THE DAY ZOMBIE

THE DAY ZOMBIE
Eps 73 (Part³)


__ADS_3

    Ruangan yang ditempati oleh Beny, langsung menjadi tempat rapat genting yang di sana terdiri dari dirinya, Fredy, Bagus, Steven dan atasan tertinggi yaitu Kristian yang kini menjadi pemimpin sekaligus jenderal tertinggi dari aliansi maupun perkumpulan di kamp Warz.


Tidak sampai disitu mereka kini sudah berada di fase siap tempur dengan armor yang melekat di tubuh mereka sebagai penanda bahwa mereka akan segera bertempur 


"Persiapan sudah selesai, sebaiknya kita bergerak" ujar Beny ketika itu turut duduk di meja bundar bersama yang lain 


Suasananya sangat mencekam karena udara dinginnya terasa sampai membuat tulang menggigil, dan itu dirasakan oleh fredy yang notabene masih pemula dalam posisinya yang terlalu tinggi walaupun Beny dan Bagus juga demikian tapi mereka cepat beradaptasi namun yang jelas karena kekuatan lah yang membuat mereka percaya diri 


"Benar apa yang dikatakan oleh Beny, sebaiknya kita bergerak sebelum pergerakan kita disadari oleh lawan" sambung Steven. 


"Baiklah.. Tapi sebelum itu aku akan membagi dua kelompok, dimana masing-masing kita akan menyerang dari posisi berbeda, ada yang dari utara dan selatan, kalian paham" tegas Kristian


"Bukankah kalau begitu kekuatan kita akan terbagi?" lanjut Steven 


"Tapi dengan begitu penyerangan kita akan jauh lebih efektif untuk melumpuhkan pergerakan lawan, karena melihat dari medan, pasti tentara mereka akan berkumpul di satu tempat, dan itu bisa kita manfaatkan dengan menyerangnya dari berbagai arah"


"Mungkin serangan itu berlaku bagi tentara namun bagaikan jika sasaran utama kita yang maju, apakah dari antara prajurit kita ada yang mampu melawannya?" tanya Beny mencampuri obrolan


"Oleh sebab itu, aku ingin kamu dan Bagus berpisah, masing-masing ada di satu front" 


"Tapi Alex sangatlah kuat" bantah Bagus dengan wajah ketakutan. Melihat wajah panik dari Bagus akhirnya Kristian paham bahwasanya yang di bahayakan bukan berapa personil melainkan seberapa kuat bos besar mereka 


"Kalau begitu hanya ada satu cara untuk mengatasinya, tapi ini hanya tergantung pada keberuntungan" ujar Kristian yang serius, sebab sorot matanya sangat tajam kala itu 


"Bagaimana?"


Seluruh orang sangat gelisah dan khawatir dengan rencana yang akan diutarakan oleh pimpinan besar mereka, karena dari ucapannya seperti ini hanya memiliki persentase 50% untuk mencapai kemenangan. 


"Aku akan mengirim Beny dan Bagus langsung ke garda depan untuk mengatasi Alex, masalah tentaranya biar pasukan kami yang akan menghalanginya tapi masalahnya, ada seberapa banyak pengawal yang ada disisinya"


Ucapannya yang serius di kalimat akhir membuat mereka memutar otak, sebab memang benar sebelum menghadapi bos pasti mereka akan menghadapi anak buahnya terlebih dahulu. 


"Jadi peran kunci kemenangan ada di tangan kalian berdua" ucap Kristian menatap Beny dan Bagus bergantian. 


