
Kedatangan dari dua perwira tersebut membuat suasana menjadi hening. Karena sebagian dari pasukan langsung memasang posisi siap dan tegak, ketika mendengar sesuatu yang keluar dari mulut atasannya. Di sana Via langsung membuka pembicaraan dengan lantang sambil mengenakan seragam militernya .
Termasuk dengan Kristian yang sudah berada disampingnya Walaupun tidak banyak berkata banyak namun sebagian besar dari penghuni bunker menghormati dirinya, bukan semata-mata karena takut, melainkan karena rasa segan mereka terhadap sang penyelamat
"Selamat pagi semuanya, pertama-tama saya akan menyampaikan misi yang akan kalian jalani di luar bunker, walaupun terkesan berbahaya, tapi ini tugas kalian, jadi harus ingat, keselamatan tim dan kalian sendiri ada ditangan kekompakan, apalagi misi kali ini aku tidak bisa ikut serta didalamnya"
Mendengar hal tersebut, tentu seluruh prajurit merasa heran, karena yang mereka tahu adalah kebiasaan via jika ada sebuah misi diluar maka ia sendiri yang akan mendampingi secara langsung
Sampai ada salah satu dari mereka bertanya setelah mengangkat tangannya ke langit. "Kapten, maaf jika saya lancang, tapi boleh kah saya tahu alasan anda tidak bisa ikut bersama kami, agar kami bisa paham akan kondisi saat ini?" tanyanya dengan lantang dan tegas
"Karena hari ini adalah hari dimana aku dan komandan Kristian, melakukan pelantikan menjadi perwira tinggi oleh jenderal" mendengar jawaban tersebut sontak membuat seluruh orang terkejut termasuk orang-orang yang ada disekitar mereka yang tidak didalam barisan, ketika mendengar berita itu
Walaupun beni merasa biasa saja, karena dirinya tahu pasti semua ini adalah perbuatan Kristian. Dan benar saja ketika ia melirik kearahnya ternyata Kristian telah tersenyum sinis sambil mengingat kejadian kemarin dimana ia bertemu dengan jenderal.
\*\*\*
Pada kemarin sore kristian datang keruang jenderal dengan tatapan serius. Tok.. Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan pintu dengan iringan bunyi dari balik pintu. "Jenderal, boleh saya masuk?" tanya Kristian dengan tutur lembut namun tegas. Hingga tidak selang lama akhirnya Kristian mendapat respon dari dalam dengan jawaban. "Silahkan" titahnya
Kemudian Kristian masuk sambil memberi hormat kepada Jenderal yang ada dihadapannya. "Ada apa kamu datang kemari?" tanya sang Jenderal dengan mengerutkan alis saking bingung
"Saya hanya ingin menyerahkan surat ini kepada jenderal" Kristian memberikan sepucuk surat kepada atasannya dengan halus
"Apa ini?" bingung jenderal, walaupun pada waktu itu kertas telah ditangan, akan tetapi karena dilipat menjadi beberapa bagian membuatnya tidak bisa langsung memahami dari maksud tersebut
"Itu adalah surat permohonan"
"Tidak ada habis-habisnya rakyat sipil menuntut, padahal jika dibandingkan di luar, justru malah disini jauh lebih baik, tapi kenapa mereka malah tidak mau bersyukur" gerutunya dengan jengkel tetapi tetap membuka isi kertas
Namun setelah di baca dan dipahami, ternyata dugaannya salah. "Kris,.. Apakah kamu yang membuat permohonan ini?!" tanya sang Jendral dengan sorot mata tajam mengarah ke Kristian yang tampak tenang sambil memasang posisi istirahat
Dengan singkat Kristian menjawab 'Iyah' tentu sang Jendral langsung emosi hingga wajahnya merah padam sambil memasang wajah sinis dan aura intimidasi. "Gubrak..."
Suara hentakan dari meja akibat tangan Jendral memukul begitu keras. "Jangan bercanda!!" hardik sang Jendral dengan emosi sambil menatap tajam ke arah Kristian yang kala itu masih tenang
"Aku tidak bercanda jenderal" tukas Kristian yang mulai angkat bicara dengan nada datar. "Apa kamu tahu, apa akibatnya dari permintaan yang kamu pilih ini?!" tanya jenderal dengan nada tinggi
"Tentu saja"
"Cih.. Aku tidak ingin menyetujuinya, kalau begitu aku sama saja menurunkan drajat ku sendiri" tolak jenderal dengan merobek kertas tersebut hingga beberapa bagian.
