
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Andika tiba di mobil tempat beny menunggu, sembari dikawal dua penjaganya. "Bagaimana?" tanya Beni sembari membuka kaca mobil. "Kita hanya diperbolehkan masuk tanpa kendaraan dan senjata" ujarnya.
"Baiklah" jawab Beni kemudian keluar dari mobil dengan santai sembari mengikuti langkah adiknya dari belakang.
Sementara itu untuk mobil dan senjatanya ditinggal begitu saja, bahkan pengawalnya pun tidak diperbolehkan ikut jadi yang masuk hanya Beni dan dika, dengan dipandu oleh penjaga mansion yang membawa senjata api di tangannya.
Mereka diantar hingga pintu masuk kemudian kedua penjaga tersebut menyerahkan lagi kerekan mereka yang memang setiap penjaga ditempatkan pada posisi berbeda jadi penjaga yang melindungi pintu masuk lah, yang mengantarkan mereka berdua sampai ke dalam
Mereka sudah berjalan selama 10 menit lamanya, sudah terbayang bukan bagaimana luasnya pekarangan mansion tersebut bahkan di halamannya pun sudah terlihat banyak sekali anak-anak yang sedang bermain.
"Apakah ini tempat penampungan anak?" tanya Beni yang berbisik kepada andika, dimana mereka sama-sama berdiri di depan pintu masuk, sembari menunggu penjaga itu berganti tugas.
"Tidak hanya anak-anak, bahkan lansia pun juga ada disini"
"Apa?!!" tersentak Beni terkejut ketika mendengar jawaban dari Andika. "Yah.. Pemimpin dari mansion ini adalah seorang putri dari pengusaha hebat, tidak hanya cantik tetapi dia juga memiliki hati yang baik, jadi dirinya disukai oleh orang banyak"
"Menurutku dia bodoh"
"Dia tidak bodoh, melainkan bijaksana" jawab Dika. "Tapi tetap saja, di zaman apocalypse ini merawat seorang beban bukanlah kebaikan melainkan kebodohan"
"Bukankah aku sudah bilang, kamu akan terkejut ketika sudah melihat bagian dalamnya"
Seketika Beni langsung terdiam ketika melihat di depan matanya sudah terbuka pintu masuk utama yang kini dibalik pintu tersebut telah terlihat seorang pria paruh baya tengah berdiri di hadapannya dengan pakaian jas berwarna hitam namun dari gayanya seperti seorang pelayan keluarga elite
"Silahkan masuk tuan muda" ucap pria tersebut kemudian berjalan lebih dulu dari Beni dan Andika sedangkan mereka berdua hanya mengikuti dari belakang
Sepanjang mereka menginjakkan kaki di dalam mansion itu terlihat begitu mega rupanya yang dimana-mana hampir ada interior berbahan emas dan silver, dan penampilan itu sudah selayaknya rumah bangsawan jadi yang dirasakan oleh Beni hanya ternganga kaget ketika melihat semua yang ada di depan matanya, kecuali Andika yang hanya tersenyum sembari menatap setiap sudut ruangan
"Di zaman apocalypse pun masih ada bangunan yang seperti ini" gumam Beni sembari memperhatikan sekitar. "Kakak tidak sadar kalau di tempat ini masih ada yang nama nya listrik" ujar Dika
Sontak Beni langsung melihat ke atas langit dan benar saja, di sana ia melihat bola lampu tengah bersinar yang menunjukkan kalau tempat tersebut masih memiliki energi listrik
"Bagaimana bisa!!" tersentak Beni terkejut ketika melihat pemandangan yang tak terduga itu. "Apa maksudnya ini!?!" tanya Beni pada adiknya lagi.
"Bagaimana apa kakak terkejut?" lanjut andika menyudutkan kakaknya. "Jelaskan"
"Pemimpin mereka selain bijak dan baik hati, dia juga adalah orang pintar nan cerdas, sehingga membangun hal seperti ini bukanlah perkara sulit untuknya"
"Apa kamu sudah mengenalnya lebih dekat?"
"Belum, hanya saja ketika melihatnya aku langsung tahu kalau dia adalah orang hebat yang bisa memimpin peradaban, jika kita dari segi kekuatan maka dia dari segi kemajuan, bukankah itu sinkron?"
