
Tanpa ada angin dan hujan Beni langsung memeluk Indri dengan membekap tubuhnya secara erat seraya berkata. "Maaf" tentu Indri bingung dengan kata yang keluar dari mulut Beni tapi yang membuatnya tak bisa berkata-kata adalah melihat seorang pria memeluknya di depan orang banyak, tentu Indri sangat heran melihat momen tersebut.
"Maaf, karena aku terlalu lemah aku tak bisa membawa mereka pulang dengan selamat" ujar Beni yang masih membekap erat tubuh indri.
Tentu indri paham dengan maksud ucapan Beni kala itu, lagian mereka lah yang ia tunggu selama ini namun orang tersebut sudah tiada mungkin bagi seseorang itu adalah hal menyakitkan tidak terkecuali indri yang sesaat kemudian menangis dalam pelukan sambil mencengkram erat baju militer Beny.
"Hiks.. Hiks.." suara isak-isak tangis mulai terdengar dalam pelukan Beni. Membuat seluruh orang yang melihat langsung terheran sekaligus bingung dengan apa yang terjadi saat itu
"Maaf"
Satu kata lagi keluar dari mulut Beni membuat Indri tak bisa membendung rasa sedihnya. "Kenapa?" ucap Indri sambil menahan isak tangis
"Karena waktu itu aku lemah sehingga tak bisa melindungi mereka semua"
"Hiks.. Hiks..."
"Tolong biarkan aku menebus kesalahan ku" ujar Beny melepas pelukannya lalu menyeka air mata indri yang kala itu membasahi pipinya.
"Aku janji akan melindungi kalian semua, tidak perduli siapapun lawanku nanti aku akan terus berdiri didepan kalian sampai akhir hayatku" sambung Beni dengan optimis sambil mengukir senyum tipis
"Janji!!" indri menjulurkan jarinya di depan Beni sambil tersenyum canggung. "Iyah.. Aku janji" ucap Beni sambil mengaitkan jari kelingkingnya satu sama lain dengan senyum terukir satu sama lain.
****
Beni mulai melanjutkan perjalanan menuju kamp di selatan setelah semua masalah yang membelenggu hatinya dilepaskan, bahkan ketika di perjalanan tak ada penyesalan sama sekali, karena sesal di hati telah ia curahkan kepada indri sekaligus mendapat maaf darinya karena itu juga akan menjadi beban selama hidupnya.
Waktu berlalu sampai siang hari telah tiba dimana matahari mulai menjulang tinggi, dan kala itu scene memperlihatkan Beny sudah sampai di depan halaman bunker. Dan dirinya disambut oleh dua penjaga pintu masuk bunker.
"Hormat kami, pak" sapaan dua penjaga tersebut dengan memberi hormat ala militer kepada Beni yang kala itu baru membuka helm motornya
Terlebih lagi dua penjaga tersebut sudah mengenal siapa yang datang, sehingga mereka dengan sigap dan cepat menghampiri dan memberi hormat kepada Beni yang sangat berpengaruh bagi bunker apalagi dalam perang internal bunker.
"Dimana Kristian?" tanya Beni turun dari motornya kemudian berjalan ke arah gerbang dengan diikuti oleh dua penjaga tersebut.
"Tuan besar ada di ruangannya" jawab salah satu penjaga tersebut sambil berjalan mengiringi langkah kaki Beny.
"Baiklah, kalian boleh kembali ke pos" ujar Beni membuat kedua penjaga itu berbalik badan dan pergi meninggalkan Beni.
Suasana kala itu tidak banyak berubah tapi beberapa arsitektur mulai berkembang di bunker dan para pengungsi sudah memiliki tenda dan tempatnya sendiri di pekarangan bunker. Bahkan yang lebih mengejutkan adalah sumber daya manusia tidak lagi berharap pada hasil jarahan
Karena mereka sedang melakukan projek bercocok tanam untuk melakukan produksi hasil pangan nabati sendiri.
"Tidak ku sangka jika Kristian sudah berpikir sejauh ini" gumam Beni memperhatikan para pekerja yang mayoritas adalah pengungsi. Mereka bekerja mulai dari membangun dan menanam hasil pertanian yang cenderung pada bahan pokok.
Selama Beni melewati pekarangan, dirinya melihat beberapa personil yang sedang mengawasi maupun berlatih tanding untuk mengasah kemampuan mereka, sementara pengungsi seperti yang sudah diceritakan, setelah Kristian memenangkan perang bunker, dirinya mulai merevolusi bunker
Secara menyeluruh dengan menciptakan lapangan kerja bagi pengungsi lewat jalur konstitusional yang bernaung di tangannya, tujuannya memang baik yaitu menjaga peradaban manusia, tapi ada sebagian orang berspekulasi jika mereka dimanfaatkan oleh Kristian demi kepuasan semata.
Beni tahu akan siapa yang dirinya maksud oleh sebab itu ia tidak bertindak banyak kecuali ada arahan dari Kristian.
