
"Heh?" tampak raut wajah pria misterius tersebut terkejut karena tendangannya mampu ditahan dengan satu tangan saja, bahkan setelah ditahan pun ia tidak mampu berkilah karena cengkeramannya benar-benar sangat kuat, hingga susah untuk kaki ditarik kembali
"Manusia menjijikkan seperti mu berani sekali mengayunkan kaki ini!?" ucapnya dengan nada berat hingga pria misterius tersebut tertegun sebelum Bagus beranjak berdiri dan menyerangnya dengan sebuah pukulan tepat di dada
Karena kakinya masih di cengkraman jadi dirinya tidak bisa menghindar dan hanya bertahan dari pukul dengan kedua tangan, karena ia tahu lawannya saat itu tidak bisa dianggap remeh
Bugh...
Dalam satu pukulan mampu membuat pria misterius tersebut terguling-guling ke aspal, kemudian tersungkur di detik itu juga. "Aku tidak pernah menduga jika aku bisa kalah darimu!!" timpal Bagus dengan tatapan memancarkan warna kuning cerah sekaligus memandang sinis
"Heh.. Ternyata seperti ini insting bertarung yang jarang ditemukan di jiwa seseorang" celotehnya kemudian kembali berdiri sambil memasang wajah tenang namun menyeringai sinis
"Orang manusia kotor seperti mu mana pantas berkata seperti itu!!" cetus bagus
"Manusia kotor? Seharusnya kamu sadar akan dirimu sendiri yang psikopat"
"Tentu saja, kekuatan ini akan aku gunakan untuk menghabisi kalian bahkan yang terbesit dalam hati ku adalah tiada ampun"
"Eh.. Seseorang yang menyakiti karena disakiti bukanlah orang baik apalagi pahlawan melainkan seseorang yang berbuat baik walau disakiti, itulah yang benar-benar disebut superhero"
"Oleh sebab itu aku tertarik dengan mu, karena kita sama bukan orang baik dan jahat" sambungnya
"Bukan orang jahat, jangan membuatku tertawa, apa definisi orang jahat sehingga kau bisa dengan santainya menyebut dirimu bukan orang jahat"
"Tentu saja, tindakan yang dapat merugikan seseorang"
"Jika penjelasan mu sedangkal itu apakah kamu pernah bersekolah?"
"Haha.. Kata-kata mu sungguh membuat ku sakit hati tahu" tawanya walaupun tertutup masker"
"Tapi melihatmu aku semakin tertarik untuk mengalahkan mu!!" bunyinya kemudian melangkah maju dalam langkah cepat
Bugh...
Satu pukulan mampu mendorong Bagus beberapa langkah walaupun sudah menahannya dengan kedua tangan. "Apa? Speed dan power nya meningkat pesat, bahkan tubuh ku tidak bisa menyesuaikannya" batin Bagus dengan terhuyung-huyung karena pondasi tubuh masih belum stabil
"Heh... Ternyata selama ini kamu belum serius" seru Bagus dengan senyum sinis
"Tentu saja, mana mungkin aku mau mengalahkan anak-anak dalam waktu cepat"
Dengan tubuh di bungkukkan dan telapak tangan dibuka lebar-lebar sudah memperlihatkan dirinya seperti hewan predator. "Mari kita nikmati waktu berdua" ucapnya kemudian maju lebih dulu kearah pria misterius
Selema mereka bertarung Bagus selalu mengunggah senyum sadisnya, berbeda dengan lawannya yang hanya melawan dengan serius hingga terkesan datar walaupun begitu pertarungan tidak berlangsung lama karena setiap serangan Bagus selalu ditangkis dan dihindari sedangkan lawannya
Selalu tepat sasaran walau sesaat Bagus tidak merasakan sakit tetapi tubuhnya masih memiliki batasan hingga setiap serangan di usahakan untuk tidak terkena secara langsung tepat di titik vital
Sementara untuk lawan mulai terbiasa oleh kecepatan dan pola serang Bagus karena mau bagaimana pun serangan lawannya masih sangat berantakan dan itu adalah hal yang wajar bagi petarung jalanan
Mata kuning Bagus selalu terpancar dengan terang tetapi usut demi usut akhirnya Bagus ambruk dengan mata kembali normal. "Haha... Aku kalah" gumamnya kemudian jatuh pingsan
"Aku heran bagaimana dia bisa tidak merasakan sakit, walaupun titik vitalnya selalu dihantam berkali-kali" gumamnya kemudian membawa bagus menuju camp karena dia berencana akan memahat permata indah untuk masa depan
\*\*\*\*
Keesokan harinya dimana Beni melakukan rutinitas yaitu olahraga didalam kamar, tentu saja keringat telah membasahi seluruh tubuh entah itu karena olahraga atau karena pengap dari ruangan karena Beni bisa melalui tersebut dengan santai.
