
Sesingkat mungkin mereka bergerak ke dua arah yang berbeda, dimana Beny dan Alex masih di posisi hanya saja Bagus dan Ridwan sedikit menjauh mencari tempat yang pas untuk bertarung, jadi singkatnya mereka bertarung dalam satu tempat, namun sedikit berjarak.
"Kenapa, kamu mengkhianati kami, gus?" tanya Ridwan ketika itu mendapat tempat yang pas untuk bertarung
Masih di lokasi yang sama hanya saja, jarak antara mereka sekitar 10 meter. "Aku sudah mendapatkan jati diriku kembali"
"Jangan bercanda, kamu mendapatkan jati diri? Apa kamu tidak lupa akan dendam yang kamu punya?!"
"Kamu salah ridwan, dendam ku bukan terhadap mereka melainkan terhadap manusia yang berhati iblis, karena sejujurnya aku benci dengan manusia yang melukai orang lain hanya untuk kepentingan ambisius"
Ridwan terdiam untuk sesaat sebelum dirinya kembali berkata namun nadanya sedikit mengecil dan raut wajahnya sedikit muram. "Kamu tidak mengerti gus, bagi ku kekuatan adalah segalanya, dengan kekuatan kita tidak akan dipandang rendah"
"Kamu salah wan, dari Beny aku belajar bahwa tidak semuanya bisa kita ukur lewat kemampuan dan materi, jangan jadikan hal itu sebagai tolak ukur, cukup menjadi diri sendiri maka kamu akan menemukan kebahagiaan, karena bahagia itu sederhana, memangnya kamu akan terus menjadi boneka Alex?"
Ridwan terdiam sembari menundukkan kepalanya, dia bingung harus menjawab apa, karena memang setelah dilihat lagi, dirinya memang sudah tidak bisa di bilang manusia merdeka, karena apa bedanya budak dan boneka?.
***
"Sudah cukup bermainnya, nak!!" ujar Alex tersenyum sinis. "Haha.. Semua akan berakhir setelah skenario ini selesai kok"
"Memangnya kamu yakin kalau kamu akan menang!?" tanya Alex dengan senyum mengejek
"Tidak tahu, tapi yang jelas kalau aku akan melakukan semuanya dengan baik, semua untuk mereka" jawab Beny melirik dengan tatapan intens
"Naif, apakah dengan begitu kamu akan di hargai oleh mereka?"
"Mungkin tidak, akan tetapi aku melakukannya untuk melindungi orang yang aku sayangi" seketika itu beni langsung teringat dengan Angel dan Elisa yang sekarang sedang di barak tempat garis akhir berada.
"Lucu juga kamu nak, di dunia yang sudah berakhir seperti ini pun masih sempat-sempatnya memikirkan orang lain"
"Memang itu salah?" Tanya beny yang memiringkan kepala saat itu
"Terserah mu, karena sebentar lagi kamu akan mati!!" Ujarnya sembari memasang kuda-kuda.
Tanpa berpikir lama aku langsung tahu kuda-kuda tersebut dan itu akan menjadi lawan terberat ku, sebab kemampuan itu adalah dasar dari bela diri kungfu.
"Bagaimana bisa kamu menguasai bela diri tersebut?" Ketika itu aku bertanya dengan posisi mulut terbuka lebar
"Apakah itu perlu diketahui oleh seorang musuh!?"
"Sial,.. Aku tidak menduga jika dia bisa menguasai bela diri tersebut" batin ku sembari memasang wajah was-was ke tahap tertinggi.
"Kenapa? Takut?" Ujarnya membuat ku langsung bergerak cepat tanpa pikir panjang, menghunuskan mata pisau dengan sangat agresif dan cepat
"Oh.. Bela diri militer" gumamnya yang tersenyum dan menghindari serangan ku dengan sangat tenang. Walaupun begitu aku bisa mengetahui titik lemah darinya, disebabkan dia yang meremehkan ku
Karena kesalahan yang paling fatal adalah disaat kita meremehkan orang lain, karena kita tidak tahu seberapa besar potensi yang dimiliki oleh lawan kita dan terkadang, karena terlalu cepat memberi nilai, yang kemudian hal itu membuatnya masuk ke dalam jurang tak berujung.
Wossshh..
Seketika itu Beny langsung melancarkan sebuah tendangan keras yang bisa membuat lawan jatuh dalam satu hit, karena serangan itu melesat melewati udara dan hendak menghantam leher, namun sayangnya tendangan tersebut berhasil ditahan oleh tangan kiri Alex.