"Aku tidak perduli dengan tanggapan anda, tapi sekarang yang ada dibenak ku hanya memperbarui peradaban manusia saat ini"
Kristian dengan santai berjalan dan duduk dihadapan jenderal. Bahkan yang lebih mengejutkan adalah dimana sikap kaki di silang yang saling menindih dengan santai dia berkata. "Karena mau tidak mau jenderal harus berada di pihak ku" cetus Kristian
"Apa maksudmu!!"
"Karena aku sudah menciptakan rencana baru bersama dengan pasukan khusus"
"Apa!!,.."
"Iyah,.. Karena jika tidak bergerak maka bunker ini tidak bisa berkembang kalau terus-menerus seperti ini"
"Tapi itu sama saja jika kita mengkhianati bangsa Indonesia?"
"Anda pikir, apa yang masih bisa diharapkan dari situasi seperti ini" ketika mendapat balasan seperti itu jenderal langsung memasang tatapan intens
__ADS_1
"Kristian, kenapa kau begitu ambisius?" tanya Jendral dengan serius. "Aku hanya ingin membuat kehidupan yang normal"
"Ck.. Aku tidak bisa menebak jalan pikiranmu, tapi aku tidak akan bisa mengizinkan mu mengambil alih bunker ini!!"
"Kalau begitu aku akan membunuhmu" kecamnya kepada atasan. "Hah?"
"Iya.. Karena ideologi yang akan aku buat adalah dimana semua untuk satu"
"Kurang ajar, berani sekali kamu lancang!!" ketika itu sang Jendral mulai berdiri dan memasang wajah kesal dan marah, tapi semua itu berubah menjadi terkejut dimana Kristian langsung menodongkan pucuk senjatanya tepat ke arah tubuh
"Kamu!!" gumam Jendral dengan menggertak gigi karena melihat mulut pistol telah mengarahkannya ke dirinya
"Apa kamu berani menembak ku?" tanya Jendral dengan senyum meremehkan. "Kenapa, tidak?" tukas Kristian dengan sinis sambil menggugah senyum khasnya
Jendral yang melihat seketika merasa takut, namun dengan keberanian dia mulai menjawab sebagai pembelaan terhadap harga diri dan martabatnya. "Seharusnya kamu tahu dengan konsekuensi yang akan terjadi kalau kamu membunuhku, bukan?"
"Tentu saja, akan tetapi semua telah berubah"
Terlihat dari wajah jendral semakin bingung ketika mendengar ucapan pria tersebut. "Karena aku sudah membuat propaganda di angkatan militer jadi hal paling memungkinkan adalah perang dua pihak, bukan seperti apa yang kau pikirkan, jendral" senyum Kristian telah menggambarkan jati dirinya
"Kurang ajar, sekarang kamu sudah benar-benar memberontak, kris"
"Aku? Tidak-tidak, aku sama sekali tidak memberontak, hanya saja ingin meminta dengan jalan sedikit ekstrim"
"Kamu kira ini lucu!!"
"Kamu tahu kan bagaimana hukuman bagi seseorang melakukan kesalahan, apalagi seorang militer, terutama kamu yang sudah melakukan kejahatan besar-besaran dengan Revolusi bunker, itu mananya kamu memisahkan diri dari Indonesia"
"Aku tidak perduli, lagian tidak ada orang yang bisa menahan ku sekarang"
"Berisik, jika bukan karena posisi mu sekarang pasti aku sudah melakukannya dari dulu tapi aku juga tidak mau membuat mental tentara turun, jadi aku akan menunggu jawabanmu"
"Tidak perlu menunggu, karena aku ingin melihat cara kerjamu, dan aku ingin lihat bagaimana perkembangan mu untuk perkembangannya"
"Baguslah" kemudian Kristian menurunkan senjata lalu pergi dari ruangan jendral sambil dengan sekuat tenaga ia menghela nafas karena sebentar lagi dirinya akan memulai revolusi bunker
\*\*\*
Pagi itu setelah meninggalkan banyak pertanyaan, salah satunya dengan penyampaian kapten Via yang berkata bahwa mereka berdua akan dilantik, namun sebelum bertanya telah tiba waktunya untuk memulai operasi sehingga mereka mengurungkan niat untuk bertanya dan mulai berangkat dengan satu pemimpin sebagai pengganti via, yaitu dari pasukan Elite
Mereka berangkat dengan menggunakan 3 mobil armor, 5 mobil penumpang, dan 10 mobil pengangkut suplai yang telah dibuat khusus oleh serdadu untuk mengeruk sumber makanan dan perlengkapan lainnya.
