
"Kapten via, dia masih hidup dan setelah saya periksa tidak ada bekas luka gigitan!!" lapor tentara tersebut yang mendekati atasan sambil memberi hormat kepadanya. Via mulai memahami sebelum memberi perintah, hingga dia kembali berkata untuk membawanya ke mobil pengangkut awalnya tentara tersebut bingung tapi tidak bisa membantah atasan
Hingga dia membawa beni ke mobil tentara dan membawanya ke markas cabang untuk diinterogasi mengenai perjalanannya.
~Senin 26 Desember 20XX
Keesokan harinya beni tersadar dari pingsannya dan terbawa ke suatu ruangan dengan kanan, kiri penuh dengan semen berwarna abu-abu, tetapi yang membuatnya heran adalah keadaan yang sangat pengap membuat beni tidak betah hingga beranjak dari ranjang dan melangkah secara perlahan menuju pintu
Akan tetapi sebelum membuka pintu ada seseorang yang membukanya terlebih dulu hingga memperlihatkan seorang gadis dengan seragam serba putih dan rambut yang di kuncir kuda, yang berpapasan langsung dengan beni dalam keadaan pucat
"Kamu sudah sadar?" tanya wanita itu dengan memperhatikan beni sangat intens. Namun beni tidak menggubris sama sekali hingga dia terus melangkah melewati gadis itu berdiri
"Hei.. Kenapa kamu mengabaikan ku?" tanya wanita itu yang memegang pundak beni karena merasa jika pasien ingin meninggalkan ruang perawatan
"Singkirkan tanganmu" ucapan beni membuat wanita itu tertegun sambil terus memegang pundak pria tersebut
"Hah... Kamu ini memang kurang ajar yah, udah ditolong gak tahu syukur" bentak wanita itu sambil menarik baju belakang beni hingga harus mundur beberapa langkah
"Kenapa kau menarik pakaian ku!!"
"Tentu saja aku kesal dengan sikap arogan mu, kau pikir dengan kondisi mu sekarang masih bisa bersifat angkuh"
"Berisik" mendengar kata itu wanita tersebut seperti sudah habis kesabaran hingga dia meraih gagang pintu dan menutupnya lagi, hingga didalam ruangan tersebut hanya ada beni dan gadis tersebut yang raut wajahnya sudah sangat masam
"Mari kita lihat apa kamu masih bisa membuka pintu ini" ujar wanita itu yang tersenyum sinis
Tanpa berkata beni langsung meraih gagang pintu dan mendorongnya namun tidak terbuka, sehingga beni mencoba lagi dengan kekuatan penuh, tapi hasilnya nihil, sampai-sampai pundaknya ikut serta membantu untuk mendorong
"Kenapa tidak bisa?" tanya beni datar sambil memerangi gagang pintu
"Gak tahu" sahut wanita itu dengan menaikan bahunya sambil berjalan untuk duduk disamping ranjang
"Sialan, apa pintu ini macet!!" gumam beni sambil terus menerus untuk mendorong. "Hei,.. Wanita bodoh, tolong bukakan pintu ini" titah beni dengan datar sambil terus menatap wanita tersebut yang duduk di pinggir ranjang
"Kalau aku tidak mau"
"Ck.. Lihat saja nanti" cibir beni mencoba kembali untuk membuka pintu namun selama beberapa menit usahanya tidak membuahkan hasil yang ada beni malah letih sendiri
"Ada apa dengan tubuh ku?" gumam beni dengan memainkan telapak tangannya hingga yang dirasakan hanya rasa kebas
"Aku sudah bilang kalau tubuhmu masih sangat lemah, buktinya hanya membuka pintu kamu tidak mampu"
"Heh.. Apa benar kalau tubuhku sangat lemah" batinnya dengan mencoba merasakan tubuhnya sendiri
"Masih tidak percaya!!, sudahlah kamu kembali istirahat untuk memulihkan tubuh mu, dari pada berdebat dengan ku"
Beni akhirnya menurut dan kembali membaringkan tubuh di ranjang dengan dipinggir ranjang duduk seorang gadis cantik berkulit halus dengan menggunakan jubah serba putih berserta dengan buku dan alat tulis
"Sekarang apa yang kamu rasakan?" tanya wanita itu kemudian mengambil posisi untuk mencatat
"Siapa namamu?"
