THE DAY ZOMBIE

THE DAY ZOMBIE
Eps 72 (Part³)


__ADS_3

     Beberapa hari setelah Beni dan Andika di sana akhirnya mereka sepakat jika penyerangan akan terjadi di akhir pekan, mengingat persiapan dari masing-masing pihak harus dimantapkan terlebih mereka tidak memiliki informasi mengenai musuh akhirnya beni memutuskan untuk mengambil persiapan sebanyak 6 hari lamanya. 


Dan saat itu juga Beni sudah mengirim timnya yang mana Steven menjadi bagian dari tim itu untuk ke tanah barat, dalam misi menganalisis medan dan kekuatan lawan. 


Akan tetapi beberapa hari sebelum peperangan terjadi. Di markas Black dragon rapat emergency pun diadakan untuk membahas persiapan perang mereka, sehingga dari jumlah orangnya hanya perwakilan saja seperti dari utara Andika dan Fredy. Timur. Tiara dan David dan selatan. Kristian dan Beni yang masing-masing berada di satu ruangan dan duduk berlawanan.


"Sesuai dengan rencana, bahwasanya kita akan menyerbu Devil dengan seluruh kekuatan, jadi sudah sampai mana persiapan kalian?" tanya Kristian yang sekian lama akhirnya muncul pada rapat tersebut 


"Tidak banyak tapi kami sudah mempersiapkan suplai yang mungkin bisa digunakan di medan perang, karena kata Beni sendiri, perang ini hanya kurang bahan medis" 


"Benar, karena kamp kami suplai medis sangat amat terbatas jika kami gunakan untuk perang yang ada kita sudah tidak memiliki stok persediaan nantinya" 


"Baguslah kalau begitu" ujar Tiara. "Lalu bagaimana dengan utara?" lanjut Kristian melempar pertanyaan pada Andika


"Kami tidak punya persediaan apapun, apalagi dengan situasi yang tidak terlepas dari keadaan yang baru merdeka" sebut Andika


"Kekuatan?"


"Kekuatan kami hanya ada 100 personel aktif jadi kami hanya bisa menyerahkan 3/4 dari kekuatan kami tidak bisa semuanya" 


"Huh.. Cukup sulit jika dengan keadaan kalian sekarang" ujar Kristian menghela nafas


"Jadi bagaimana, kris" bisik Beni yang melirik Kristian tengah dilema dengan situasi dari utara karena jika utara tidak join dalam perang yang ada kekuatan mereka tidak stabil, karena mau berharap pada siapa lagi jika tidak dengan utara, apakah mau berharap dengan timur. 


"Baiklah karena kita tidak mungkin menunda-nunda aku putuskan kalau kamp selatan akan menjadi garda depan, kamp utara berada di garis bantuan sementara kamp timur ada di pos akhir atau pusat medis" tegas Kristian dalam memberi arahan


"Baiklah kami setuju" ujar David sambil memberi sedikit ulasannya. "Melihat keadaan kami yang tidak memungkinkan untuk perang secara frontal jadi aku akan putuskan kalau kami akan menjadi pendamping pasukan selatan" 


"Terimakasih.."


Di suasana yang mulai tenang, entah ada angin atau tidak, tapi Andika berdiri dari kursinya dan menundukkan kepala sembari mengucapkan maaf kepada seluruh penghuni ruang rapat itu. "Maaf,.. Jika pada perang kali ini aku menjadi beban kalian" 


"Dika... Kamu tidak salah, kami saja yang masih lemah makannya kekuatan kita tidak bisa membantu mereka" sambung Fredy yang mencoba untuk mengembalikan semangat pemimpinnya. 


"Cukup dika, angkat kepalamu!!" teriak Beni dengan tegas sehingga Andika langsung mengangkat kepalanya karena takut. 


"Tapi kak, aku ini mem-.."


"Berhenti merendahkan dirimu sendiri, kamu itu pemimpin dan sudah seharusnya kamu memimpin dengan tubuh yang tegap, kenapa kamu membungkuk yang bukan karena salahmu, apa kamu ingin mengakui kalau kamu itu adalah orang lemah?" 


