THE DAY ZOMBIE

THE DAY ZOMBIE
Eps 30 (Part²)


__ADS_3

Setelah pertandingan melawan Kristian usai beberapa saat setelahnya, beni dibawa menuju ruang perawatan oleh beberapa tentara senior menggunakan tandu, sementara itu Kristian kembali berjalan menuju ruangannya, walaupun hasilnya cukup memuaskan tapi Kristian justru malah merasa kecewa karena ekspetasinya belum terpenuhi


"Kenapa kamu harus turun tangan?" walaupun kala itu Kristian tidak melirik ke belakang namun ia sudah tahu siapa yang bertanya kepadanya, karena dari nadanya sudah sangat terdengar jelas kalau dia perempuan


"Mungkin karena aku sedang bosan" jawab Kristian tapi tidak berpaling menatap sumber suara


"Aku yakin, kamu pasti merasakan ada sesuatu yang aneh, dari anak tersebut?"


"Hmm.. Kamu benar, mungkin aku juga merasa kalau dia bukan anak sembarangan" balas Kristian


"Apa perlu aku menyelidikinya?"


"Tidak perlu, karena cepat atau lambat aku pasti akan mengetahui misteri tersebut" tukas Kristian dengan datar kemudian melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya


"Eh.. Ternyata dia masih dingin seperti biasa" batin Via kemudian ikut meninggalkan posisinya, karena ia tahu Kristian adalah orang tipe yang tidak suka diganggu jika sedang bekerja, walaupun dari berbagai sisi dia dingin dan cuek namun sebenarnya dia adalah orang peduli kepada bawahannya


Bahkan disela itu semua dirinya masih memikirkan nasib negara dan rakyat sipil yang membutuhkan pertolongan, mungkin karena hal tersebut juga Via merasa kagum hingga pada akhirnya jatuh hati kepada pria datar tersebut


**Ruang jenderal**


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukan pintu dengan pelan menggunakan jari telunjuk tapi masih terdengar dengan jelas oleh seorang pria paruh baya yang berada didalam ruangan sambil duduk memijat kening.


"Jenderal, bolehkah saya masuk?!" tanya Kristian dari luar dengan tutur penuh sopan, hingga tidak lama terdengar balasan dari dalam. "Silahkan" titahnya kemudian Kristian masuk kedalam dengan perlahan dan memberi hormat dihadapannya


"Maaf mengganggu waktu anda, jenderal" ucap Kristian dengan lantang dan tegas


"Ada apa kamu datang kemarin?"


"Saya ingin memberi laporan, kalau ada 5 calon kandidat yang akan masuk kedalam angkatan kita!!"


"Begitu yah"


"Jenderal, apa anda tidak enak badan?" tanya Kristian dengan bingung karena sembari tadi pria paruh baya itu tidak meliriknya karena sibuk dengan memijat kening


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing" jawabnya


"Kalau begitu saya akan pergi dulu, karena saya yakin jenderal membutuhkan istirahat yang cukup"


Karena pria dihadapannya mengangguk akhirnya Kristian memberi hormat lalu pergi dari ruangan atasan untuk menuju meja kerjanya.


***


Matahari sudah terbenam di timur karena hari sudah menunjukan waktu menjelang malam. Membuat pria yang pingsan di ranjang mulai terbangun dari lelapnya bawah alam sadar dalam keadaan tubuh sakit semua, terutama leher yang dimana menjadi target utama musuh untuk melumpuhkannya


Beni yang tersadar dari pingsan tentu merasakan sakit di sekujur tubuh hingga dirinya sempat mengeluh akan keadaannya. "Sialan, seharusnya aku tidak melawannya!!" gerutunya sambil menyesali tindakan yang pernah terjadi sebelumnya


Setelah langit tampak gelap dan keadaan bunker yang semakin sunyi, beni menggunakan waktu tersebut untuk merenggangkan otot seperti push-up, sit-up dan lainnya, semua untuk mempersiapkan untuk hari esok, dan hari semakin larut dan di saat itu tiada seorang pun yang menjarah


Bahkan kamarnya sudah semu dan hening karena tiada suara, kecuali deru nafas dari seorang pria yang tersengal lelah sambil terus berolahraga untuk membuat tubuhnya letih, sampai tidak lama akhirnya beni bisa tertidur setelah beberapa saat di kasur memejamkan mata


Bahkan kaosnya belum di kenakan saat itu karena begitu beni membanting dirinya dan menutup mata, tanpa sadar ia langsung terbawa ke alam mimpi dikarenakan seluruh tenaga sisanya digunakan untuk latihan pisik hingga tiada sempat untuk melakukan aktivitas lainnya.


