THE DAY ZOMBIE

THE DAY ZOMBIE
Eps 76 (Part³)


__ADS_3

   Keputusasaan, hal itu dilihat oleh Beny ketika menatap Alex berjalan menghampiri pistol yang sebelumnya digunakan oleh ridwan. "Awalnya aku berharap kamu tetap terus bersamaku, tapi siapa sangka jika kamu mengkhianati ku, Ridwan" ujar Alex mengambil senjata itu kemudian mengokang nya. 


"Aku juga tak menyangka, tapi aku melakukan ini untuk mengikuti hati nurani" 


Ketika itu Ridwan masih tergeletak di tanah dengan keadaan lemas tak berdaya. "Memang benar, nurani hanya akan membuat manusia menjadi lemah" ucap Alex menodongkan pistol ke arah Ridwan. 


"Haha... Sepertinya kamu salah, hati bukan membuat seseorang menjadi lemah melainkan untuk membedakan mana baik dan buruk" 


"Awalnya aku juga memiliki ambisi yang sama seperti mu, namun setelah aku pikir kembali, memang ada cara melindungi orang lain dengan metode kudeta?"


Ucapan Ridwan membuat mata Bagus dan Beny terbuka lebar bahkan saat itu mereka mulai mengingat kenangan dulu yang terselip di hati, terlihat dari raut wajahnya. 


"Haha... Dimana ingin kedamaian disitu harus ada peperangan, memangnya kamu lupa akan slogan tersebut"


"Berperang!? Orang cerdas tidak akan berperang, dan kamu hanya ingin bersenang-senang di atas penderitaan orang lain, bukan untuk melindungi" 


"Kamu tahu apa tentang tujuan ku? Aku membunuh dan menaklukkan seluruh kamp untuk mereka, agar mereka tunduk di bawah perlindungan kita, karena mau bagaimanapun di atas daratan hanya ada satu pemimpin" tegas Alex


"Begitu yah, dengan mengkudeta kau pikir itu cara terbaik?" 


"Tentu, lagian di dunia apocalypse seperti ini yang kuatlah yang bertahan, sementara yang lemah hanya akan menjadi bulan-bulanan saja"


"Cara pikir mu sungguh primitif, itulah aku mempercayakan masa depan, pada anak-anak muda seperti mereka" 


"Apa yang bisa kau harapkan?" 


"Masa depan yang indah dibawah generasi muda, hidup kita hanya sementara dan kamu ingin merusak tunas baru, bagiku kamu hanya orang serakah yang penuh ambisi" 


"Lancang juga kamu yah, apa kamu lupa dengan kehidupan yang telah aku beri, dari sumber daya hingga kedudukan, apa kamu lupa akan hal itu?"


"Tidak, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan hal yang membuat ku terbelenggu" jawab Ridwan berusaha untuk berdiri dengan sisa tenaganya. 


"Hahaha.. Lucu sekali, mamang sampah sepertimu harus diberi hukuman" Tekan Alex kemudian menarik pelatuk senjatanya. 


Door... 


Ridwan tewas di tempat dengan keadaan telah terbujur kaku, disebabkan oleh timah panas yang menembus kepala. 


Setelah melihat kejadian itu akhirnya Bagus berdiri dengan mata yang bertransformasi dengan memancarkan aura ke buas-an dari tubuhnya. 


Begitupun Beny, akan tetapi beberapa saat dia melamun terlebih dahulu, sebelum merasakan dari alam bawah sadarnya seperti berkata. "Serahkan padaku"


Akhirnya Beny dan Bagus berhasil melakukan tahap yang tak bisa dikendalikan, yaitu Bagus dengan hewan buas, sementara Beny dibawah naungan beny²


"Apa maksudnya?, kenapa aura kalian langsung berubah!!" ujar Alex mengernyitkan alisnya 


Tanpa menjawab Beni dan Bagus bergerak secara bersamaan menyerang Alex yang masih bingung dengan perilaku lawannya 


Akan tetapi bukan itu yang membuatnya terkejut melainkan gaya bertarung dan kekuatan mereka berubah secara drastis, seperti dirinya yang sedang melawan tembok. Sebab pukulan dari mereka begitu keras 


"Apa-apaan ini?" gerutu Alex sembari menahan serangan lawannya. Saat itu Alex tidak bisa menyerang balik, disebabkan oleh serangan musuh yang begitu brutal.


Namun semua itu tidak bertahan lama karena akhirnya sekuat-kuatnya Alex dia akhirnya tumbang dengan serangan yang begitu besar dari Beni dan Bagus secara bersamaan. 

__ADS_1


"Ughh..." keluh Alex ketika itu seluruh tubuhnya sudah kesakitan. Ditambah dengan tendangan 180° dari beny² yang melayang di atas kepala. 


