
"Ini merupakan lokasi berikutnya, jadi kemungkinan kita akan mendapat bahaya lagi disini" tegur sang pemimpin dengan reload magazen senjata. Sementara anak buahnya telah mempersiapkan diri dengan kemungkinan yang akan terjadi nantinya walaupun mereka tahu jika mereka bisa mati kapan pun diluar bunker
"Jadi untuk selama kita melangkah, aku harap kalian lebih berhati-hati" sambungnya sambil mengernyitkan alis dan menggenggam senjata mesin, erat-erat
"Siap, pak" jawab seluruh bawahnya dengan serentak. Kemudian mereka mulai memasuki pangkalan minyak dengan langkah berhati-hati yang dipimpin oleh pasukan elite
Akan tetapi tetap dalam formasi bersiaga, karena mereka sama sekali tidak mengetahui seperti apa yang menanti kedatangan mereka di dalam sana. Ketika mereka masuk kedalam area pangkalan tanpa sadar ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh. Dengan menggunakan tudung kepala serba hitam.
Namun sosok tersebut tidak bertahan lama, karena sesaat setelah memperhatikan kumpulan beni akhirnya dia menghilang secara tiba-tiba seperti terbawa angin. Namun dirinya meninggalkan senyum sinis sambil berkata. "Jadi ini kumpulan yang harus di takuti" gumamnya kemudian menghilang begitu saja
Menghilang sosok tersebut membuat beni semakin masuk ke dalam area pangkalan minyak. "Sepertinya tidak ada zombie disini" alibi dari seorang tentara yang turut memperhatikan sekeliling. "Jangan sampai lengah" timpal temannya
"Aneh.. Kenapa semakin dekat dengan pusat kota aku malah tidak menemukan zombie gol. Zero, disini? Batin beni sambil memperhatikan sekeliling Sambil membawa sepucuk pistol di tangan dengan ucapan berkata
Ditunggu cukup lama akhirnya mereka berhasil sampai di pangkalan yang dimana menjadi ruang resepsionis untuk menanggulangi pelanggan. "Baik.. Segera periksa persediaan, jika perlu ambil yang dibutuhkan untuk bunker" titah sang pemimpin sehingga seluruh anak buahnya bergerak memeriksa seluruh sudut ruangan untuk mencari benda yang dibutuhkan
Dan selama pemeriksaan di sana sudah tidak berpenghuni sama sekali, sehingga mereka tampak menaikan alis melihat lokasi pangkalan minyak sangat tak berpenghuni, bahkan satu zombie pun tidak terlihat
Tidak berselang lama akhirnya mereka kembali berkumpul didepan halaman kantor dengan beberapa barel berisi minyak yang ditemukan oleh tentara karena dianggap masih bisa di pakai
"Lapor pak, ini barang-barang yang menurut kami bisa dipakai!!" lapor salah satu serdadu kepada pemimpin dengan memperlihatkan beni sedikit kebingungan dengan apa yang dirasakan. Yaitu suasana damai bukan tempat yang seharusnya bisa didapat dalam keadaan seperti sekarang
"Hei.. Kamu kenapa?" tanya salah seorang melihat beni sedikit melamun. "Tidak ada apa-apa" singkatnya kemudian berjalan meninggalkan tentara tersebut dengan cuek
Setelah sekiranya selesai mereka kembali berkumpul di halaman pangkalan minyak atau pertamina penyuplai. Di sana mereka berbaris dengan rapi sambil mendengarkan ucapan dari pimpinan mereka dengan cermat agar tidak terjadi kesalahan infomasi
"Tujuan kedua kita telah selesai, sekarang sudah saatnya untuk kita melanjutkan perjalan menuju apotek sekitar, jadi apapun posisi kedepannya, kita harus lebih berhati-hati, karena kita tidak tahu dengan situasi di luar sina, apa kalian mengerti!!"
