THE DAY ZOMBIE

THE DAY ZOMBIE
Eps 77 (Part⁴)


__ADS_3

     Fase : 4


   Hari itu Beny dan Angel keluar dari ruang perawatan untuk melihat keadaan diluar, dan di sana mereka mendapati beberapa prajurit sedang sibuk-sibuknya mengangkut logistik ke mobil pengangkut, tetapi ada sebagian lagi berpatroli di sekitar barak


"Ada apa ini?" tanya Beny. "Aku lupa memberitahumu, kalau mulai lusa besok kita akan kembali ke kamp masing-masing" 


"Heh.."


Sedari memperhatikan sekitar datang Fredy ke arah mereka dan memberi hormat kepada Beny dengan posisi tubuh yang tegap. "Ada apa?" tanya beny dengan singkat. 


"Bagaimana keadaan kakak?" 


"Aku sudah lebih baik sekarang, mana dika?" 


"Dia sedang ada pertemuan dengan yang lain" jawab Fredy. "Begitu yah,.." 


"Oh iyah.. Saya lupa kasih tahu, kak Bagus sedang menunggu kakak, di halaman" 


"Bagus?"


"Iyah.. Sekarang dia sedang menunggu"


"Baiklah, aku segera kesana" jawabnya kemudian berjalan bersama Angel ke halaman barak, sesuai dengan informasi dari Fredy. Setelah berjalan beberapa meteran akhirnya mereka sampai ke pekarangan halaman yang di sana mereka


Mendapati Bagus yang sedang mengkoordinir pasukan lain. "Bagus,.. Ada apa?" tanya Beni yang ketika itu sudah berada di hadapannya. 


"Tidak ada hal yang penting, hanya ingin melihat keadaanmu secara langsung, itu saja" ujar Bagus tersenyum tipis


"Aku kira ada apa?"


"Memangnya kamu gak senang, aku panggil?" tanya Bagus yang terkekeh. "Tidak,.. Tidak sama sekali, justru setelah melihatmu baik-baik saja, aku malah berpikir, apakah semuanya sudah berakhir" 


"Sudahlah, kita anggap ini sudah selesai, jadi setelah ini kamu ingin kemana?"


"Aku akan kembali ke selatan, kamu?" tanya balik Beny. "Aku kurang tahu, tapi ada kemungkinan aku akan ke utara, karena melihat adik mu yang kurang pengalaman, jadinya aku gemes pengen latih dia" jawab Bagus terkekeh


"Haha.. Kamu benar gus, aku setuju, kalau begitu tolong yah, latih dia"


"Santai saja, kita kan teman" ujar Bagus sembari menepuk-nepuk pundak Beni


Mereka berdua tersenyum dengan hangat, keadaan itu sudah seperti sesuatu yang selalu didambakan oleh setiap orang, yang mana seorang sahabat saling menghibur dan melengkapi satu sama lain. 


"Ehmm..." deheman Angel membuat Beny melirik ke arahnya seraya mengusap-usap rambutnya dengan lembut. "Aku harap kita terus seperti"  ucap Beny dengan tutur kata lembut. 


Tentu ucapan Beni membuat angel langsung tersipu malu, wajahnya langsung memerah. "Aku senang melihat kalian" ujar Bagus saat itu angkat bicara. 


"Apa maksudmu!?"


"Tidak, tidak ada, lupakan saja"


"Heh.. Ada-ada saja kamu ini" gurau Beni ketika itu tanpa sengaja melihat Andika dan Kristian datang bersamaan dengan diikuti oleh Steven dari belakang


"Bagaimana keadaan kakak?" tanya Andika ketika itu berdiri di hadapan Beni. Angel menatap Beni dan Dika bergantian secara seksama sembari mengulang satu kata dari dika


"Kakak?" gumam Angel


Beni yang sadar, segera menjelaskan kalau Andika adalah adiknya. "Kenalkan dia adikku, Andika" ujar Beni


"Owh.. Kenalkan aku Angel, salam kenal" sahut Angel memberi salam kepada Andika. 


"Aku andika adik kak beni, kalau gitu sebaiknya aku panggil kakak dengan sebutan kakak ipar atau hanya kakak saja?" tanya Andika membuat Angel langsung salting 


"Bocah semprul" sambung Beni menjitak Andika yang ketika itu hanya cengengesan.


