
Keesokan harinya tepat pada hari ke-2 dimana setelah melakukan penyerangan terhadap pihak Warz. Pasukan garuda mulai memasang persiapan setiap orang untuk melakukan gelombang ke dua, sebagaimana mestinya untuk perancangan terhadap bunker agar bisa mengalahkan lawan dengan begitu cepat dalam beberapa waktu, hingga pagi itu terlihat seluruh serdadu sudah berkumpul
Dengan posisi memasang tatapan penuh oleh bara api amarah, disertakan oleh Via dan jendral yang sudah berdiri dihadapan mereka semua. "Pagi buta ini, adalah penyerangan kita terhadap pihak musuh untuk kedua kalinya, jadi aku harap kita bisa menembus pertahanan musuh dengan sepenuh kekuatan kita semua"
Nasihat sang Jendral membuat seluruh tentaranya memasang wajah marah sekaligus semangat karena seharusnya yang menjadi milik mereka harus di rebut kembali apapun caranya. Apalagi setelah melihat rakyat sipil yang sudah ditindas, tentu membuat bangkit rasa sosialisme diantara mereka
Dengan mengatas namakan manusia, maka mereka akan berperang dengan segenap kekuatan mereka tanpa pamrih untuk melepaskan belenggu penjajahan yang dilakukan pihak Warz. "Mari hajar mereka!!" salah satu serdadu berkumandang dengan lantang
"Habisi mereka semua!!" disertai sorak-sorai dari rekannya yang merupakan seperjuangan dalam perang kali ini. "Baik,.. Mari kita berangkat!!" balas Via dengan tegas dan gagah walaupun seorang wanita tetapi sebagai pemimpin, dia harus mencerminkan sebagai sebagai kepribadian yang tangguh
"Pukul_05.00 wib
Terdengar rentetan peluru dari dua belah pihak sehingga banyak menjatuhkan korban, terutama pada pihak Via yang rata-rata sudah tergeletak tak berdaya di semen dengan tubuh tertanam peluru. Walaupun mereka sudah maju menyerang untuk membalas tetapi itu tidak membuahkan hasil yang ada malah pasukan mereka yang dibabat habis oleh musuh
Karena sebelumnya. Dimana ketika pasukan jenderal sedang berjalan melewati lorong 2 menuju markas inti, secara mengejutkan mereka diberondong tembakan bertubi-tubi dari ujung lorong. Dor.. Dret.. Dor.. Dor..
Suara tersebut terus dilepaskan ketika pasukan Via sedang tidak dalam persiapan, sehingga dalam satu waktu pasukan mereka tewas dalam jumlah 6 orang, sementara sisanya langsung berlari mundur tapi ada yang mencoba melawan balik dengan senjata serbu mereka
Akan tetapi karena posisi mereka tidak menguntungkan jadinya tim mereka mulai tewas satu persatu. Bahkan via sendiri sempat terkena tembakan di bagian lengan, dengan keberuntungan berada di pihaknya, karena peluru tersebut tidak tertanam hanya saja menggores pada seragam dan kulit.
Sehingga dengan bermodalkan kain yang di lilit membuatnya mampu melanjutkan pertempuran. Tetapi ada atau tidak adanya dia di sana, nyatanya tidak mengubah hasil, karena buktinya pasukan musuh tidak bergeming sama sekali karena pertahanan mereka yang terlalu kokoh untuk ditembus
Jadinya dia memberi perintah untuk bawahannya agar mundur ke posisi awal dan berencana untuk menyusun rencana kembali. "Brengsek!!" umpat salah seorang tentara dengan menendang dinding dengan disertai gertak gigi dari setiap orang termasuk via
Yang mana lukanya membuat tubuhnya merasakan nyeri dan perih ketika setiap kali menggerakkan tangan, walaupun tidak dalam tetapi harus diberi obat seperti bagaimana mestinya, jika hanya seperti itu akan menyebabkan rasa sakit lumayan menyakitkan bagi penderita.
