THE DAY ZOMBIE

THE DAY ZOMBIE
Eps 22


__ADS_3

Kematian yang begitu tragis telah disaksikan oleh beni didepan mata hingga tanpa ada satu patah pun yang keluar dari mulut, karena tatapannya sudah begitu memperhatikan dimana yang terpancar hanya rasa takut dan frustasi yang begitu mendalam dari lubuk hati sambil meracau dengan perkataan tidak jelas


"Kenapa harus terjadi, seharusnya tidak seperti ini, apa kalian semua tidak apa-apa?" gumamnya dengan nada pelan dan lirih hingga tidak mampu di dengar oleh siapapun kecuali diri sendiri


Melihat kematian temannya membuat Beni terdiam kaku dengan mulut terbungkam erat sambil terus mengepalkan telapak tangan seakan tak percaya jika canda tawa mereka telah berakhir di detik itu juga.


"Haha.. Ini pasti bohong" gumamnya dengan tatapan kosong hingga bertekuk lutut di jalan sampai dirinya tidak sadar jika ada zombie yang mendekat sambil membuka mulut lebar-lebar, mungkin hanya berjarak beberapa langkah sebelum zombie menerkam


Tetapi walaupun begitu beni tidak menggubris sama sekali zombie yang datang mendekat, hingga pada akhirnya pandangan menjadi kabur, seakan-akan matanya akan tertutup dan benar saja matanya pun tertutup hingga meninggalkan tubuh dalam keadaan pingsan


Namun sebelum tubuhnya terjatuh, tangan kanan langsung menjadi tumpangan tubuh sehingga beni tidak jadi tergeletak ke aspal, bahkan zombie yang sudah dibelakang tubuh pun mampu dilumpuhkan dengan sikunya tepat ketika zombie tersebut ingin mengigit leher


Bugh..


Zombie tersebut terpental kesamping ketika beni melancarkan sikunya tepat di rongga mulut sambil gerutu mengumpat zombie. "Dasar makhluk jelek, kalian benar-benar merepotkan ku" ucap beni dengan suara datar. Kemudian kembali berdiri yang semulanya hampir tergeletak dijalan


"Sepertinya akan seru jika aku terus bermain dengan mereka" gumamnya dengan mata menjadi hitam menyeluruh hingga tidak terlihat bagian putih pada bola mata


Yah, saat itu beni sisi gelap telah mengendalikan tubuhnya sehingga tanpa diragukan lagi jika waktu itu keadaan bisa di putar balik, sama halnya waktu itu dimana beni 2 menghajar seluruh zombie dengan brutal dan lihai dalam bela diri dan senjata pisaunya, sampai-sampai beberapa menit berlalu sudah hampir setengah zombie tumbang dalam satu serangan


"Hahaha.. Ini benar-benar menyenangkan" tawa sadis beni² dengan begitu lantang sambil terus menghabisi zombie yang ada kala itu hingga tidak terasa seluruhnya sudah tumbang dengan kekuatan yang tak masuk akal


Dimulai dari bela diri boxing dan kemampuan memainkan pisau, sudah bukan lagi seperti pemula melainkan pembunuh tingkat profesional.


Karena beni di sisi gelap bukanlah orang yang perlu diragukan lagi, karena kemampuan dari roh tersebut jauh lebih kuat, dari pada roh aslinya, atau istilahnya 4:10, semua itu karena kemampuan matanya yang sangat berpotensi, apalagi semuanya berkat kemampuan tersebut


Dimana matanya bisa membaca seluruh masa depan hingga dapat dengan jelas bagaimana dan arah mana zombie akan menyerangnya secara beruntun, namun yang membuatnya lebih mengerikan adalah setelah semua zombie tumbang dalam keadaan mengenaskan


Terlihat sebuah garis hitam kecil yang menari-nari disamping mata dengan keadaan mata begitu gelap dan tubuh penuh dengan darah hitam. "Mereka terlalu lemah, bahkan untuk pemanasan saja tidak cukup" gerutu Beni² yang berdiri diantara tumpukan zombie


Kemudian dia berjalan menghampiri mayat sinta. tujuannya adalah untuk mengambil kembali pistol di aspal dalam keadaan telah berlumuran darah merah.