"Haha.." semua orang disana tertawa melihat tingkah adik kakak itu 


"Syukurlah kalau semua ini sudah selesai, aku harap ini terus berlangsung sampai akhir hayat kita" ujar Kristian seraya tersenyum senang 


"Anda benar, aku harap itu kejadian pertama sekaligus terakhir untuk ancaman manusia" sahut Steven


Seluruh orang tersenyum dengan bahagia sebab akhirnya mereka bisa menghirup udara segar tanpa diselimuti oleh rasa takut. 


Waktu berlalu dimana Beni dan Angel berada di ruangan yang sama dengan bersimpuh di kursi sembari menatap ke luar jendela, mereka duduk bersebelahan, sehingga tak sering saling menatap satu sama lain. 


Duduk berlawanan dengan posisi di samping jendela tentu membuat mereka saling bertukar senyuman seraya bercanda gurau. "Bagaimana yah, keadaan Elisa, aku sudah lama tidak bertemu dengannya" ujar Beni menatap luar jendela dengan langit biru yang kala itu begitu indah


"Tenang saja, dia sudah aku titipkan pada ibu Novi jadi dia akan aman terkendali, lagian disini justru malah tidak bagus untuknya" 


"Yah... Kamu benar, semoga nanti ketika aku sampai di sana aku bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk bermain bersamanya" 

__ADS_1


"Tentu saja, karena kamu sudah lama meninggalkannya jadi kamu juga harus lebih lama bermain bersamanya dong" 


"Iyah.. Iyah" ucap Beni kemudian mengusap-usap rambut Angel hingga berantakan. "Kenapa sih, kamu sering banget ngacak-ngacak rambutku!!" hardik Angel memasang wajah cemberut


"Entahlah aku senang aja" 


"Dasar aneh" gumam Angel memalingkan wajahnya yang kala itu tersipu malu, entah dia kesal atau marah semuanya masih belum terjelaskan walaupun ekspresinya begitu menggemaskan. 


"Aku mau cerita.." tiba-tiba Beni mengatakan hal itu kepada Angel dengan diiringi oleh suara yang sedikit berubah


"Hal apa itu?" 


"Aku sempat bermimpi sesuatu yang buruk, dan itu benar-benar mengerikan" 


"Hah!!.. Tunggu dulu, jadi maksudnya kamu mau cerita kalau kamu pernah mengalami mimpi buruk?" tanya Angel. "Iyah" tentu heran lah wanita itu, bagaimana tidak jika hal seperti itu dibahas oleh beni dengan raut wajah yang sedikit cemas


"Lagian itu hanya mimpi, dan sepertinya kamu hanya terlalu sering melihat kejadian-kejadian buruk sehingga hal itu terbawa ke alam mimpi, karena mimpi juga adalah bunga tidur"


Ketika itu Angel tidak tahu kalau yang dirasakan oleh Beni tidak sesederhana itu bahkan ketika itu beni melihat Angel yang sedang berusaha untuk menghiburnya dengan senyuman manis


Mungkin, jika tanpa fakta itu beni bisa menerima ucapan tersebut sebagai bunga tidur, tapi dirinya juga takut kalau hal itu bukanlah hal yang bisa di pandang sebelah mata. 


"Sepertinya kamu belum mengetahui fakta mengenai aku yah, njel"


"Fakta?"


"Iyah,.. Fakta, kalau aku bisa melihat masa depan" 


Jederrr.. 


Siapa orang yang tidak terkejut mendengar kalimat tersebut, bahkan jika orang lain selain Angel akan tertawa terbahak-bahak seperti ia sedang mendengar suatu karangan fantasi dari novel. 


Tapi sayangnya tempat Beni bercerita adalah orang yang tepat sehingga angel saat itu cukup menerima kalimat tersebut walaupun dirinya tak bisa menelaahnya secara mentah-mentah, karena hal tersebut baru ia dengar secara langsung 


Karena sejauh yang dia tahu, memang ada kemampuan untuk melihat masa depan namun itu bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng, sebab dia tahu bahwa kemampuan itu harus dibarengi oleh bayaran yang setimpal atas kemampuannya. 


"Aku pernah membaca suatu kemampuan atau kelebihan khusus manusia yang menyangkut supranatural, akan tetapi pengetahuan itu terkadang juga sering membuat ku merinding, jadinya tolong kamu ceritakan kepada ku secara detail mengenai hal yang baru saja kamu ceritain itu, ben" tegas Angel ketika itu raut wajah dan suaranya mulai lebih intens. 


"Sebenarnya kemampuan itu tak aku pelajari karena itu juga bukan milikku" 


"Apa?!.. Lalu bagaimana bisa kamu bisa mendapatkan kemampuan itu?" 


