
Merasa mobil tidak bergerak lagi, Putra memutuskan untuk keluar dari mobil militernya dan memeriksakan keadaan mobil dari body, roda dan mesinnya yang mana semuanya tidak terlihat bagus karena banyak sekali kerusakan terutama komponen yang ada di bagian bawah mobil yang secara langsung menerjang bebatuan dari jalan raya.
"Sungguh buruk nasibku hari ini" gumam Beni mulai memperhatikan sekelilingnya dengan seksama.
Namun disaat sedang memperhatikan sekelilingnya secara tiba-tiba muncul perasaan tak nyaman di hati beni yang belum bisa dijelaskan tapi yang jelas perasaan dan firasatnya memberi tau kan pada hatinya kalau ada bahaya di sekitarnya.
"Apa tempat ini sudah dijarah? kenapa udara dan suasananya sangat sesak atau mungkin tempat ini sudah dieksplorasi oleh seseorang" sambung Beni membatin
Tapi semakin dipikir ia tidak menemukan jawaban dari pertanyaannya, bahkan disaat dia mengharap pada penglihatan masa depan, kekuatan itu tak kunjung tiba.
"Sekarang senjata yang ku punya cuman pistol dan belati, sisanya hanya beberapa makanan ringan yang mungkin hanya bisa bertahan 2-3 hari, mungkin aku memang harus menghemat waktu" ucapan beni dalam hati yang mengambil ransel dalam mobilnya
Setelah merasa cukup dengan persiapan Beni mulai melangkah menyusuri jalan sambil memperhatikan seluruh bangunan yang sudah tidak terawat lagi akibat tidak dihuni oleh manusia.
Dimulai dari rerumputan yang menjalar ke sisi dinding kemudian sebagian besar tembok bangunan telah runtuh karena tidak terawat, jika diperhatikan situasinya sangat persis yang ada di film zombie pada umumnya.
Namun di tengah perjalanan dalam menelusuri jalan secara mengejutkan dari jauh sudah ada dua pria berjubah hitam yang sedang memperhatikan gerak-gerik Beni dari jauh, mereka berada di balik jendela di salah satu gedung.
"Kapan kita akan bergerak?" tanya salah satu pria misterius yang menggunakan jubah dan kerudung berwarna hitam sambil memperhatikan pergerakan target balik jendela.
"Tunggu perintah!!" jawabnya sambil mengokang pistol. "Tapi sebelum itu apa penjaga perbatasan sudah melaporkan penyusup tersebut?" lanjutnya
"Sudah" jawab temannya
"Bagus, kalau begitu sekarang kita tunggu perintah dari atasan" ucapnya sambil menyeringai menatap punggung beni melangkah jauh memasuki kawasan barat.
Diwaktu yang bersamaan di sebuah bangunan yang bernama mall telah terisi oleh pasukan berjubah hitam sambil memegang senjata mesin di tangan mereka masing-masing, tapi cerita terfokuskan ke salah satu ruangan yang di sana ada pria kekar yang duduk di tengah pasukan berjubah.
Dia duduk dengan gaya pemimpin karena memang dia merupakan pemimpin dari kawasan barat, nama pria itu Alex merupakan tahanan dari luar negeri yang terpaksa harus mendekam di Indonesia karena suatu alasan.
Dia memimpin suatu perkumpulan yang bernama DEVIL tersebut dengan sangat kompeten karena sikap tegas, hanya saja dirinya juga orang yang kejam yang memiliki begitu besar ambisi untuk membuat wilayah sendiri dengan perkumpulan yang telah berada di atas perintahnya
Jadi Alex sangat dihormati oleh anggotanya karena mereka menjunjung tinggi nilai kekuatannya hingga sering mendapat sebutan bos besar dan julukan 'Devil Form Human' karena kejamnya ia dalam memimpin DEVIL.
Ketika sedang menghisap rokok secara mengejutkan datang seorang anggotanya yang kala itu berjalan ke arahnya sambil diikuti oleh temannya hingga ketika sudah berada di depan mata mereka berdua berlutut sambil berkata hormat kepada bos besar secara bersamaan.
"Kami ingin melapor, tuan agung" sapa anggotanya dengan hormat. "Apa hal itu penting?"
"Kami hanya ingin meminta persetujuan dari tuan agung untuk membunuh penyusup yang telah lancang datang ke wilayah kita"
"Penyusup?"