Tok.. Tok..
"Silahkan masuk" ujar Beni hingga pintu ruangan terbuka dari luar dan memperlihatkan dua gadis yang sangat tidak asing baginya yaitu tante Novi dan angel
"Tante, Enjel, ada apa kalian datang kesini?" tanya Beni dengan datar tapi lagi dan lagi dirinya memperlihatkan perut bidang kepada gadis sehingga secara spontan Angel menutup matanya yang kala itu kalang kabut
"Aah.. Dasar Beni!!" umpat Angel dengan nada melengking karena melihat sesuatu yang diluar dugaan
Sedangkan tante Novi hanya tersenyum tipis melihat keakraban murid didiknya, karena selama ini ia takut jika Angel akan merasa kesepian di masa depan karena tidak ada yang memberi support untuk dirinya, akibat Angel adalah seseorang berkarakter paham dengan perasaan orang lain tapi tidak paham dengan dibutuhkannya
Setelah memakai pakaian akhirnya Beni berdiri diantara dua wanita tersebut, karena mereka sudah duduk dipinggir ranjang. "Kedatangan kami disini adalah menawarkan sesuatu kepada nak beni" ucap tante Novi yang membuka pembicaraan
"Penawaran apa itu?"
"Kamu akan direkrut dalam angkatan bersenjata militer cabang, karena untuk keadaan seperti ini kita sangat membutuhkan anak muda seperti kalian" sambung tante Novi
__ADS_1
Bukan langsung menjawab justru Beni malah terlihat sedang berpikir sejenak sebelum Angel berdiri dan melipat tangan di dada sambil mencetuskan nada menghinanya. "Masa kamu nggak sanggup jadi anggota tentara sih, walaupun yang di butuhkan cuman latihan pisik"
"Hah... Kamu kira aku lagi mikirin apa sampai kamu bilang aku gak mampu" sewot beni melihat penghinaan angel terhadapnya
"Alasan"
"Cih.. Ok-oke akan aku tunjukkan kepadamu bagaimana menjadi anggota berkompeten"
Melihat pertikaian mereka tanpa sadar ada senyum hangat dari tante Novi yang sepertinya sudah mulai terbiasa melihat keakraban mereka walau jangka waktu bertemu masih dibilang sebentar
"Baiklah nak beni, besok adalah hari pelatihan pertama mu, jadi usahakan jangan telat yah, jam 7 pagi" potong tante Novi
"Baik, tante"
Akhirnya tante novi dan angel meninggalkan kamar beni menuju ruang kerja, sementara beni melanjutkan olahraganya dan bela dirinya yang sempat hilang dalam hidup, karena di dunia saat ini softskill yang sangat dibutuhkan adalah bertahan hidup
Setelah menghabiskan waktu didalam ruangan tidak lupa beni untuk pergi ke dapur, karena semenjak ia mengenal tante Novi dan Angel, beni jadi lebih suka berkeliling bunker untuk melihat seluk-beluk dari ruang bawah tanah tersebut
Walaupun dirinya sudah dihajar oleh Kristian tapi dirinya tidak pernah bertemu dengannya untuk membalas. Di ruang dapur beni melihat di sana sudah banyak sekali pengungsi berjejer rapi menunggu giliran mengambil makan karena waktu itu sudah jamnya makan siang
Sementara makan pagi beni melewatkannya hingga detik itu terdengar bunyi perutnya yang sudah keroncongan. "Aduh.. ramai sekali" sebelum beni mengeluh, terdengar suara keluhan seseorang yang berada sampingnya sehingga spontan beni berpaling dan melihat