"Benar juga, kalau seperti itu pun akan sulit untuk mereka yang hendak masuk ke lingkaran tempat bos berada, karena kita tidak tahu seberapa banyak anak buahnya" kata Steven 


"Tapi dengan begitu pertempuran akan berakhir" sambung Bagus angkat bicara dengan wajah yang kini terlihat lebih intens 


"Intinya kalian jangan gegabah, mungkin di sana kita bisa menang tapi kemungkinan juga bisa kalah, namun yang jelas kalian berdua kalah, maka kami pun akan kalah"


Beny dan Bagus mengangguk paham, akhirnya pada pukul 11 siang mereka bergerak dari berbagai arah terutama Beny dan Bagus yang kala itu bergerak melewati bangunan layaknya ninja hingga hawa keberadaan mereka bisa dikatakan hampir senyap 


Berbeda dengan Kristian yang mulai bergerak bersama batalion Nya ke garis pertahanan lawan dan begitu juga dengan Steven yang bersama Fredy menyerang dari arah berbeda namun satu tujuan. 


Baku tembak terjadi diantara keduanya sampai-sampai korban sudah berjatuhan di garis pertahanan mau itu dari pihak Devil ataupun aliansi sekalipun, tetapi saat itu pihak Devil adalah pihak yang dirugikan, karena serangan dadakan dari lawan


Entah bagaimana pertempuran berlangsung selama 10 menit tapi pertahanan Devil sudah di pukul mundur sampai beberapa ratus meteran, semua diakibatkan oleh pergerakan Aliansi begitu agresif dan gesit sehingga musuh tidak sempat menyeimbangkan kekuatannya yang kala itu belum stabil


Tapi sekarang pasukan Kristian dan Steven berhasil menembus pertahanan hingga hampir ke titik temu mereka, yaitu markas besar tempat bos musuh berada 


"Apa kekuatan mereka hanya segini?" gumam Kristian yang kala itu merasa bingung dengan pergerakan tentaranya yang tidak mendapat pukulan sama sekali. 


"Pak, sepertinya kita sudah hampir sampai di tujuan utama" ujar salah satu tentara yang menghampiri dan memberi hormat pada Kristian. 


"Bagus tapi jangan lengah, terus perhatian sekitar, kamu paham!!"

__ADS_1


"Siap paham, pak" tegas tentara itu kemudian pergi meninggalkan atasannya


Setelah hari menjelang siang suasana masih seperti biasa, pasukan Devil berhasil dipukul terus menerus, seperti tidak ada perlawanan sama sekali, bahkan kala itu Kristian mulai curiga sekaligus khawatir dengan keberadaan Beny dan Bagus yang sudah hampir sampai di markas musuh. 


Disaat itu Beny dan Bagus kini berada di depan mall yang telah diduga menjadi markas besar mereka.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Bagus ketika itu menatap beni yang berdiri di sampingnya. 


"Aku juga tidak tahu, tapi yang jelas kita pantau dulu mereka dari sini" 


"Baiklah~" 


Namun ketika mereka sedang menunggu tak lama terdengar suara dentuman yang keras menggelegar dari arah pasukan reguler berada. (Duarr....)  suara yang diiringi oleh bumbung jamur api yang menjulang ke atas membuat udara disekitar mulai memanas 


"Suara apa itu?" tanya Bagus. 


"Jangan-jangan-.." ucap Beny dengan suara terbata-bata sembari menatap api tersebut dengan sangat ketakutan hingga matanya membulat. 


Benar apa yang dirasakan oleh Beni di tempat lokasi pasukan reguler berada kini telah terombang-ambing oleh sekumpulan serdadu yang menyerang dari berbagai arah, dan pasukan itu dipimpin oleh Kristian secara langsung 


Yang ketika itu mendapat serangan dadakan berupa rentetan peluru dari berbagai arah, tapi yang jelas tembakan itu terjadi dalam sekejap yang bermunculan dari balik jendela gedung maupun bangunan bertingkat di sekitar mereka


"Argh.." rintihan tentara yang terkena tembakan kini tumbang karena sebutir peluru berhasil menembus kulitnya. 


Kristian terkejut ketika melihat serangan tersebut, tetapi karena dia pemimpin akhirnya dia segera mengambil alih pasukan dalam memberi perintah. 