"Komandan, bagaimana dengan kondisi anda?" tanya seorang pejuang kepada via yang terduduk lemas di lantai dengan memegangi lengan dimana luka bersarang. "Saya tidak apa-apa" jawab via dengan lirih sehingga bawahnya bisa tahu jika kondisinya sedang tidak baik
Tapi tentara tersebut juga tidak bisa berbuat apapun untuk menolong atasannya. "Saya harap nona tidak memaksakan diri" gumamnya kemudian dikejutkan dengan kedatangan sang Jendral ke arah komandan Via
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya dengan raut wajah cemas. "Saya tidak apa-apa, pak"
"Aku tidak menyangka jika pertahanan mereka sekuat itu"
"Jadi kita harus bagaimana untuk kedepannya?" tanya via yang sekuat tenaga menahan sakit. "Sepertinya kondisimu sedang tidak baik, kamu tolong antar via ke tim medis" ucap jenderal sambil memberi perintah kepada tentara yang sebelumnya berdiri diantara mereka berdua
"Siap" jawab. "Tidak perlu, yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita bisa memukul mundur pasukan musuh karena suplai kita sangat terbatas dan rakyat membutuhkan pertolongan kita" bantah via, walaupun bersikeras untuk berkata tidak
Nyatanya tubuh tidak bisa dibohongi, karena wajahnya kala itu sudah pucat pasi, sehingga siapapun akan berpikir jika via dalam kondisi kurang fit. "Tapi nona.."
"Yasudah, kamu istirahat saja dulu" potong jendral kepada via hingga tentara yang di suruh untuk mengantarkan via ke tim medis, kini hanya mengurungkan niat karena tidak berani melawan atasan
"Ya.. Itu lebih baik" ucapnya terdengar lirih kemudian merilekskan tubuh dan memejamkan mata. Sementara dilain tempat prajurit yang sebelumnya berada didepannya langsung mengikuti langkah jenderal untuk meninggalkannya via sendiri
__ADS_1
"Kenapa jenderal membiarkan nona via sendiri dengan kondisi seperti itu?" tanya tentara tersebut yang kebingungan. "kita tidak bisa memaksa kehendaknya". "Tapi kan anda atasan, jadi anda seharusnya bisa memberi perintah untuk Via"
"Lihatlah" tunjuk jendral yang mengarah dimana seluruh serdadu medis disibukkan dengan menangani para tentara lainnya yang sedang terluka terkena tembakan sehingga tentara lain juga turut disibukkan untuk membantu merawat dan mengobati tentara yang lebih membutuhkan pertolongan
"Aku hanya ingin selaras dengan pemikiran via, dimana luka kecil lebih baik di pendam dari pada mereka orang yang membutuhkan harus terlantar begitu saja sampai harus renggang nyawa"
Penjelasan jendral sambil menatap dari jauh dimana seluruh serdadunya sedang disibukkan sampai-sampai mereka berlalu lalang dengan tergesa-gesa sambil membawa keperluan medis lainnya sementara tentara yang berlogo plus sedang mengobati luka pasien dengan begitu intens.
"Sial,.. Kenapa susah sekali mengalahkan mereka" gumam tentara itu dengan raut wajah kesal sambil mengepalkan telapak tangan. Sementara jenderal yang ada dihadapannya cuman bisa menghela napas panjang
Dini hari dimana waktu masih sedikit gelap dengan remang-remang cahaya cakrawala yang mulai memberi sinar ke seluruh jagat raya. Sebuah mobil jab beserta mobil tentara mulai memasuki bunker dalam keadaan bermuatan seperti mobil militer yang membawa perlengkapan sedangkan mobil jab memberi tumpangan
Kepada beni dan Kristian yang baru sampai dari luar, terutama beni yang sudah berada diluar selama 3 bulan lamanya yang suasana seperti orang kemah saja.
