
Suasana langsung tegang ketika Beni mengatakan bahwasanya ada rencana yang tidak relevan akibat keberhasilan hanya 20% tetapi kemenangan yang didapat adalah telak. Semua masih tanda tanya bagi Samuel, Andika, dan Fredy yang saat itu ikut dalam rapat mengenai langkah selanjutnya dari antisipasi mereka dalam Battle of North.
"Rencana apa yang kakak maksud itu?" tanya andika mulai penasaran dengan metode yang disebut oleh Beny adalah cara ekstrim.
"Menghancurkan supermarket yang menjadi tempat persembunyian mereka" jawab Beni membuat seluruh orang terkejut bukan main terutama Fredy.
"Tapi bagaimana bisa kita menghancurkan markas mereka dengan senjata yang kita punya saat ini" bantahnya
"Aku tahu, justru itu aku mau kita meminta sejenis bom yang hulu ledaknya cukup dahsyat atau paling tidak dapat menghancurkan pilarnya" jelasnya
"Apa kamu yakin dengan rencana tersebut kita berhasil mengalahkan mereka?" lanjut Fredy.
"Kenapa tidak? Karena disaat pilar gedung hancur otomatis bangunan akan runtuh dan itu akan membuat mereka kalang kabut ketika melihat markas mereka runtuh, untung-untung jika mereka tewas di dalam reruntuhan itu" sebut Beni dengan menyeringai.
"Lalu kenapa kamu bilang kalau keberhasilannya hanya 20%?"
"Karena kita tidak tahu seberapa ketat penjagaan di sana ditambah dengan berapa jumlah dari anggota Devil yang ikut dalam satuan, tentu itu akan sulit untuk menyelundupkan boom ketika mereka sedang waspada"
"Tapi kenapa harus bilang keberhasilannya hanya 20% coba, kami pikir kamu bakal ngelakuin perang habis-habisan dengan mereka" sebut Andika. "Aku tidak bodoh, lagian aku juga ingin minimalisir korban dari pihak kita" sebut Beni sinis
"Ya Sudah kalau seperti itu kita harus membuat proposal untuk meminta pihak Warz mau mengirimkan peledak pada kita" ujar Samuel hendak menyudahi rapat mereka.
"Kalau gitu aku tunggu hasilnya" ujar Dika kemudian mereka keluar dari ruangan untuk menyudahi rapat sekaligus menunggu peledak yang ingin digunakan oleh Beni sebagai senjata pamungkas.
Akan tetapi sebelum bertindak mereka bakal kembali rapat untuk membahas rencana mereka, karena penyerangan tidak bisa dengan satu rencana jadi mereka berencana akan membuat rencana B setelah boom yang ingin diminta telah masuk ke persenjataan mereka.
***
Waktu berlalu dimana akhirnya boom yang mereka minta sampai di markas Black dragon dengan jumlah tidak terlalu banyak namun cukup untuk melumpuhkan lawan mereka, tapi sebelum itu mereka kembali rapat untuk membahas langkah selanjutnya karena hanya modal satu rencana itu tidaklah cukup
Cklek...
"Maaf aku terlambat" ujar dika yang kala itu baru masuk kedalam ruang rapat yang sebelumnya telah mereka jalani beberapa jam lalu. "Nggak apa-apa, lagian kami baru mulai rapatnya" ucap Samuel sambil memperhatikan secarik kertas yang sebelumnya adalah gambar peta.
"Jadi bagaimana dengan senjata yang kita butuhkan itu sam!?"
"Setelah aku mengirim proposal ke Warz, mereka langsung mengirimkan peledaknya diwaktu yang bersamaan, walaupun tidak banyak tapi jika kita memakainya dengan kompeten mungkin bisa menjadi cara untuk melumpuhkan lawan" jelas Samuel
Ketika itu sudah ada Fredy dan Beni yang ikut serta dalam rapat mereka. "Jadi untuk pihak selatan, apa mereka akan membantu kita?" lanjut dika. "Kalau masalah itu aku tidak tahu" ujar Samuel.
"Kalau menurutmu kak. Apa mereka akan membantu kita, besok?"
"Hmm.. Mungkin aku saja sudah cukup" ujar Beni dengan tenang. "Apa kamu yakin, jumlah mereka banyak dan sepertinya mereka memiliki daya tempur yang jauh diatas kita"
"Apa kamu meremehkan ku?, lagian aku yakin dengan kemampuanku, kalau aku bisa mengalihkan mereka semua, kecuali kalau ada dia!!" ujar Beny seketika mengingat Bagus.
"Aku harap tidak ada orang itu, lagian siapa juga yang mau melawan monster sepertinya" cetusnya dengan nada sinis
"Aku juga berpikir demikian" ujar Beni hingga sesaat kemudian mereka melanjutkan pembahasan mengenai langkah selanjutnya dari rencana mereka terhadap penyerangan di markas musuh.