Tentu tanpa persiapan Alex hanya bisa menahan dengan kedua tangan, tapi sejauh itu dirinya tak mampu, karena serangan dari Beni² membuatnya langsung terpental meskipun sudah ditahannya. 


"Argh.." rintih Alex ketika itu terbanting di lantai dengan keadaan sekujur tubuh dipenuhi lebam berwarna ungu. 


"Sialan kalian!!" teriak Alex menghardik dengan nada kuat seraya memasang wajah penuh amarah ke arah Beni dan Bagus yang kala itu berdiri bersebelahan. 


"Ini yang akan kami sebut sebagai permulaan dari era yang baru!!" ujar Beni² bergerak dengan cepat menghampiri Alex, diikuti oleh Bagus dari belakang. 


"Kalian pikir, kalian bisa kalahkan ku!!" hardiknya kemudian berdiri dan mengeluarkan sebilah pisau yang berada di saku 


Menyambut kedatangan lawan, Alex kemudian menghunus pisaunya dengan sangat lihai bahkan jika Beni dan Bagus berada di mode biasa mungkin kepala mereka bisa langsung terpenggal 


Namun karena sudah berada di mode tak terkendali akhirnya mereka bisa menjatuhkan lawan mereka tanpa perlu waktu lama Alex pun berhasil dijatuhkan dengan combo yang mana, Bagus menyerang beberapa titik vital, dan Beni menyerang lehernya dengan tendangan berputarnya


Mereka berdua sudah seperti partner tarung yang bisa menjatuhkan lawan dalam sekejap mata, karena kombinasi dan gerakan mereka begitu seirama dan bahkan jika dihadapkan dengan lawan jago bertarung pun pasti akan kesulitan menghadapi Beni² dan Bagus yang sudah berada di luar kendali 


"Argh.." Alex terjatuh ketika terkena serangan beni² yang begitu kuat dari tendangan berputarnya. 


"Kamu sudah kalah!!" ujar Beny²


"Brengsek, mana mungkin aku kalah dari bocah kemarin sore seperti kalian"


"Apa kamu masih berpikir kalau kamu bisa mengalahkan kami?" tanya Beni² yang menyeringai sinis. 


"Se-sebenarnya kalian siapa?!!" Alex ketika itu gelagapan disebabkan oleh rasa takut yang begitu mendalam merasuki jiwanya


"Kamu tidak perlu tahu siapa kami, tapi yang jelas, bocah yang kamu sakiti itu adalah orang yang kami lindungi" 


"Terima saja kekalahan mu, pecundang!!" dari situ Beni² mengambil pistol yang tergeletak di lantai lalu. Ditembaknya tepat di kepala Alex hingga beberapa saat Alex pun tewas dengan mengenaskan. 


Melihat perihal tersebut berakhirlah sudah dari era kolonialisme yang akan dilakukan oleh Alex kepada mereka semua. Di tempat beni² sudah berakhir di sisi lain pun juga demikian, dimana pasukan Steven berhasil sampai tepat waktu dan mengepung musuh hingga membuat musuh tak mampu memasang persiapan sama sekali. 


Jadinya pasukan Devil pun berhasil dikalahkan walaupun dengan mengorbankan serdadu yang terkena senjata pemusnah massal. 


Namun hasilnya sudah terlihat jelas, bahwasanya semua skenario telah usai, dengan kemenangan diraih oleh Aliansi.


Berita akan kemenangan pun tersebar luas hingga dalam sesaat seluruh orang yang ada di kota A telah mendapatkan kabar bahwa pasukan Devil berhasil dikalahkan dengan pemimpinnya yang dieksekusi secara langsung. 


Rasa kesenangan tak bisa dibendung dari hati mereka, sebab akhirnya hal yang paling mereka khawatirkan telah selesai dan ini adalah awal yang akan mereka kenang, sebagai era yang baru. 


Namun disisi lain setelah semua terselesaikan datang masalah baru yaitu, monster yang sesungguhnya telah muncul, dia adalah ratu dari para zombie yang ketika itu memimpin seluruh pasukannya yang merupakan zombie generasi zero dibawah pimpinan mereka mulai bergerak ke tujuan seterusnya setelah menghancurkan markas besar di ibu kota. 


Diantara seluruh zombie yang memenuhi jalan ada satu seorang wanita yang ketika itu menaiki zombie giant yang besar nan kuat, dia naik di pundaknya dan duduk dengan sangat manis, sembari menatap langit malam yang ketika itu bintang bersinar di usia rasi. 