"Tidak~..." jawab dika lirih. "Oleh sebab itu kami meminta bantuanmu, jika kamu merasa kurang mampu maka aku akan bergabung menggantikan 100 prajurit mu itu"


Seruan Beny membuat dika kini lebih percaya diri, karena sebelumnya ada rasa ragu di hatinya namun sekarang rasa ragu itu telah hilang dan digantikan oleh semangat, hingga Andika menatap kakaknya dengan api membara, bahkan yang lain dapat merasakan potensi Andika yang sedang bergejolak. 


"Tuh.. Kakakmu saja bilang begitu masa dek dika mau menyerah, kan gak lucu" ujar Tiara membuat seluruh orang di sana tersenyum dengan maksud tak diketahui.


Usai mereka membahas rencana, hari mulai berganti sedangkan waktu yang ditentukan sudah semakin dekat, dengan persiapan yang ada, pihak Warz mengeluarkan seluruh armada tempurnya yang telah dimodifikasi oleh otomotif mereka. Sementara dari pihak lain seperti utara dan timur. 


Mereka mulai bergerak dari sisi berbeda namun tetap bertemu di titik tengah sebagai tempat kumpul mereka. Pergerakan yang besar-besaran itu pun akhirnya tercium oleh camp barat yang akan menjadi sasaran para aliansi. 

__ADS_1


Karena mau bagaimana pun pihak barat tidak bisa menganggap enteng lawannya yang notabene bukan lagi perorangan melainkan kelompok besar yang memiliki kekuatan diluar predikat. 


Sehingga di tanah barat terjadi kegelisahan yang amat parah karena hal itu. "Tuan besar, bagaimana ini, sekarang pihak aliansi sudah bergerak?" tanya seorang pria yang menggunakan seragam namun wajahnya khawatir


Ucapan itu terjadi di sebuah ruang yang sunyi karena selain dia ada seorang pria lagi yang berdiri tapi membelakanginya, sembari menatap ke arah luar jendela


"Kurang ajar,.. Berani sekali mereka berbuat macam-macam. Kumpulkan seluruh kekuatan kita aku akan memberi mereka pelajaran" titah pria yang sembari tadi menatap keluar jendela. Namun setelah membalikkan tubuh dan menatap lawan bicaranya dengan penuh amarah 


"Baik.. Tuan besar" jawab lawan bicaranya kemudian beranjak keluar dari ruangan. 


Setelah ditinggal seorang diri, dia menggebrak meja sembari memasang raut wajah merah padam sambil memaki seluruh lawannya dengan kata-kata kasar dan bernada tinggi


Namun 1 hari sebelum penyerangan akhirnya di barak terkumpul seluruh pasukan aliansi yang sibuk dengan urusan mereka dalam mempersiapkan diri dalam berperang. Terutama Beni yang sangat sibuk mengatur formasi perang dan lain sebagainya untuk mengantisipasi jikalau jumlah musuh lebih banyak 


Dengan cara menghafalkan medan supaya ketika terjadi penyergapan, pasukan Beny tahu letak lokasi yang bisa dijadikan sebagai tempat antisipasi. 


Di tenda Beny bersama dengan Kristian dan Fredy tengah berdiskusi di atas meja bundar yang dijaga oleh dua serdadu di sekitar mereka. Saat itu Beny maupun Fredy tengah memahami secarik kertas yang di atas meja dengan seksama


Sementara Kristian hanya mengernyitkan alis sambil menunjuk ke sebuah gambar yang berbentuk bangunan. "Disini kalian bisa bersembunyi sampai ada perintah dari pasukan ekspedisi" ujar Kristian kepada Beny dan Fredy


"Jadi kak Kristian mau meminta kami untuk menunggu di sana?" tanya Fredy


"Benar karena selain jaraknya yang dekat dengan wilayah musuh, di sana sangat aman, dan jikalau ada penyergapan kalian bisa berpindah ke arah utara untuk memasang benteng di sana, karena di sana penuh dengan rumah warga yang bisa dijadikan sebagai benteng sementara" 