Pagi hari setelah matahari menyingsing membuat beni semangat untuk membuka hari dengan berlari di camp. Hingga seluruh tentara yang baru bangun dari tidur tampak terkejut, apa tidak jika seorang pria yang dihajar habis-habisan kemarin tampak sehat dan kembali bugar setelah melewati malam

__ADS_1


"Wah.. Ternyata dia pemuda yang kuat yah?" ujar salah satu tentara senior yang memperhatikan beni dari jauh


"Kamu benar, bahkan setelah dihajar habis-habisan oleh komandan Kristian, dia masih tampak tidak merasakan apapun"


Kedua tentara tersebut terus membahas kondisi Beni yang bisa dikatakan aneh dan berada di atas rata-rata, pasalnya suasana yang dingin dan beberapa faktor masih membuatnya tetap semangat menjalani latihan secara pribadi


Karena suasana dingin yang menusuk tulang membuat siapapun akan menggigil kedinginan karena hari itu cuaca masih cukup lembab setelah semalam mengalami hujan deras, bahkan para tentara masih terlelap dalam mimpinya karena menikmati faktor cuaca yang cukup untuk menghipnotis mereka agar tetap terbaring di ranjang dalam tenda


Ketika matahari sudah menjulang tinggi Kristian dan beberapa tentara sudah siap untuk melakukan pelatihan kembali, karena kemarin sempat tertunda ketika melihat keadaan peserta kemarin yang cukup memperhatikan


Walaupun begitu beni dan peserta lain berbaris bagaikan tidak terjadi apapun, bahkan banyak kabar angin yang tersebar dengan begitu cepat tentang desas-desus beni mengalahkan peserta lain hingga Kristian yang berhasil melumpuhkan beni dalam waktu singkat, semuanya bagaikan angin yang berhembus pelan namun tersebar ke setiap orang.


Waktu itu sudah ada pihak panitia dan pengawas antara lain Via dan Kristian yang duduk di tenda pengawas bersama, sementara untuk Angel sendiri yang masih sibuk dengan pekerjaannya tampak menunda untuk menonton


"Baik, untuk hari ini adalah waktunya dimana kalian melanjutkan latihan karena kemarin tertunda karena kondisi kalian yang tidak memungkinkan jadi latihan yang ke empat adalah kalian akan belajar menembak dengan dipandu oleh kapten via lalu untuk seterusnya kalian akan dibimbing oleh beliau"


Ucap sang panitia dengan suara lantang kemudian langsung mempersilahkan via mengambil alih hingga merupakan menuju tempat dimana mereka akan menembak.


Di lapangan menembak seluruh peserta berjejer rapi dengan posisi yang sama sambil memegang senjata api ditangan mereka masing-masing, namun sebelum menembak via terlebih dulu memberi panduan agar nantinya tidak terjadi kesalahan


"Sekarang kalian pegang pistol kalian dengan kedua tangan, lalu bidik sesuai ketentuan, karena hasil dari tembakan adalah dimana kalian membidik, mau itu meleset atau tidak peluru itu tergantung dengan ketenangan kalian sendiri, kalian paham!!"


"Siap, paham" jawab mereka secara serentak dari peserta calon tentara, kemudian setelah semua sudah berada diposisi membidik dan kondisi tenang, lalu dilanjutkan oleh kapten via


"Rasakan jika sasaran kalian adalah sebuah zombie, bagaimana jika dia ada dihadapan kalian, apakah kalian akan menembak kaki, atau kepalanya supaya efektif?"


Kemudian peserta mulai membayangkan batang kayu dihadapan mereka adalah sesosok zombie hingga secara tiba-tiba beni mulai teringat dengan kematian teman-temanya yang tragis dimakan zombie


Matanya, mata beni menyoroti batang kayu tersebut dengan penuh kebencian di lubuk hati hingga perasannya kala itu sudah tidak kondusif lagi, pandangannya mulai buyar, pelupuk matanya mulai berair seakan air matanya akan terjatuh tapi di tahan oleh beni


1..2...3.