"Hah?"
"Siapa namamu?" tanya beni dengan mengulangi kalimatnya
"Namaku Angelina, kamu bisa panggil aku Enjel sama seperti yang lainnya"
"Baiklah Enjel, kamu bisa pergi!!"
"Kamu mengusir ku"
"Iyah"
__ADS_1
"Ini cowok bener-bener, minta aku tempeleng banget deh" gerutu Angel dengan mengepalkan telapak tangan bertepatan dengan memegang pulpen
"Aku tidak ingin diganggu oleh siapapun" jawab beni dengan manarik selimut menutup seluruh tubuh. "Baiklah" balas angel kemudian pergi dari ruang rawat menuju gudang medis yang ada dilain ruangan
Sesampainya dia di gudang medis, orang pertama yang dirinya temuin adalah seorang wanita paruh baya yang sedang menulis sesuatu di meja. "Maaf buk, jika saya mengganggu waktu anda" sapa Angel dengan tutur kata lembut dan sopan di depan meja gadis tersebut
"Yah.. Nak Enjel, ada apa?" tanya wanita tersebut dengan menghentikan aksi jari-jemari dalam memegang pulpen
"Pasien yang ditemuin kemarin atau berada di ruang rawat 12, sudah siuman"
"Benarkah, lalu bagaimana kondisinya?" tanyanya dengan lembut sama seperti angel
"Kondisinya masih lemah, hanya saja dia tidak ingin terbuka dengan orang lain"
"Hah.. Lagi-lagi kebanyakan pasien rentan dengan psikologisnya" hela nafas wanita paruh baya tersebut dengan raut wajah jengah
"Ibu kalau kurang enak badan, sebaiknya istirahat saja, soalnya saya lihat ibu terlalu memaksakan diri berkerja dalam kurung waktu 18 jam sehari"
"Haha.. Ibu tidak apa-apa kok, justru kamu yang harus istirahat masalah ruang 12 nanti ibu akan mampir kesana"
"Baik buk" jawab Angel dengan perasaan bersalah karena tidak bisa membantu banyak untuk menteri kesehatan.
Situasi beni sudah bisa dikatakan aman. Berbeda dengan Bagus yang baru saja sampai di sebuah taman bunga yang ditengahnya ada air mancur namun kini berbeda karena di sana telah kering tanpa ada air yang mengalir, bahkan sebagian tanaman telah mati layu karena tidak terawat walau sebelumnya
Taman tersebut sangat indah, karena dilengkapi oleh beranekaragam bunga dalam negeri hingga luar negeri sekalipun, sampai-sampai tiada bosan pengunjung datang kesana untuk menikmati pemandangan sekaligus healing untuk mereka yang sedang dibebani oleh masalah
"Kemana yang lain?" tanya Bagus sambil melirik sekitarnya namun tidak menemukan siapapun sedangkan manda duduk di bangku taman sambil menikmati air mineral yang dia minum
"Mungkin mereka sedang dalam perjalanan" Ujar Manda untuk memenangkan temannya yang terlihat gelisah
"Awas saja kalau mereka nggak datang!" kecam Bagus dengan jengkel
Namun setelah lama ditunggu hingga matahari mulai berada ditengah, mereka tidak menemukan pertanda jika beni dan temannya sudah datang. "Kenapa kalian membuat ku cemas" batin Bagus yang semakin resah karena melihat hari semakin siang namun tidak melihat beni akan datang hingga membuat pikiran tidak kondusif
"Yasudah kita ke pinggiran duku" ujar Bagus hingga mereka berjalan menuju parkiran dimana motor dan mobil berjejer rapi karena di sana ada sebuah pohon beringin besar, jadinya mereka duduk di akar sambil menikmati snack sisa dari perampasan di minimarket
"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Manda kepada Bagus disampingnya. "Aku juga tidak tahu" jawabnya dengan lirih sambil menatap dedaunan yang berasal dari pohon
Tidak terasa mereka duduk dibawah pohon akhirnya mereka pun tertidur di sana dalam keadaan tidak sadar dan terbangun ketika hari sudah menjelang sore, namun tidak ada pertanda jika beni sudah sampai.