Beberapa jam kemudian. "Setelah semua kita bahas, sepertinya cukup dengan dua rencana itu untuk melumpuhkan lawan" ujar Beny kepada anggota rapat lainnya
__ADS_1
"Yah.. Menurutku juga begitu, lagian banyak rencana membuat kita bingung sendiri nantinya" sahut Andika. "Jadi kapan kita akan bergerak?" tanya Samuel
"Besok malam!!" ujar Beni membuat mereka mempersiapkan diri mereka untuk menyambut hari esok dengan lebih antusias, karena masalah pertama mereka akan segera selesai.
------(-)-----
Keesokan harinya tepat pada pukul 7 malam seluruh anggota dari pihak Warz sudah bersiap-siap di posisi dengan keadaan sedang memantau target mereka, yang tidak lain adalah gedung markas musuh, dan sesuai dengan informasi jikalau mereka bersembunyi di gedung supermarket yang terletak tidak jauh dari perkotaan
Karena sejujurnya jarak antara markas Black dragon dan dragon slayer cukup jauh, dimana Black dragon berada di antara kota yang jalannya sebagian besar adalah jalan raya atau jalan besar, sementara tempat Dragon Slayer berada di pinggir kota dengan sistem jalur hanya satu arah yaitu jalur utama
Yang tentu perumahan maupun arsitektur tidak sepadat kota pinggir seperti di tempat Dragon slayer berada yang memang markas mereka adalah salah satu pusat dari kota A, dan perbatasan di antara kedua kubu berada di gerbang tol yang pernah dilalui oleh beni sebelumnya bersama dengan Surya partnernya dari wilayah barat
***
Saat itu beni dan seluruh rombongan sudah memantau dari jarak 300 m jauhnya bahkan Andika sampai harus menggunakan teropong untuk melihat dengan jelas keadaan di sana, karena sejujurnya yang berada di sana hanya beni yang hanya berjarak kurang lebih 20 langkah dari pintu utama.
Akan tetapi dirinya sedang bersembunyi dari penjaga yang kala itu cukup ketat dari berbagai arah, seperti pintu utama ada 5 samping kanan dan kiri, terdapat masing-masing 3 orang dan rooftop ada 4 orang dengan senjata berjenis Kar98k di setiap orangnya
"Menurut informasi aku hanya perlu masang di 6 titik yang mana titik itu adalah topangan bagi bangunan ini, tapi bagaimana caranya bergerak sambil membawa benda kaya gini coba?" gumam Beni sambil memperhatikan tas besar yang isinya adalah bahan peledak yang sudah disiapkan di waktu sebelumnya.
"Hais.. sudahlah, lagian siapa orang yang cocok untuk menjalankan misi ini kecuali diriku"
Dengan tatapan serius beni mulai menyanggah tasnya kemudian membawanya di pundak yang mana seutas kain sudah melingkar di tubuhnya,
"Sepertinya aku harus lebih serius" ujar beni dalam batin kemudian melangkah dengan gerakan kaki tanpa suara bahkan gerakannya seperti tidak menyentuh permukaan, karena selain tanpa suara kecepatannya juga sangat cepat hingga dirinya seakan-akan menyatu dengan gelapnya malam
Gerakan yang cepat membuatnya mampu mengelabui musuh-musuhnya yang kala itu tak sadar dengan keberadaan beni yang bergerak di sisi mereka.
Sampai beni sampai di titik pertama yang akan dipasang bom, sebenarnya di samping supermarket ada seorang penjaga, namun karena beni cerdik akhirnya ia mampu hindari dengan menyelinap dari gelapnya malam bahkan saat itu penjaga tidak menyadari sesuatu kalau ada seseorang yang masuk dari pengawasannya.
Setelah boom tersebut terpasang dirinya segera bergerak untuk kembali menyelinap dari penjaga untuk segera memasang di titik berikutnya yang berada tidak jauh darinya
**
Selama beberapa saat akhirnya beni sudah memasang 5 boom yang sudah ditargetkan bahkan dari pergerakannya tidak timbul rasa curiga, karena memang penjaga tidak merasakan sesuatu yang janggal ataupun hawa keberadaan di sekitar mereka
"Ini boom terakhir" gumam beni kemudian menyelinap memasuki gedung supermarket dari ventilasi yang cukup besar dan mungkin memang muat untuk dimasuki oleh seseorang dari selanya
Dan ketika sudah dipasang pada pilar yang dianggap sangat menopang bangunan, akhirnya beni bergerak meninggalkan supermarket lewat pintu belakang tetapi ditengah perjalanan dia bertemu dengan seseorang yang mungkin sudah menunggunya karena dia berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di dinding
"Aku sudah lama menunggumu ben, dan sepertinya kesibukanmu disini juga sudah selesai" ucapnya membuat beni ternganga kaget, karena sosok tersebut adalah orang yang ingin dia hindari
"Heh... Aku juga tidak menyangka jika kita akan bertemu secepat ini, Bagus"
"Bagaimana? Apa semua tugasmu sudah selesai, dalam memasang boom" sindirnya yang menyeringai sinis. Membuat beni mengerutkan kening dan berkata dengan bibir yang berkedut-kedut
"Haha.. Sepertinya aku telah salah menilai, karena aku tidak menduga jika kamu sangat cepat dalam menyadari kehadiranku"
"Apa kamu pikir aku sama dengan cecunguk itu?" sebut Bagus menaikan alisnya. "Yah.. Kamu benar dan mungkin memang aku saja yang menganggap remeh kalian"
"Kalian?"
