
"Apa kamu yakin, akan pergi ke utara malam-malam seperti ini?" tanya Surya meyakinkan Beni karena melihat kondisi saat itu rembulan sudah menyinari tentu tingkat bahaya akan meningkat terutama mereka tidak menggunakan kendaraan, bisa saja bahaya datang menghampiri.
"Kenapa memangnya? Kalau kamu tidak ingin ya sudah tapi aku akan tetap pergi karena aku tidak ingin nyawa adikku bisa dalam bahaya" tegas Beni
"Huh.. Benar-benar deh, kepala mu ini terbuat dari apa sih"
"Berisik, kalau kamu tidak ingin ikut, yasudah!!' ujar Beni mempertegas kalimatnya.
"Ok-oke, aku ikut, dasar"
Pada akhirnya Surya ikut dengan Beni untuk keluar dari kawasan barat begitu saja, bahkan di saat itu seluruh anggota Devil tengah mencari dari menghilangnya rekan mereka dalam misi pengintaian, karena ada sumber yang berkata kalau mereka hilang kontak ketika di beri perintah oleh atasan untuk membunuh penyusup tersebut, sehingga banyak orang berpikir bahwa hilangnya mereka ada kaitannya dengan penyusup tersebut.
"Cepat cari ke penjuru tempat jangan sampai lengah dan pastikan seluruh rumah diperiksa!!" titah komandan mereka yang saat itu berdiri di depan anak buahnya yang tengah berbaris dengan rapi seperti menunggu perintah.
"Baik, pak!!" seru mereka yang serempak dan tegas membuat suaranya sangat menggelegar hingga malam yang sunyi itu kembali ricuh karena sesudahnya terdengar bunyi dari hentakkan langkah kaki yang begitu banyak.
Karena pada misi kali ini banyak melibatkan anggota Devil untuk dikerahkan dalam misi mencari dan melacak orang yang menghilang tersebut, karena mereka takut jika penyusup masih berkeliaran di daerah barat sambil melakukan pembunuhan terhadap anggota Devil yang lain.
Tapi beruntung Beni dan Surya dapat menyadari akan pergerakan anggota devil yang berskala itu sebelum mereka berpapasan di jalan, karena dari balik jendela apartemen terlihat banyak sekali dari mereka yang berlalu lalang dengan membawa senjata.
"Wah.. Sepertinya mereka sudah sadar yah" gumam Surya menatap pergerakan musuh dari gelapnya malam.
"Sudah abaikan saja, kita harus segera pergi dari sini sebelum mereka sadar dengan keberadaan kita" ujar Beni melangkah lebih dulu menuruni anak tangga sebelum disusul oleh Surya.
Mereka turun dengan sangat hati-hati, karena bisa saja musuh sudah berada di lantai bawah jadi sebisa mungkin mereka harus mengantisipasi pertempuran karena dari segi manapun pihak Beni tidak menguntungkan.
Benar saja, ketika mereka sedang berjalan menuruni anak tangga, terdengar suara bising dari lobi sehingga mau tak mau Beni dan Surya harus bersembunyi sambil mencoba untuk mendengar obrolan mereka.
"Sial.. Disini sepertinya juga tidak ada!!" ujar pria A yang menggunakan tudung hitam. "Ya.. Kamu benar, ya udah mari kita pergi dari sini" ajak pria B. Hingga mereka berdua pergi dari lobi apartemen, sebenarnya bisa saja mereka bertemu dengan Beni karena ketika itu Beni sudah berada di kaki tangga dan hanya perlu membuka pintu untuk keluar dari tangga darurat, sementara orang tadi mungkin hanya beberapa langkah dari pintu tersebut.
"Fiuh.. Untung selamat" gumam Surya yang bernafas lega. Sementara Beni hanya bersikap biasa saja, karena jikapun mereka ketahuan itu tidak jadi masalah baginya.
"Yasudah, mari kita lanjut perjalanan" ujar Beni berbisik. "Istirahat dulu napa"
"Gak ada waktu untuk itu" cetus Beni berjalan keluar dari ruang tangga darurat. "Hei.. Tunggu"
Mereka kira setelah berhasil dari dalam apartemen maka mereka sudah selamat, justru tidak, karena setelah mereka keluar dari gedung justru musuh semakin banyak yang terlihat, bahkan jika bukan karena mereka gesit mungkin mereka sudah ketahuan dari awal.
Walaupun baru beberapa meter dari apartemen tapi rintangannya sudah seperti melewati 10 hutan rimba amazon. "Gila.. Benar-benar gila, masa dari kita keluar hingga disini pun, rata-rata kita hanya berpapasan dengan anggota Devil terus menerus sih!!"