"Siap mengerti" jawab serentak kemudian mereka mulai bergerak namun sebelum itu mereka mengangkat tong berisikan minyak mesin secara bersama-sama, karena berat akhirnya pekerjaan memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit
Ditambah waktu istirahat mereka untuk menarik nafas, sampai tidak terasa waktu sudah sore. Akan tetapi mereka harus terus melanjutkan perjalanan agar semua selesai sebelum hari ke 5
"Pak, bagaimana jika perjalanan kita terhambat dengan malam hari?" tanya salah satu serdadu ketika itu mereka semua masih duduk di area dalam gedung pangkalan minyak bersamaan dengan memakan, makanan dan minuman yang telah mereka jarah sebelumnya
"Kita akan mencari tempat berlindung kemudian melanjutkan perjalanan, di hari esok"
"Iya.. Juga lagian bahaya banget jika kita masih nekat melakukan perjalanan pada malam hari". Benar, karena setelah kejatuhan asteroid, gempa terjadi dan hal pertama dalam tragedi tersebut adalah rumah hancur dan tiang listrik pun ikut ambruk
Jadi otomatis sumber aliran listrik padam dan membuat kota A menjadi kota tanpa listrik. Namun semua itu telah diperkirakan oleh beni sebelum semuanya terjadi hanya saja ia tidak bisa menerima jika seluruh temannya harus menjadi korban karena dirinya yang lemah
Tidak berselang beberapa lama akhirnya hari menunjukkan pukul 17.00 WIB. Dan pemimpin kompi memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju apotek, dengan tujuan mengambil obat-obatan seperti antibiotik, pil tambah darah dan perlengkapan P3K.
Karena semua itu sangat dibutuhkan dalam bunker, akan tetapi dalam perjalanan mereka harus mendapat hambatan. Dimana jalan yang akan mereka lalui telah mengalami kerusakan fatal hingga tidak dapat digunakan lagi
"Pak, bagaimana ini?" tanya sang driver kepada pemimpin kompi yang kebetulan sedang duduk disamping dalam mobil yang sama. "Payah, mobil tidak bisa melewati jalur ini" gerutu sang pemimpin
Karena mereka benar-benar tidak bisa maju, jalan seluas jalan tol harus mengalami kerusakan seperti retak dan hancur dan itu bukan kerusakan kecil. Bahkan sang pemimpin regu tampak bingung harus bagaimana, karena hari juga sudah semakin malam sedangkan perjalanan mereka masih membutuhkan 30 menit lagi sebelum sampai di apotek pusat kota A
__ADS_1
"Jika jalan kaki butuh berapa lama untuk kita sampai lokasi?" tanya pemimpin. "Jika diperkirakan mungkin ½ jam lebih, itupun jika kalian tidak mendapat kendala" jawab driver
"Tidak bisa, karena dengan kondisi tentara saat ini pasti mereka membutuhkan istirahat lebih, ditambah perjalanan sini dan sana pasti menguras tenaga yang banyak" batinnya kemudian keluar dari mobilnya dan melihat sekeliling
Walaupun posisi mereka berada di jalan besar dengan kanan kiri penuh dengan rumah penduduk bertingkat, namun dari rumah tersebut sama sekali tidak ada penghuninya jadi mereka masih bisa menghela nafas lega
"Ada apa, pak?" tanya seorang serdadu yang berjalan kearah pemimpin setelah sekian lama menanti dari dalam mobil militer
"Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan" singkat pemimpin sambil menatap jalan dari tepatnya hingga sejauh mata memandang menatapi jalan raya. "Lalu kita harus bagaimana, pak?"
"Aku juga tidak tahu, tapi karena hari sudah semakin malam jadi kalian siap-siap saja, karena malam ini kita akan bermalam di salah satu rumah warga sekitar sini"
"Baik, pak" serunya dengan berjalan balik ke arah mobil pengangkut, karena dia akan menyampaikan pesan tersebut kepada teman-temannya.
***
Usut demi usut waktu semakin berlalu dan hari sudah malam. Seluruh serdadu dalam kompi ekspedisi memutuskan untuk bermalam disalah satu bangunan warga yang kebetulan tidak dikunci dan ruangan tersebut juga luas, ada ruang tamu kamar tidur dan dapur yang cukup untuk menampung mereka semua ditambah tempat tersebut memiliki 2 lantai
Namun sebelum istirahat mereka menyempatkan diri untuk berkumpul di ruang tamu, tidak dengan beni karena dia lebih memutuskan untuk di lantai dua yang duduk di sana sambil membaca buku kebetulan dia dapat dari isi rumah walau begitu suara dari percakapan masih terdengar dengan jelas oleh beni
"Bagaimana pak? kita tidak bisa menggunakan mobil untuk ke lokasi" tanya salah satu tentara kepada pimpinan regu
"Jika untuk sekarang yang terpikir oleh ku hanya berjalan kaki" balas pemimpin yang duduk sofa ruang tamu. "Kalau itu memang jalan satu-satunya, maka kita akan berjalan kaki" jawabnya
"Namun resikonya tidak kecil, jadi kalian harus benar berhati-hati ketika berjalan kesana"
Kemudian malam itu mereka menghabiskan waktu untuk ngobrol bersama dan bercanda akibat tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghabiskan waktu bersama, karena mereka juga tidak tahu dengan nasib mereka kedepannya.