Kedatangan mereka langsung disambut oleh beberapa tentara yang kebetulan sedang berjaga di luar bunker. "Selamat datang tuan Kristian" sambut mereka dengan tulus sambil memberi hormat kepada atasan yang baru saja turun dari mobil
"Terimakasih karena kalian sudah mau menyambut kedatangan ku" ucap Kristian untuk membalas sapan dari bawahannya. Sebelum datang seorang dengan wajah yang tidak asing bagi dia maupun beni. Yaitu Steven dengan membawa senapan di punggung, datang menghampirinya
"Maafkan aku tuan, karena tidak bisa menyediakan sambutan yang lebih" kata Steven dengan senyum sumringahnya. "Dasar, kamu ini" umpat Kristian yang membalas senyum tersebut dengan senyum tipisnya yang khas
"Bagaimana keadaan?" tanya beni yang ikut berkecimpung didalam obrolan dua sahabat tersebut karena hal pertama yang dipikirkan beni hanya keadaan dari 3 orang itu. "Kemarin mereka menyerang dengan sangat mendadak hingga kami harus mengalami kekalahan telak, dan dampaknya distrik 2 diambil alih oleh mereka
"Kemudian?"
"Aku tidak menyangka dengan dirimu, via" batin Kristian yang terlihat tersenyum sinis
"Aku ingin kita melancarkan serangan balik terhadap mereka" balas Kristian kepada Steven kemudian berjalan mendahului mereka berdua untuk menuju dalam bunker dengan disusul oleh Steven dan beni yang mengikuti langkahnya tapi sebelum itu mereka semua melihat seluruh masyarakat pengungsi sudah berada di satu tenda
Dengan dijaga ketat oleh beberapa tentara yang menggunakan berseragam abu-abu, sampai aktivitas mereka dalam membangun harus dihentikan beberapa waktu untuk mengantisipasi jika terjadi pemberontakan sampai harus dijaga dengan ketat oleh Steven beserta bawahannya
"Kenapa mereka harus di jaga?" tanya beni sambil terus melangkah mengikuti 2 pria dihadapannya
"Tentu saja, supaya mereka tidak membantu penyerangan yang dilakukan oleh Via karena bisa gawat jika mereka ikut membantu dari dua arah, yang berujung pada pasukan kita tidak seimbang" jelas Steven
"Begitu yah" ucap beni dengan menghela nafas kemudian mereka masuk kedalam bunker untuk memeriksa keadaan di sana, dan benar memang lorong distrik dijaga dengan ketat oleh beberapa prajurit dengan senjata serbu maupun senjata mini gun
"Apa keadaan memang harus seperti ini?" bingung beni ketika melihat seluruh tentara Warz dalam posisi siaga sambil mengedarkan pandangan ke depan hingga ujung lorong. "Iya,.. Pagi-pagi buta tadi seluruh pasukan jenderal sudah melancarkan serangan besar-besaran, beruntung pasukan kami dapat memukul mundur mereka dengan jumlah korban yaang tidak sedikit di pihak mereka"
"Memang membangun benteng pertahanan yang sesuai dengan medan sangat menguntungkan bagi kita". "Aku bangga dengan mu, Steven" sambung Kristian dengan bangga
"Terimakasih" balas Steven. "Siapkan pasukan, aku akan melakukan serangan balik terhadap mereka, beberapa saat lagi" titah Kristian kepada Steven setelah itu melangkah meninggalkan mereka menuju ruangannya.