"Namanya juga kawasan mereka, ya jelas mereka ada dimana-mana" cetus Beni
"Tapi ini kan ada salahmu"
"Sudahlah.. Setelah ingin kita harus kemana?" tanya Beni. "Huh.. Untuk sekarang lebih baik kita lewat sela-sela gedung saja, karena menurutku itu jauh lebih aman dari pada di jalan raya yang terbuka ini"
"Baiklah, kamu tunjukkan jalannya" ujar Beni memberi titah. "Oke~" jawab Surya dalam nada yang terdengar pasrah.
__ADS_1
Walaupun Surya sudah berkata aman pun, nyatanya masih ada anggota Devil yang terlihat di sana, jumlahnya sekitar 3 orang, mereka berlari dari arah yang berlawanan.
"Sial.." umpat Surya ketika itu terlihat bingung harus berbuat apa, karena jikapun mereka putar balik pasti akan ketahuan.
"Tunggu disini" bisik Beni kemudian bergerak dari balik gelap hingga langkahnya tidak terdeteksi oleh lawan
Apalagi langkah dari beni hampir seirama dengan pergerakan musuh sehingga mereka tidak sadar akan pergerakan lawan dan lagi beni bergerak dari balik bayangan jadinya jarak pandang dan kepekaan penglihatan terlalu terbatas untuk melihat dari mana beni bergerak.
Bahkan Surya sendiri pun sampai kehilangan sosok dari keberadaan Beni akibat langkahnya yang cepat tanpa suara membuatnya terlena dan tak mampu memperhatikan Beni dengan jelas sehingga ia harus kehilangan orang tersebut dari jarak pandangannya.
Tapi yang terdengar saat itu hanya suara belati yang merobek kulit, karena gelap dan cepat, Surya tak mampu melihat bagaimana caranya Beni melakukan hal tersebut tapi dari kejadian tersebut terdengar suara tubuh yang ambruk.
Bruk.. Bruk.. Bruk...
Ketiganya tumbang dengan darah berceceran apalagi mereka terkena serangan tepat di leher jadi secara otomatis mereka mati dengan cepat tanpa sakit, apalagi jika menyerang titik itu lawan tidak mampu bersuara sedikit pun.
Jadi mereka bisa aman, karena jika mereka berteriak maka rekannya yang lain pasti akan datang ke lokasi mereka dan itu akan membahayakan Beni dan Surya
"Gila, dia benar-benar cepat" kini Surya langsung tercengang ketika memperhatikan sebuah bayonet tergenggam di tangan Beni namun dilumuri oleh darah korban.
"Beni, aku yakin kamu pasti bukan orang biasa, belati yang kamu pegang bukan hanya sekedar belati biasa, melainkan bayonet yang digunakan oleh prajurit khusus" batinnya melihat beni berjalan mendekat.
"Bagaimana?" tanya beni membuat lamunan Surya terpecah hingga dirinya tersentak kaget.
"Apa!!"
"Ah.. Masih aman kok" jawab Surya dengan kata-kata yang gelagapan. "What!!, apa dia sudah sering membunuh? Sampai-sampai tidak bereaksi apapun setelah merenggut nyawa seseorang" sambungnya dalam hati sambil menatap dalam ke arah beni
"Sudah mari kita lanjut perjalanan" ujar Beni kemudian berjalan lebih dulu sementara Surya mengikuti dari belakang.
Setelah beberapa jam mereka habiskan untuk berjalan, akhirnya mereka pun tiba sebuah tempat yang mungkin adalah perbatasan, karena di sana adalah tempat jalan tol berada
Awalnya mereka hanya iseng untuk menerobos masuk kedalam hutan tapi arahnya masih dalam satu tujuan, namun siapa yang akan menyangka jika perjalanan mereka kini terpotong dengan sebuah jalan tol.
"Waduh... Sial benget hari ini" ucap Surya yang memasang mimik wajah menjengkelkan. "Ya sudah mau tak mau kita harus menelusuri jalur ini" balas Beni akhirnya mereka berdua terpaksa berjalan menelusuri jalur tol. Karena mereka tahu jalan tol itu pasti akan tembus ke kota utara.
Walaupun jalannya luas tapi mereka tidak mendapat halangan apapun selama perjalanan jadinya mereka bisa dengan santai berjalan di atas tanah apalagi mereka sudah lepas dari kawasan Devil, jadinya mereka bisa menghembuskan nafas lega kecuali jika nanti terjadi serangan zombie karena dunia ini yang paling mendominasi adalah zombie.
"Haduh,.. Capek sekali" keluh Surya menatap punggung beni sudah berada didepannya.
"Jangan lebay, lagian kamu itukan anggota polisi yang seharusnya kamu lebih kuat dari rakyat biasa"
"Polisi kan juga manusia, mana ada manusia yang tak kenal lelah"
"Huh.. Yasudah kita bakal istirahat setelah keluar dari jalan tol, kalau kamu gak kuat kamu istirahat saja dulu disini, tapi jangan salahkan aku jika aku tinggal kamu disini sendiri" ucapan Beni sangat menusuk bagi Surya hingga ingin sekali ia berkata kasar tapi ia juga sadar akan batasan.
