THE DAY ZOMBIE

THE DAY ZOMBIE
Eps 63 (Part³)


__ADS_3

Cklek... 


Pintu terbuka dimana terlihat beberapa orang duduk rapi sambi memperhatikan ke arah depan mereka yaitu sang ketua Andika yang kala itu duduk di paling depan sambil memperhatikan anggota inti black dragon yang ia pemimpin. Namun pembahasan mereka terhenti di saat ada seseorang yang masuk kedalam ruangan


Kedatangannya membuat Andika yang duduk di kursi kehormatan berdiri sekejap sambil memperhatikan sosok itu dengan wajah terkejut bukan main.


"Ka-kak!!" panggil Dika terkejut melihat kedatangan orang itu hingga ia meninggal kursi dan berlari ke arahnya yang tak lain adalah kakaknya sendiri. 


Sejenak mereka berpelukan sambil melepaskan rindu walaupun di hadapan banyak orang tapi rasa rindu di hati mereka mengalahkan ego masing-masing, entah itu ego seorang kakak maupun adik karena semua itu tidaklah penting.


"Kakak.. Sudah lama kita tak bertemu" seru Dika sambil membekap erat tubuh kakaknya yang kala itu masih terlihat lemas.


Tentu saja rasa senang mereka dapat dirasakan oleh orang lain, bahkan Surya yang kala itu berdiri di sampingnya dapat tersenyum tipis memperhatikan kisah seorang saudara yang telah dipertemukan kembali setelah terpisah oleh bencana


"Berhentilah bersikap seperti anak-anak" cetus Beni membuat Dika secara spontan melepas pelukan dan bertingkah layaknya orang yang sedang malu-malu kucing. 


Semua orang yang melihat adegan tersebut hanya bisa tertawa di dalam hati termasuk Surya, yang kala itu tersenyum sambil menahan tawa karena ia sadar kalau perkataan Beni hanya sebuah ego semata yang hanya dimiliki oleh seorang kakak terhadap adiknya. 


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Beni kepada adiknya yang kala itu mencoba untuk mencairkan suasana. "Aku baik-baik saja, dan terimakasih karena sudah mau menolong kami" 


"Tidak masalah, tapi ada satu pertanyaanku!!" 


"Apa itu?"


"Bagaimana kalian bisa selemah ini" ujar Beni dalam ekspresi datar dan serius sehingga sulit untuk ditebak apakah Beni bertanya atau menghina. 


"Ah.. Masalah itu" terlihat Dika ragu untuk menjawab tapi segera di timpal oleh Beni. "Sampai kapan kamu akan membiarkan aku berdiri?" 


Mendengar itu segera Dika melirik ke arah anggota inti yang merupakan kode isyarat untuk sebuah perintah. Dan karena anggota inti paham akan hal tersebut segeralah dia mengambil kursi dan meletakkannya di sebelah andika yang kala itu menjadi orang ketiga 


Setelah ketua dan wakilnya, Samuel yang juga merupakan sahabat karib Dika sejak masa sekolah dahulu, lebih tepatnya sebelum bencana zombie melanda kota. 


"Sebelumnya aku ingin bertanya kepadamu dika, apakah orang yang ada di sampingmu adalah wakil dari kamp ini!?" seru beni menyela pembukaan dari ketua Black dragon yang ingin memulai pidatonya 


"Iya Kak, dia wakil ku namanya Samuel" jawab Dika sambil melirik ke arah tamannya


"Halo.. Kak, saya Samuel yang kebetulan di tunjuk oleh andika sebagai wakil" sapaan Samuel yang tersenyum ramah. 


"Pantesan saja kalian gagal melindungi kamp, jika kekuatan kalian saja tidak mewadahi seperti ini" ujar beni acuh sehingga terjadi tekanan mental bagi yang mendengarnya, terutama Andika dan Samuel yang secara tidak langsung mereka lah yang dibicarakan oleh Beny. 