"Apa?!" Beny langsung terperangah kaget melihat kekuatan yang sudah di tumpukan mampu ditahan dengan satu tangan.
"Oh.. Hanya segini kekuatanmu!" Ucapnya sembari tersenyum sumringah
Tanpa berpikir beni langsung meloncat dan melangkah mundur yang entah bagaimana instingku berkata bahwasanya dia adalah orang yang berbahaya. Dan perasaan itu tidak bisa ku dapatkan dari mana pun, bahkan sekalipun aku dikepung zombie.
Bingung sekaligus khawatir, karena lawan yang tangguh membuat seluruh tubuh tak ada henti-hentinya mengeluarkan keringat dingin.
"Kenapa?" satu kata dari Alex mampu membuatku merinding
"Sial, aku gak bisa bertarung dengannya dalam jangka panjang, aku harus memperpendek durasi agar pertarungan ini bisa jadi lebih efisien" batin Beny kembali bergerak dengan bayonet nya.
Tentu kala itu Alex juga melakukan serangan yang cukup singkat dan cepat, sehingga Beny mendapat luka lebam di sekujur tubuh dengan keadaan masih melancarkan serangan.
Karena bagaimana tidak, jika setiap serangan Beny telah membuka peluang kosong, sehingga keadaan itu dimanfaatkan oleh lawan untuk menyerangnya secara perlahan namun pasti, tapi yang jelas ketika pukulan menghantam yang dapat Beny lakukan hanya bertahan dan terus menyerang sampai cela lawannya terbuka walaupun itu adalah hal yang sulit.
__ADS_1
Karena setiap serangan lawan memberi efek yang tidak bisa diremehkan, Beny menahan serangan sekaligus mengatur nafas, tentu itu adalah hal yang sulit dilakukan oleh petarung, karena serangan sendiri terkadang memberi rasa sakit yang membuat kita tak mampu bergerak. Tapi berbeda dengan Beny yang terus bertarung meskipun tubuhnya terkadang terkena pukulan
"Kuat juga yah kau, bocah" ujar Alex yang memamerkan senyum sumringah dengan begitu hinanya, sebab senyuman tersebut adalah senyuman bagi orang yang meremehkan lawan.
"Aku juga tak sangka, jika kamu benar-benar kuat, brengsek"
"Hahaha... Ini baru permulaan, karena setelah ini akan ku tunjukkan perbedaan diantara kita" serunya
Alex melancarkan sebuah pukulan tepat di tiga titik yaitu leher, dada dan ulu hati yang membuat Beny langsung terpental ke belakang dengan keadaan mulut mengeluarkan darah segar.
"Ugh.. Sialan" Beny yang saat itu terkekeh melihat keadaan kini berbalik padanya, karena siapa sangka jika lawannya jauh lebih abnormal ketimbang dirinya sendiri.
"Masih mampu melawan?"
"Haha.. Menyerah tidak ada dalam kamusku, jadi jangan berharap jika begini saja aku akan berhenti bertarung, Alex" seruan beny yang begitu optimis sembari kembali bangkit walaupun tubuhnya saat itu sudah terhuyung-huyung
"Baiklah, akan aku buat kamu cacat" ujarnya yang kini giliran alex mendekat dengan langkah cepat, sampai-sampai beni tak sadar akan gerakan lawannya, yang tahu-tahu dirinya sudah terkena pukulan telak di bagian dada apalagi itu adalah serangan berjenis pukulan 1 inci, sampai Beny harus kembali terjungkal dengan keadaan tak stabil
Bruk..
"Uhuk.. Uhuk.."
beny terbatuk hingga mengeluarkan darah segar saat dirinya masih terkapar lemas di lantai, ketika itu ia sudah sangat kesakitan, sampai ia tak mampu untuk berdiri selain memandangi Alex yang kini mulai mendekatinya.
"Sial.." umpat Beny yang menggertak gigi. Karena dia tak menyangka jika ia harus melihat keadaan yang menyedihkan tersebut
"Waktunya telah berakhir, nak" ujar Alex yang mengeluarkan sebilah pisau dari balik saku. Ketika itu beni hanya melihat sebuah kilauan dari mata pisau yang sekilas begitu mengerikan, sebab dari warnanya saja sudah terlihat jika itu adalah pisau tajam.
Tentu kilauan itu membuat beni sedikit merinding hingga jantungnya berdebar sangat kencang, dengan wajah cemas, seraya berkata dalam hati. "Apa ini akhirnya?" batinnya saat itu sudah gemetar hebat melihat raut wajah Alex, seperti ingin mengulitinya.
