
Didalam ruangan kedap suara dengan diding berwana abu-abu beserta bola lampu kecil yang mampu memberi penerangan bagi pria yang tertidur di ranjang, namun sayangnya di sana tidak ada ventilasi sehingga udaranya sangat pengap dan panas jadinya siapapun yang ada di sana sudah dipastikan akan berkeringat kepanasan
"Uhh.. Disini apa tidak ada AC yah, panas benget" keluh Beni kemudian beranjak dari ranjang dan merentangkan kedua otot lengan, karena seharian dia habiskan untuk tidur di kasur
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhku, kenapa setelah tersadar dari pingsan seluruh tubuh langsung merasakan nyeri dan sakit?"
"Mungkin dilain waktu aku akan mencari informasi tersebut" sambung beni dengan bergumam hingga tidak lama pintu ruangannya terbuka dan terlihat dua wanita yang satu gadis remaja dan satu lagi adalah wanita paruh baya yang menjabat sebagai menteri sebelum bencana datang
"Boleh kami masuk?" tanya wanita paruh baya tersebut dengan lembut dan halus, sehingga siapa saja yang mendengar bisa langsung tertegun sejenak, contohnya beni
"Silahkan" jawab beni dengan ramah namun tidak terlihat senyum di bibir
Sampai mereka bertiga duduk dipinggir ranjang dengan wanita paruh baya ditengah dan beni disebelah kiri sementara gadis remaja tersebut berada diujung kanan. "Jadi kedatangan kalian kemarin ada apa?" tanya Beni dengan raut wajah tak berubah sama seperti sebelumnya yaitu datar dan sinis
Karena setelah kejadian tersebut beni mengalami perubahan drastis dalam psikologisnya. "Kedatangan kami kemarin bermaksud untuk menanyakan, hal apa yang terjadi terhadap nak-.."
"Panggil saja aku beni" sambung beni karena merasa jika wanita dihadapannya belum mengenal dirinya
"Baiklah nak beni, sekarang boleh tante tanya hal apa yang dilalui nak beni sebelum datang kemari"
Tanpa sadar jika dirinya sedang diinterogasi oleh wanita paruh baya tersebut karena dari tutur katanya saja sudah sangat tidak mencurigakan karena hal tersebut Beni mulai terbuka walaupun masih terbilang datar dalam menanggapi semua pertanyaan wanita paruh baya tersebut
"Sebelum saya menjawab, boleh saya tanya ini dimana?" tanya Beni
"Ini adalah bunker garis terakhir dari pertahanan militer daerah A, atau bisa dibilang bantuan bagi rakyat yang selamat terhadap bencana" jawab wanita remaja tersebut atau Angel itu sendiri
"Kamu wanita yang tadi pagi kan?" tanya Beni dengan tatapan sinis. "Iyah" jawabnya dengan ekspresi biasa saja seperti tidak terjadi apapun
"Kalau gak salah namamu Enjel"
"Ehmm..."
"Baguslah, kalau kalian sudah saling mengenal satu sama lain" potong wanita paruh baya tersebut yang berpura-pura memasang ekspresi senang walaupun sedikit khawatir dengan hubungan mereka
"Jadi bagaimana deng-.."
"Nama tante siapa?" tanya Beni. "Kamu boleh panggil saya tante Novi kok" jawabnya dengan mengerutkan kening karena ucapannya dipotong
"Sekarang, karena kita sudah saling mengenal jadi kita bisa saling bercerita satu sama lain, mengenai hidup masing-masing namun sebelum itu, tante ingin bertanya kepada nak Beni"
"Tentang perjalanan ku dalam masa bencana?"
"Yah"
"Aku harus mulai dari mana?" tanya beni
"Dari mana yang bagimu tidak bisa dilupakan" cetus Angel dengan sinis karena jengkel melihat pria dihadapannya
"Kalau begitu aku akan mulai dari kematian mereka saja"
"Mereka?" tanya tante Novi dan Angel serempak
"Yah,.. Dimana aku melihat teman-teman ku mati dengan tragis didepan mata"
"Bagaimana bisa?" tanya ibu Novi yang mulai mengerti arah pembicaraan
"Tentu saja karena aku lemah" jawaban beni begitu singkat hingga susah dipahami oleh kedua gadis tersebut
"Hanya itu saja?" tanya Tante Novi
"Iya itu saja, lagian katanya hanya bagian tidak terlupakan"
"Lalu bagaimana cara kamu bisa menjadi kuat?"