"Orang seperti dia sangat dibutuhkan di masa depan" ujar Beni. "Yah.. Kakak benar"
***
__ADS_1
Setelah mereka berjalan di bawah naungan rumah besar itu, tiba mereka di pintu yang sangat dijaga, bahkan saking ketat keamanannya Beny dan Andika harus diperiksa ulang sebelum mereka diizinkan untuk masuk, karena menurut mereka keselamatan sang putri harus diprioritaskan
"Aku bingung dengan kekuatan yang mereka miliki, apakah mereka layak untuk di ajak aliansi atau tidak, itu tergantung dengan personal mereka?" batin beni yang masuk ke sebuah ruangan mewah sebelum dirinya mendapati seorang wanita tengah ngobrol di sofa dengan seorang pria muda yang mengenakan jas hitam yang biasanya digunakan oleh seorang pengusaha.
"Selamat datang dik dika, aku dan David sudah menunggumu sejak tadi" seruan dari gadis muda yang mungkin sepantaran dengan Beni. Sehingga kala itu beni hanya menyipitkan mata seraya memperhatikan keakraban dari wanita itu dan Andika
Sama halnya dengan Beni, wanita muda itu kini memperhatikan sosok beni yang berdiri dengan tatapan heran. Pandangan mereka saling bertemu satu sama lain untuk sesaat, bahkan Beni cukup terkesima dengan mata indahnya, tapi itu hanya sementara karena di hatinya sudah ada orang yang dia kagumi.
"Siapa kamu!!" rasa penasaran dari wanita itu diwakili oleh pria yang duduk di sampingnya sehingga pria tersebut berdiri dan menatap sinis ke arah Beni.
Sedangkan lawan bicaranya atau beni hanya menatapnya dengan tenang seraya mengerutkan kening seolah-olah bertanya, 'beraninya dia membentak ku'
"Perkenalkan dia adalah kakak kandungku yang pernah aku ceritakan, dan dia adalah perwakilan dari kamp selatan" potong dika yang mencairkan keadaan saat itu, karena dia merasa kalau keadaan sudah tak lagi kondusif
"Begitu yah" ujar pria itu yang mulai memandang rendah beni, tapi beni tidak menganggapnya karena merasa hal yang merepotkan tidak perlu di tindak lanjuti. "Lalu ada keperluan apa dik dika datang kemarin?" tanya wanita itu dengan tatapan hangat.
"Membahas mengenai kamp barat yang dikenal sebagai Devil"
"Kami sudah mendengar desas-desusnya yang mengatakan kalau mereka adalah kumpulan orang jahat, apakah itu benar?"
"Tepat, oleh sebab itu kami datang untuk meminta bantuan kepada kamp flower"
"Tidak!!" hardik pria yang berada disamping wanita itu. "Kenapa kak david?"
"Mereka terlalu berbahaya, aku gak mau sampai tuan putri terluka atau terjerumus ke hal yang berbahaya" ujarnya.
Sesaat pria itu terdiam sembari menatap wanita cantik di sampingnya dengan tatapan gelisah. Beni langsung bisa memperkirakan keadaan saat itu sehingga dirinya memulai membuka mulutnya. "Apakah kalian lemah?"
Tentu ucapan beni membuat pria bernama David itu naik pitam dan segera mencecar ucapan tajam kepada beni. "Apa maksudmu!!" hardiknya sambil menunjuk ke arah beni.
Beni yang ditunjuk hanya berjalan santai ke arah pria itu. "Apa kalian lemah, sehingga tidak punya potensi untuk melindungi diri?" jelas beni tersentak wanita itu hanya tersenyum.
"Bagaimana kalau misalnya, kita hanya kumpulan dari orang yang tidak memiliki bakat dalam berperang, Apa kamu tetap akan memaksa kami untuk berperang?!" tuturnya.
"Tuan putri, apa maksudmu dengan berkata seperti itu, kita tidak bisa memberitahu kepada mereka tentang kekuatan kita yang hanya sebatas-.." potong David.
"Ternyata kau orang pintar yah, nona" senyum Beni melambangkan rasa bangga. "Tentu saja aku tahu arah dari pembicaraanmu yang ingin melepas kawasan timur pada barat, bukan?, kamu tahu kami sedang diincar oleh mereka"
"Eh.. Ternyata kamu pintar" ujar beni membuat andika dan David hanya terperangah kaget, karena pembicaraan mereka sangat tidak bisa di mengerti sama sekali oleh mereka berdua.
"Jadi apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu?" tanya wanita itu
"Tidak banyak, hanya meminta kamu untuk membantu kami di pos medis, karena aku lihat disini masih menyimpan persediaan dari medical, aku tahu kamu pintar jadi aku akan langsung the to poin yaitu beraliansi lah dengan kami!!"