"Uhhh... Man" panggil Bagus seketika melihat ke samping dirinya melihat Manda memperhatikan setiap motor barang kali ada kunci yang tertinggal di motor, tetapi bukan itu yang membuatnya heran melainkan ketika melihat Manda secara tidak sengaja malah membuat dia semakin jatuh hati, apalagi selama ini dia tidur di ranjang yang sama dengannya
Walaupun tidak melakukan apapun karena dia tahu batin Manda masih belum siap, apalagi melihat situasi seperti sekarang yang tidak mengenakan, jadinya Bagus memiliki tujuan untuk membuat tempat atau lingkungan yang nyaman bagi manda suatu hari kelak
"Sedang apa kau?" tanya Bagus segera mengambil posisi duduk. 'Siapa tahu ada motor yang terpasang kunci"
"Haduh.. Memangnya kalau ada kunci, kita mau kemana?" tanya Bagus dengan senyum tipis. "Yah,.. Keliling lah, memangnya motor digunakan untuk apalagi" cetus Manda dengan wajah cemberut
"Haha.. Oke-oke, terserah kamu deh maunya kaya mana, tapi memang ada kunci yang ada di motor?"
"Makannya aku cari, dari pada kamu duduk di sana lebih baik kamu bantu cari aja, kenapa?"
"Males ah" celoteh Bagus dengan memutar bola matanya yang jengah sambil kembali mengambil posisi tidur
"Ih.. Dasar, yasudah aku cari sendiri saja"
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Bagus berdiri dan berkata dengan lantang. "Sepertinya dia tidak akan datang deh"
"Kenapa kamu berasumsi seperti itu?" tanya Manda yang duduk disalah satu motor
"Lihat saja, hari sudah 4 sore tapi tidak ada tanda sama sekali kalau dia akan datang"
"Tunggu sebentar lagi"
__ADS_1
"Tidak, aku yakin kalau mereka tidak akan datang, jadi sebaiknya kita lanjutkan perjalanan saja"
"Kemana?"
"Markas militer pusat kota A yang sengat dari dekat disini, kalau cabangnya masih butuh 2 hari lagi buat sampai sana" ujar Bagus dengan optimis
(Note: Markas militer sebenarnya masih terbagi yaitu militer kedaerahan dimana markas yang ada di setiap kota akan dipanggil markas militer cabang kota A untuk pusatnya berada di ibu kota sedangkan markas cabang yang menjadi tempat beni bernaung adalah markas cabang untuk markas pusat daerah A atau sebagai garis akhir jika ada invasi dari negara luar)
"Apa kamu masih berharap kepada abdi negara?" tanya Manda dengan datar. "Bukannya berharap cuman kan gak ada salahnya kita kesana siapa tahu, di sana kita mendapat bantuan"
"Apa bedanya dengan berharap" batin Manda dengan senyum kecut
"Gimana?"
"Terserah kamu lah, aku mah apa atuh" gerutu Manda yang pada akhirnya mengikuti kemauan temannya
"Oke, waktunya pergi" seru Bagus akhirnya mereka berjalan menuju markas pusat dengan melewati rute tercepat, namun ditengah perjalanan mereka secara tidak sengaja melihat 3 pria paruh baya yang sedang berjalan dari kejauhan melewati jalan yang sama hanya saja dalam arah berlawanan
"Itu bukannya penduduk yah?" tanya Manda yang kebetulan berjalan bersama Bagus. "Iya, ternyata yang selamat tidak hanya kita tapi masih ada orang lagi disini"
"Hei..." teriak Manda dengan lantang memanggil ketiga pria tersebut, hingga ketiganya mendengar dan segera berjalan menghampiri Bagus dan Manda yang masih berdiri dan melambaikan tangan
Ketika sudah berada didepan mata salah satu dari mereka berkata. "Kalian tidak tergigit kan?" tanyanya kepada Bagus dan Manda
"Kami berdua aman kok, om" jawab Manda dengan gamblang
"Baguslah, kalau begitu mari ikut kami ke camp" ajaknya dengan ramah. "Tidak perlu kok, soalnya kami akan pergi ke markas militer Pusat kota A" tukas Bagus dengan tak kalah ramah
"Kalian ingin meminta bantuan di sana?"