"Mudah,.. Cukup kalahkan ratu zombie" mendengar ucapan tersebut mereka berdua langsung terbelalak karena kaget
"Apa maksud nak beni?" tampak tante Novi semakin bingung hingga melihat beni beranjak dari ranjang dan berkata dengan tatapan sinis
"Aku akan masuk kedalam angkatan militer, untuk mewujudkan impian ku, karena itulah janji ku" jawab beni dengan datar
"Tante!!" panggil Angel melihat raut wajah wanita paruh baya tersebut tampak terkejut
"Aku tidak bisa membaca mentalnya, seperti ada hal yang menghalangi" ujar tante Novi perlahan sambil memperhatikan beni membuka pintu dengan begitu mudah tidak seperti sebelumnya dimana tidak memiliki kekuatan untuk mendorong
"Bagaimana itu mungkin?"
"Aku tidak tahu, tapi yang aku rasakan dia bukan manusia biasa, atau jangan-jangan dia punya dua kepribadian"
"Dua kepribadian?"
"Yah, kepribadian untuk menjadi kuat dan terpuruk namun satu hal yang ganjal di hati, yaitu ucapannya mengenai ratu zombie"
"Aku juga berpikir demikian"
__ADS_1
Disela mereka sedang berpikir. Beni sudah berada di lorong dimana di sana dipenuhi oleh pengungsi dari berbagai titik, bahkan ada salah satu anggota pemerintah. "Jadi ini tempat mereka dievakuasi" gumam beni sambil berjalan diantara mereka hingga dia bertemu dengan salah satu tentara
"Berhenti!!"
"Ada apa?" tanya beni sinis.
"Kau ingin kemana?!" tanyanya dengan membawa sebuah senjata mesin
"Benar juga, aku mau kemana yah?" batin beni yang tampak seperti orang kebingungan
"Kamu dengar?" ujar tentara tersebut membuat beni tersadar dari lamunannya
"Aku ingin keluar dari sini" jawab beni
Secara tiba-tiba beni mulai tersadar jika hari itu adalah hari dimana dia akan bertemu dengan Bagus disebuah taman. "Aku yakin dia pasti sedang menunggu" batinnya dengan bersifat datar
"Rakyat sipil dilarang keluar masuk bunker, tanpa kepentingan"
"Urusan ku penting"
"Hal apa itu?" tanya tentara tersebut yang semakin lama semakin serius, karena merasa ada hal yang janggal dengan pria dihadapannya
"Bertemu dengan teman ku!!"
"Hah?"
"Yah,.. Bagiku itu penting"
"Kamu tahu situasi sekarang sudah beda, dimana berkeliling diluar nyawa taruhannya" timpal tentara tersebut dengan sinis
"Aku tidak perduli" jawab beni yang berjalan untuk melewati tentara tersebut namun dihalangi oleh abdi negara
"Minggir!!" titah beni dengan tatapan sinis dan aura mencekam hingga membuat tentara tersebut bergidik ngeri
"Tunggu" panggil seseorang dari balik punggung walaupun terdengar lembut namun dapat didengar dengan jelas hingga ke telinga beni dan tentara tersebut.
"Nona Novi" panggil tentara tersebut dengan menoleh kearah lain, yang disusul oleh beni karena merasa jika dia ikut terseret
"Tante!!" Panggil beni yang menoleh kebelakang hingga secara tiba-tiba dia kembali melihat masa depan dimana dari belakang dirinya dipukul oleh tentara tersebut menggunakan tangkai senjata tepat dileher
Sehingga sebelum hal tersebut terjadi beni sudah mengambil ancang-ancang, dan ketika tentara tersebut mulai melancarkan serangan, beni langsung menghindari serangan dari titik buta dan menyerang ulu hati tentara tersebut menggunakan siku
"Argh.. Uhk..." rintih tentara tersebut langsung tersungkur ke lantai dengan moments yang disaksikan oleh seluruh pengungsi ditempat
"Ada apa ini?" tanya tante Novi yang masih terkejut melihat kejadian tadi. "Maaf sebelumnya tante, tapi tentara ini membuat masalah untukku pertama dia menghalangi jalan ku, kedua dia menyerang ku secara diam-diam, hingga terpaksa aku harus menumbangkannya"
Mendengar ucapan beni membuat seluruh orang di sana langsung terdiam sampai datang seorang wanita gagah ke antara mereka sambil melontarkan kalimat lantang. "Ada apa ini!?" tanyanya dengan tegas, sehingga tentara yang awalnya tersungkur langsung berdiri dan memberi hormat kepadanya
"Maaf kapten, karena sudah membuat keributan tapi sebelumnya saya hanya ingin menghalangi pemuda ini yang akan keluar dari bunker"
"Apa itu benar?" tanya wanita itu kepada beni yang masih berdiri didepannya
"Yah,.. Itu benar" jawab beni dengan datar
"Apa alasannya?" tanya lagi wanita itu. "Untuk bertemu dengan teman ku"
"Apa kamu tahu keadaan diluar?"