__ADS_1
Terlihat Beni bingung mendengar ucapan bagus yang terkesan sedang bertanya
"Sepertinya kamu salah paham, sebenarnya aku tidak pernah menganggap mereka sebagai bagian dariku dan tujuan ku kesini hanya untuk bertemu denganmu tidak lebih dari itu, jika seandainya kamu ingin membunuh mereka pun itu tidak berarti untukku" ujar Bagus
"Aku cukup terkejut dengan ucapanmu"
"Anggap saja angin lalu, karena tujuanku adalah untuk membunuhmu!!"
"Kenapa? Apa aku pernah membuat kesalahan terhadapmu?!" tanya beni mulai merasa ada sesuatu yang salah. "Tentu saja" tekan Bagus menatap sinis karena dari pancaran matanya telah mengandung rasa kebencian.
"Apa kamu pikir aku tidak pernah merasa bersalah sepertimu"
"Apa maksudmu?"
"Hari-hariku selalu terbayang rasa bersalah bahkan aku pernah berpikir apakah ini adalah takdirku sebagai orang lemah, dan itu selalu aku rasakan setiap hari, setiap jam bahkan setiap saat, yang mana rasa sesak selalu mencekik hati" hardik beny.
Seketika Bagus terdiam sesaat tetapi setelah memutar otaknya kembali ia mulai berkata dengan suara lirih.
"Ternyata kamu cukup pintar dalam sandiwara yah, ben"
"Hah!!"
"Manda mati karena menunggumu, dan mereka mati juga karena bersamamu, apakah tidak valid jika penyebab masalahnya adalah kamu!!" bentak Bagus dengan tatapan sadis
"Apa kamu BODOH!!... Memang karena aku lemah mereka bisa mati tetapi apa karena aku juga nyawa mereka terenggut?"
Tersentak Bagus terkejut mendengar ucapan dari Beni yang membuatnya harus berpikir keras, karena saat itu naluri dan kebencian sudah hampir menjadi satu di hatinya.
"Ahhh... Menurutku kamu lah penyebabnya, BENI!!!" teriak Bagus dengan memancarkan aura amarah yang telah disimpan hingga kini, bahkan beni sendiri sampai harus bergidik ngeri yang kala itu merasakan aura yang keluar dari dalam tubuh Bagus.
"Dasar keras kepala!!" gumam beni kemudian mengeluarkan alat komunikasi dari balik bajunya dan berkata. "Lakukan sekarang dan jangan hiraukan aku karena aku harus menghadapinya" ucapnya kepada alat komunikasi yang digunakan dalam jarak jauh
Bahkan tidak sempat orang dari seberang sana menjawab beni telah mematikan alat komunikasi tersebut kemudian meletakkannya di bawah kakinya sambil mengeluarkan bayonet dari sarung yang terletak di pahanya
"Sepertinya kamu harus diberi pukulan supaya sadar deh" ucap beni memasang kuda-kuda.
*****
Di lain tempat Andika yang sembari tadi berdiri dengan mengamati target, secara mengejutkan langsung terlihat kaku ketika mendengar ucapan dari sang kakak, yang mana dirinya harus bergerak tanpa menunggunya, karena dari kata seseorang dia sudah tahu siapa orang di hadapi olehnya itu.
"Bagaimana?" tanya Samuel yang dari tadi berdiri disamping kaptennya, bahkan dirinya sempat mendengar ucapan terakhir yang disampaikan oleh Beni dari seberang sana
Sesaat andika terdiam sambil mengatur nafasnya secara perlahan dan berkata. "Lakukan, gerakkan seluruh pasukan pada formasi A dan jangan sampai memberi cela pada musuh, dan utamakan ledakan tidak jauh dari penyergapan" titah Andika dengan suara tegas.
"Baik!!"
Akhirnya malam yang tenang itu mulai terdengar nyaring ketika terdengar suara dentuman keras dari sebuah supermarket yang menjadi sasaran peledak para anggota black dragons. Bahkan tidak lama dari ledakan pun disusul oleh rentetan peluru yang menghujani supermarket dari berbagai arah
Karena di pintu depan sudah dikepung oleh lapisan mobil armor bersenjata mesin dan meriam berkaliber kecil, yang sudah menembak habis-habisan tanpa hentinya
Sementara Beni dan Bagus terus saja saling bertarung di tengah-tengah api yang menjulang tinggi bahkan mereka sempat terpental dari ledakan sebelumnya sehingga membuat sekujur tubuh mengalami luka memar dan bakar, tapi walaupun begitu semua hal itu tidak mematahkan semangat mereka untuk saling bertarung satu sama lain
__ADS_1
Terutama Bagus yang begitu antusias ketika melawan beni habis-habisan walaupun dia tahu jika sekutunya sudah dalam kesulitan.
BERSAMBUNG...