Dalam hitungan ketiga seluruh peserta langsung menembak kecuali beni sendiri, bahkan dari peserta lain saja sudah ada yang meleset ketika mengincar kepala dan ada juga yang mengenai badannya saja orang yang ada di sana tampak bingung tapi dalam seketika terdengar suara yang nyaring dari sebuah pistol


Dor.. Dor.... Dor..


Tiga tembakan berhasil dilepas begitu semua orang masih terheran-heran, dan semua berhasil mengenai target, hanya saja dari ketiga peluru tersebut tidak ada yang meleset, karena seluruh tembakan berhasil mengenai sasaran dengan tiga varian yaitu kaki badan dan kepala


Semua seperti beni melampiaskan amarahnya dengan senjata api yang ada di tangan, membuat seluruh orang kala itu yang terheran-heran langsung berganti menjadi terkejut karena melihat agresifnya beni dalam melepaskan tembakan


"Kenapa kamu malah melepaskan tembakan sebanyak 3x" ucap panitia yang masih tercengang karena jarak dari posisi peserta dan target berkisar 200 cm


Akan tetapi sebelum panitia ingin protes Kristian mengangkat tangannya karena itu merupakan isyarat jika menyuruh panitia berhenti dalam berkata dan bertindak dan ketika komandan mereka mengangkat tangan tidak ada alasan untuk membantahnya


Dengan pandangan yang kabur beni mencoba untuk menyetabilkan kembali emosinya hingga dia melepas arah bidikan dan menundukkan kepala seakan dunia mulai gelap


Orang yang ada di sana hanya melihat tanpa bisa berkata-kata, karena memang hal tersebut membuat seluruh orang terkejut, karena tentara terlatih saja tidak bisa membidik sasaran dengan tepat, dan baru saja mereka lihat bukan dari melesetnya peluru melainkan beni yang sengaja mengincar target lain


"Sebenarnya dia memiliki potensi apa saja hingga selalu membuat kita tercengang" gumam Via dari kursinya


Kemudian tidak berselang lama dari pelatihan tembak menembak, panitia mulai berkata jika seluruh kandidat akan memasuki tahap akhir yaitu menerima materi secara umum dan mengeksplorasi materinya individu atau menjabarkan kembali materi tersebut untuk mengetes batas kemampuan setiap orang


Tapi mereka akan melakukannya tidak di lapangan melainkan di tenda. Beberapa saat akhirnya seluruh peserta duduk di kursi dengan materi yang disampaikan oleh panitia, tentu saja awalnya beni kesulitan, karena penyampaian dari panitia bukan lah makanannya sehari-hari (Materi umum)


Melainkan pembahasan khusus, sedangkan pesaing lainnya sudah berumur lebih dari 20 tahun keatas, jadi bisa dikatakan jika beni memiliki umur yang paling labil dari antara pesaing lainnya, namun hal tersebut tidak menutup kemungkinan jika beni tidak bisa melakukannya

__ADS_1


Karena setiap pembahasan selalu disimak dengan teliti oleh beni, ditambah ia memiliki kemampuan tambahan dimana diusianya mampu mengingat hal tersebut dengan cepat


Walau beni masih tidak mengerti tetapi ia mulai memahami alur pembahasan. Tidak berselang cukup lama setelah dibahas oleh sang panitia, salah satu dari panitia lain mulai memberikan kertas kosong ke masing-masing peserta dan setelah itu panitia satu lagi yang didepan mulai berkata.


"Mulai sekarang, kalian harus menuliskan kembali penyampaian tadi menggunakan bahasa kalian sendiri, dan ingat tidak boleh sama, karena setiap pengetahuan berbeda jadi kalian harus membuat secara individu dalam waktu 30 menit, dimulai dari sekarang!!"


Setelah pria yang ada didepan berkata dengan lantang, dengan cepat dan gesit, seluruh peserta mulai mengambil pena di depan meja mereka masing-masing dan menggoreskannya ke sebuah kertas putih.