"Wanita bodoh, mungkin kamu berpengaruh untuk hidup beni, tapi tidak untukku, karena yang aku butuhkan adalah pion yang berguna bukan seorang wanita cacat"


Setelah mengambil pistol tersebut dari bawah aspal beni² langsung menodongkannya kearah langit dengan menembakkannya sebanyak 3 kali.


Dor.. Dor... Dor....


Suara begitu keras membuat siapa saja dapat mendengar hal tersebut dengan gema yang kuat, tapi karena hal tersebut zombie dari tubuh sinta mulai bangun karena mendengar suara bising, namun nahas sebelum berdiri, beni² telah menembak kepala zombie tersebut dengan datar sambil berkata.


Dor...


"Berisik" cetus Beni² yang melihat kepala sinta tertembak dengan tangannya sendiri, walaupun sudah dalam keadaan menjadi zombie


"Dari semua yang Beni lihat di hidupnya, hanya satu orang yang menarik perhatian ku, yaitu Bagus"


"Aku penasaran apa yang bakal terjadi jika dia kehilangan manda nantinya, apakah dia bakal menjadi monster yang sesungguhnya, jika pun ia maka dia lah orang pertama yang harus aku bunuh untuk menjadi raja di dunia ini"


"Karena sesuai dengan takdirnya, dimana manda akan mati sehari setelah ini"


"Jikapun dia bisa menghalangi masa depan yang kulihat, tetapi dia tidak bisa melawan takdir"


Setelah beberapa saat termenung akhirnya dia pun berjalan ketempat lain, dan masuk kedalam rumah sambil membaringkan tubuh di sofa, walaupun bukan tempat yang dikenal, tetapi untuk sementara dia ingin menyembunyikan tubuh Beni didalam rumah yang kebetulan tidak terkunci


Lebih tepatnya samping jalan dimana dia menghabisi seluruh zombie karena kebetulan rumah tersebut terbuka dengan lebar, karena tidak ada penghuni, akhirnya beni² masuk kedalam dengan keadaan tubuh penuh darah hitam dan menguncinya rapat-rapat sebelum terlentang di sofa empuk yang ada di ruang tamu


Hingga sesaat dirinya tertidur dan terbawa ke alam mimpi, yang mempertemukan dengan beni asli sedang bertekuk lutut dalam keadaan yang menyedihkan, karena air matanya menetes membasahi pipi, karena melihat hal tersebut membuat beni² mulai melontarkan ucapan tajam.


"Sampai kapan kau akan bersedih, dasar sampah!!" umpat beni² yang memalingkan tubuh dari hadapan beni asli


"Kenapa kamu tidak memberi petunjuk masa depan, apa kamu sengaja?" tanya Beni dengan air mata yang tiada henti menetes


"Aku memang sengaja tidak memberi tahu mu, akan masa depan"


"Kenapa bangs*t, kamu tahu karena keegoisan mu orang tidak bersalah harus menjadi korban" timpal Beni dengan nada lantang yang matanya penuh rasa kemarahan

__ADS_1


"Karena kita tidak membutuhkannya"


"Persetan dengan idealis mu, sekarang bagaimana agar mereka bisa hidup kembali"


"Jangan membuat ku tertawa, mana ada kemampuan yang bisa membangkitkan manusia, aku bukan Tuhan jadi jangan membuat permohonan yang tidak-tidak" ujar Beni² kemudian berbalik menatap Beni asli masih tersungkur dalam keadaan menangis


"Lalu kenapa, kau tega membiarkan mereka"


"Itu sudah menjadi takdir mereka untuk mengakhiri perjalanan tiada arti"


"Hah!!.. Bagaimana kau bisa berkata seperti itu!!"


"Justru karena aku bisa melihat masa depan makannya aku bisa tahu kapan takdir manusia akan berakhir, ini bukan salah mu tapi murni takdir"


"Dan takdir tidak bisa ditentang kecuali menghindarinya sesaat" sambung Beni²


"Kalau begitu"


"Ahmad tetap harus mati, karena itu sudah menjadi batasannya, kalau sinta dia masih bisa diselamatkan hanya saja peluangnya 50:50, karena sesaat sebelum mati dia terkena guncangan mental"


"Guncangan mental"


"Yah.. Memangnya kamu bisa mengobati psikologis seseorang?" cetus Beni² dengan tatapan tajam


