pemimpin sedang menjalankan misi diluar bunker


Mereka mengadakan pertemuan di ruang Kristian yang di sana sudah ada meja kerjanya. Dan kebetulan suasananya cukup mencekam karena situasi membuat mereka harus mengubah emosional apalagi setelah melihat keadaan yang tidak menguntungkan


Dimana pemimpin sesungguhnya tidak ada di markas, dan seperempat pasukan sudah berada di luar untuk menjalankan misi, jadi otomatis kekuatan partai tidak sekuat seperti sedia kala. Sehingga mereka akan berperang apa adanya untuk memukul pasukan negara yang menyerang secara mendadak


"Apa yang harus kami lakukan, pak?" tanya seorang pria berseragam abu-abu dengan lencana menempel di dada, walaupun umurnya sudah lumayan termakan usia tetapi dirinya masih memiliki kharisma dan kesan pemimpin yang tegap dan gagah berani layaknya seorang predator.


"Aku belum memikirkan rencana seterusnya, karena serangan musuh masih terlalu mendadak untuk pihak kita" tukas Steven dengan mengepalkan telapak tangan yang dimana keringat dingin mulai membasahi wajahnya


Walaupun keadaan kurang mendukung tetapi ia masih terus bersikap profesional, dimana wibawanya tidak terlihat seperti orang kepanikan. "Tapi pak, kita harus bergerak sekarang, sebelum pasukan musuh sampai di distrik ini"


"Kamu benar sekali, aku memberi perintah pasukan mu untuk berjaga di perbatasan, dan pasukan satu lagi jaga garis terakhir, usahakan tetap awasi tahanan, karena bisa saja mereka menjadi musuh kita, dan kalau hal tersebut terjadi maka kita tidak bisa untuk menyeimbangkan kekuatan"


"Siap, laksanakan!!" jawab kedua pemimpin regu dengan memberi hormat layaknya tentara, tetapi dalam cara tangan horizontal tepat di dada yang lurus kesamping


"Tapi sebelum itu, kirim prajurit untuk memberi kabar kepada tuan Kristan, jika bunker sedang di serang, sekarang!!" titah Steven sehingga kedua prajurit bergegas keluar ruangan untuk menjalankan rencana sementara


"Sialan.. Mereka benar-benar kurang ajar, berani sekali seekor tikus melawan" umpat Steven ketika suasana ruang sudah sepi sampai-sampai dirinya melempar pulpen yang biasanya digunakan Kristian untuk menulis sesuatu


"Aku tidak menyangka jika tahanan bisa menyerang seperti ini" gumamnya kemudian beranjak berdiri dan berjalan menuju sisi tembok, karena di sana sudah ada senapan yang tergantung di tembok sebagai hiasan ruang kerja Kristian


Setelah meraih senjata tersebut. Steven langsung mengokang senjata itu hingga berbunyi suara khas yang berati senjata telah terpompa. "Akan aku tujuan kepada mereka, bagaimana kekuatan dari Warz sesungguhnya" gumamnya sambil menyeringai sinis


Malam itu benar-benar waktu yang mendebarkan karena seluruh pasukan dari dua belah pihak sudah mempersiapkan langkah seterusnya terutama pihak Warz, dimana kekalahan mereka yang pertama akan dijadikan sebagai pengalaman berharga dan kesalahan tersebut tidak akan terulang kembali


"Pak, semua sudah di persiapkan, tinggal menunggu arahan dari bapak akan langkah selanjutnya" ucap seorang tentara kepada atasannya yang tak lain adalah seorang perwira yang telah diangkat sebagai pemimpin regu oleh pihak Warz


"Bagus,.. Untuk sekarang kalian akan di posisi kan dalam keadaan defense sampai ada arahan selanjutnya dari tuan Steven"


"Baik Pak" balas prajurit tersebut langsung berlari menuju pangkalan yang nantinya akan menjadi pos pertahanan mereka


\*\*\*


__ADS_1


Sementara itu pihak jendral juga mempersiapkan semuanya hingga benar-benar matang dan siap akan gempuran selanjutnya. "Komandan via, lapor jika pasukan sudah siap, dan menunggu perintah selanjutnya" ucap seorang tentara yang kala itu memberikan laporan disaat via sedang memeriksa persediaan amunisi, senjata dan lain-lain


"Baik, untuk seterusnya tunggu arahan dari sang atasan" jawab Via yang terkesan dingin sehingga sang tentara bisa merasakan aura yang terpancar dari atasan. "Baik" balasnya dengan tegas sambil memberi hormat hingga kemudian pergi ke pos untuk bersiap bersama rekan seperjuangannya