Siapakah yang berada berada disampingnya, dan terlihat seseorang yang berjas putih dan rambut terurai dengan pita rampung di sebelah kiri. "Enjel?" panggil beni karena kaget
Sehingga tidak lama setelah dipanggil akhirnya angel langsung menoleh dan tidak sengaja mata mereka saling melirik satu sama lain. "Kamu juga menunggu?" tanyanya kepada beni walau masih terkejut
"Yah.." jawab singkat dari pria disampingnya dengan datar kemudian memalingkan pandangan kearah lain
"Ramai juga yah, antrian untuk meminta jatah makanan" sambung angel untuk memecah suasana
"Hari ini kamu terlihat beda" ujar beni namun tidak melirik ke arah wanita itu. "Ah.. Apa rambutku tidak bagus jika diurai?" tanyanya dengan lugu sampai-sampai ia menatap Beni dengan begitu intens
"Aku tidak pernah bilang kalau kamu tidak bagus jika seperti itu" balas Beni yang kali ini melirik kearahnya
"Begitu yah"
"Mari kita ikut ngantri" usul beni kemudian melangkah dengan diikuti angel. Setelah menunggu akhirnya mereka mendapatkan jatah makan kemudian duduk disalah satu meja makan dan menikmati hidangan bersama
Walaupun dari segi kualitas dan kuantitas makanan pengungsi kurang dari cukup karena isi dari kotak makanan hanya sebatas roti tawar, kripik kentang, dll yang bisa dibilang makanan ringan, karena untuk menu makanan seperti mie dan nasi dibuat ketika ada seseorang yang memerlukan
Jika tidak ada penghematan, maka hidup di bunker bagaikan neraka yang tidak memiliki penerang dan air karena untuk mencari sumber daya seperti itu sangat memerlukan personil yang siap berkorban untuk mengambil persediaan di luar yang dipenuhi zombie
Dimeja makan Angel dan Beni duduk bersama sambil menyantap makanan mereka masing-masing. "Kamu pasti heran bukan?" tanya angel memecah suasana
"Heran, kenapa?"
"Yah,.. Soalnya selama dua hari ini kamu makan sup dan nasi tapi kali ini berbeda"
"Tidak, aku tidak heran karena hidup di dunia seperti ini jika tidak merasakan rasa terkejut bukanlah bertahan hidup namanya"
"Benar juga sih"
"Dulu aku mempunyai satu sahabat" tiba-tiba beni bergumam tapi terdengar oleh Angel sehingga dia mulai kembali memberi pertanyaan. "Lalu?" ucapnya
"Aku bodoh karena tidak pernah menikmati persahabatan dengan benar hingga semua hilang karena salah ku sendiri"
"Bagaimana kamu bisa menyalahkan dirimu sendiri?"
"Karena aku lemah" ketika itu juga Angel tertegun mendengar jawaban dari Beni. "Apakah harus kuat baru kamu bisa menyelamatkan semuanya ?" tanyanya
"Tentu saja"
"Bagaimana kamu menjelaskan jika harus kuat baru benar-benar bisa mengalahkan musuh" ucapan Angel membuat Beni diam seribu bahasa karena jika dia beri tahu tentang masa depan maka sudah pasti angel tidak akan percaya
"Kuat tidak hanya dari kemampuan fisik, karena bisa saja sewaktu-waktu kita berada diambang batas, tapi kuat yang sesungguhnya adalah kita bisa mengalahkan diri sendiri"
"Maksudmu?"