"Sebenarnya kami juga tidak tahu situasi di sana" sambung Manda. "Sebaiknya kalian urungkan niat untuk kesana, karena di sana sudah dilahap oleh lautan zombie, jadi kalau kalian kesana pun kalian tidak akan mendapatkan apapun di sana" ujar om-om tersebut dengan gusar
"Apa kalian berasal dari daerah sini?" tanya Bagus dengan intens
"Tentu saja, kami asli sini bahkan sebelum bencana ini datang, kami sudah berencana untuk mengikuti pelatihan militer"
"Wah.. Kalau begitu kalian sudah mengetahui seluk-beluk daerah sini" sahut Manda
"Tentu saja, bahkan kami bertiga sudah tahu dimana titik paling rawan zombie, dan beruntung kalian ada di daerah kami yang masih aman"
"Kalau begitu untuk malam ini sebaiknya kita tidur di camp mereka saja, gus!!"
"Sial,. Nih cewek polos banget dah" Batin Bagus yang hanya mengangguk setuju, hingga mereka pun bergegas menuju tempat selanjutnya dengan dipandu oleh salah satu dari pria paruh baya yang mereka temui untuk mencari tempat persembunyian akan tetapi tanpa sadar ada sepasang mata yang memperhatikan Manda dari belakang
Dengan tatapan cabul dia terus memperhatikan lekukan tubuh alami Manda dari belakang sambil mencoba untuk tetap tenang walaupun jagoan dibawah sudah bergejolak, karena bisa gawat kalau ketahuan apalagi di sana ada prianya wanita cantik tersebut.
Sesampainya mereka di sebuh lahan kecil yang terdapat di belakang perumahan dengan terbuat dari palang kayu dan atap terpal tentu saja alasannya lantainya sudah diberi terpal hingga tidak akan lagi tidur di rumput, beserta meja dan beberapa perabotan perumahan jadi bisa dikatakan kalau itu seperti tenda anak pramuka
"Kenapa kalian harus membuat rumah ditempat seperti ini?" tanya Bagus yang sama seperti manda yaitu sama-sama tertegun karena melihat kerajinan dari pria paruh baya tersebut
"Jika kami membuat camp didalam rumah akan sulit, karena listrik sudah padam, jadi kami membuatnya diluar supaya bisa membangun api unggun dan menampung air hujan" jawab pria tersebut dengan tegas
"Oh.. Ternyata kalian cukup berlian hingga bisa memecahkan masalah sesulit ini" puji Manda
"Lalu jika, hujannya mampu membuat becek apa yang harus kalian lakukan?" tanya Bagus
"Kami akan mengungsi ke permukaan yang tinggi, lebih tepatnya di rumah itu" tunjuknya ke salah satu teras rumah di mana merupakan pintu belakang penduduk
"Hah.. Aku benar-benar gak habis pikir dengan mereka deh, kenapa mereka harus repot-repot membuat hal seperti ini jika ujung-ujungnya akan mengungsi ke rumah orang" batin Bagus sambil menghela nafas
"Baiklah karena kalian akan bermalam disini, jadi kami akan membuat api unggun untuk kalian, masalah barang kalian bisa meletakkan ransel tersebut di dalam tenda" tunjuknya dengan senyum ramah
Tapi dari ketiga orang tersebut hanya satu orang saja yang aktif dalam berbicara sedangkan yang lainnya diam seperti tidak ingin berbicara sama sekali, namun Bagus tidak ingin mengambil pusing hingga dia membantu ketiga pria tersebut untuk membuat api sedangkan Manda duduk di bawah tenda dengan termenung.
__ADS_1
BERSAMBUNG...