***
Matahari sudah menyingsing, dimana sinar cahaya mulai masuk lewat ventilasi rumah. Beni yang menuruni anak tangga melihat seluruh temannya masih tertidur dengan pulas akibat menghabiskan waktu yang panjang dengan bersenang-senang, jadinya mereka sangat kelelahan
Bahkan dengan cara mereka tidur sangat tak beraturan seperti kapal pecah dimulai ada yang tidur di lantai, sofa hingga kursi, ditambah banyak botol minuman dan snack lainnya yang sekarang hanya tinggal bungkus saja
"Benar-benar deh" gumam beni menghela nafas panjang kemudian berjalan ke luar rumah, dan hal pertama yang dia rasakan adalah udara yang sejuk, karena hamparan angin di pagi hari walau tidak dengan pemandangannya
Karena pemandangan kala itu sangat berantakan, dimana kendaraan mobil berhamburan di penjuru jalan, gedung hancur dan jalan retak-retak, semua itu bukan hal yang bisa disebut normal.
"Hari ini cukup bagus, jadi kami bisa melanjutkan perjalanan" gumam beni menatap lekat ke arah langit yang matahari akan menjunjung tinggi ke awan
Walaupun begitu. Sudah sejak kemarin beni kepikiran akan hal tersebut secara menerus terbayang zombie golongan zero yang dirinya temui, apalagi kemarin tidak berpapasan dengannya, jadi ia akan berpikir ke arah lain, jikalau pastinya zombie muncul sedikit dalam ke area kota pusat
Waktu semakin siang. Jam menunjukan pukul 8 pagi, dimana seluruh serdadu telah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju apotek yang tidak terlalu jauh, tujuan untuk mengisi persediaan yang kosong
"Baiklah, untuk misi kali ini aku akan membagi menjadi dua regu dimana regu yang menanti dan regu yang ikut bersama ku memasuki ke dalam area pusat kota A"
Setelah penjelasan di dengar begitu cermat dengan tentara hingga waktunya pembagian orang, dimana Beni menjadi tim ekspedisi dan beberapa orang lagi ada yang berada di mobil untuk menjaga dan mengawasi area luar, karena jalur besar satu-satunya menuju pusat kota hanya di jalan yang diinjak oleh mereka itu sendiri
__ADS_1
"Mari, kita harus bergerak sebelum siang" titahnya membawa senjata mesin berlari diantara jalan yang sudah hancur dengan diikuti bawahannya termasuk beni sendiri
Dalam perjalanan mereka sama sekali tidak melihat apapun, karena bangunan sudah hancur dan jalan amburadul, membuat tidak ada seorang pun penghuni yang mau menjarah daerah sana tapi anehnya manusia tidak ada, zombie pun juga tidak ada yang terlihat waktu itu
Jadi benar-benar seperti mereka adalah manusia terakhir yang hidup di era itu. "Aneh, kemana larinya zombie disini?" tanya salah satu serdadu dengan memperhatikan sekeliling, sekaligus memasang posisi siaga penuh, sampai mata selalu melirik ke berbagai penjuru tempat
Begitu juga sebaliknya, karena mereka harus bersiap dengan apapun yang akan terjadi nantinya. "Terus pasangan insting kalian" titah sang pemimpin. "Pak memang boleh kita mengkonsumsi obat yang telah terkontaminasi?" tanya anggotanya
"Tentu tidak bisa, tapi di pusat apotek terdapat brangkas ruang bawah tanah dengan tujuan menyimpan seluruh obat-obatan di sana, sebagai antisipasi jikalau negara ini terjadi perang nuklir"
"Begitu ya"
"Jadi apapun yang terjadi nantinya, aku harap kita bisa mendapatkannya, karena itu penting sebagai perban bunker"
"Kami akan berusaha, pak" sahut tentara lain untuk membangkitkan semangat juang dari rekannya