\*30 Menit berlalu\*


"Waktu habis!!" pekik panitia dengan melengking namun gagah. Sehingga seluruh peserta mulai menghentikan jari mereka untuk menulis dan menyerahkannya kepada panitia yang satu lagi, karena didalam tenda sudah terdapat 4 panitia yang mengawasi berjalannya pelatihan


"Baik, hasil sudah kami terima, jadi kalian bisa menunggu di luar untuk sementara" setelah mendengar kata-kata itu, beni dan peserta lain mulai beranjak dari kursi dan berjalan menuju luar tenda dengan perasaan yang gusar


Bagaimana tidak jika nanti hasilnya tidak sesuai dengan ekspetasi tapi ada terkecuali, yaitu Beni yang duduk dibangku rakitan dengan tatapan santai karena memang dia sudah menduga kalau nilainya pasti akan hancur, jadi untuk apa lagi dipikirkan


Bahkan sebelum memikirkan hal tersebut, perutnya sudah kosong sampai-sampai cacing diperut mulai ricuh dan memberontak karena mengamuk karena kelaparan.


"Lapar sekali, sebaiknya aku ke kantin saja untuk mengisi perut ini!" batin beni kemudian beranjak dari kursi dan berjalan menuju dalam bunker, karena hari sudah berada di atas kepala dan waktunya untuk makan siang, membuat beni bergegas menuju ruang makan


Bagaimana tidak jika dari malam beni tidak memakan secuil roti karena kondisi yang tidak mood membuat beni pagi hari berpikir kalau pelatihan hari ini tidak ada melibatkan pisik


Diperjalanan menuju ruang makan, terlihat di sebuah lorong bunker seluruh pengungsi duduk rapat dengan meraup roti yang mereka dapat dari ruang konsumsi


Jika dilihat, jumlah mereka sudah diperkirakan 200 orang dan itu sudah ada dari ujung lorong sampai pangkalnya, jadi Beni bisa berpikir bagaimana kondisi mereka secara fisik dan metal, namun yang membuatnya heran, di sana tidak ada seorang pun pengungsi yang mengalami sakit ataupun depresi


Karena biasanya pengungsi akan mengalami trauma dan sakit-sakitan, apalagi didalam ruangan yang pengap. Jadi bisa disimpulkan bagaimana kerja kerasnya Angel dan tenaga medis lain dalam merawat pasiennya


"Benar-benar hebat" gumam Beni dengan memuji seseorang, sampai tidak lama dirinya berpapasan dengan tante Novi yang membawa sebuah note ditangan


"Tante?" panggil Beni karena berada dihadapannya membuat tante Novi terkejut, karena pada saat itu ia sedang menulis sesuatu di bukunya. "Eh.. Nak beni!"


"Tante dimana, Enjel?" tanya Beni datar. Walau begitu tante Novi sempat-sempatnya tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan dari beni. "Oh.. Dia masih sibuk dengan urusannya"


"Begitu yah"


"Kamu mau bantu dia?" tanya balik tante Novi. "Tapi saya tidak memiliki pengalaman dalam merawat seseorang"


"Tenang, dia bakal kasih tahu kamu nanti, anggap ini tante yang minta tolong padamu, karena dari semalam dia sangat sibuk mengurus pasiennya sampai-sampai dia mengurangi waktu tidur, bahkan sampai sekarang dia belum makan apapun, tadinya tante mau dia berhenti sejenak, tapi dia menolak, jadi tante berfikir jika kamu mungkin bisa membujuknya"


"Kenapa tante berpikir demikian?" bingung beni.


"Entahlah,.. Mungkin hanya prasangka" walau didalam hatinya dia sedang bermain peran


"Baiklah nanti aku akan menemuinya, tapi dia dimana?"


"Kalau sekarang dia berada di distrik 3, dimana sudah ada ruang perawatan bagi pasiennya yang sedang sakit parah"


"Baik" jawab singkat beni kemudian pergi meninggalkan tante Novi, agar Tante bisa melanjutkan pekerjaannya dan tidak diganggu olehnya


Selama diperjalanan beni mulai berfikir sejenak mengenai angel yang bekerja tanpa lelah, bahkan dirinya tidak bisa membedakan siang dan malam, namun beni memaklumi hal tersebut karena impian angel mampu mengalahkan kebutuhannya


Sedangkan untuk bunker yang luas dibagi menjadi 4 distrik agar bisa membedakan dimana lorong 1,2,3 dan 4, agar nantinya para pengungsi ataupun anggota militer tidak tersesat dalam perjalanan dan hal tersebut sudah diketahui oleh beni yang sempat berkeliling bunker bawah tanah yang cukup luas.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2