"Lebih baik kamu cari tahu sendiri" seketika terjadi suatu kode antara mereka walaupun keduanya tidak saling memahami satu sama lain karena Angel berujung pada kepribadian ganda milik Beni sedangkan Beni berunjuk pada masa depan
Semuanya tidak semudah cara mereka menjelaskan karena butuh proses agar lawan bicara bisa mengerti akan maksud masing-masing, dan itu belum saatnya.
__ADS_1
Setelah makan mereka mulai berpisah karena terlihat Angel banyak tugas sehingga dia sering kali mondar-mandir untuk menjalankan tugasnya sedangkan Beni yang melihat dari raut wajahnya yang kecapean hanya berkata. "Jangan terlalu memaksakan diri" sebelum mereka berjalan menjauh
****
Keesokan harinya Beni akan menjalankan pelatihan untuk masuk kedalam anggota militer, tentu saja lokasinya berada diluar bunker, dengan ditemani oleh Kristian sebagai panitia dan via sebagai pengawas perjalannya pelatihan
Di sana sudah ada 4 peserta lain sehingga pemuda yang ikut pelatihan berjumlah 5 orang termasuk Beni itu sendiri. Dan sebelum mulai mereka dibariskan secara memanjang dengan posisi istirahat ditempat
"Kalian sudah tahu bukan tujuan kalian ditempatkan disini?" ucap Via dengan tegas yang berdiri disamping sudah ada Kristian yang mengawasinya
"Siap, sudah" jawab mereka serentak dan dari kelima orang hanya Beni yang suaranya tidak lantang, karena dirinya tidak memiliki semangat muda lagi yang ada hanyalah rasa penyesalan
"Baiklah mulai sekarang dan kedepannya kalian akan di pimpin oleh ku, kalian mengerti!!"
"Siap, mengerti!!"
"Baik, kita mulai pelatihannya sekarang, dan satu lagi aku ingatkan kepada kalian jika dari kalian semua tidak terkecuali jika tidak lulus, semua tergantung forma kalian, jadi tunjukan yang terbaik"
Sehingga pagi itu mereka mulai latihan dengan diawali oleh lari memutari camp bunker sampai matahari menjulang tinggi. Dan tentunya pada latihan awal seluruh peserta telah menguras begitu banyak tenaga
"Baiklah, untuk yang kedua adalah latihan pisik jadi kalian akan dibimbing oleh senior kalian, tapi tetap dalam pengawasan ku!!"
"Siap" jawab mereka serempak yang nafasnya masih tersengal akibat lelah
Setelah diberi waktu istirahat selama 15 menit mereka mulai melanjutkan latihan bersama senior mereka.
Dan selama pembinaan mereka melakukan latihan seperti merangkak dibawah kawat dan lain sebagainya yang berhubungan kepada pelatihan militer angkatan darat dan dari setiap latihan Beni selalu berada diposisi pertama.