"Sialan, bilang aja gak mau istirahat" umpat Surya akhirnya ia harus memaksakan diri untuk mengikuti Beni dari belakang.
__ADS_1
Selama perjalanan itu mereka terus mengikuti jalur tol dengan memperhatikan sekeliling, berharap masih ada mobil yang bisa digunakan, karena surya terlihat sangat kelelahan, sampai-sampai langkahnya pun terhuyung-huyung.
"Aku rasa sedikit lagi kita sampai di portal" ujar Beni memberi semangat kepada Surya. "Sudahlah, aku tidak minta banyak darimu hanya istirahat paling tidak 10 menitan tapi kamu menolak, sekarang pakai kasih semangat segala lagi, bikin kesal"
"Berisik"
"Sialan kau ben" umpat Surya dalam hati namun dari pilihannya untuk terus berjalan, bukanlah hal yang buruk karena seandainya ia tertinggal itu mungkin akan jauh lebih buruk dari sekarang.
Jam menunjukkan pukul 00.00 karena waktu terus berjalan pada porosnya tapi scene memperlihatkan dari wajah Surya yang kini mulai pucat pasi akibat semalaman ia terus berjalan tanpa henti, bahkan sampai saat ini mereka belum melihat portal tersebut walaupun sudah berjalan berjam-jam
"Sepertinya kita memang harus istirahat disini lebih dulu" ucap Beni menghentikan langkah kaki sementara Surya yang ada dibelakang langsung ambruk ke aspal dengan nafas yang terengah-engah.
"Jancok kau ben!!" umpat Surya yang tak mampu ia tahan setelah semalaman berjalan di atas aspal yang hampa itu.
"Huh... Aku tidak menyangka jika jalannya lumayan jauh"
"Ini bukan lagi lumayan, tapi memang jauh" sahut Surya sedikit kesal.
Sejenak mereka beristirahat untuk merilekskan kaki mereka karena sudah berjalan berjam-jam tanpa henti. Dan tepat pada pada pukul 1 malam mereka mulai melanjutkan perjalanan karena jarak mereka dengan tujuan masih lumayan jauh, sehingga jika tidak cepat maka hal yang tidak dinginkan akan terjadi.
Dan benar saja pada pukul 01.27, akhirnya mereka pun telah sampai di portal tol, dimana di sana sangat menumpuk mobil dari masyarakat yang tertinggal mungkin sebelum mobil ditinggal mereka berdesak-desakan untuk kabur untuk menjauh dari zombie namun karena portal tol yang membatasi jadinya mereka memutuskan untuk berlari.
Tapi itu baru alibi dari Surya karena ia melihat begitu banyak mobil yang mengantri untuk keluar portal sampai-sampai tidak terhitung lagi jumlahnya.
"Sepertinya perasaanku tidak enak" gumam Surya merasa ada yang tidak beres dari balik portal. "Ya.. Kamu benar aku juga merasakan hal yang sama"
"Lalu bagaimana? Apa kita akan tetap menerobos masuk?!!" tanya Surya. "Tentu saja, lagian untuk apa kita disini kalau bukan untuk masuk ke sana"
"Tapi aku sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bertarung melawan mayat hidup itu" keluh Surya yang mana memijat lengannya ketika itu terasa pegal.
"Hmm.. Sepertinya ini akan menjadi malam penentuan!"
"Maksudmu?"
"Yah.. Menentu antara hidup dan mati" sebut Beni ketika itu menyeringai sinis sambil membayangkan betapa ramainya zombie di depan sana, dan mungkin di sana ia bisa melampiaskan dendamnya kepada mayat hidup itu tapi berbeda dari sudut pandang Surya yang ketika itu hanya bisa menelan ludahnya sendiri sambil membayangkan seperti apa ngerinya nanti jika mereka bertarung antara hidup dan mati.
Sementara ditempat lain. Alex baru di beri tahu oleh anak buahnya jika penyusup tersebut telah membunuh empat dari anggota Devil dengan cara tragis, tapi siapa sangka jika orang pemberi informasi saja langsung ketakutan hingga bulu kuduknya berdiri karena melihat bos mereka marah besar.
"Kurang ajar" umpatan dari Alex yang kala itu sangat emosi sampai-sampai wajahnya menjadi merah padam
"Cari penyusup itu bila perlu cari tahu dari mana asalnya karena aku tidak terima jika ada orang yang berani mempermainkan ku seperti ini!!" Titah Alex kepada anak buahnya yang ketika itu tertunduk lemas
"Ba-ik tuan" jawab orang yang ada dihadapannya ketika itu masih dalam keadaan berlutut memberi hormat
Akan tetapi setelah mendapat perintah dari Alex tanpa pikir panjang dirinya langsung pergi dari hadapan bos besar yang masih duduk di sofa dengan penjaga dari manusia bertudung hitam yang berdiri disisinya.
BERSAMBUNG…
__ADS_1