
Via terus bersilat lidah dengan mengatakan apa yang dialami olehnya beberapa waktu lalu, hingga lawan bicaranya bisa mengerti akan penjelasan yang sampaikan oleh oktavia waktu itu. "Benar-benar kejam" gumam Angel dengan menutup mulut seusai mendengar semua yang menimpa pasukan via terutama ketika ia tahu jika jenderal tewas karena rentetan peluru yang membabi buta.
"Oleh karena itu, aku berjanji akan membalas semuanya" sambung Via dalam tatapan penuh amarah. "Tapi dengan begitu maka akan memperbanyak korban jiwa" ucap Angel
"Aku tidak perduli jika aku harus mati sekalipun, asalkan semuanya terbayarkan, karena nyawa dibayar dengan nyawa"
"Aku paham dengan perasaan kakak yang sedang hancur, tapi entah kenapa ketika mendengar kalimat tersebut aku malah jadi takut akan kedepannya"
"Komandan!!" panggil seorang serdadu dengan tubuh penuh balutan dari lengan hingga kepalanya akibat peluru merobek kulit. "Ada apa?" tanya via kepadanya
"Apa yang harus kita lakukan setelah melihat jenderal tewas, akibat kita sudah tidak punya memimpin lagi"
Via yang mendengar tutur putus asa membuatnya menjadi geram sendiri. "Tegakkan kepala kalian dan angkat senjata, karena kita akan mempertaruhkan semuanya dalam satu penyerangan!!"
"Siap" balas serdadu itu sambil memberi hormat sebelum pergi meninggalkan atasan, agar bisa disampaikan kepada seluruh rekannya.
****
Terlihat seluruh pasukan dari pihak Via sudah berkumpul di satu tempat dengan persiapan yang sangat matang dimulai dari hal hardware maupun software semua benar-benar dilakukan oleh seluruh serdadu sebelum berperang untuk titik darah penghabisan, akibat personil yang sudah semakin minim, perlengkapan yang sudah tipis, kemudian dengan pemimpin besar yang telah tewas dalam pertempuran
Tentu membuat moral dan mental tentara tidak terkendali hingga rasanya mereka ingin melepas rasa amarah dengan menyerang secara membabi buta. "Semuanya dengarkan aku!!" tutur Via kepada seluruh bawahannya yang duduk di lantai dengan memegang senjata masing-masing
"Ini mungkin akan menjadi pertempuran kita yang terakhir kalinya, jadi aku mohon kepada kalian untuk mau melawan hingga darah penghabisan, apapun hasilnya kita sudah berjuang dengan terhormat di hadapan jasad sang Jendral"
Ketika via sedang memberi pidato seluruh tentara hanya menundukkan kepala sambil mengheningkan cipta untuk mayor jenderal mereka yang tewas dengan gagah berani dalam memimpin mereka pada garis depan
"Walaupun pasukan kita sudah kalah dari pihak musuh, tapi kita harus melawan, balaskan dendam rekan kita yang sudah tewas"
"Bunuh mereka!!!" teriakan dari seluruh serdadu dengan menggelegar hingga membuat suasana begitu bergema di setiap sudut ruangan
Sementara angel dari jauh sehabis mendengar suara semangat serdadu dapat merasakan jika seluruhnya sudah siap mati untuk kehormatan seorang pria.
"Aku akan memberikan kalian petunjuk walaupun jenderal sudah tewas tetapi aku akan mengambil alih pasukan untuk menyerang musuh, kalian paham?"
"SIAP PAHAM..."
\*\*\*
Sebuah ruangan kedap suara dengan dilengkapi oleh amunisi dan perlengkapan senjata lainnya termasuk seorang pria berbadan tinggi yang duduk di kursinya sambil memperhatikan sebuah secercah kertas putih di atas meja. Pada awalnya dia memperhatikannya dengan sangat serius namun konsentrasinya buyar ketika mendengar suara ketukan pintu yang diselingi oleh suara pria mengucapkan kalimat lantang.
"Tuan Kristian, bisakah saya masuk?" tanya seseorang dari balik pintu dengan suara berat. "Silahkan" ujar Kristian sambil terus memperhatikan kertas di atas meja
Cklek..
"Tuan Kristian, keadaan sesuai dengan rencana anda, dimana pasukan kita sudah mendorong pasukan musuh hingga kembali ke wilayah mereka!!"
"Kerja bagus, steven" seru Kristian sambil melirik ke arah pria paruh baya yang gagah tersebut dengan seragam militernya. "Apa yang anda lihat?" tanya Steven sambil memperhatikan tuannya yang sedang memperhatikan sebuah kertas dengan serius
__ADS_1
"Tentu saja, memikirkan bagaimana caranya menata kembali bunker setelah semuanya berakhir"
"Jadi anda berencana membunuh tentara musuh?"