Tidak berselang lama setelah prajurit itu pergi, datang lah seorang jendral yang memimpin seluruh prajurit yang ada sebagai unit gabungan. Dirinya berjalan secara perlahan ke arah Via yang saat itu sedang memperhatikan senjata yang ada untuk kedepannya


"Bagaimana?" tanya sang Jendral sehingga secara reflek via langsung berpaling dan memberi hormat selayaknya tentara Indonesia


"Jendral, maaf jika saya tidak menyadari kedatangan anda!!" ucap oktavia


"Tidak apa-apa, lagian kamu sudah sibuk mengurus berbagai macam masalah yang ada disini" timpalnya sambil memperhatikan senjata tentaranya


"Iya, jenderal, olehnya saya harus berpikir keras tentang bagaimana cara mengatasi ini semua, ditambah dengan suplai yang sangat terbatas membuat kita tidak mampu melakukan seenaknya seperti mereka"


Melihat respect dari via membuat sang Jendral bisa merasakan betapa kesalnya dia terhadap pasukan Warz. "Aku mengerti perasaanmu, tapi kita juga tidak bisa berperang dengan emosi" ujar jendral. "Maafkan jika saya karena terlalu termakan amarah"


"Tidak apa, lagian wajar dengan sikapmu sekarang jika dikaitkan oleh masalah yang telah menimpa kita semua"


"Benar pak, rasanya saya mau sekali membabat habis mereka semua tanpa sisa"


"Haha.. Sikapmu, sedikit lucu ketika marah" tawa kecil dari pria paruh baya tersebut ketika menatap mata via begitu dalam. "Ah.. Tidak usah di pikiran, jendral" tukas via seketika wajahnya sedikit memerah karena malu


"Ha-ha... Tidak apa-apa, jika sesekali bercanda, dari pada serius terus-menerus, tapi memang benar, untuk sekarang kita harus pikiran bagaimana langkah selanjutnya"


"Bagaimana jika kita menggunakan granat?" usul via kepada jendral. "Sepertinya itu tidak efisien, karena posisi kita di lorong bawah tanah, aku khawatir jika tempat ini akan runtuh kalau kita menggunakan boom nantinya"


"Anda benar, kalau begitu kita harus memikirkan cara untuk bisa mengalahkan mereka" ujar via sehingga suasana pada kala itu sangat sunyi karena mereka sibuk memutar balikkan otak untuk mencari solusi dari masalah mereka


"Yang jelas kita harus mempersiapkan diri untuk hari esok" ucap jenderal yang pergi meninggalkan Via sendiri untuk berpikir sejenak. Sampai malam itu terlewati dengan kegelisahan dan khawatir di hati


Bagaimana tidak jika perang sudah didepan mata, dengan nyawa menjadi taruhan mereka, tentu rasa takut tidak luput di perasaan mereka yang kala itu sudah tidak terkendali bagaimana caranya untuk berekspresi. Bahkan untuk tidur mereka tidak nyenyak karena sepanjang malam selalu bersiaga


Akan rasa was-was terhadap serangan balikan yang dilancarkan oleh pasukan musuh. Karena di sisi lain, seluruh tentara sedang berlarian sambil mengangkat senjata dan amunisi melewati lorong dengan diikuti oleh beberapa prajurit di belakang yang berjumlah 8 orang sampai mereka berpapasan dengan pemimpin yang kebetulan sedang berjalan dengan langkah perlahan dan membawa senjata berupa senapan


"Lapor pak, senapan mesin sudah kami siapkan untuk bertahan dari serangan musuh" laporan dari salah satu mereka berseragam abu-abu sambil memberi hormat kepada orang patuh baya tersebut yang kebetulan dia membawa sebuah kotak berisikan amunisi dan senjata


"Segera antar senjata kesana, aku akan bertemu dengan kalian nanti". "Baik Pak" jawab tentara tersebut hingga ikut berlari menyusul rekannya yang sudah berlari mendahului dia dan pemimpin sementara yaitu Steven

__ADS_1


Sesampainya di sana. Mata Steven langsung tertuju kepada bantalan pasir yang diletakkan pada lantai yang hampir menutupi lorong, dengan tinggi hampir 2 meteran, dengan di sana sudah dipasang senapan mesin berjumlah 3 orang mekanis berserta pasukan pendukung dari infanteri segala aspek untuk mendukung pasukan utama


Ketika suasana masih cukup mengejutkan sang pemimpin, secara tiba-tiba kedatangan seorang tentara yang menjabat sebagai pemimpin regu yaitu sesosok prajurit yang telah diberi titah untuk menempatkan pasukannya untuk berada di garis depan oleh Steven.


