
Langkah dari pasukan Kristian terus mendorong mereka hingga sedikit lagi hampir sampai pada tujuannya, dan selama melangkah mereka tidak mendapati kendala, karena posisi mereka belum disadari oleh pihak musuh, karena langkah mereka tidak meninggalkan step yang bisa saja mengudang indra pendengaran.
Karena keterampilan mereka lah yang membuat Kristian mempercayai mereka untuk menjadi pasukan penyergapan pada markas lawan yang bisa tergolong sebagai misi tersulit. "Apakah semua akan berjalan sesuai dengan rencana?" disela ketegangan mereka secara mengejutkan pria yang berada disamping kanan membuka mulut untuk mencairkan suasana.
Sementara beni yang berada di sebelah kiri hanya terdiam sambil mengamati kedua atasannya yang ngobrol di sampingnya. Entah apa yang sedang mereka bahas pada waktu itu. Namun yang pasti beni tidak mau mengeluarkan suaranya untuk berkecimpung dalam obrolan kurang mementingkan.
"Tentu saja, bahkan sebelum misi ini di jalankan aku sudah berpikir jikalau pasukan kita tidak akan terlalu banyak menelan korban, karena itu bisa merepotkan ku di masa yang akan datang.
"Aku tidak akan pernah menyangka jika keyakinan anda dapat mengalahkan potensi serdadu" ujar Steven yang mengunggah senyum sumringah sementara beni yang berjalan beriringan dengan mereka hanya bisa diam sambil terus mendengar percakapan diantara mereka
Waktu itu mereka berjalan pada barisan paling belakang dari serdadu yang ditugaskan untuk menyerbu pertahanan lawan karena tugas mereka adalah sebagai pemantau pergerakan serdadu dari jauh. "Apa yang kamu pikirkan, ben?" tanya Kristian ketika itu langsung mencecar pertanyaan kepada beni yang hanya diam membisu
"Tidak ada hal yang membuatku terbebani" jawaban singkat dari beni yang begitu datar.
"Heh... Begitu yah, namun kenapa aku tidak yakin dengan ucapanmu barusan"
"Aku tidak memerlukan pendapatmu" cetus beni sambil membuang muka ke arah lain
Selama perjalanan mereka dalam menulusuri lorong bunker, pasukan Kristian turut bergerak dari posisi paling depan hingga mereka pun sampai pada ujung lorong yang merupakan inti dari distrik 2. Tetapi salah satu dari mereka diberi tugas oleh rekannya untuk memantau pergerakan musuh dari balikan dinding sementara yang lainnya
Menunggu dari jarak 10 meter supaya langkah mereka tidak terdengar oleh musuh. Disaat prajurit pemantau mendapatkan informasi yang diperlukan dia langsung berbalik badan dan berjalan menuju rekannya dengan langkah stabil dan cepat hingga tidak menimbulkan suara tambahan
Sesampainya dia tempat pertemuan mereka ia melihat seluruh rekannya sudah berkumpul menjadi satu yang di sana sudah ada Kristian, Beni, dan Steven sebagai pemandu tentara ketika atasannya sedang ngobrol ia memberanikan diri untuk mendekat dan memberi hormat sebelum berbicara.
Sehingga seluruh mata menyoroti kedatangannya dengan intens sambil menunggu informasi yang dibutuhkan.
"Lapor pak, saya sudah memantau di garis depan jika pasukan lawan sedang dalam posisi tidak waspada, karena saya lihat, mereka masih bersifat begitu santainya bahkan ada yang istirahat didalam ruangan yang jelas-jelas akan menumpulkan kewaspadaan, jadi bisa dikatakan bahwa mereka terlena dalam kesibukan semata.
"Sepertinya mereka tidak sadar dengan kehadiran kita, maka mari bergerak menerobos pertahanan lawan!!" titah Kristian sebelum ia berdiri dan berjalan meninggalkan kumpulannya yang masih duduk di lantai.
Tentu seluruh prajurit ikut beranjak dari posisi semula untuk mengikuti langkah pemimpin besar mereka, sambil mengangkat senjata masing-masing kemudian berlari mendahului Kristian begitu saja ketika pemimpin mereka masih berjalan dengan begitu santai ke arah ujung lorong.
Tentu tidak dengan mengeluarkan suara bising yang berlebihan dari hentakan kaki, karena keseimbangan mereka stabil sehingga langkahnya cepat dan gesit sementara beni dan Steven mengikuti langkah mereka dari belakang sambil memancarkan tatapan penuh keseriusan dari raut wajahnya.
Tidak berselang lama akhirnya seluruh pasukan Kristian sudah bersiap di balik gelapnya lorong dengan posisi bersembunyi di balik bayangan menanti aba-aba dari atasan yang sedari tadi menunggu momentum yang tepat untuk bergerak menyapu rata pasukan lawan.