"Tentu tidak semua, karena aku masih membutuhkan tenaga mereka untuk menata kembali keadaan saat ini"
"Begitu yah"
"Sudah saatnya untuk membuat jebakan untuk mereka!!" ujar Kristian yang beranjak berdiri dari kursinya. "Jebakan?" bingung Steven.
"Apa kamu penasaran?"
"Tentu saja.."
"Baiklah mari kita buat sekarang!!" ucapnya kemudian melangkah keluar ruangan dengan disusul oleh steven.
Akan tetapi ketika mereka berdua keluar dari ruangan, tanpa di sengaja mereka bertemu dengan beni yang kebetulan ingin berjalan menuju ruang Kristian. "Kalian ingin kemana?" tanya beni seketika menghentikan langkah di hadapan mereka berdua
"Tentu saja, membuat rencana untuk mengalahkan mereka"
"Baiklah aku ikut" sahut beni sehingga mereka bertiga pergi untuk menyusun sebuah perangkap untuk musuh mereka walaupun musuh tidak memiliki kekuatan yang cukup tetapi jika tidak di tindak lanjuti maka itu akan menjadi ancaman bagi pasukan WARZ.
Seluruh rencana dan siasat di atur dengan sedemikian agar seluruh tentara dapat memahaminya dan cara penyampaian Kristian juga sangat luwes dan jelas sehingga seluruh bawahannya dapat mencerna maupun mengerti dengan tugas mereka tanpa ada pertanyaan diantaranya
Bahkan beni yang awalnya sedikit tidak tertarik kini mulai mengernyitkan alis sambil berpikir jika ide dari Kristian cukup efektif untuk mengalahkan musuh dalam waktu cepat apalagi melihat dari situasi saat ini yang mana musuh benar-benar dibuat tidak bisa berkutik kecuali memilih yaitu perang sampai habis atau menyerah.
"Apa kalian mengerti?" tanya Kristian kepada seluruh bawahnya yang kala itu sudah berkumpul di satu tempat, yaitu berada di benteng pertahanan distrik 1
"Bagus, aku harap ini akan menjadi pertempuran terakhir kita" ucap Kristian.
Waktu berlalu dengan begitu saja hingga pada waktu tiba yaitu pasukan via mulai melancarkan serangan dadakan untuk mengakhiri semua perjuangan mereka dalam hasil yang tidak menentukan yaitu antara menang atau musnah. Karena untuk menang rasanya sangat sulit untuk digapai oleh mereka
Pukul_08.00 Pm
Seluruh pasukan via mulai bergerak secara perlahan ke dalam lorong agar bisa menembus pada distrik 2 sebagai tempat cek poin untuk titik balik. Dalam melangkah seluruh pasukan mengikuti langkah via yang terdengar sangat kecil karena mereka melangkah dengan perlahan untuk mengantisipasi jika pihak musuh tidak mendengar suara step
"Bagian dua, maju ke garis depan dan pantau di sana!!" titah Via kepada bawahannya yang ada dibelakang sehingga mereka yang ditujukan tanpa berpikir berjalan lebih dulu dari komandan mereka
Awalnya mereka akan berpikir jika detik itu mereka akan di berondong peluru tapi nyatanya itu tidak sesuai dengan perkiraan mereka, bahkan setelah sampai di bagian inti distrik 2 di sana tidak terlihat siapapun kecuali tumpukan mayat yang tergeletak dengan bau sedikit tidak mengenakan
"Kemana mereka?" tanya salah satu prajurit yang berada digaris depan
"Apa mereka kembali ke pertahanan distrik pertama?"
"Bisa jadi"
"Semua, tetap siaga, karena kita tidak tahu jika kita akan di jebak disini" suara via membuyarkan rasa terkejut mereka yang kala itu sedikit terheran-heran dengan situasi
__ADS_1
"Siap" seluruhnya bergerak secara serentak menggeledah seluruh seisi ruang inti lorong untuk mencari persediaan yang ada, tetapi sejauh itu mereka sama sekali tidak menemukan apapun yang bisa mereka konsumsi ataupun gunakan, bahkan senjata yang ada ditangan rekan mereka pun ikut menghilang dari jasadnya
"Komandan, sepertinya kita benar-benar kehilangan seluruh persediaan yang ada disini" ucap salah satu prajurit yang mendekati via. "Sial.. Sekarang kita sudah benar-benar buntu" gerutu via
"Tapi kita juga tidak bisa berdiam disini, suruh tentara bagian 2 untuk berada di garis depan sebagai prajurit pengintai, karena kita tidak tahu kapan mereka akan menyerang!!" titah via kepadanya
"Siap, laksanakan!!"