Selama perjalanan. Tim mereka tidak mendapatkan masalah ataupun hal-hal yang menghambat mereka walaupun terlihat dari setiap jalan, kalau jalannya perlu renovasi, karena kejadian jatuh asteroid telah menyebabkan gempa tektonik berskala besar hingga membuat jalan rusak
Akan tetapi itu semua bukan hambatan bagi mereka, karena mereka terus melanjutkan perjalanan, walaupun ban mobil tersangkut di sela jalan, seluruh penumpangnya akan mendorong mobil sampai berhasil keluar dari lobang
Ditengah perjalanan seluruh tentara yang berada di satu mobil sangat menikmati udara segar dari luar bunker. Bahkan mereka sempat bercanda dan bernyanyi bersama, walau beni tidak menggubris hal tersebut
"Bagaimana dengan mu, Njel" secara tiba-tiba dirinya bergumam dengan suara pelan. Hingga beni mulai menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan sambil mengumpat diri sendiri didalam hati
"Bodoh,.. Apa yang aku pikiran, seharusnya aku lebih fokus terhadap dunia luar, karena bisa saja kami di serang secara tiba-tiba, tentu aku tidak boleh lengah!!" batin beni dengan menghardik diri sendiri
Sampai tidak lama kemudian ban mobil yang terus berputar kini sudah mulai berhenti secara perlahan namun pasti, hingga tidak lama kemudian mobil yang mengangkut beni pun berhenti di sebuah gedung besar
Dengan bergilir setiap tentara mulai turun dari mobil masing-masing termasuk beni hingga dirinya menapak kakinya ke aspal jalan yang telah lama tak dia pijak. Karena camp yang di tempati oleh pengungsi berada jauh dari kota pusat, dengan lokasi yang berada pinggir kota dengan lokasi di lahan luas yang jalurnya hanya setapak tanah
"Dimana ini?" tanya singkat beni kepada salah satu tentara di sisinya. "Ini adalah gudang penyediaan makanan instan dari dalam atau luar negeri, bisa di bilang ini lah yang menyuplai persediaan seluruh toko kota A"
__ADS_1
"Begitu ya.." gumam beni sambil melirik kearah gedung besar tersebut
"Ambil senjata kalian!!" titah sang pemimpin mereka, yaitu tentara golongan Elite yanng telah dipercayakan oleh via
Tidak berselang lama, mereka langsung mengambil senjata dari dalam mobil, dan masing-masing membawa senjata, ada yang senjata berjenis Assault rifle. Tapi tidak dengan beberapa orang termasuk beni sendiri, yang lebih memilih menggunakan senjata jenis Hunting Rifles (senapan jarak jauh)
Karena beni terlalu malas untuk menggunakan senjata dalam getaran tak karuan. Lagian dia juga ingin lebih banyak menggunakan pistolnya.
Sebelum masuk, sang pemimpin memberi arahan kepada timnya. "Mulai dari sekarang kalian masuk ke area berbahaya, jadi pastikan kalau kalian tidak membahayakan diri sendiri dan rekan setim, kalian mengerti!"
Seluruh orang yang mendengar hanya mengangguk setuju dan mereka mulai berjalan memasuki kedalam area gudang dengan dipandu oleh sang pemimpin dengan langkah perlahan dan penuh rasa siaga termasuk beni walaupun dia berada di antara .
Bagi jumlah orang yang masuk, hanya berjumlah sekitar 75% dari total , sedangkan sisanya hanya menunggu di mobil militer untuk memantau sekitarnya. "Menurutmu, didalam sana ada zombie, tidak?" tanya prajurit kepada rekannya yang masih memantau teman-teman mereka yang memasuki kawasan gudang
"Kemungkinan, ada dan tidak" gumamnya kemudian mengambil teropong, lalu membidik dari balik scoop ke arah rekannya yang ada didalam kawasan zombie, karena mereka mulai bergerak mendekati sumber tujuan.