"Aku paham, tapi jika menurut apa yang di peta, berarti kita akan berdiri tepat di samping zona Devil?" sela Beny


"Benar, tapi tidak perlu takut karena tim ekspedisi sudah memastikan kalau tempat itu aman dan di sana sudah ada tim yang akan memandu kalian"


"Benar... Karena kita harus bergerak saat waktunya tepat" 


"Kalau begitu aku akan bergerak ke lokasi 2 jam dari sekarang, Fredy tolong siapkan pasukan" 


"Baik" jawab Fredy dengan tegas sebelum bergerak sesuai perintah. Karena 2 jam kemudian seluruh pasukan sudah berkumpul di halaman barak tempat titik kumpul mereka yang menjadi garis akhir sementara di titik yang ingin dituju adalah garis depan yang menjadi medan perang pasukan reguler 


"Semuanya dengarkan, mungkin setelah ini kita akan sulit kembali, karena yang akan kita hadapi adalah perang sesungguhnya, jadi aku mohon untuk perang terakhir ini keluarkan seluruh potensi kalian" seruan Fredy kepada seluruh pasukan aliansi yang kala itu sudah berkumpul di satu tempat dalam keadaan berbaris dengan rapi 


Disaat seluruh pasukan tengah bergumam membahas pidato dari Fredy terlihat Kristian dan Beny berjalan bersebelahan menghampiri Fredy. Dihadapan Beny, Fredy berkata. "Saya sudah menyiapkan pasukan yang anda perintahkan dan ini sudah semua dari pasukan yang siap perang" 


"Bagus" jawab Beny dilanjutkan dengan Kristian yang bertanya. "Apa persiapannya sudah siap?"


"Sudah,.. Mereka sudah siap untuk diangkut ke lokasi medan pertempuran" 


"Bagus, sekarang mari kita berangkat" ujar Kristian 


"Baik Pak" tegas Ferdy sembari memberi hormat layaknya tentara pada atasan. Akan tetapi sebelum mereka bergerak Beny berkata kepada seluruh pasukan yang jika dihitung ada kemungkinan berjumlah 300 orang. 


"Semuanya mari kita tunjukkan kepada lawan bahwasanya mereka telah salah memilih lawan, mari kita habisi mereka!!!" 


"Habisi mereka" sorakan yang bersahutan sembari diselimuti amarah sebelum mereka bergerak dari tempat menuju kendaraan lapis baja yang diproduksi oleh otomotif Warz dan saat itu juga mereka berangkat ke lokasi

__ADS_1


Akan tetapi selama mata memandang mereka hanya diselimuti oleh rasa gelisah terutama pada pasukan yang kala itu seperti orang yang belum siap mati, karena lawan mereka adalah pasukan terlatih yang bengis dan digadang-gadang menjadi pasukan killer berdarah dingin


Namun mereka juga tidak bisa berbuat apapun karena memang lawan mereka adalah komunitas jahat yang ingin mendominasi daerah A dan itu akan mempengaruhi ekosistem kehidupan dari mereka sendiri yang notabene pengungsi


Jadi secara otomatis mereka hanya bisa pasrah dan bertekad untuk menghentikan Devil yang memang secara teori bukan pasukan biasa 


Namun rasa gelisah dari serdadu sirna disaat Beny mengatakan beberapa kalimat kepada bawahannya karena dihadapan mereka, Beny mengatakan. Bahwasanya dunia sudah kiamat dan orang yang tersisa harus menjadi guardian untuk diri dan orang lain 


Mau sesulit apapun musuh asalkan mereka mau bekerja sama dan kompak niscaya semua pasti akan ada jalannya, tentu meyakinkan juga kalau mereka tidak sendiri, Beny dan Ferdy ada bersama mereka.