Pada saat itu Beni melihat dua tower pengawas dan satu alua pertemuan sekaligus barak untuk rapat maupun persiapan perang terhadap musuh, bahkan ada bengkel otomotif yang di buat oleh Kristian dalam waktu beberapa hari ini dengan beberapa pekerja bengkel yang sangat kompeten. Tentu semua itu Kristian lakukan dalam waktu bersamaan.
Walaupun pada kala itu peradaban wilayah selatan sudah berkembang pesat tapi belum ada tanda-tanda akan terciptanya politik di dalam sana, karena untuk memenuhi syarat politik butuh kriteria yang mewadahi
__ADS_1
Jadi untuk saat ini sistem yang dianut oleh Kristian masih sama seperti sistem semua untuk satu atau istilah lain sistem k*mun*sme.
Walaupun demikian, tanpa sadar ada yang berbeda dari bunker, yaitu tentang pertahanan dan kekuatan yang sudah terus berkembang diiringi oleh bangunan yang dianggap penting membuat manusia harus banyak berinovasi salah satunya seperti menciptakan alat tempur jenis baru dengan dilengkapi oleh bahan dan material sekedarnya
Kemudian alat baru yang bisa digunakan untuk membantu manusia dalam kehidupan sehari-hari, karena pengungsi sendiri sudah memiliki tempat di luar bunker seperti rumah walau sangat sederhana tapi sudah menaikan drajat dari pengungsi menjadi rakyat jelata.
Akibat perubahan tersebut tentu bunker kini menjadi bagian terpenting dalam kamp Warz dengan eksistensi yang membawanya menjadi tempat terlarang yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang seenak jidat
Bahkan disaat Beni masuk kedalam bunker pun disana sudah di jaga dengan ketat keamanannya walaupun keamanan tersebut justru malah berbalik memberi hormat kepada kedatangan Beni yang kala itu menggunakan seragam militernya.
Di tengah perjalanan menuju ruang Kristian, dirinya bertemu dengan Steven yang merupakan tangan kanan dari pemimpin besar bunker yang tak lain adalah Kristian itu sendiri. Kala itu ia tengah berjalan bersama anak buahnya dan tak sengaja berpapasan dengan Beni yang sedang berjalan menelusuri lorong bunker
"Ben, aku kira kamu sudah mati diluar sana" cibir steven dengan tersenyum kedut yang terlihat di buah bibirnya.
"Kurang ajar juga kau yah!!?"
"Hehh.. Aku hanya bercanda, kamu tahu kami sudah mencarimu beberapa hari ini, kami sempat mencoba untuk menghubungimu tapi tidak terjangkau jadi kami kira terjadi sesuatu kepadamu"
"Pertama aku berterimakasih karena kalian sudah mengkhawatirkan aku, kedua aku tidak selemah dan ceroboh seperti yang kalian bayangkan dan ketiga ada informasi penting yang harus aku jelaskan kepada kelian bertiga"
"Baiklah,.. mari kita bahas di ruang Kristian" ujar Steven yang menghela nafas berat
Kemudian mereka berdua bergegas keruang Kristian yang tidak jauh dari posisi mereka. Dan ketika sudah sampai Steven mengetuk pintunya secara perlahan
Tok.. Tok..
"Masuk" suara yang tak asing di telinga telah membuat mereka berdua segera masuk kedalam ruangan itu, sesuai dengan instruksinya dan ketika mereka membuka pintu terlihat Kristian tengah duduk sambil membaca secarik kertas di tangannya.
"Kris,.. Beni sudah kembali dari perjalanannya" ujar Steven membuat Kristian segera melirik ke arah beni yang masih berdiri tegak dengan membusungkan dada.
"Kamu gak perlu tahu, tapi yang jelas diluar bunker tidak sama seperti yang kita bayangkan"
"Memang kenapa?!"
"Ternyata di luar bunker ada tiga kamp lagi yang berdiri di setiap wilayah" jelas beny
"Tiga kamp?" bingung Kristian sambil mengernyitkan alis. "Yah.. Wilayah yang sudah membunuh batalion kita adalah kamp yang bernama Devil, itu berdiri di wilayah barat"
"Begitu yah..."
"Tidak hanya sekedar membunuh, aku juga mendengar desas-desus kalau mereka hendak menaklukkan seluruh kota A dengan kekuatan"
"Kekuatan? Memangnya sekuat apa mereka!! Berani sekali punya ambisi seperti itu" sahut Steven terlihat geram.
"Mereka kuat, aku sudah lihat sendiri kemampuan dari anggota Devil di wilayah mereka, dan bos besar mereka juga memiliki kemampuan yang sama seperti ku"
"Ck.. Mereka tidak bisa dianggap remeh" cibir Kristian yang memasang wajah cukup suram.
"Apa mereka memiliki senjata api atau senjata yang sekelas militer?" tanya Steven. "Iyah.. Karena sebagian besar dari anggota mereka berasal dari anggota kepolisian yang berkhianat pada negara"
"Kurang ajar" umpat Steven mengepalkan telapak tangan. Mungkin karena ia adalah seorang abdi negara makanya dia bisa merasakan bagaimana rasa kesal terhadap seorang penghianat
"Kalau mereka sekuat itu kita juga tidak bisa bergerak secara sembarangan terlebih lagi kondisi bunker juga masih rentan jadi kondisi kita masih belum stabil"
__ADS_1
"Aku tahu, tapi yang sedang dalam bahaya tidak hanya kita tapi wilayah utara juga"
"Bagaimana bisa?"