"Beraninya kau mengatakan hal tidak sopan kepadanya!!" bentak David sembari menunjuk ke arah beni. "David, tolong tenanglah.. Ada hal yang perlu kamu tahu, sebenarnya tempat ini sudah tidak aman lagi, kalau kita tidak beraliansi dengan mereka bagaimana mungkin bisa kita menghadapi kawasan barat seorang diri, apalagi di pihak sana hampir serupa dengan monster"
__ADS_1
"Tapi dengan orang seperti mereka tidak menjamin kalau kita juga akan menang"
"Kenapa kau ragu sobat?" tanya beni membuat David langsung bergidik ngeri, karena kala itu ia merasakan aura menekan dari beni yang diarahkan kepadanya, walaupun tidak semua, tapi David sudah mendapati tatapan sinis dari beni yang mana telah terbayang bagaimana buasnya sosok di depannya.
"Aku tidak peduli dengan diriku yang akan mati di pertempuran, tapi aku tidak bisa membiarkannya terluka"
"Apa yang kamu takutkan tidak akan terjadi" tegas Beni membuat David terkejut hingga memasang ekspresi tak menyangka.
"Bagaimana mungkin kamu bisa berkata seperti itu padahal hasilnya masih abu-abu"
"Karena aku bukan orang lemah, seandainya musuh di hadapanku ada puluhan pun bisa aku meratakan mereka dengan tekad"
"Apa yang membuatmu memiliki tekad itu?"
"Karena orang yang aku miliki hanya mereka, tiada mereka hidupku tidak berarti" jelas Beni. "Baiklah aku percaya denganmu, sobat" ujar pria itu mengulurkan tangan ke hadapan beni..
"Mohon bantuannya" balas beni menjabat tangan pria itu hingga dihadapan andika dan wanita cantik itu mereka saling berjabat tangan, yang membuktikan bahwasannya kerja sama Warz dan Flower sudah terjalin.
Setelah berjabat tangan beni kembali membuka suasana dengan pertanyaan singkat. "Siapa namamu?" pertanyaan itu merujuk pada wanita di samping pria yang kini berdiri di depannya
"Dik dika, apa kamu tidak memberi tahu kakakmu mengenai ku?" tanya wanita itu melemparkannya pada andika, sementara andika yang bingung hanya bisa mengangkat kedua bahunya.
"Baiklah perkenalkan namaku... " wanita itu berdiri dan mengulurkan tangan sama seperti yang dilakukan David kepada beni, tapi saat itu sambil diiringi oleh tutur kata lembutnya.
"Tiara"
"Aku Beni" ujar baliknya sambil menjabat tangannya suasana kembali normal setelahnya dimana mereka saling berbincang mengenai apa yang terjadi dan apa yang direncanakan oleh Devil sehingga seluruh kamp bertindak. Tentu itu pertanyaan bagi flower yang memang notabenenya adalah kumpulan orang netral yang tidak mau berperang
Karena ya memang dari sumber daya manusia mereka kurang mumpuni dan untuk persenjataan pun mereka juga sangat terbatas, jadi daripada berperang mereka lebih memilih untuk netral dan tidak berbuat macem-macem pada kawasan lain.
Namun entah apa yang terjadi nantinya tapi yang jelas ketiga kamp sudah beraliansi untuk mengalahkan kamp yang menduduki wilayah barat yang sering di sebut Devil
Mau itu dari sisi beni ataupun Bagus, apakah mereka sudah siap untuk bertarung melawan Alex yang di kadang-kadang memiliki kekuatan setara monster, namun bagaimanapun hasilnya itu masih misteri dari masa depan yang akan mereka terjang suatu hari nanti. Entah kapan tapi itu segera!!
Setelah pembahasan yang panjang akhirnya tiba di sesi pembicaraan yang serius diantara mereka. "Aku tidak tahu kenapa kamu seyakin itu ingin melawan mereka?" tanya Tiara
"Itu disebabkan oleh ambisi mereka yang dapat mengancam peradaban, tidak hanya kamu kami pun punya tanggung jawab untuk melindungi dan menjaga peradaban yang ada di kawasan kami"
"Lalu apakah kamu bisa menjamin keamanan ini?"
"Maaf jika saya lancang tapi menurut saya pribadi bahwa Beni tidak akan bertindak jika tidak memiliki rencana atau kartu As yang bisa menyaingi mereka, tuan putri"
"Kamu benar David, kami sudah merencanakan ini jauh-jauh hari, memang cukup sulit untuk melawan mereka tapi di lain sisi ada kelemahan dibalik kekuatan yang setara monster itu"
"Aku tidak tahu bagaimana kalian berpikir, tapi aku percaya dengan kemampuan kalian"
__ADS_1
"Terimakasih..." jawab Beni.
BERSAMBUNG...