"Ah.. Tapi kak, walaupun kami menjadi kuat, rasa ku tak ada deh yang kekuatannya sebesar kalian itu, karena kekuatan kalian itu sangat tidak logis seperti monster saja" jawab dika 


"Dasar dibilangin malah ngelawan" cetus beni menatap adiknya secara jengah


Semuanya hanya bisa tertawa dalam hati melihat tingkah dari kakak beradik ini ketika cekcok adu mulut satu sama lain, karena adik-kakak belum tentu sependapat. 


"Kalau begitu jelaskan situasinya?" sambung beni


"Baik, aku akan menjelaskan situasi yang ada di wilayah utara, tapi sebelumnya aku ingin berterima kasih pada paman surya, berkat dia akhirnya kami pun sudah mengetahui akan dunia luar"


"Apa!!,.. Bagaimana bisa kalian baru tahu tentang dunia luar? Apa ada masalah internal disini, sehingga membuat kalian tidak menyempatkan diri menyelidiki daerah di luar sana!!" 


Kenapa beni berkata demikian, karena di bunker telah mengalami dimana masalah mereka membuat mereka tertinggal informasi tentang apa yang terjadi diluar sana, bahkan ada kemungkinan jika sekarang pun Kristian belum tahu jika diluar bunker sudah ada tiga kamp yang berdiri di setiap daerah. 

__ADS_1


"Susah untuk dijelaskan, tapi yang jelas kakak harus tahu kalau sebenarnya wilayah utara belum sepenuhnya menjadi milik Black Dragon" 


"Apa, Bagaimana bisa!!!" 


"Jadi wilayah utara terdapat dua kubu yang saling bertolak belakang, dimana kubu yang satunya adalah musuh kami yaitu Dragon Slayer"


"Hah?!" beni dan surya tersentak kaget mendengar ucapan dari ketua Kamp. Sampai-sampai beni memalingkan pandangan dan bertanya kepada Surya.


 "Kamu baru tahu?" 


"Iya" 


"Lalu apa saja yang kamu ketahui tentang Dragon Slayer itu?" tanya Beni pada Andika. "Tidak hanya sekedar tahu, tapi sangat mengetahui seluk-beluk dari kamp tersebut, bahkan aku tahu visi mereka"


"Sudah jelas kalau visi mereka menghancurkan kalian, bukan?" 


"Memang itu tujuan utama mereka tapi masalahnya tidak hanya untuk mengalahkan kami tapi mereka memiliki ambisi yang sangat menyimpang"


"Bisa kamu jelaskan" 


"Jadi pemimpin dragon slayer adalah salah satu dari teman ku dan Samuel, wajarlah jika aku sebagai ketua kadang dibenci oleh bawahanku sendiri akan cara aku memimpin kamp ini" 


"Aku paham" sahut beni menatap Andika dengan serius. 


"Tapi entah mengapa teman kami menghianati kami, dia meninggal tempat ini dan membentuk kelompoknya untuk tujuan yang tak jelas, yaitu menghancurkan kamp kami yang jelas-jelas ini adalah tempat pertama kali mereka di tampung" 


"Biasalah manusia kalau sudah tamak tidak hanya jahat tapi mereka bahkan sampai tidak tahu terimakasih dengan kebaikan orang lain" sahut Samuel memasang ekspresi sinis dan penuh amarah. Sehingga seluruh orang yang ikut rapat dapat merasakan kemarahan dari wakil ketua mereka. 


"Yah.. Seperti yang sudah kujelaskan, kalau mereka tidak suka dengan cara ku memimpin apalagi mereka begitu gila dengan kekuasaan dan kekuatan, sehingga menurut mereka cara aku memimpin sangat naif dan tak bisa dikategorikan sebagai ketua"


"Memang apa yang kamu lakukan?!" 


"Aku tidak terlalu begitu mementingkan kekuatan karena bagiku, hidup nyaman saja sudah sangat syukur di zaman seperti ini" 


"Begitu yah.."


"Dan menurut mereka kamp ini tidak membutuhkan hati seperti malaikat melainkan kekuatan yang dapat membuat orang lain berpikir kesekian kali untuk menekan kami"


"Sudut pandang orang itu, sama seperti pandangan Kristian yang merasa kalau kamp tidak hanya harus menyediakan tempat yang nyaman, melainkan kekuatan untuk membangun dan menjaga peradaban manusia dari kepunahannya" batin Beny mengingat orang itu. 