Tapi beruntungnya di tengah keadaan yang tak memungkinkan itu tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah lain yang terdengar begitu keras, hingga mampu memekakkan telinga dalam sedetik.
Door..
Sebuah peluru melesat hingga mengenai sasarannya, yaitu pisau yang dipegang oleh Alex di saat hendak menguliti Benny. Tentu Alex terkejut dengan suara tembakan tersebut, karena dari hasilnya, peluru itu mampu menjatuhkan pisau yang ada di tangannya
"Apa maksudmu, ridwan!!" hardik Alex mengernyitkan alis menatap tajam ke arah Ridwan
"Maafkan aku Alex, tapi memang benar, kalau ambisimu salah"
"Salah? Tau apa kamu tentang aku, Apa kamu tahu dengan tujuan ku yang sebenarnya!!" bentak Alex yang nadanya sudah tinggi.
"Justru itu, aku harus menghentikan mu!"
"Kurang ajar, memang benar seekor anjing juga bisa menggonggong di hadapan majikannya"
Alex mengambil ancang-ancang dan segera berlari dengan sangat cepat ke arah Ridwan dan Bagus, yang kala itu masih terperangah dengan kecepatan dari Alex yang begitu cepat, bahkan Ridwan sendiri pun tidak mengetahui hal itu, walaupun dia sudah 2 bulan menjadi tangan kanannya
Akan tetapi baginya itu adalah speed dari seorang petarung legenda yang telah masuk jeruji besi. Tapi apakah itu mungkin sebab dia kenal bahwa Alex adalah orang yang hanya bisa mengandalkan anak buahnya untuk menyelesaikan setiap masalah
Tapi tahu akan seperti itu, seharusnya dia berpikir sebelum membantu rencana Alex yang begitu gila.
Sebuah pukulan mulai mengarah ke tempat Ridwan berdiri, yang saat itu masih terkejut, bahkan refleknya tak sebanding dengan serangan, sehingga yang mampu ia lakukan hanya melihat pukulan tepat di depan mata.
Namun beruntung ketika itu pukulan berhasil ditahan oleh Bagus yang seketika itu langsung muncul di depan Ridwan, dia menahan dengan seluruh kekuatannya, karena Bagus sendiri merasakan kekuatan yang tak biasa dari lawannya.
Bahkan sesaat tangan Bagus gemetar disaat menahannya. "Ck.. Sudah kuduga, ternyata kau memang cukup kuat" gerutunya
"Kau memang bukan lawanku" ucap Alex. Kemudian melancarkan serangan seperti yang dilakukan kepada Beny dengan pola yang sama, bahkan Beny saja terperangah ketika melihatnya.
"Tidak, aku tidak yakin Bagus bisa membaca serangan tersebut, aku saja setiap kali menahan selalu membuka cela baru untuk lawan" gumam Beny yang masih terkapar lemas di lantai.
Memang benar, ketika itu Bagus menerima beberapa serangan seperti Beny dan itu tidak hanya sekali tapi berkali-kali, hanya saja setiap serangan mampu ditahan oleh Bagus yang sedang berusaha untuk menghindar maupun menahan serangan tersebut.
Namun selang beberapa lama akhirnya pukulan demi pukulan selalu Bagus terima, seperti tiada bedanya dengan Beni, bahkan saat itu Bagus hanya bisa bertahan dari serangan Alex yang terus datang secara bertubi-tubi.
Ridwan yang melihat segera berlari ke sisi samping dan melepaskan tembakan ke arah Alex yang tengah menghajar Bagus yang kini hanya bisa bertahan.
__ADS_1
Door...
Tembakan itu berhasil menggores lengan kanan Alex hingga membuatnya mundur beberapa langkah.
Sembari memegangi lengannya yang kini mengeluarkan darah, ia berkata dengan suara umpatan. "Kurang ajar kau, Ridwan!!"
Ridwan pun tak tinggal dia, dia langsung melepaskan tembakan kedua dan ketiga secara beruntun hingga Alex hanya berlari dan bersembunyi di balik pilar.
Tak sampai di situ, kini Bagus mulai bergerak secara bersamaan dengan Ridwan yang sedang memasang posisi siap tembak.
Melihat hal tersebut, kini Alex lah yang bergerak terlebih dahulu, dari balik pilar dirinya berlari mengincar ridwan yang tengah memasang posisi siaga itu, akan tetapi Ridwan yang diincar tidak memberi kesempatan pada lawan
Karena ia juga melepaskan tembakan, walaupun tak sebutir pun peluru mengenai sasaran, karena Alex bergerak cepat berlari dari sisi kanan dan melakukan manuver dan menghindar yang begitu luar biasa, seperti ia sudah pernah melakukan pertempuran sebelumnya
Ridwan terkejut dan Bagus tak menyangka jika lawannya bisa bergerak selihai ini, karena sadar-sadar, Alex sudah menghempaskan pistol dari tangan ridwan.