"Sial" umpatnya dengan mengepalkan telapak tangan sambil menggigit bibir


"Jangan merangkai skenario sendiri, karena sembari awal dunia sudah kacau" ujar beni²


"Sudah saatnya kamu kembali ke dunia nyata, aku tidak bisa melindungi mu selalu, jadi berusahalah untuk bertahan hidup sendiri" sambungnya yang berpaling dan berjalan beberapa langkah namun terhenti karena mendengar kalimat beni yang berkata


"Kalau begitu untuk apa lagi aku berjuang kalau pada akhirnya semua akan sirna"


"Hah?" bingung beni² yang lagi-lagi berpaling menatap beni tapi kali ini tatapannya kosong seperti seseorang telah kehilangan cahaya


"Untuk apa aku berusaha jika ujung-ujungnya akan kehilangan semuanya, kalau begitu biarkan saja aku mati"


"Dunia ku telah berakhir, kini hanya ada aku seorang yang berdiri di atas permukaan yang sudah tidak mengenakan"


"Kamu berkata seperti ini karena belum tahu apapun"


"Apa maksud mu?" tanya beni dengan mendongak ke atas menatap dirinya sendiri


"Jika adik dan paman mu masih hidup" mendengar kalimat tersebut mata beni terbuka lebar seakan tak percaya dengan apa yang dirinya dengar


"Jangan bercanda?"


"Memangnya wajahku terlihat bercanda" jawabnya dengan tatapan seperti biasa yaitu sinis


"Andika, Masih hidup"


"Tentu saja, bahkan dia kini jauh lebih kuat dari pada kamu!!"


"Oleh sebab itu aku bilang kalau kamu adalah sampah" ujar beni²


"Kalau kamu memang bisa membaca masa depan, kalau begitu lihat masa depan ayah dan ibuku"


"Jangan membuat ku tertawa bahkan wajahnya saja kamu lupa" lagi-lagi beni terbelalak mendengar ucapan dari sisi gelapnya yang selalu benar dan apa adanya, karena itulah sisi gelap yang selalu mengingat kesedihan di hati


"Haha.. Kamu benar juga"


"Kamu terlalu lemah untuk sekarang, sebaiknya kamu pergi dari hadapanku, dan kita akan bertemu di lain waktu" ujarnya yang menghilang bagaikan angin dan kemudian membangunkan beni asli di sebuah sofa dalam keadaan tubuh penuh darah


"Dimana aku?" tanya beni karena kebingungan akan posisinya sekarang, karena seingatnya dia jatuh pingsan di tengah pertempuran melawan zombie


Kerena merasa hari semakin siang beni pun beranjak dan segera keluar dari dalam rumah sambil memperhatikan sekeliling, hingga yang terlihat olehnya hanyalah tumpukan mayat tergeletak tak bergerak, seperti ada yang menghabisi mereka

__ADS_1


"Apa yang terjadi?"


Kemudian beni berjalan sampai tidak sengaja melihat mayat kedua temannya tergeletak tak berdaya di aspal, karena moments tersebut beni tampak terpukul dan mulai menyalahkan dirinya karena lemah dan tak mampu untuk melindungi mereka


Walaupun dia sudah berjanji untuk melindungi semua teman kelasnya, tapi apa ujung-ujungnya dia tidak mampu melindungi satupun, pertama komang, kedua gadis yang meninggal di depan gerbang samping sekolah. Semua itu masih teringat jelas di ingatan beni


Namun kali ini, yaitu kematian sahabatnya dan wanita yang dia sukai harus membuat mentalnya tergoncang dan menatap mereka dengan sedih


"Semua salah ku, coba seandainya aku tidak lemah mungkin aku bisa melindungi mereka" gumamnya yang bertekuk lutut disamping mayat sinta dalam keadaan menangis


"Aku benar-benar menyesal akan semuanya, dan mulai sekarang aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi" tekadnya kemudian berdiri dan meninggalkan semuanya ditempat, entah itu barang hingga kenangan sekalipun telah ia tinggalkan


Setelah keluar dari kompleks gang perumahan ahmad tampak jalanan sepi seperti semula hingga beni berjalan dengan langkah sempoyongan melewati tengah jalan raya, sambil memegangi lengan kanan, karena setelah terbangun secara tiba-tiba muncul rasa nyeri di sekujur tubuh


"Sinta, ahmad, maafkan aku" gumam beni dengan tatapan kosong sambil terus mengulang kalimatnya sepanjang perjalanan, sampai tiba-tiba ada beberapa orang yang menghalangi jalan sambil menodongkan senjata kearah beni


"Berhenti!!" perintah salah satu dari mereka bertiga dengan seragam loreng. Namun beni tidak menggubris sama sekali hingga terus melanjutkan langkah


Dor...