Hingga di detik-detik ketika Kristian memberi tanda dengan kode tangan, seluruh serdadunya langsung bergerak membabi buta menembaki isi ruangan inti distrik 2 dengan begitu agresif hingga pasukan lawan yang terlena itu tidak sempat berlindung maupun menyerang balik yang ada mereka malah di bunuh satu persatu ketika itu masih sibuk membersihkan ruangan
"Serang!!..." pekik salah satu prajurit yang keluar dari ruang istirahatnya sambil menembaki lawan dengan begitu antusias, sampai-sampai seragamnya lupa dikancing dan memperlihatkan perut bidangnya. Namun karena serangannya lah pasukan Kristian akhirnya mendapat pukulan
__ADS_1
Karena semangatnya mampu membakar jiwa rekannya yang masih didalam ruangan untuk keluar dan melakukan perlawanan dengan segenap raga mereka, walaupun pada dasarnya mereka sadar akan keterbatasan mereka tetapi ideologis dari via mampu mengalahkan roh ketakutan didalam hati.
Walau pasukan via mulai melawan balik dan prajurit Kristian turut tumbang, nyatanya semua tidak berhenti begitu saja, yang ada dari dua belah pihak terlihat mereka semakin menjadi-jadi dalam melepaskan tembakan, ditambah selama beberapa menit mereka saling adu tembak, perwira tertinggi mereka yaitu Kristian mulai berkata kepada ajudannya yang berada digaris paling belakang dengan menanti hasil dari peperangan yang sedang berkecamuk itu
"Pertempuran tidak akan selesai dalam waktu cepat jika aku tidak ikut didalam pertempuran" gumam Kristian kemudian berjalan ke arah medan pertempuran yang masih memanas. "Ingin kemana kamu, kris?" tanya steven
"Tentu saja, ingin mengikuti alur pertempuran mereka!!"
"Apa kamu bodoh, di sana terlalu bahaya" celoteh Steven dengan nada sedikit melambung.
"Aku bukan bodoh yang menyerahkan nyawaku secara cuma-cuma" balas Kristian begitu singkat dalam ekspresi datar, walau ajudannya sudah memberi peringatan seperti itu, tetap saja Kristian bergerak mendekati pertempuran
"Dia adalah orang aneh" sahut beni sampai-sampai Steven yang berada disampingnya terkejut ketika mendengar kalimat tersebut.
"Bahkan aku sudah jauh lebih dulu mengetahui sifatnya ketika berada di kompi dan misi yang sama"
"Huh.." Beni hanya bisa menghela nafas sambil memperhatikan punggung Kristian yang mulai menjauhkan dari pandangannya.
Disaat adu tembak masih begitu bergejolak dengan mengerikan hingga korban dari dua belah pihak terus bertambah, tanpa di duga Kristian datang di pertempuran adu tembak itu sambil bersembunyi di balik pilar yang menggenggam erat pistol ditangannya.
"Tuan Kristian, kenapa ada bisa disini?" tanya seorang prajurit yang ikut bersembunyi bersama-sama dengannya, karena tembakan terus di luncurkan tanpa henti. "Tentu saja ingin membantu kalian"
"Kamu kira aku adalah orang lemah, sehingga tidak dapat menghindari peluru" cetus Kristian tanpa diberi peringatan lagi ia langsung melancarkan tembakan membalas serangan musuh hingga tidak ada sela untuk musuh menghindari tembakan Kristian
Karena Kristian terus menarik pelatuk dengan beruntun hingga musuh hanya bisa menerima tembakan tanpa sempat untuk bersembunyi, tentu ke hadiran Kristian membuat pihak via semakin diberatkan, walaupun via sudah membantu dari balik kamar namun nyatanya keterampilan perang tidak terlalu hebat dari Kristian
Waktu terus diisi dengan tembakan begitu singkat dan agresif sehingga secara tidak sadar amunisi dari tentara via sudah menipis karena keterbatasan suplai perang yang merupakan faktor penentu menang atau kalahnya mereka.
"Sial, sepertinya memang tidak harapan lagi" batin via mencoba untuk reload senjata rifle nya namun terhenti ketika melihat cadangan dari magazine lain telah habis di gunakan dalam satu dekade pertempuran
"Aku tidak boleh menyerah" batin via mencoba untuk mengambil pistol di laci meja hingga ia melihat masih ada beberapa peluru di magazine. "Nice" ucap via kemudian kembali melancarkan tembakan hingga sudah beberapa peluru terus melesat
Dor.. Dor.. Dor....
Via terus menerus melancarkan tembakan tanpa henti hingga ia berhasil menumbangkan 4 prajurit Kristian dari 10 peluru sebelum pada akhir cadangan amunisinya benar-benar habis total.