"Seluruh pasukan, segera bersembunyi!!" teriak Kristian yang kala itu sudah di serbu oleh butiran peluru dari berbagai arah yang asalnya dari balik gedung 


Tapi disaat pasukan sedang berhamburan mencari tempat persembunyian terlihat sebuah roket yang melesat dari langit dan menghantam permukaan yang tak jauh dari pasukan Kristian berada, yah.. Itu adalah rudal balistik yang dicuri oleh pasukan Devil di barak militer


Banyak debu berhamburan menutupi pemandangan Kristian dan pasukannya hingga diantara mereka tidak ada yang bisa saling membantu dan berkomunikasi, istilahnya bagaimana bisa membantu jika dirinya sedang di tengah kesulitan. 


Itulah yang dirasakan oleh Kristian ketika terkena hantaman dari sebuah ledakan misil yang diluncurkan oleh Devil dengan jarak 100 kaki jauhnya


Bahkan dirinya saat itu tidak bisa membayangkan lagi betapa mengerikan musuhnya, karena disaat dirinya asik memukul mundur musuh, bagaikan serigala berbulu domba, disitulah umpan akan terpancing hingga ke sarang harimau


"Sial.." umpat Kristian sembari mengambil senjatanya yang kebetulan tidak jauh dari posisinya tergeletak, namun seraya itu juga, dirinya kembali mendengar rentetan peluru memenuhi udara yang mana targetnya adalah serdadunya yang berhasil selamat dari misil dan segera berdiri untuk mencari tempat persembunyian


Namun  karena lengah akhirnya dari balik punggung sudah ada timah panas yang menancap pada tubuhnya hingga membuatnya tewas. Dan itu tidak terjadi pada satu orang melainkan beberapa orang yang ketika itu sedang berlari terbirit-birit 


Kristian yang melihat itu didepan matanya hanya bisa menelaah kekalahan yang amat telak dari grupnya, dan kemungkinan setelah itu pasukannya akan lumpuh hingga tidak bisa kembali mendorong pertahanan musuh, bagaimana bisa jika tentaranya sudah kalah tetapi dipaksakan untuk membabat habis pertahanan lawan hingga ke base. 


"Aku kalah?" gumam Kristian yang saat itu hatinya sedang terguncang. Melihat kekalahannya karena melihat pemandangan tersebut membuatnya kembali mengenang kenangan yang tak mengenakan, sebab di harus mengingat masa dimana dia masih menjadi anggota kemiliteran


Yang ketika itu mendapat tugas di medan pertempuran dengan batalyonnya hingga memperlihatkan sekilas kisah kenangan berdarah yang tak dapat dia lupakan, entah bagaimana ketika itu kejadiannya begitu cepat dan tak terduga, wajar jika seorang tentara harus siap mati 


Sebab di pertempuran, tiada kata jeda untuk tentara itu selain bersiaga akan serangan, karena hal itu juga akhirnya kenangan buruk terulang dimana kejadian dimana tentara yang dipimpinnya terkena ranjau musuh hingga ia dan kompinya terpaksa masuk kedalam jebakan musuh 


Dan ketika itu yang ia lihat hanya sebuah ledakan dari boom dengan bertubi-tubi hingga menghancurkan tentaranya namun tidak sampai disitu bahkan tentaranya harus terkena rentetan peluru yang menembus tubuh


Semua adegan mengerikan itu sama persis yang dilihat oleh Kristian hingga traumanya kembali terbuka, ibaratkan luka yang menjadi koreng namun harus terkena sayatan, tentu itu perihnya akan kembali terasa begitu menyakitkan


Namun sayangnya semua itu harus dialami oleh Kristian secara langsung di depan mata, sehingga mulutnya tak mampu berkata-kata, dan matanya hanya membulat dengan sempurna sembari diselimuti oleh rasa trauma yang amat dalam. 


***

__ADS_1


"Kita harus menolong mereka!!" teriak Beny sembari mengambil ancang-ancang untuk bergegas pergi. 


"Tunggu dulu" potong Bagus seraya mencengkram pergelangan tangan beni dengan erat. "Kenapa?"


"Ingat tujuan utama kita!"


"Tapi bagaimana dengan mereka?"