"Roh? Kepribadian ganda kah?"


"Kurang tahu namun dia mengatakan kalau dirinya adalah diriku yang berbeda, tapi dia hanya mengakui kalau dia adalah aku, sebenarnya aku juga bingung akan maksudnya"


"Lalu apa lagi yang dia katakan? Apakah kamu sering bertemu dan melakukan interaksi?"


"Ehmm.. Kami hanya ngobrol tapi dibalik itu kami sama-sama saling melakukan kontrak, dimana dia mengambil alih tubuhku namun dia harus membantuku dengan kekuatan, dan kekuatan itu sudah sering aku gunakan bahkan ketika melawan Alex saat itu" 


"Sepertinya aku mulai paham"


"Paham apa?" tanya Beni. "Gejala yang kamu alami sekarang adalah sebuah fenomena dimana dirimu memiliki dua kepribadian"


"Dua kepribadian? Bagaimana bisa?"


"Aku juga kurang paham tapi menurut yang aku baca, sepertinya ada sesuatu di masa lalu mu yang tak dapat kamu terima" 


"Aku gak paham"


"Mungkin memang ada tapi kamu melupakannya, karena yang menyimpan kenangan itu hanya kepribadianmu yang lain" 


"Begitu yah.."


"Tapi ada kok cara untuk menghilangkan kepribadian ganda itu" 


"Apa caranya?"


"Ketika kamu sudah tahu dengan suatu kenyataan, terimalah kenyataan tersebut dengan hati yang tulus, niscaya sisi gelap mu juga perlahan akan menghilang" nasihat Angel didengar baik-baik oleh Beni. 


Mungkin ia tidak tahu kapan dan dimana sisi tersebut akan hilang, namun selagi hal tersebut tidak membahayakan orang disisinya mungkin itu bukanlah suatu masalah untuknya. 


Satu hari kemudian... 


Benteng pertahanan barak, dimana para aliansi berkumpul kini di serang oleh kawanan zombie dari arah barat dengan jumlah yang tak sedikit, karena zombie-zombie tersebut datang dalam skala besar melakukan invasi ke markas


Karena kejadian itu akhirnya seluruh penghuni barak bergegas menyiapkan benteng pertahanan dengan bermodalkan parit kecil dan kawat berduri di sekitar area luar. 


Beny yang baru bangun segera keluar dari kamar dan langsung bertanya kepada salah satu personil aliansi yang ketika itu membawa sekotak amunisi. 

__ADS_1


"Ada apa pagi-pagi buta seperti ini, kalian sibuk sekali?" tanya beny. Ketika itu ia baru bangun dari tidurnya, begitupun Angel bahkan ketika itu wanita itu masih duduk di ranjang untuk mengumpulkan nyawanya. 


"Kita dapat serangan dari segerombolan zombie, pak" jawabnya 


"Apa!!" 


"Benar pak, untuk ceritanya bapak bisa langsung tanyakan kepada jenderal besar, karena saya juga tidak tahu pasti ceritanya"


"Baiklah, kamu bisa lanjut kerja!!" ujar beni. kemudian tentara itu langsung kembali berlari ke luar apartemen dengan meninggalkan Beny yang masih berdiri mematung di depan pintu


Namun rasa terkejut itu tidak lama setelah melihat banyaknya seluruh tentara yang ada di apartemen berlari keluar dengan memakai seragam tentaranya


Beni juga tidak bisa tinggal diam dia pun segera bergerak kembali ke kamar dan mengganti pakaiannya dengan seragam kebanggaan. Angel yang bingung segera bertanya


"Apa apa, ben?"


"Markas diserang" 


"Apa!! Bagaimana bisa?"


"Aku juga gak tahu pasti, karena itu aku harus segera ke lapangan untuk memastikan keadaan" ujar beni. 


Setelah memakai seragam, dirinya mengambil pistol dan bayonet kesayangannya di laci meja 


"Aku duluan yah, kalau kamu mau nyusul, kamu bisa nyusul aku nanti" ujar beni kemudian memakai sepatunya sebelum dia benar-benar pergi dari kamar meninggalkan angel seorang diri. 