"Aku akan segera kembali nak, tunggu ibu yah,.. anakku" ujarnya tersenyum sumringah sembari memimpin pasukannya yang berjumlah ribuan, menuju kota A yang menjadi tujuan akhir mereka. 


Bencana akan segera hadir dengan kekuatan yang tak terkira, semua akan segera, apakah semua akan berakhir? Semua itu masih misteri.. 


Setelah 2 hari kemudian, akhirnya Beni bangun dari koma semua itu disebabkan oleh pertarungannya, karena setelah bertarung dirinya jatuh pingsan dengan keadaan tubuh telah dipenuhi luka lebam, sementara Bagus juga demikian hanya saja waktunya lebih cepat 1 hari dari beni. 


Beni terbangun dengan keadaan seluruh tubuh dipenuhi oleh keringat, bahkan saat itu nafasnya juga berburu, seperti habis berlari berkilo-kilo meter. 

__ADS_1


Nafas yang berburu dengan deru jantung yang berdetak kencang, membuat seluruh tubuh Beny tremor parah. 


"Kamu sudah bangun?" ketika itu suara lembut menyambut kesadaran ku yang berasal dari samping ranjang. 


"Angel?" ujarku menatap matanya. "Iyah, kenapa? Apa kamu habis mimpi buruk?"


"Ah.. Tidak kok" pungkas ku mengelak dari pertanyaan Angel. "Yasudah ini minum dulu" ucap Angel kemudian menyodorkan segelas air kepadaku


Beni meminumnya secara perlahan kemudian ia kembalikan kepada angel seraya berkata.


"Terima Kasih, ngomong-ngomong dimana Bagus?" 


"Kini dia ada di barak" 


"Dia sudah sadar?"


"Iyah, Kemarin" 


"Lalu bagaimana dengan keadaan yang lainnya?" tanya Beni tersenyum tipis. 


"Kita menang, namun banyak korban yang berjatuhan"


"Aku sudah menduga hal itu" gumam Beni dengan nada lirih. "Hmm.. Kalau kamu perlu sesuatu, kamu bisa minta tolong sama aku" ujar Angel 


"Nggak, aku gak perlu apapun, aku hanya perlu kamu ada disini" Beni menatap mata angel dengan dalam. 


"Hmm.." sementara Angel hanya menundukkan kepala seraya tersipu malu, sebab wajah beni ketika itu sudah begitu dekat dengannya 


Tanpa ada pemberitahuan Beni langsung memeluk tubuh Angel dan berkata dengan nada lirihnya. "Biarkan ini, sebentar... saja". Angel hanya bisa menurut dan membiarkan Beni memeluk dirinya dengan melarutkan perasaannya yang telah lama berpisah. 


Selang beberapa lama akhirnya Beni melepas bekapannya. tapi saat itu wajahnya masih terbenam oleh rasa penyesalan. Melihat hal itu, Angel tak tinggal diam, dia kemudian memeluk Beni, menjatuhkan kepalanya di dalam pelukannya yang lembut dan berkata, 


"Semua akan baik-baik saja, tenang saja" ujarnya sembari mengusap rambut Beni dengan perlahan


"Yah.. Aku tahu" 


Ketika itu beni di peluk oleh Angel cukup lama karena saat itu Beni ingin melepaskan seluruh beban dan rasa bersalahnya dalam pelukan itu, semua karena dia begitu terpukul dan merasakan kalau semua yang terjadi sia-sia. 


Untuk apa bertempur lalu menang dengan mengorbankan nyawa rekan kita, apakah itu semua ada artinya, memang secara teknis itu adalah pengorbanan namun apakah kalian berpikir kalau dia juga akan menerima itu? 


Dia berjuang untuk dirinya, agar dia bisa melihat bintang di hari esok dengan orang yang dia sayangi. Kalau dia tiada, siapa yang akan mengenangnya selain keluarga, melihat keluarga bersedih atas kepergiannya dengan dilandasi oleh sebuah titel pahlawan, sungguh konyol, tiada orang yang ikhlas selain terpaksa. 


Setelah semua hanyut dalam kesedihan akhirnya Beni mulai mendongakkan kepalanya memandang wajah Angel yang dekatnya kira-kira 3 cm. Walaupun beni menatapnya dengan tatapan sedu tetapi Angel sebaliknya dimana wajahnya justru malah tersipu karena hal itu.


"Kamu kenapa?" tanya Beni yang ketika itu heran dengan tingkah wanita dihadapannya 


"Nggak ada apa-apa kok" elak Angel kemudian dia memalingkan pandangannya. Beni tersenyum hangat kemudian memandang langit-langit plafon. 


"Apakah ini sudah selesai" batin beni yang hening sejenak. 


Fase 3 : TAMAT 


/Segera datang/ Fase 4 (Last) 

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2