"Haha... Sepertinya memang tidak ada yang bisa aku lakukan untuk sekarang ini" terlihat via mulai putus asa hingga ia terduduk lemas di lantai dengan memegangi senjatanya erat-erat
Semuanya benar-benar seperti sedang menunggu waktu saja sebelum pasukannya kalah tapi sebelum via mengakhiri semuanya tampak suara baku tembak mulai berhenti dimana seluruh pasukannya yang tersisa mulai keluar dari tempat persembunyiannya dengan mengangkat kedua tangan ke langit
__ADS_1
Sebagai tanda menyerah tanpa mau melakukan perlawanan lagi. "Berhenti!!" titah Kristian kepada anak buahnya hingga dalam satu kata itu seluruh prajuritnya berhenti menembak. "Kalian sudah memilih keputusan bijak karena memang sudah tidak ada harapan untuk kalian melakukan perlawanan" ucap Kristian dengan lantang hingga mental prajurit musuh benar-benar down
Sementara via hanya terus bersembunyi di balik ruangan dengan hati berdebar-debar karena cemas sekaligus takut, untuk memutuskan rencana apa yang akan dirinya ambil seterusnya.
Setelah seluruh pasukan Kristian meringkus prajurit lawan, akhirnya mereka mencoba untuk menahan pemimpinnya dengan cara mengepung ruang perawatan dengan menodongkan senjata ke arah pintu masuk, sementara di lain sisi Kristian hanya berjalan dengan tenang ke arah pintu masuk sebelum dirinya di todong dengan sepucuk pistol tepat di ambang pintu.
Kristian menatap mata via dengan begitu tenang sementara mata via terus memancarkan rasa ketakutan yang begitu mendalam sambil mencoba untuk menyetabilkan getaran dari tangannya yang memegang sepucuk pistol tepat di arah dahi Kristian
Ketika itu situasi benar-benar menegangkan dimana via berada dihadapan Kristian dengan sepucuk pistol terarah di kepala manusia sambil menatap dengan tajam, sementara via sendiri sudah ditodong dengan mulut senjata dalam jumlah banyak oleh serdadu.
Jadi seandainya jika via melepaskan tembakan maka otomatis dirinya akan dihujani oleh peluru dari berbagai arah dalam satu waktu yang singkat.
"Kamu adalah pria paling ku benci" ujar via sambil menatap mata Kristian dalam-dalam. "Aku juga tidak berharap apapun padamu" balas pria tersebut dengan santainya
"Kenapa kamu menjadi bengis yang haus akan darah"
"Tiada alasan untuk ku menjelaskannya padamu"
"Kalau begitu bunuh aku" ujar via yang memperlihatkan senyum sinis. "Oh.. Tapi aku tidak tertarik untuk membunuh mu sekarang, karena masih ada hal yang aku perlukan dari potensimu"
"Haha.. Kamu pikir aku akan mudah untuk di perintahkan? Mungkin dulu aku memang selalu berada di kendali mu tapi itu dulu sebelum pada akhirnya kamu menjadi penjagal"
"Sekali lagi aku tidak membutuhkan komentarmu, via"
"Sekarang aku tidak sedang berkomentar melainkan memberimu umpatan"
"Sayangnya aku tidak ingin mendengar hal tersebut darimu"
"Kenapa?" Kristian membulatkan mata dengan sempurna disaat melihat mata via menitikkan air matanya hingga ke pipi yang halus tersebut.
"Kenapa semua ini bisa terjadi?" lanjut via semakin memberatkan hatinya untuk menatap wajah Kristian hingga kepalanya tertunduk ke lantai. "Semua memang tidak sesuai dengan rencanamu, via" jawab Kristian sebelum melancarkan secara dadakan dengan begitu singkat sambil mencoba untuk menyerang titik vital lawan yaitu belakang leher
Walaupun via sudah menyadari serangan tersebut dan bisa saja ia melawan balik dengan menembak ataupun menghindari serangan, namun nyatanya memang ia sudah pasrah ketika pelurunya sudah habis, dan untuk aksi sebelumnya yaitu tentang menodong Kristian dengan pistolnya, itu hanya sebuah ancaman semata
Karena semua terjadi begitu cepat tanpa bisa dicerna, namun yang jelas dalam konflik bunker akhirnya telah usai dengan menyisakan pasukan WARZ sebagai pemenang dalam perang, walau korban berjatuhan cukup banyak, nyatanya itu tidak terlalu parah seperti yang dipikirkan oleh orang-orang, karena sebelumnya Kristian sudah merancang skenario tersebut untuk sedemikian rupa namun ada beberapa hal yang meleset dari perkiraannya.
Namun karena pengorbanan dari pihak serdadu maupun petinggi negara seperti jenderal, akhirnya rencana Kristian bisa tercapai, yaitu membentuk suatu kesatuan dengan pemimpin yang mufakat agar semua bisa berjalan sesuai dengan kehendak pemimpin, dan itu adalah langkah awal sebelum majunya era manusia
Karena sebentar lagi bencana yang akan mereka hadapi jauh lebih besar dari pada konflik dalam bunker seperti saat ini, dan semua itu harus dipersiapkan oleh Kristian jauh lebih awal dari waktunya, karena hal tersebut, beban di pundak Kristian akan jauh lebih berat dari sebelumnya, apalagi ditambah dengan dosa-dosanya yang telah ia perbuat.
__ADS_1
BERSAMBUNG...