Di lapangan, Beni bertemu dengan Kristian dan Steven yang kala itu sedang mengkoordinir pasukan dalam  membuat parit darurat, bahkan saat itu beni juga terkejut disebabkan oleh mobil armor yang telah dipasang meriam berkaliber kecil, berjajar dengan rapi membentuk pertahanan


Karena yang dirinya tahu, mobil armor itu tidak akan diaktifkan selagi tidak dalam posisi perang, seperti ketika berhadapan dengan pasukan Dragon Slayer dan kamp Devil, semua tidak terlepas dari amunisi dan bahan bakar yang terbatas. 


"Kris, ada apa ini?!!" tanya Beni yang ketika itu menghampiri Kristian dengan wajah terheran-heran.


"Markas diserang oleh segerombolan zombie pagi tadi, jumlahnya pun lebih dari seratus"


"Bagaimana bisa? Apa kalian telah membuat suara atau memang secara tidak sengaja memancing mereka?!"


"Itulah kenapa aku herannya, karena dari kita juga tidak melakukan pergerakan sama sekali setelah menghadapi pasukan Devil, tapi bagaimana mungkin zombie-zombie itu datang dalam jumlah yang tidak sedikit, seperti ada yang memberi titah pada mereka"


"Entah mengapa perasaanku jadi tak enak" batin beni memperhatikan jalanan yang membentang secara horizontal di samping persis markas. 


Setelah sekian beberapa lama menunggu datang Angel dan rombongan para anggota medis ke garis depan bersamaan dengan Andika yang baru tiba. 


"Ada apa ini kak?" tanya Andika 


"Kita di serang oleh zombie yang jumlahnya tidak sedikit" jawab itu diwakilkan oleh Kristian yang masih memegang teropong guna untuk memperhatikan musuh dari ujung jalan. "Bagaimana bisa?" sambung Angel 


"Kalau masalah itu kita juga tidak tahu" 


Disaat suasana masih tegang dari kejauhan seperti beni melihat orang sedang berlari ke arah mereka dengan langkah cepat, walaupun saat itu jarak masih 1 km jauhnya. 


"Berikan aku teropongnya!!" ujar beni merebut benda itu dari Kristian. "Ada apa?"  bersamaan dengan pertanyaan dari Kristian yang heran. 


"Aku seperti melihat seseorang di ujung jalan" 


"Seseorang!!?" seluruh orang terkejut tidak terkecuali Angel dan rombongan medis lainnya. 


Setelah beberapa lama memperhatikan beni yang masih meneropong secara tidak langsung seluruh orang juga penasaran, karena akhirnya mata mereka berhasil menangkap sosok yang di maksud oleh beni dari jarak 600 meteran


"Tembak!!!" titah beni secara tiba-tiba dengan berteriak hingga seluruh prajurit segera cepat melepas tembakan secara bertubi-tubi ke arah sosok itu, walaupun mereka sendiri tidak tahu, apakah itu zombie atau manusia karena dari posisi mereka masih sulit untuk memprediksi


Tapi setelah ditembak bertubi-tubi oleh serdadu sosok itu masih berlari, bahkan kini jaraknya sudah mencapai 500 meteran. 


"Kok bisa, sudah ditembak bertubi-tubi namun tidak tumbang, walaupun itu zombie sekalipun pasti akan ambruk jika yang menembak sudah lebih dari 10 orangan" gerutu Kristian yang terperangah melihat makhluk yang masih berlari ke arah mereka itu. 


"Zombie golongan zero!!!" ujar beni. Ketika itu melepas teropong dari kedua bola matanya. 


"Golongan zero?" 


Angel langsung bertanya untuk mewakili orang lain yang ucapan tersebut terbesit dalam benak mereka mengenai makhluk zombie zero itu. 


Tapi pertanyaan angel itu tak digubris oleh beni malahan dengan segera beni langsung melompat masuk kedalam parit kemudian mengambil salah satu senapan yang dipegang oleh prajurit tanpa berkata-kata.


Beni membidik dengan begitu tenang sembari merasakan mata angin yang mulai berhembus secara perlahan. 


Kemudian setelah semuanya pas dengan cepat beni menarik pelatuk senapan hingga berdenging suara senapan yang begitu menggelegar, dibarengi oleh peluru melesat dan mengenai kepala zombie tersebut hingga tewas di tempat. 


"Makhluk itu langsung mati?" gumam Kristian yang terkejut, begitupun seluruh orang yang menyaksikan sendiri action Beni yang begitu heroik, tidak terlepas dari prajurit yang heran, karena bagaimana tidak jika tembakan yang mereka lepaskan secara bertubi-tubi tidak sebanding dengan satu peluru senapan biasa.


BERSAMBUNG... 

__ADS_1


__ADS_2