"Aku juga merasa kalau di kondisi seperti ini akan sangat membutuhkan kekuatan dari pada kenyamanan seperti yang kamu pikirkan itu, contohnya saja seperti kemarin, bahkan melawan satu orang pun kalian tidak mampu" sambung Beni 


"Kakak ada benarnya, tapi sekarang kondisi utara tak stabil jadi sulit untuk memperkuat pertahanan dan memajukan kamp ini jika kita kapan saja kita bisa digempur oleh Dragon Slayer" 


"Jadi untuk sekarang apa rencanamu!" tegas Beni membuat orang disana memasang indranya baik-baik karena dari sekian banyaknya basa-basi Beni dan Adiknya, inilah moment penentu masa depan kamp Black dragon. 


Sebenarnya sejak tadi Beni hanya terus menarik ulur pembicaraan agar dia bisa lebih memahami kondisi sekaligus mengenal karakteristik kepribadian dari adiknya dan setelah ia berbicara panjang lebar dengannya, barulah Beni bertanya akan keputusan adiknya karena sebari awal rapat ini dibuat untuk mengantisipasi penyerangan dan menyelesaikan problem mereka. 


Dan Beni tak bisa campur tangan didalamnya, jadi ia hanya bisa membuat adiknya mengatakan kalimat konsisten dan menyelesaikannya dengan tuntas, karena itulah tujuan dan eksistensi ketua yang sesungguhnya, sementara Beni hanya sebatas seorang kakak tapi harus memberi dorongan terhadap adiknya agar bisa mendaki gunung yang ingin dicapai. 


"Langkah pertama ku adalah menghentikan Dragon Slayer, karena yang aku takuti adalah ketika kelompok devil memanfaatkan mereka untuk menghancurkan kami, dan aku sangat tidak sudi jika kami kalah tanpa melawan musuh secara langsung"


Benar, jika hal yang ditakuti adalah penyerangan Devil maka momen paling mengerikan adalah dimana Dragon slayer dimanfaatkan oleh Devil untuk mencapai tujuannya tanpa harus mengotori tangan, dan itu akan menjadi penghinaan besar bagi Andika karena dengan begitu bukankah Battle Of North hanya permainan untuk menghibur orang jahat? 

__ADS_1


"Aku setuju dengan pemikiranmu" ujar Beni tersenyum tipis. 


"Oleh sebab itu aku mengadakan rapat ini, untuk menyusun rencana agar bisa melumpuhkan Dragon Slayer dalam sekali serangan"


"Sekali serangan?" 


"Aku lupa memberitahu kakak kalau sebenarnya perang antara dua kubu ini, sudah berlangsung lama, dan kami sudah sering kali saling menyerang satu sama lain dalam beberapa dekade hanya saja sampai sekarang belum membuahkan hasil bagi pihak manapun karena kami juga sadar kalau lawan tidak bisa dianggap enteng"


"Kenapa perang kalian mengingatkan aku dengan perang *****"


"Bisa dibilang begitu karena kami saling menyerang lalu mundur, setelahnya mereka yang menyerang lalu mundur lagi, jadi seakan-akan perang ini hanya tawuran anak sekolah" 


"Hehhhh..." gumam Beny dan Surya serempak dengan suara yang datar. 


Mungkin karena ucapan mereka berdua suasana kala itu langsung hening karena mereka semua merasa ucapan dan tatapannya tertuju pada mereka, apalagi sikap beni tersirat rasa penghinaan walau tidak secara langsung tapi terasa sindiran untuk mereka dari anggota black dragon. 


"Tapi ya sudahlah, jadi intinya kita hanya perlu menaklukkan Dragon Slayer kan! Itu perkara mudah dan satu lagi mulai sekarang dan kedepannya, Black dragon akan berada dibawah perlindungan Warz mulai dari senjata, ilmu militer hingga pelindung ekstra jadi bersiaplah kalian akan beraliansi dengan kami" 


Pada akhirnya Beni memutuskan untuk mengajukan aliansinya kepada semua orang yang ada disana dengan ucapan tegas dan penuh wibawa. 