"Lapor pak, pasukan saya sudah dalam pangkalan, dan akan terus memperkuat pertahanan sekuat tenaga"


"Bagus,.. Aku akan berpikir bagaimana cara untuk menyerang balik" balas Steven dengan mata memancarkan bara api akibat marah terhadap pasukan negara yang sudah membunuh anak buahnya


\*\*\*


Malam yang gelap dan sunyi dengan di sekeliling jalan terdapat banyak rumah yang berdekatan dengan rapi seperti perumahan bertingkat maupun tak bertingkat karena kesunyian tersebut berasal dari sepinya rumah yang tak berpenghuni tersebut dari setiap jalan yang tidak berujung, sebuah mobil jab bewarna loreng


Melawati jalan untuk memecahkan gelap gulita dari malam yang hampir memakan seluruh jalan maupun penjuru jalanan yang hampir hancur karena sebuah gempa yang berskala besar yang berada di pusat kota hingga terjadinya keretakan bagi sekitarnya.


Mobil tersebut terus melaju untuk melahap gelap malam dengan kecepatan tak terkira, hingga drivernya hanya menginjak gas tanpa hentinya sambil bergumam ketakutan dimana bibirnya sudah bergetar sambil mengucapkan kalimat-kalimat tak tersirat untuk berkali-kali


"Jangan sampai" kalimat tersebut terus berdesir di ucapnya yang bergumam ataupun dalam hati hingga tanpa penghormatan dia terus menginjak pedal gasnya supaya laju mobil tidak menurun dari batas kriteria orang panik


Tapi beruntung sang sopir dan mobil sampai tepat tujuan dalam keadaan selamat tanpa lecet sama sekali, hingga pria tersebut langsung turun dari mobil dan berlari ke arah seseorang yang kebetulan tidak jauh dari mobil terparkir sekitar 30 meteran


Karena dari jauh tentara tersebut dapat melihat sebuah asap yang menjulang tinggi dengan sinar api yang membara, jadi tanpa diberi tahu sang prajurit bisa tahu jika lokasi tersebut adalah tempat sang pemimpin mereka mengasingkan diri


Bahkan ketika mencapai depan mata dirinya tiada hentinya berlari dengan panik sambil terus mengucapkan kalimat yang sama dengan mulut gemetar, akan tetapi ketika sudah beberapa meteran dia mulai menenangkan diri dan mengatur nafas agar tidak terlihat gelisah ketika berada didepan atasan


Dan benar saja yang dia lihat untuk pertama kalinya adalah seseorang yang dirinya hormati di bunker antara lain Kristian. Orang tersebut duduk di bangku kayu kecil sambil menghangatkan diri di hadapan api unggun yang membakar kayu kering di halaman depan tenda untuk beristirahat


"Pak!?" panggil tentara tersebut yang secara tidak langsung masih terkejut dengan pertemuan mereka kala itu. "Kamu, dari prajurit regu mana?" spontan Kristan berdiri dihadapan orang tersebut sambil menatap tajam bahkan dari dalam tenda keluar seorang prajurit yang merupakan pengawal pribadi pemimpin.


"Saya berada di pasukan pengirim pesan pak" hormat prajurit tersebut dengan berdiri tegap dan terlihat santai namun gagah walaupun sebelumnya dia sempat panik setengah mati


"Pengirim pesan?"


"Yah pak, tugas saya adalah memberi tahukah anda jika bunker sedang dalam gempuran, dimana pasukan jendral secara mendadak menyerang pasukan kita" penjelasan tersebut membuat Kristian terbelalak kaget sehingga dirinya tertegun sejenak tapi tanpa di sadari mulutnya tersenyum tipis


Sementara beni yang baru kembali dari olahraga malam seakan terkejut mendengar ucapan itu dari tutur prajurit dalam menyampaikan kabar, karena setahunya perang adalah hal yang tidak diinginkan oleh Angel, walaupun beberapa hari lalu Kristian sudah bercerita tentang akan penyerangan yang bakal terjadi di masa depan


Namun di sisi lain prajurit yang sebelumnya mengantar kabar kini mulai terkejut dengan perubahan fisik beni, terlihat dari tubuhnya yang telanjang dada sehingga membuat prajurit tersebut tertegun dan bisa merasakan sebuah perbedaan beni dari yang dulu dan sekarang sudah jauh berbeda

__ADS_1


Betapa kuatnya pria dihadapannya kala itu. Lekukan tubuh yang terlihat seperti atlet internasional beserta beberapa luka di sekujur tubuh telah menandakan jika beni telah menghadapi banyak pertarungan dengan predator buas.


BERSAMBUNG...


__ADS_2