Bahkan ketika pemeriksaan pisik dirinya diacungi jempol oleh para senior karena badan yang bidang dan berotot membuatnya menambah nilai plus dari yang lainnya
Sementara itu dari jauh sudah ada Angel dan via sedang duduk di tenda pengawas dengan secangkir teh yang dibawakan oleh salah satu tentara untuk atasan, walaupun tingkatan medis dan tentara sama kala itu tapi angel selalu disanjung tinggi karena keseriusannya dalam membuat camp menjadi lingkungan sehat
"Kak via, menurut mu bagaimana forma beni?" tanya Angel di sela-sela keseriusan mereka dalam menonton calon tentara
"Bagus sih, cuman yah dia masih terlihat datar dan kurang senyum"
"Mungkin cepat atau lambat dia akan seperti semula semua tergantung sama linkungan juga" jawab Angel dengan tutur senyum tipis diwajahnya
"Hmm.. Sepertinya ada yang perduli nih sama cowok" sindir via sehingga membuat angel tersipu malu ketika mendengarnya. "Apa sih kak, orang kan cuman bertanya" elak angel hingga via bisa puas meledek adik angkatnya itu
Setelah puas tertawa via mulai berkata dengan tutur lembutnya, sehingga tentara yang menjaga camp langsung bergidik ngeri ketika mendengar atasnan bersifat seperti gadis pada umumnya
"Syukurlah jika kamu mulai respect terhadap seseorang, karena aku sendiri juga khawatir jika kamu suka sama aku"
"Hah?" bingung angel saat itu hingga ekspresi mulai bertanya-tanya. "Enggak kok cuman bercanda doang, gak usah terlalu serius" jelas Via dengan senyum lebarnya
"Eh.. Kakak ini, dari pada ngurusin seseorang lebih baik kakak pikirkan bagaimana cara pdkt sama kak Kristian deh" sindir angel dengan senyum tipis
"Eh.. Nih anak kurang ajar" umpat via dengan mengacak-acak rambut adiknya yang terurai kala itu.
"Hehe.. Kakak juga, nyindir aku terus" tawa kecil angel dengan cekikikan. Hingga mereka menikmati waktu dengan senyum bersama sedangkan di posisi lain Kristian sedang mengukur ketangkasan dan kondisi Beni dalam menanggapi setiap tantangan sehingga tidak lama pelatihan kedua usai dan waktunya untuk ke tiga
Dimana setiap peserta harus mengeluarkan bela diri mereka masing-masing untuk menunjuk skill mereka dalam jarak dekat tanpa senjata jika sewaktu-waktu mereka terdesak dalam keadaan genting
Pada waktu itu mereka sudah berada diarea yang telah diberi tali pembatas oleh panitia persiapan, tentu di lokasi telah ditonton oleh Kristian, via dan angel tentunya dengan seluruh panitia yang akan menilai peserta secara individu
Tapi di tengah suasana yang mana matahari sudah setinggi kepala Beni membuka pembicaraan dengan mengangkat tangan.
"Boleh aku memberi permintaan" ujar Beni kepada pihak panitia. Sehingga salah satu dari mereka ikut angkat bicara. "Silahkan, beni" ucapnya
"Saya ingin menantang semua peserta" ucapan Beni tentu membuat yang ada di sana terkejut bukan main bahkan Kristian sendiri juga heran dengan permintaan Beni kala itu. "Apa maksudmu?" tanyanya
"Yah,.. Saya ingin menantang seluruh peserta" lanjut Beni karena dirinya merasa jika ingin menjadi kuat maka ia harus melampaui batasannya, tentu dengan melawan seseorang yang telah dilatih bersamanya
"Apa kamu yakin"
"Saya yakin" terpancar aura keseriusan dari Beni walaupun tentara tersebut ragu namun ia tidak bisa berkata apa-apa karena wajahnya sangat mendukung perkataannya
"Tapi ini bukan pertandingan bebas" jawabannya ragu. "Tapi ini juga bukan pertandingan 1v1" jawab Beni sehingga dari jauh, angel tampak cemas hingga ia mengepalkan telapak tangan di dada
"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan sih, ben" batin angel dengan perasaan yang resah dan gelisah melihat keberanian seorang pria seperti Beni pada saat itu
__ADS_1
Sementara itu via hanya mengernyitkan alis karena merasa jika Beni terlalu percaya diri, beda dengan Kristian yang bersifat tenang, karena dari awal dia sudah tahu jika Beni bukanlah orang yang bisa dianggap remah, apalagi sekarang auranya menunjukkan keberanian.
BERSAMBUNG....