"Huh.. Ini benar-benar membuatku sedikit lelah" gumam via kemudian mencari ruangan yang masih kosong untuk dijadikan tempat istirahat tetapi sejauh dia mencari dirinya hanya menemukan 3 ruangan yaitu kamar beni dan 2 lagi adalah tempat yang sedikit luas untuk menjadi tempat penyimpanan
Karena kedua tempat tersebut tidak layak tinggal untuk dirinya yang seorang gadis akhirnya Via pun memutuskan untuk beristirahat di tempat beni karena memang hanya di sana yang terdapat kasur empuk apalagi dengan barang-barang yang memang sangat dibutuhkan oleh seorang gadis
ketika via istirahat seluruh tentara membagi menjadi 2 bagian satu istirahat dan satu lagi membereskan mayat teman mereka dan memantau dari kejauhan barang kali mereka mendapat serangan.
Akan tetapi dibalik kesunyian tersebut terhadap sebuah rencana yang sedang disiapkan oleh pasukan Warz ketika seluruh pasukan via sedang beristirahat pada tengah malam.
"Kalian paham?" ujar Kristian. "Paham pak" jawab serdadunya yang bergerak dengan pakaian serba hitam seperti seorang pembunuh dalam jumlah 20 orang termasuk beni yang ada di sana. Ketika mendengar arahan dari Kristian.
"Beni, apa kamu akan mengikuti rencana ku?" tanya Kristian kala itu sudah tinggal mereka berdua di ruang kerjaannya. "Tentu, kenapa tidak"
"Apa kamu tidak takut jika Angel akan membencimu akibat kebengisan mu?!"
"Sedari awal memang aku sudah berada di pihakmu seandainya dia membenci ku maka itu pilihannya lagian aku juga tidak banyak berharap pada dunia ini" jawab beni kemudian pergi meninggalkan ruangan Kristan
"Aku tahu dengan isi hatimu, ben" batin Kristian sambil memperhatikan punggung beni menghilang dari hadapannya.
Malam yang sunyi itulah mereka beraksi dimana pasukan Warz melemparkan sebuah granat asap untuk menumpulkan pandangan lawan terhadap sekitar. Kebetulan yang berjaga berjumlah 5 orang sambil memegangi senapan.
Tuk.. Tuk..
Suara benda berat bergelinding di lantai dengan perlahan, mendekati mereka yang sedang duduk bersandar di dinding lorong. "Boom...!!" pekik salah satu di antara mereka ketika itu menyadari sesuatu dari suara tersebut sehingga sontak seluruh serdadu berdiri dan berlari menjauhi granat.
Namun ketika mereka sudah merobohkan tubuh dalam posisi tiarap tanpa di sadari jika granat yang dimaksud bukanlah senjata peledak melainkan sebuah asap putih yang menyebar memenuhi lorong karena jumlahnya tidak satu melainkan banyak semua itu terdengar dari suara pemicu.
"Semuanya berdiri ini bukan peledak!!" seru salah satu dari prajurit hingga diikuti oleh seluruh rekannya namun sesaat ketika mereka berdiri tanpa diduga mereka mendapati sebuah belati yang tertancap di tubuh mereka dengan begitu dalam.
Yang pada akhirnya membuat mereka tidak bisa berbuat banyak kecuali menunggu kematiannya, apalagi pisau tersebut mengandung racun, hingga dalam hitungan detik mereka tewas begitu saja dengan tubuh terjatuh ditempat.
"Clear!!" seru seorang prajurit yang menggunakan seragam serba hitam keluar dari balik asap dengan disusul oleh teman-temannya, sementara Kristian, Steven dan beni mengikuti dari belakang yang hanya mengenakan seragam militer mereka.
"Bagus,.. terus bergerak dan pastikan kalian tidak membuat kebisingan, karena aku ingin membuat kejutan untuk mereka!!" ujar Kristian dengan jalan berdampingan dengan kedua orang kepercayaan
"Baik, Pak" balasan dari prajurit pembunuh tersebut sambil mengajak temannya untuk bergerak menuju bagian inti dari distrik 2.
Walaupun garis depan sudah di dobrak oleh pasukan Warz, nyatanya pasukan yang menjaga inti sama sekali tidak menyadari akan kedatangan musuh sehingga mereka hanya membersihkan mayat tanpa memasang posisi siaga jadi kala itu mereka terlena karena menganggap jika penjaga garis depan sudah cukup untuk menjaga dan mengabari jika terjadi serangan.
Semua masih begitu cepat untuk menganggap remeh pasukan Warz karena pada dasarnya pasukan Kristian juga ikut serta dalam pelatihan militer hanya saja posisi mereka berbeda dimana pasukan via hanya sekedar pengetahuan sedangkan Kristian memiliki banyak wawasan mengenai militer, jenis pelatih, strategis, tata cara perang hingga kelemahan maupun kelebihan dari strategis perwira
__ADS_1
Karena pada dasarnya Kristian sudah mengalami banyak perang hingga tidak terhitung bagaimana dirinya bertarung dengan berbagai macam orang untuk pencapaian misi yang diperintahkan oleh petingginya terdahulu.
BERSAMBUNG...