Setelah beberapa menit terlalui akhirnya tentara bunker berhasil mencapai tempat persembunyian obat-obatan dari kota pusat, walaupun di sana hanya berbentuk seperti sekolah atau puskesmas biasa tapi didalamnya fasilitas cukup mewadahi pelanggan. Karena itu juga yang dirasakan tim ketika masuk kedalam puskesmas yang cukup biasa karena masih
Terbuat dari beton dan tidak bertingkat hanya memiliki luas beberapa ratus meter dari gerbang utama. Mereka mulai masuk kedalam dengan langkah berhati-hati di sana sangat sepi dan luas, sehingga langkah kaki mereka tampak bergema ke setiap ruangan
Karena ruangan di sana sangat banyak 11.12 dengan sekolahan, hanya saja di sana ada resepsionis dan ruang tertutup lainnya. "Perlahan kan, langkah kalian" titah pemimpin kemudian mengambil posisi tangan sebagai isyarat kode
Selama mereka berjalan, tidak ada yang mencurigakan sampai di depan pintu ruang bedah darurat mereka langsung dikejutkan dengan pintu yang terpental karena dorongan dari dalam bahkan pintunya sampai lepas dari tempatnya, saking kuat ada sebagian tentara yang sudah terpental karena terdorong oleh pintu tersebut Termasuk beni sendiri yang secara tepat berada didepan pintu
Gubrakk..
"Argh.. Asw" umpatnya dengan meringis kesakitan bagaimana tidak jika lengannya harus terbanting ke lantai dan tubuh berguling-guling
"Ada apa ini!!" bingung seluruh orang yang melihat asal hantaman tersebut, dan benar saja jika yang pertama mereka lihat adalah sesosok monster berbadan besar setinggi 2,5 meter, muka hancur hingga tidak berbentuk tapi masih terlihat matanya yang sangat merah menyala
"Jangan-jangan dia!!" ucap beni melihat dari kejauhan karena dari dia terpental cukup jauh dari posisi pintu
"Guarhh..." raungan nya menggelegar hingga membuat gema di seluruh penjuru puskesmas mega sampai-sampai seluruh tentara yang awalnya ingin mengambil obat, kini harus berpapasan langsung dengan monster mutasi yang bakal mengambil nyawa mereka
"Tembak!!!" dalam satu kata seluruh tentara langsung memberondongnya dengan tembakan, tapi setelah di tembakan bertubi-tubi, zombie tersebut tak bergeming walaupun seluruh tubuhnya sudah bolong karena peluru dan darah mengalir seperti air dari sela lobang
Tapi itu tidak mempengaruhi sang monster, malahan dia terlihat agresif mungkin karena kelaparan. Sampai tidak ada yang menduga jika zombie mutasi tersebut langsung melompat ke arah salah satu tentara yang masih tercengang
Bruk..
Dalam sekali lompatan manusia tersebut langsung hancur tak karuan karena monster tersebut langsung mencengkram leher sang mangsa hingga remuk dan menindihnya agar tidak kabur. Tentu serangan tersebut tidak memberi kesempatan bagi korban untuk menghindar apalagi kabur
Jadi siapapun yang terkena serangannya dalam satu gerakan sudah dipastikan jika ia akan mati dengan mengenaskan, walaupun begitu ironisnya seluruh serdadu hanya bisa berlari tak karuan menyelamatkan diri, padahal saat itu sang pemimpin sudah menyarankan mereka untuk tidak panik
Dan mau dalam posisi, karena dia percaya jika mereka mau bersatu maka semuanya akan terlewati, walau kenyataan tidak sesuai ekspetasinya hingga pada waktu itu hanya meninggal beni, dia dan 5 orang lainnya, sementara sisanya sudah berbalik menuju gerbang utama tanpa perlu diperintahkan lagi untuk mundur.
"Sial,.. Tenyata mentalitas tentara masih belum pulih" gumam sang pemimpin yang memaklumi sikap dari bawahannya yang telah pergi meninggalkan dirinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...