Sehingga seluruh orang disana merasa senang dan bahagia karena sebentar lagi kamp mereka akan jauh lebih baik untuk kedepannya dan tak perlu merasa takut terhadap Dragon slayer dan Devil yang notabene sebagai musuh. 


Semua tampak baik-baik saja dengan hasil rapat yang memuaskan bagi pihak Black Dragon, karena dengan membentuk aliansi bersama Warz maka mereka sudah membangun masa depan yang cerah di masa yang akan datang tanpa perlu takut dengan musuh mengancam mereka. 


Usut punya usut akhirnya keadaan Beny sudah mulai sehat dan waktunya ia kembali ke Bunker untuk melakukan konfirmasi dengan Kristian, karena mau bagaimanapun dia sudah pergi begitu lama jadi ia akan kembali sekaligus memberi laporan akan observasinya. 


Pagi itu Beni dan yang lainnya sudah berkumpul di luar area sekolah dimana mereka akan berpisah sejenak untuk melanjutkan negosiasi antara dua kubu yaitu kamp Black dragon dan Warz dalam waktu dekat. 


"Hati-hati di jalan kak" ujar Dika kepada kakaknya yang kala itu sudah menggunakan seragam militer dan helm. Karena ia akan menggunakan motor untuk pulang ke selatan. 


"Santai saja, kakakmu ini adalah pembalap profesional" balas Beny yang senyum tipis mulai mengembang di wajah. 


Semua orang yang melihat itu dapat merasakan ikatan dari adik-kakak tersebut bahkan surya yang belum mengenal Beni lama pun dapat merasakan betapa pedulinya ia kepada adik. 


"Kalau begitu aku berangkat dulu" seru Beni menatap yang lainnya, karena semua orang telah mengantarkannya hingga ke depan pekarangan sekolah. "Surya aku titip yang lainnya" sambungnya menatap Surya dan Dr. Linda yang berdiri berdekatan 


"Tenang saja" jawab Surya hingga Beni mengangguk paham kemudian ia menyalakan motor tetapi sebelum pergi ada seorang gadis yang memanggilnya. "Kak Beni" panggilnya membuat Beni berhenti menarik gasnya dan segera melirik ke arah sumber suara tersebut. 


Dan suara tersebut berasal dari Indri yang beberapa hari lalu tak sempat ngobrol dengan Beni karena memang beberapa waktu ini Beni sangat sibuk dengan adiknya, apalagi mereka sudah lama tidak bertemu, jadi Indri hanya mengurungkan niat untuk bertanya tentang saudaranya yaitu Manda. 


"Indri?"


"Yah.. Aku indri, syukurlah kalau kakak masih ingat denganku" 


Entah apa yang terjadi secara mengejutkan salah satu mata Beni mengeluarkan air mata sambil memasang ekspresi bersalah, dirinya tahu kalau Indri adalah korban karena dimana semua temannya gagal Beni selamatkan. 


Melihat mata kiri Beni mengeluarkan air, semuanya langsung terkejut bahkan Surya dan Andika tak menduga jika orang yang mereka kenal itu menangis di depan mata mereka. Tapi yang lebih anehnya Beni tidak berkata apapun sebelum dia melepas helm dan turun dari motor


Karena setelahnya ia berjalan perlahan dengan langkah terhuyung-huyung mendekati Indri yang masih diam mematung, tapi rasa heran Indri tersebut langsung sirna ketika melihat Beni berdiri di depannya sambil menatap matanya dengan wajah bersalah. 


Sebenarnya apa yang terjadi dan kenapa seseorang yang mereka pandang sangat kuat seperti monster tersebut bisa menangis di hadapan seorang gadis biasa? Aneh namun Itulah yang mereka pikiran saat melihat moment tersebut. 


BERSAMBUNG… 

__ADS_1


__ADS_2