"Tentu saja"
"Jadi kamu berani dengan monster tersebut?"
"Juah lebih berani daripada kalian yang sekedar bersembunyi dibalik kandang"
Mendengar ucapan dari beni lagi-lagi seluruh orang terdiam termasuk Angel dan tante Novi kecuali Via yang notabene adalah seorang perwira tinggi.
"Apa kamu tahu apa yang kamu ucapkan barusan?" tanya via namun kali ini memancarkan tatapan intimidasi karena merasa kesal dengan kalimat yang dikeluarkan oleh pria remaja tersebut
"Tentu saja"
"Kami bersembunyi untuk mempertahankan umat manusia, sedangkan kamu yang seorang anak remaja memang lumrah jika hobinya berantem tetapi apakah ada artinya jika bertarung dengan otot tanpa menggunakan otak" cetus wanita tersebut membuat beni terdiam seribu bahasa
"Ck.. Dia pandai bicara rupanya" cibir beni dalam batin
"Oh... Untuk umat manusia, memang apa gunanya mempertahankan manusia yang hanya memikirkan diri sendiri, aku tahu kalian hanya alat sebagai media pelindung para pejabat, untuk apa tentu saja karena kalian dibayar" sambung beni dengan lantang membuat seluruh orang di sana tersinggung
"Beni, kamu terlalu emosional" batin Angel dari jauh karena merasa cemas dengan pria tersebut
"Apa maksudmu nak!!" ujar dari seorang petinggi negara yang secara tiba-tiba berdiri dengan mengecam keras atas apa yang baru saja di ucapan oleh anak SMA
"Hah?"
"Kami juga ikut berjuang bersama, dimana kami selalu perhatian dan mengerti akan situasi tanpa banyak menuntut apalagi menggunakan masa jabatan kami selama ini"
__ADS_1
"Kamu dengar kan?" ujar via semakin memancarkan tatapan sinis
"Seharusnya kamu sadar diri, mungkin tanpa aku, kamu sudah mati di tengah jalan" sambungnya
"Sialan, kalau aku tahu kalian akan datang mungkin kami tidak akan bergerak lebih dulu, hingga kejadian tersebut harus terjadi" batin beni mengepalkan telapak tangan dimana teringat dimana dia harus kehilangan temannya akibatnya kecerobohan
"Sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum aku mengusir mu!!" kecam wanita itu
"Seharusnya tidak seperti itu menyelesaikan masalah, via" mendengar kalimat tersebut Via langsung tersambar keseluruhan tubuh hingga salting sendiri
"Kristian" panggil via dengan gelagapan. "Walaupun kata-kata mu sudah bagus, tapi jika seperti itu maka tidak akan menyelesaikan masalah namannya" ujarnya kemudian berdiri disamping via dan menghadap beni
"Komandan!!" panggil tentara tersebut yang semakin kalang kabut
"Minta maaf, ke mereka!!" perintah Kristian dengan tajam, yang dimaksud mereka adalah orang-orang yang mengungsi
"Heh.. Kamu kir-.."
Bugh..
Serangan tepat di ulu hati membuat beni terpental beberapa langkah dan menabrak salah satu pilar sambil meringis kesakitan, bahkan pandangannya langsung kabur. "Ada apa ini, kenapa aku tidak bisa melihat masa depan" batinnya dengan menahan rasa sakit
"Mampus deh,.. mau sekuat apapun dia kalau melawan kak Kristian pasti tamat riwayatnya, apalagi dia adalah atlet karate" batin tentara tersebut dengan ketakutan
"Aku bilang-.."