Sedangkan beni hanya bisa melihat dengan perasaan gaduh di hatinya karena untuk bertemu dengan Angel sangat tidak mungkin, apalagi setelah melihat keadaan sekarang, tapi dirinya berharap dimana pun Angel berada semoga dia dilindungi hingga bisa bertahan sampai masalah selesai
__ADS_1
Usut demi usut berlalu dimana akhirnya Kristian mengadakan pertemuan dengan 4 kaki tangannya yang dia percaya antara lain beni, Steven dan 2 pemimpin regu yang bertugas untuk menjadi komando satuan dari kelompok tentara tentu saja keduanya sangat berkompeten, sehingga Kristian percaya kepada mereka berdua
"Kalian sudah tahu, bukan, tujuan dari kenapa kalian aku kumpulan disini?" tanya Kristian yang raut wajahnya begitu intens menatap keempat anak buahnya itu
"Siap, sudah" balasan dari tiga orang tersebut kecuali beni yang hanya diam sambil memperhatikan Kristian yang begitu serius
"Baguslah... Steven, bagaimana dengan pasukan kita?"
"Siap, saya sudah menyiapkan seluruh pasukan terbaik yang anda perintahkan untuk bersiap-siap dengan perintah yang sesuai dengan anda bilang kalau kita akan berperang" balas Steven
"Baik,.. Kita akan membalas serangan mereka pada jam 9 dari sekarang hanya tersisa satu jam, dan aku harap pasukan dari salah satu kompi membagi dua dimana ada yang menjaga perbatasan dan luar bunker, apa kalian paham"
"Siap, paham" jawab mereka serentak kecuali beni sendirian. "Kalian bisa mempersiapkan semuanya dari sekarang!!" titah Kristian yang membuat seluruh bawahannya meninggalkan ruangan termasuk beni akan tetapi sebelum keluar, Kristian menyambung kalimatnya dengan nada tinggi
"Beni, aku ingin bicara denganmu" ucapan tersebut membuat pria yang dipanggil menghentikan langkah dan berbalik badan sementara yang lain sudah meninggalkan ruangan. "Ada apa? Tanya beni dengan mengernyitkan alis
"Apa yang kamu pikiran!! Apakah ada hal yang ingin kamu sampaikan sebelumnya kita melancarkan serangan?"
"Tiada hal yang membuatku berpikir kedua kalinya, apalagi sampai mengganggu konsentrasi ku"
"Benarkah?"
"Tentu saja, aku juga tidak terlalu memperdulikan apa yang ingin kamu perbuat, asalkan masih dalam kesepakatan kita menurutku itu sudah cukup"
"Kamu adalah orang yang susah ditebak" gumam Kristian kemudian memperbolehkan beni untuk meninggalkan ruangannya. Sehingga tanpa disuruh beni langsung beranjak pergi dari posisinya
Pukul_ 08.46 Wib
Waktu itu seluruh tentara sudah berkumpul dengan barisan yang rapi berbanjar dan seragam abu-abu melekat pada tubuh mereka sehingga tampak lebih rapi, tentu dengan posisi badan tegak yang dada membusung.
Didalam sebuah barisan tampak mereka sudah mempersiapkan semuanya dengan matang dari tatapan hingga raut wajah yang memperlihatkan jika mereka siap berperang. Dengan di hadapan sudah ada 5 orang penting dalam partai atau istilahnya adalah pilar bagi serdadu
Antara lain. Kristian, Beni, Steven, dan dua pria yang notabene sebagai ketua dalam penyerangan yang akan berlangsung beberapa saat lagi. "Aku ingin kalian berperan untuk memukul mundur musuh dan mengambil alih lorong pada distrik 2 yang semula milik kita, apa kalian paham"
"Siap, paham" seruan dari serdadu dengan serentak sampai membuat penjuru lorong bergema menyaksikan semangat membara dari pasukan warz yang berkobar-kobar.
"Akan Tapi sebelum itu aku ingin mengirim beni sebagai pembawa pesan untuk mereka"
"Ben,.. Kamu sudah tahu dengan tugas mu?"
"Siap, sudah" jawab beni datar kemudian pergi meninggalkan barisan untuk menuju dinding pertahanan yang semula digunakan untuk bertahan dari serangan musuh. Sementara Kristian terus berpidato sampai jam 9 agar membangkitkan semangat juang serdadunya sambil menunggu keputusan dari pihak musuh.
BERSAMBUNG...
__ADS_1