"Karena wilayah utara hanya kelompok yang terdiri dari anak-anak remaja yang tidak tahu menahu akan militer, jadi mereka bisa saja ditaklukkan oleh Devil kapanpun, dan kalau utara berhasil dikuasai, itu akan menjadi suatu hal yang bahaya, karena akses tercepat dari utara adalah selatan" jelas Beny
"Sialan.. Kamu benar juga" umpat Kristian
"Jadi apa kita harus membantu kamp di utara?" tanya Steven. "Tentu saja, apalagi aku sudah menjalin kerja sama dengan mereka"
"Kalau gitu kaamu kembali hanya ingin konfirmasi dari ku?"
"Yah.. Tapi semua tindakanku bukan tanpa alasan karena selain pemimpinnya adalah adikku, kamp utara juga memiliki hubungan baik di wilayah timur yang mungkin suatu saat kita bisa bekerja sama dengan mereka, lagian wilayah barat selain bengis juga menyimpang dari norma-norma negara jadi apa salahnya jika kita bersatu untuk mengalahkan Kamp Devil"
"Jika apa yang kamu katakan adalah benar, maka mereka memang harus dimusnahkan, tapi aku juga tidak bisa asal menyetujuinya tanpa kamu jelaskan secara detail mengenai apa yang terjadi selama kamu berada di luar"
"Apa kamu ingin mendengar cerita ku?" tanya Beny mengerutkan alis. "Yah.."
"Baiklah akan aku ceritakan"
Akhirnya Beni bercerita dari A sampai Z tentang apa yang terjadi ketika ia berada di wilayah barat bahkan sampai momen dimana dirinya pertarungan bersama teman lama yang kala itu terjadi di markas wilayah Utara.
"Sial, berarti di wilayah barat punya 2 orang yang memiliki kemampuan seperti monster" ujar Kristian berkeringat dingin.
"Yah.. Temanku dan bos besar mereka, dan apabila kita tidak menghentikan mereka, maka mereka yang akan menghentikan kita" jelas Beni
"Dan kamu kalah di hadapan temanmu?" tanya Kristian sementara Beny hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Kalau begitu kita harus secepatnya memikirkan cara untuk membantu Black dragon, karena jika terlambat sedikit saja mereka bisa habis di gempur oleh pasukan Devil" ujar Kristian yang mencoba untuk berpikir dengan kepalanya
"Masalahnya Black dragon yang diceritakan oleh Beni memiliki konflik yang tak biasa, jadi kita harus berpikir bagaimana caranya untuk mengantisipasi dua kemungkinan" sambung Steven
"Benar, ada dua kemungkinan yang bakal terjadi, tapi sebelum itu terjadi kita harus siap dalam segala aspek" ujar Kristian.
"Jelaskan SDM di kamp utara atau tempat Black dragon berada!!" sambung Kristian dengan memancarkan tatapan serius.
Beni menjelaskan menurut apa yang dirinya tahu dan ketika itu baik Kristian maupun Steven keduanya sama-sama mengerutkan kening karena itu akan sulit jika kelompok Black dragon tidak memiliki bakat dalam bertempur.
"Konyol.. Bagaimana mungkin kita bisa membantu Black dragon jika mereka tidak punya daya tempur" celoteh Kristian jengkel
"Aku tahu ini akan terdengar sulit, tapi bagaimana jika kita mengambil alih utara dalam bagian dari kita" ujar Steven membuka opininya.
"Maksudmu?" tanya Beny. "Untuk saat ini bunker sangat kekurangan anggota personil dalam militer ataupun pekerja, jadi kita bisa melakukan eksplorasi migran generasi untuk membantu kita"
"Ide bagus, kalau menurutmu ben?" tanya Kristian.
Memang benar jika mereka melakukan hal tersebut ada kemungkinan jika utara akan tetap selamat tapi ada juga dari anggota black dragon yang akan merasa kalau kamp Warz hanya memanfaatkan mereka.
"Ide tersebut mungkin memang bagus, tapi kita juga tidak bisa mengambil kuasa dari wilayah utara sepenuhnya, karena itu akan menjadi bumerang untuk kita sendiri" jelas Beny
"Tenang saja, aku melakukan itu untuk membantu peradaban mereka juga" ujar Kristian.
"Baiklah, kalau itu yang terbaik untuk mereka, aku yakin adikku adalah orang yang bijak yang bisa mencari solusi terbaiknya" balas Beny menghela nafas lega. Karena memang sangat tidak mungkin jika membantu mereka tanpa ada campur tangan dari Warz.
__ADS_1
Akhirnya pertemuan mereka membuahkan hasil yaitu dimana Warz tidak hanya membantu tapi menjadi bagian dari utara untuk menstabilkan peradaban dari dua belah pihak, walaupun secara otoritas nantinya adik Beny yang sebagai ketua akan terusik dengan kedatangan Warz.
BERSAMBUNG…