"Ya.. Tuan, kalau tidak salah dia dikirim dari kumpulan Warz yang ada di bagian Timur"
"Bunuh" satu kata dari bos besar membuat kedua orang itu paham.
"Baik tuan" jawab mereka hampir serempak hingga sesaat kemudian mereka beranjak keluar dari ruangan tapi sebelum itu mereka memberi hormat dengan tunduk, sebelum pergi menemui seseorang untuk memberi laporan tersebut pada pasukan pengintai jika mereka sudah bisa membunuh targetnya.
__ADS_1
****
Cerita beralih pada Beni yang tidak sadar jika orang yang memantau nya sudah bersiap di posisi untuk menembaknya. Namun secara naluri kembali muncul dimana penglihatan masa depan muncul dan memperlihatkan ia akan ditembak dari balik jendela bangunan yang tak jauh darinya
"Sial.. Ternyata benar firasatku" gumamnya sambil melangkah ke sela bangunan untuk menghilangkan jejak. Dan benar saja dua orang yang memantau langsung panik dan berusaha untuk turun lantai dan berusaha untuk mengejarnya.
Karena mereka sudah mendapatkan persetujuan dari sang atasan untuk membunuh penyusup tersebut dan membawa mayatnya ke atasan. Tetapi karena mereka lengah akhirnya target menghilang dengan masuk ke sela bangunan. Entah karena target sudah mengetahui atau memang sengaja karena hanya beni yang tahu.
Mereka tengah mengejar Beni secara berlari ke sela gedung dimana tempat beni melangkah sebelum hilang jejak, namun di tengah pelarian dalam pengejaran secara mengejutkan dari belakang sudah ada dua peluru yang melesat dari punggung.
Dor.. Dor....
Ternyata ketika beni berbelok bukan berlari melainkan bersembunyi menunggu momen untuk menyerang mereka dari belakang.
Karena hanya tertembak di punggung jadi masih ada waktu untuk mereka menikmati hidup walaupun hanya beberapa kali hela nafas. "Sial.." umpat pria yang tertembak.
"Sakit?" tanya Beni yang berdiri di depan mereka dengan tatapan dingin. "Kurang ajar, berani sekali kamu mencari masalah di wilayah kami"
"Heh.. Memangnya kelompok kalian cukup menakutkan"
"Kurang ajar, memang kamu tidak kenal kelompok kami yang bernama DEVIL" ujarnya dengan meraung kesakitan sambil membanggakan kelompoknya.
"Lucu sekali kalian, kalian membuat kelompok untuk mendominasi bukan karena bertahan hidup agar bisa hidup di era ini" sindir beni menyeringai sebelum menarik pelatuk dan menembak kepala anggota DEVIL
Dor..
Setelah keduanya mati. beni langsung melanjutkan langkah kaki untuk masuk semakin dalam ke sela bangunan bertingkat sambil membawa ransel di punggung.
"Dia punya potensi" gumam sosok itu sambil tersenyum antusias.
Siapakah dia? Tapi yang jelas karena merasa sudah tak aman akhirnya Beni memutuskan untuk mencari cara agar bisa keluar dari tanah barat terlebih dahulu karena ia tahu mungkin tindakan tadi akan membuat pemimpin mereka marah dan nanti akan cukup menyulitkan baginya jika harus menghadapi pasukan yang bejibun.
Tapi sebelum itu Beni beristirahat di sebuah gedung kosong yang ketika itu dia sedang duduk bersandar di dinding sambil menghela nafas, yang membuatnya tertimpa masalah bukan karena masalah di tanah barat tetapi karena Angel harus membencinya atas apa yang telah terjadi pada pasca War of Bunker.
"Aku tidak peduli jika dunia menentang ku, tapi aku tidak bisa hidup jika matahari ku hilang" batinnya mengepalkan telapak tangan.
Ingin sekali ia marah namun kepada siapa, karena rencana Kristian juga untuk kebaikan di masa depan, buktinya setelah kejadian itu banyak perubahan dalam bunker salah satunya Infrastruktur yang sedang berkembang untuk pertahanan bunker dan menghasilkan komoditas pangan
"Huh.. Mengesalkan" umpatnya dengan kesal hingga menghela nafas kasar.
Akan tetapi ketika masih merenung, tanpa disangka muncul suara dari arah lain dengan sumbang karena yang terdengar hanya gema dari notasi suara yang disebabkan oleh ruangan tanpa ada massa dan materi. Walaupun ada tetapi itu sudah usang sehingga suara harus memantul.