"Percaya saja pada mereka, aku yakin mereka pasti selamat, dan lagi jika bos mereka kita lumpuhkan maka perang ini akan segera usai" tegas Bagus


Terlihat dari wajah Beny yang terlihat ragu dan cemas, sebab dirinya harus memikirkan nasib teman-temannya yang sedang bertempur di perbatasan


"Kumohon untuk kali ini percaya padaku" ujar Bagus sembari menatap dengan tatapan serius


"Baiklah.."


Akhirnya beni hanya bisa menurut tanpa bisa membantah lagi, setelahnya ia melanjutkan misi, yaitu untuk memasuki mall yang menjadi tempat dimana bos dari kamp devil bersembunyi.


Akan tetapi setelah melihat situasi di medan perang, sangat tidak mungkin pintu utama tiada penjaga, karna tidak terlepas dari keadaan di medan perang pasti ada satu atau dua orang yang menjaga.


Dan saat itu mereka tidak mau sampai keberadaan mereka diketahui, jadi terpaksa mereka memikirkan jalur alternatif dengan melalui jalur parkir bawah tanah yang sepertinya tidak dijaga


Namun sembari menelusuri jalan pikiran Beny selalu dipenuhi oleh rasa khawatir yang amat besar, sebab ledakan misil tersebut pasti menewaskan banyak orang dari regunya 


Dan hal itu membuat beni menjadi sangat khawatir, karena bagaimana jika pasukannya tidak mampu mengontrol situasi yang ada, tentu semua rencana yang telah dirancang pastinya akan hancur, tak hanya korban yang meningkat tapi peluang yang datang sekali ini bisa sirna


"Ben, jika semua ini usai, apa yang akan kamu lakukan setelahnya?" tanya Bagus mencairkan suasana yang kala itu yang ia rasakan hanya rasa sunyi, baik tempat maupun orangnya


"Hmm.. Aku akan membangun peradaban yang damai tanpa perlu pertumpahan darah lagi" 


"Untuk apa?"


"Tentu saja untuk melihat mereka yang masih bertahan menemukan surga-Nya, karena aku percaya jika orang yang masih hidup punya kesempatan untuk meneruskan hidupnya"


"Apa kamu yakin semua itu akan terwujud?"


"Maksudmu!!"


"Kamu harus tahu!!, tidak semua manusia bisa dipukul rata, karena terkadang ada yang memiliki mindset berbeda"  


"Aku tahu,.. tapi apakah kamu tahu, kalau aku memimpin kelas itu tidak sepenuhnya benar" ujar Beny. 


"Mana ada, aku tahu kalau kamu sudah melakukan yang terbaik untuk kami, dan aku sangat yakin, tidak hanya aku tapi seluruh teman-teman pasti sadar akan usahamu" 


Beni tersenyum hangat, lalu bertutur dengan nada pelan. "Begitulah yang akan aku lakukan untuk dunia ini, mungkin memang mustahil jika aku merubahnya, tapi aku pasti akan melakukan yang terbaik, sampai mereka sadar bahwasanya aku adalah pemimpin"


"Hidup itu pilihan, dan manusia diciptakan oleh Tuhan, yang telah dilengkapi akal budi, tentu mereka bisa memilah yang baik dan buruk" sambung Beny


"Bukankah jika begitu kamu akan terlihat naif?"


Ucapan Bagus membuat Beni berhenti melangkah karena setelahnya, ia berpaling balik menatap Bagus dengan sorot mata tajam seraya berkata dalam nada intens. 


"Aku telah sering disakiti, jadi aku sudah kebal dengan argumen dan omongan orang lain, tapi walaupun begitu hal yang bisa membuatku sakit adalah tidak memanfaatkan skill ini untuk menolong orang lain"


Usai berkata demikian Beni bergegas pergi menelusuri tempat parkiran tersebut dengan armada mobil yang telah berjejer rapi membentuk sebuah barisan setiap sisinya. 

__ADS_1


BERSAMBUNG… 


__ADS_2