"Peringatan!!" kecam tentara tersebut dengan menembakan senjata api bermerk pistol kearah langit. Tapi lagi-lagi beni tidak menggubris dan melangkah semakin dekat


"Kenapa kalian melepaskan tembakan?" tanya dari seorang gadis yang berasal dari dalam gerbang rumah sakit ketika mendengar suara tembakan dari penjaga luar


"Kapten via, maaf mengganggu anda, tapi di sana ada seorang pria yang terus berjalan mendekat walaupun kami sudah memberi peringkat" lapornya dengan memberi hormat sebelum berbicara


"Tembak saja" ujar Via yang menatap beni dengan sinis


"Tapi, kapten"


"Kenapa?"


"Baik" jawab prajurit tersebut dengan ragu tapi kemudian melepaskan tembakan kearah beni. Akan tetapi sesaat sebelumnya beni melihat masa depan dari tatapan kosongnya dimana tentara tersebut akan menembak kepala, tepat di dahi hingga sebelum menembak beni sudah siaga


Dor...


Tembakan yang dilepas membuat peluru pistol melesat begitu cepat hingga mengejar posisi beni berdiri. Namun tidak berhasil karena beni menghindari tembakan, sampai-sampai tentara di sana terkejut termasuk via sendiri yang jelas-jelas melihat dengan mata kepala sendiri kalau peluru yang di lepas sudah terarah ke kepala pria dihadapannya


"Apa yang terjadi, padahal aku sudah menembaknya tepat di kepala, masa meleset" ucap tentara tersebut yang ketar-ketir melihat moments barusan


"Bukan meleset, tapi dia menghindari tembakan" ujar Via dengan tatapan tak percaya


"Heh.. Masa ada orang seperti itu, yang bisa menyeimbangkan antara tubuh dan peluru!!" bantah tentara tersebut tak percaya


"Kau meragukan pengelihatan ku!!" cetus via yang memfokuskan tatapan kearah pria tersebut hingga tidak sadar kalau beni sudah terjatuh dalam keadaan pingsan


Buk...


"Dia kenapa?" sahut salah satu tentara yang ada disamping penembak. "Mungkin sedang bermutasi menjadi zombie?" balas sang penembak dengan celoteh


"Periksa!!" titah kapten via dengan menyuruh anak buahnya. "Tapi kapten kita tidak tahu, apakah dia terinfeksi atau tidak" jawab penembak kemudian kembali dibalas oleh via


"Aku bilang periksa bukan diskusi, jikapun terinfeksi kamu bisa menembaknya langsung, bukan!!" mendengar ucapan via membuat tentara tersebut bergidik ngeri hingga menurut tanpa melawan


Selangkah demi selangkah tentara tersebut berjalan menghampiri tubuh beni yang terkulai tak berdaya di aspal hingga tentara tersebut menendang tubuhnya dengan menodongkan senjata mesin ke kepala sebelum jongkok dan memeriksa denyut nadi di leher


Sementara ditempat via, dia dikejutkan dengan kedatangan seorang gadis berkuncir dengan membawa sebuah ransel kecil. "Kak, ada apa?" tanyanya karena kedatangannya secara tiba-tiba membuat via terkejut


"Kenapa kau mengagetkan ku" cetus via dengan judes. "Yah.. Maaf, lagian aku sudah menyiapkan semua keperluan kita, dan ini tempat terakhir penelusuran kita kan"


"Benar, setelah ini kita akan ke markas sekaligus memberi laporan hasil observasi kita selama dua hari ini"


"Lalu kakak ngapain disini?" tanya gadis tersebut dengan bingung


"Lihat" tunjuk via kearah pria yang terkapar di aspal dengan posisi sedang diperiksa oleh tentara

__ADS_1


"Dia kenapa?" tanya gadis tersebut yang melihatnya dengan memiringkan kepala seakan-akan sedang berpikir dengan apa yang dirinya lihat.


BERSAMBUNG...


__ADS_2