"Sepertinya kamu sedang ada masalah!?" suara dari sosok pria yang sedang mengikutinya, namun dia tidak langsung menampakkan diri melainkan bersembunyi dari Beni sebelum ia mengetahui karakteristiknya.
"Siapa kamu?" tanya Beni langsung beranjak berdiri setelah mendengar suara tanpa melihat dari mana sumbernya, karena yang telah kita bahas sebelumnya kalau suara tersebut bergema karena memantul.
"Siapa aku bukan hal penting, justru ada hal yang paling penting mungkin kamu perlu tahu"
__ADS_1
"Apa maumu?"
"Bagaimana kalau kita barter saja" tawar pria misterius tersebut. "Kenapa aku harus ikut kemauan mu?"
"Karena aku akan menukar informasi tentang tanah barat beserta kumpulan Devil's secara menyeluruh sedangkan kamu cukup membantu aku pergi dari tanah terkutuk ini"
"Bagaimana bisa aku percaya begitu saja dengan ucapan mu?" sinis Beni
"Hmm.. Bagaimana dengan kebenaran, apa kamu akan percaya dengan ku jika aku berkata dengan sebuah kebenaran"
"Bisa jadi" ucap Beni menyeringai sambil melebarkan jarak pandang ke setiap sudut ruangan untuk mencari sumber suara.
"Tapi bagaimana jika sebaliknya dimana aku yang tidak percaya dengan mu?" ujar sosok misterius tersebut
"Alasannya?"
"Karena kamu berasal dari tanah timur yang jelas sangat asing untuk ku" balasnya
"Aku hanyalah seorang siswa biasa yang kebetulan bertahan hidup dengan sangat keras, dan tujuanku kesini hanya untuk.." ucapan beni seketika terhenti karena mengingat misi yang bersifat rahasia.
"Mencari tahu alasan kenapa pasukan ekspedisi kalian menghilang?" tebak pria misterius tersebut.
"Bagaimana kamu bisa tahu"
"Tentu saja kejadiannya sudah beberapa hari yang lalu, dimana mereka harus bernasib sial akibat bantai oleh pasukan Devil"
"Bagaimana kamu bisa tahu hal tersebut?" hardik Beni yang mulai emosional. Semua itu disengaja oleh pria misterius tersebut untuk melakukan negosiasi dalam kesepakatan.
"Aku sudah berada disini selama bertahun-tahun dan aku tahu seluk-beluk dari kawasan ini, jangankan informasi kecil tentang kelompok Devil bahkan aku tahu kelemahan mereka"
"Menarik, baiklah mari kita buat kesepakatan" seru beni dengan lantang sambil memancarkan tatapan intens dari sorot matanya.
"Hahaha... Itulah hal yang aku tunggu-tunggu kalau begitu mari kita berbincang lebih lama lagi masalah pribadi supaya bisa tambah akrab" jawabnya yang tidak lama kemudian muncul seorang pria dari balik dinding.
"Kamu!!"
Di sana itu juga Beni terkejut melihat seorang pria dewasa yang tengah menatapnya dengan jarak tidak jauh darinya, dia sedikit lebih tua darinya mungkin sekitar kurang lebih 6 tahunan dengan perawakan penuh wibawa tegas karena ia mengenakan seragam polisi walaupun menjabat sebagai polisi namun postur tubuh dan tinggi badan 180 cm, membuatnya lebih terlihat seperti tentara profesional.
BERSAMBUNG....
****
Halo… Teman² kembali lagi dengan Author amatir ini, maaf jika kosa kata dan gaya bahasanya masih amburadul, karena maklum saya juga masih banyak-banyak belajar mengenai dunia cerita, jadi mohon dikritik jika ada kesalahan karena saya siap menerima nasehat dan arahan.
Oh,.. Iya maaf kalau Author lama sekali kembali untuk melanjutkan karyanya, karena saya sendiri juga ada urusan di kehidupan, karena Author juga seorang siswa biasa yang harus belajar materi umum. Hehe..
Sebenarnya ceritanya sudah mencapai setengah perjalanan, jadi kalau ada momen yang kurang, mohon dimaafkan.
__ADS_1
Sebenarnya Author berencana untuk membuat cerita baru yang memukau tapi karena ingat dengan The Day Zombie. Akhirnya author berencana menamatkan terlebih dahulu cerita ini setelah itu author akan pikiran kembali untuk langkah selanjutnya.
Cukup sekian terimakasih…