"Berisik" cetus beni dengan melancarkan satu tinju kearah wajah, namun dapat di hindar dengan santai
"Lamban"
Bugh..
Lagi-lagi beni harus tekena serangan dari kakinya yang mengenai perut. "Argh.." rintihan beni yang langsung ambruk di lantai dengan batuk-batuk akibat tendangan tersebut hampir membuatnya pingsan
"Aku bilang minta maaf!!"
"Sial,..sial,..sial,.. Ternyata aku masih begitu lemah" batin beni yang merengek karena kekurangannya
"Apa perlu aku berkata untuk kesekian kalinya?"
Ketika itu beni langsung terpuruk ditempat hingga tidak terduga dia terdengar suara seseorang yang muncul di kepalanya. "Apa perlu aku melawannya untuk mu..." ucapan tersebut sangat bergema di pikiran beni hingga tidak mampu untuk membedakan mana kata hati dan bisikan tersebut
"Berisik!!" batin beni dengan meronta untuk menolak bisikan tersebut
"Aku bisa kok mengalahkannya dengan mudah, untuk mu..." bisikan tersebut terus menggema dipikirkan beni hingga dirinya tidak mampu untuk berpikir secara rasional
"Aku bilang berisik,.. berisik,.. Berisik.." tanpa disadari beni berteriak dengan lantang dengan penutup telinga sambil memejamkan mata di lantai dengan keadaan begitu memperihatinkan, sampai-sampai seluruh orang di sana langsung kebingungan dengan perubahan sikap beni
"Ada apa dengannya?" tanya via namun Kristian tidak menggubris yang ada malah terus melihat dengan wajah intens
Bisikan tersebut terus menghantuinya hingga tidak mampu lagi untuk bertahan sampai-sampai dengan mengamuk dia berlari melewati Angel dan tante Novi menuju tempatnya terbangun dan menutup rapat pintu tersebut sambil duduk dan memeluk kaki dengan rapat di pojok ruangan.
Sementara di lain tempat. Hari sudah semakin malam dimana api unggun sudah menyalah di halaman tenda yaitu dimana Manda dan Bagus akan bermalam untuk beristirahat, karena esok mereka akan melanjutkan perjalanan menuju tempat berikut namun sebelum tidur mereka sempat bercerita ringan
"Nak Bagus, apa dia pacar mu?" tanya pria paruh baya yang paling aktif bicara dari sore tadi sambil menatap Manda tertidur lelap di alam mimpi
"Bukan, dia bukan pacar ku, hanya teman"
"Masa sih, tapi kok kamu mau melindunginya hingga sekarang?"
"Ada alasan khusus kenapa aku melindunginya"
"Oh... Saya tahu, pasti karena kamu suka dengannya bukan?"
"Ah.. Bukan kok, bukan karena itu" jawab Bagus dengan gelagapan sekaligus merona malu
"Seharusnya di dunia ini kamu lebih agresif dong"
"Maksud bapak?" tanya Bagus semakin bingung arah pembicaraan. "Yah,.. Kondisi sekarang tidak ada kedaulatan, jadi kamu bisa saja melakukannya dengan puas"
"Ah.. Aku sama sekali tidak mengerti maksud bapak"
Karena bingung, pria paruh baya tersebut mendekati Bagus dan berbisik yang bunyinya membuat wajah Bagus merah padam. "Saya tidak akan melakukan hal tersebut!!" tukas Bagus dengan tegas
"Lah kenapa lagian, coba kamu lihat dia yang seksi tersebut mungkin jika kamu belum melakukan dia pasti masih per****"
Setiap kali mendengar ucapan pria paruh baya tersebut entah kenapa wajah Bagus semakin merah padam, seakan-akan emosinya akan meledak"
"Karena saya masih manusia, jika pun dunia hancur sekalipun saya akan tetap kekeh terhadap pendirian saya, karena dari awal manusia diciptakan, tugas pria adalah menjaga kaum hawa" tegas Bagus membuat ketiga pria tersebut tertawa terbahak-bahak
"Hahaha... Dasar bocah, pakai sok-sokan ngajarin orang lagi!!" umpat pria paruh baya yang dari awal diam kini sudah angkat bicara
"Kalian!!,.. jangan-jangan sudah merencanakan ini semua" ucap Bagus yang secara spontan mengambil posisi berdiri dan memasang raut wajah tampak gusar dan panik.
__ADS_1
BERSAMBUNG...