Tidak terasa mereka sudah melangkah sedikit jauh, walaupun begitu mereka belum sampai tujuan, karena memang lahannya saja cukup luas hingga mereka merasa was-was karena berada di tempat terbuka takut nanti akan disergap dengan banyak zombie
"Prajurit pembidik, berhenti dan awasi kami!!" titah sangat pemimpin dengan memberi isyarat tangan kepada pasukan penyerbu untuk melangkah mendekati gudang, sementara beni dan beberapa orang menghentikan langkah dan mengambil senapan yang mereka rangkul di pundak dan bersiaga penuh dengan sekelilingnya
Usut demi usut, tentara penyerbu sudah memasuki gudang dalam jumlah cukup banyak sambil terus siaga, karena mereka tidak tahu apa yang ada didalam sana. Selama beberapa menit ada salah satu tentara yang keluar dan memberi isyarat jika gudang telah clear
Hingga dalam langkah cepat dan cekatan, seluruh pasukan yang awalnya berada di mobil langsung pergi menyusul prajurit yang sudah menunggu di gudang tidak untuk beni dan beberapa orang, karena mereka menggunakan senapan dengan ditugaskan untuk membidik dari kejauhan
Setelah semua benar-benar aman baru lah tim beni bergerak masuk untuk mengangkut makanan, tapi sebelum itu dirinya terkejut dengan melihat perkakas yang cukup luas yang di isi dengan kardus snack seperti roti, minuman, makanan kaleng lainnya
"Jadi ini, pusat makanan dari kota A?" tanya beni kepada salah satu tentara. "Iya.. Dan sini juga belum di jarah jadi kita benar-benar harus berhati-hati, karena selama ini kami hanya memeriksa toko atau minimarket saja karena disini dekat dengan kota pusat dimana radiasi menjalar"
Entah kenapa perasan beni menjadi tak karuan, karena melihat dan mendengarkan kata radiasi membuat hati beni menjadi gaduh. Hingga dia mulai memfokuskan sekitar dengan memegang pistol sedangkan senapannya kembali di rangkul kembali
Sepanjang langkah mereka semakin masuk ke dalam gudang yang gelap gulita, tanpa cahaya yang menyinari kecuali senter tangan sebelumnya dibawa oleh tentara penyerbu termasuk pemimpin
Karena sudah cukup masuk kedalam gudang suplai akhirnya sang pemimpin kompi berkata kepada bawahnya. "Kita akan mengangkut persediaan yang diperlukan, ingat kalian hanya membawa makanan instan saja!!"
Ketika usai menyampaikan pesannya kepada seluruh pasukan itu mereka hanya mengangguk paham dan mulai bergerak ke antara rak yang tertumpuk kardus berwarna coklat, akan tetapi sebelum mengambil barang. Mereka semua mendengar suara bising berasal dari antara gelapnya ruang
Gubrak..
Terdengar suara seperti kursi yang terjatuh dengan begitu kencang, sampai harus membuat suara gema di setiap sudut gudang kala itu. "Dimana asal suara tersebut?!" ucap salah satu tentara dengan cemas sambil melirik berbagai arah agar tiada zombie yang mendekat
Termasuk beni yang sembari tadi tampak tenang kini mulai memperhatikan sekeliling dan menggenggam pistol erat-erat yang jari sudah siap menarik pelatuk.
"Firasatku benar-benar sudah tidak enak" batin Beni, karena di merasakan ada hawa khusus yang berada di satu atap
Sehingga secara tidak sadar mereka mendapat serangan dari balik gelap ruangan, bahkan langkahnya terdengar samar kecuali ketika mereka melihat pasukan paling depan di serang dengan cepat tanpa suara. Disaat itu mereka terkejut dimana salah satu rekan tergeletak dengan darah bercucuran deras ke lantai
"Hey.." Panggil salah satu tentara yang berada dekatnya dan mencoba untuk melihat keadaan prajurit tersebut. Dan benar saja, ketika di lihat ternyata darah mengalir dari lehernya yang robek sengat besar hingga terlihat tulang leher
Wajar saja tidak terdengar suara, karena korban dibunuh dalam satu serangan dan itu pun langsung menghancurkan rongga leher, hingga otomatis pita suara ikut pecah ketika itu. "Sial.. Siapa yang melakukan ini!!" hardik pria yang memeriksa temannya hingga tidak lama dari belakang mereka mendapat serangan
Tepat. Dibelakang beni orang yang menggunakan sniper mati dengan cara yang sama hanya saja di sana terlihat zombie yang menikmati mangsa terlebih dahulu.
Ketika beni melihat belakang. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat sesosok monster atau bisa dibilang zombie dalam bentuk berbeda, karena makhluk tersebut memiliki mata merah menyala. "Dia zombie generasi zero!!" batin beni melihat zombie dengan kaget
"Apakah ratu zombie telah kembali?" hanya itu yang sempat terlintas di benak beni, karena setelah melihat kejadian tersebut, matanya langsung kosong tak percaya jika semua secepatnya itu walaupun dia sudah kuat, tapi dirinya yakin jika ia yang sekarang tidak ada apa-apanya dengan sang ratu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1