Sementara itu di sisi lain Bagus dan kelompok prajurit yang ditugaskan menjadi bala bantuan sudah berkumpul dan standby di posisi tepat di lokasi yang akan dituju oleh Beny dan kompinya. Bahkan mereka telah menggunakan armor pelindung dan mengaktifkan mobil perang yang akan meluncur ke medan pertempuran


Semua sudah siap sebelum pasukan utama datang. Karena untuk sisi lainnya mereka sudah bersiaga penuh jikalau musuh sudah mengetahui pergerakan mereka pasti lawan akan menyerbu terlebih dahulu untuk memporak-porandakan strategi musuhnya tapi dengan adanya Bagus mereka pasti akan menghadapi pasukan Bagus dan Steven sekaligus sebelum akhirnya menjatuhkan checkpoint


"Bagus, jangan mengecewakan kami" ujar Steven di hadapan orangnya langsung disaat mereka sedang dalam ruangan bernuansa perkantoran, karena ruangan itu seperti ruang rapat yang ada meja bundar di hadapan kursi


"Kamu tenang saja, lagian aku juga tidak ada urusan dengan kalian kecuali dengan Beny" jawabnya yang raut wajahnya sangat datar 


"Tapi kamu tahu, kalau saat ini kami bersama Beny sedang menyerang markas besar mu"


"Tidak masalah, bagiku sudah saatnya monster yang hendak mengamuk di tenangkan" jawabnya. "Kamu orang yang sulit ditebak, apa kamu tidak loyal pada para rekanmu di sana?"


"Tidak"


Steven mengernyitkan alis sembari menatap wajah Bagus dengan intens. "Jawabanmu membuatku menaruh rasa curiga terhadapmu, gus" 


"Sudah ku bilang bahwasanya aku disini karena temanku dan temanku adalah Beni, jadi apapun yang terjadi tetap Beni adalah prioritasku" tekan Bagus membuat Steven menghela nafas 


"Baik-baik, aku tidak akan menanyakan lebih dalam lagi terhadapmu, asalkan kamu berada di pihak kita itu sudah lebih dari cukup" 


"Baguslah kalau kamu mengerti, pak"


Setelah ngobrol beberapa kata akhirnya Bagus pergi dari ruangan dengan membawa senjata di tangannya. Usut punya usut akhirnya pasukan reguler yang dibawa oleh Beny telah sampai ke kamp aliansi yang akan menjadi medan pertempuran


Kedatangan mereka disambut oleh pasukan yang lain dengan sangat hormat, terutama pada Beny dan Kristian yang mana ketika mereka turun dari mobil, sudah ada tentara yang berdiri dan memberi hormat kepada mereka


"Selamat datang pak!!" Tegas dari salah satu komandan batalyon


"Dimana kolonel Steven?" Tanya beni yang seperti tiada rasa hormat, walaupun keberadaannya setara tetapi pangkat mereka berbeda jauh, sehingga sudah seharusnya ada peraturan tabu yang mana menghormati atasan


"Pak Steven, sudah berada di ruang rapat" ucap tentara tersebut dengan nada tegas. "Antarkan kami" pinta beni kemudian mulai membuntuti tentara tersebut ke tempat Steven berada yaitu di sebuah bangunan bertingkat dengan tertulis puguh PT. Di sana


Ketika beni sudah memasuki resepsionis, terlihat Bagus sudah duduk di salah satu kursi seorang diri sembari membersihkan bayonet dengan sapu tangan berwarna putih. "Bagus, apa yang kamu lakukan disini?"


"Menunggumu!!" 


"Tidak perlu terlalu repot, mari kita kumpul di ruang rapat" ajak beni, hingga Bagus beranjak dari tempat duduk dan membuntuti Beny, Fredy dan Kristian dari belakang. 


Sesampainya mereka di ruang rapat, terlihat Steven tengah memperhatikan map diatas meja dengan memegangi sebuah bidak catur di antara jemarinya. 

__ADS_1


"Mari kita mulai agresinya!!" Ucap Beny yang menyeringai. 


BERSAMBUNG... 


__ADS_2