Tentu Ridwan terkejut dan ingin segera mundur, karena bagaimana tidak jika saat itu alex sudah berada tepat di depannya dengan posisi siap menyerang.
"Sial.." umpat Ridwan kemudian mendapat pukulan satu inci dan (boom) tempat pada perutnya dia terkena serangan
Hingga dirinya harus terpental ke belakang dengan seteguk darah mengalir dari mulutnya.
***
Akhirnya yang mampu bertahan hanya Bagus, sementara Ridwan dan Beny sudah terbaring lemah dengan keadaan kurang mempuni untuk bertarung.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Bagus?" tanya Alex dengan mengangkat satu alisnya.
"Baiklah, aku mulai serius" ujar Bagus. Memasang formasi kuda-kudanya dengan pondasi tubuh yang kukuh dan sorot mata yang tajam.
Membuat Alex tersenyum senang ketika itu sudah melihat lawannya mulai serius,
"Kenapa tidak dari tadi kamu serius, hah?" ucap Alex menghardik Bagus..
"Bacot!!" umpat Bagus kemudian bergerak dengan cepat dan melancarkan setiap serangan yang beragam.
Ketika itu Alex pun ikut terkejut, sebab serangan lawannya yang agresif membuatnya tak menyangka akan kekuatan yang luar biasa.
Bahkan dirinya yang semula menyerang kini, serangannya seimbang dimana ada saat menyerang dan bertahan, semua karena kemampuan Bagus langsung meningkat tajam.
"Menarik, kekuatan mu seketika meningkat, benar-benar diluar perkiraan" ujar Alex di tengah pertarungan yang begitu sengitnya
"Aku anggap itu pujian"
Kini keadaan mulai stabil, karena Bagus juga melancarkan serangan walaupun kala itu setiap pukulannya mampu ditahan oleh lawan.
Tetapi setidaknya sudah ada perkembangan dari pertarungan tersebut. Beberapa lama menukar serangan tiba-tiba Bagus terkena serangan telak dari Alex yang kala itu sudah ditahan dengan kedua tangannya.
"Ugh.." rintih Bagus yang mundur beberapa langkah setelah terkena serangan tersebut.
"Mau sampai kapan pun, orang lemah akan tetap lemah dihadapan orang yang terkuat" ujar Alex menyeringai.
"Sialan" umpat Bagus kemudian kembali memasang kuda-kudanya yaitu, pondasi dasar dari Muaythai
"Sepertinya kamu sudah sampai pada batasnya" seru Alex bergerak dengan sangat cepat dan menyerang dengan bertubi-tubi. Bahkan pondasi Bagus saja langsung hancur karena serangan tersebut. Tubuh Bagus mulai tak berdaya, nafas tak teratur, bahkan tak ada tenaga untuk mengepalkan tinju.
Hingga akhirnya ia hanya bisa menerima serangan demi serangan yang membuat tubuh tersebut telah mencapai batas.
"Akan aku perlihatkan siapa yang terkuat" ujar Alex ketika itu menyerang dengan tinjuan satu inci tepat di dada. Dalam keadaan tubuh yang sudah tak stabil, Bagus langsung terpental dengan keadaan tubuh tak berdaya
Melihat itu selesai sudah perasaan Beny sebab keadaan sudah tak memungkinkan, mulai dari, darinya, Ridwan dan Bagus, semuanya sudah terkapar dengan keadaan tak berdaya
Melihat Alex tertawa lantang membuat semuanya tak berarti, karena apakah benar jika rasa percaya tanpa dilandasi kemampuan hanya akan berbuah nihil?.
BERSAMBUNG...
"Waduh sepertinya eps akhir, tidak bisa diselesaikan dalam satu ketikan, jadi untuk eps terakhir akan selesai di chapter berikutnya agar tidak kepanjangan akan saya bagi menjadi dua sehingga tamatnya Part 3 ketika Eps mencapai 76.
__ADS_1
Yasudah kalau begitu sampai jumpa di lain waktu, dan semoga kalian diberikan kesehatan, dan jangan lupa dukung Author yah, dan maaf kalau karya saya masih berantakan, karena posisi author sendiri juga masih amatir jadi jangan dipikirkan, kalau suka yah bagus kalau tidak author juga tidak terlalu menekankan, jadi sampai jumpa kakak². Bye.."