
Sore itu sepulang kerja Alya benar pulang bersama Ben.
"Kamu benar tinggal di sini?". Tanya Ben, kompleks ini tentu tidak asing baginya.
Dia sudah banyak memiliki mantan kekasih di sana.. dan rata-rata penghuninya tetangga Alya yang masih kuliah.
"Iya Ben.. hmm mengapa muka mu menjadi pucat?". tanya Alya
"Nggak kok.. Oyah besok pagi aku jemput ya". Jawab Ben dengan cepat mengusap wajahnya.
"Nggak usah repot-repot Ben, aku pergi sendiri saja". Alya merasa tidak enak
"Pamali loh rejeki di tolak... Jam 07:30 ya aku tunggu di sini".
Alya memutar bola matanya "iya terserah aja deh".
"Kenapa sih jurus ampuh wanita selalu bilang terserah?". Tanya Ben sembari mengerutkan kening.
Alya mengangkat bahunya berpura-pura tidak tahu.
"Terimakasih ya buat tumpangannya, kamu hati-hati ". Ucap Alya kemudian membuka sabuk dan pintu mobil untuk turun.
"Ehmm.. Alya?" Panggil Ben.
"Yah.."
"Boleh aku minta nomor ponsel mu?". Ben memberikan ponselnya.
Alya mengambil lalu mengetikkan nomornya disana, "tuh.." Alya kembali menyerahkan ponsel Ben setelah memberikan nomornya.
"Thanks". Ben tersenyum senang.
"Oke.. byee". Alya melambaikan tangan.
Ben melanjutkan perjalanannya kembali ke rumahnya, sementara Alya juga segera menuju apartemennya..
"Dasar kau Ben buaya darat.." batin Alya, dipikirnya Alya akan luluh... Hahaha tidak akan terjadi hal itu, karena Alya hanya akan menganggap Ben sebagai partner kerjanya.
...........
Di apartemen setelah membersihkan tubuh, Alya terlihat sedang baring di kasurnya mencari tahu lagi seperti apa seorang Indra ini...
Lama Alya membaca artikel tentang Indra, kesimpulan yang bisa Alya pelajari ialah.. ternyata pria itu suka perlakuan manis dan tidak suka bantahan, dia juga membenci seseorang yang malas dan tidak di siplin waktu, tapi disini lain Indra juga memiliki sikap dingin tak tersentuh...
"Cukup menarik..." Ucap Alya kemudian meletakkan ponselnya untuk segera tertidur...
...****************...
Ke-esokan harinya..
Suara kicauan burung terdengar sangat indah, Alya kini sudah siap dengan setelan putih hitam juga sepatu fentopel di kakinya, tak lupa id card cantik yang melingkar di lehernya.
__ADS_1
"Fighting..." Alya bangkit berdiri sembari menyambar ponselnya di meja lalu keluar dari apartemen.
"1 pesan belum di baca". Kata yang tertera pada layar ponsel Alya ketika hendak membukanya.
"Pagi cantik.. aku menunggu di luar ya". Isi notif tersebut, tak lupa emot love dan emot senyuman.
Alya menggelengkan kepala sembari tersenyum "manusia satu ini benar-benar". Alya bergegas menuju ke mobil Ben.
"Makin hari makin Cantik aja". Ucap Ben merayu, posisi mereka sudah berada di dalam mobil menuju kantor.
"Benarkah, terimakasih Ben".
"Sama-sama, Oyah mengapa mengabaikan pesan ku?". tanya Ben
"Aku hanya malas mengetik.." jawab Alya singkat.
"Kalau begitu lain kali aku telfon, jangan bilang kau juga malas menerima panggilan telfon atau video call semacam itu ". tanya Ben memastikan
"Jika itu penting aku akan menjawabnya.."
"Menarik..." Jawab Ben.
Tak berselang lama mereka kini sudah tiba di Kantor...
"Pagi Misel". Ucap Alya pada Misel yang sudah lebih dahulu berada di meja kerjanya.
"Oh pagi Alya, kamu datang sama cowok itu?". Sambil melirik ke arah ruangan kerja Ben.
"Dia playboy, hati-hati dia sudah punya pacar bahkan cabangnya ada dimana-mana, kemarin aja aku lihat dia masih sempat ke bar bersama wanita lain". Ucap Misel.
"Kamu kenal dia?". Tanya Alya
"Dia tetangga aku". Sambil menghela nafas .
"Apa? Tapi kemarin dia nggak bilang kalian tetangga, malah sepertinya dia nggak kenal sama kamu?".
"Itu karena dia kurang peduli dengan sekitarnya, dia memang jarang melihat ku di rumah, hanya aku yang sering melihatnya dari jendela kamar, keluar setiap hari dengan wanita berbeda-beda ".
"Kentara sih dia playboy... Tapi sepertinya dia juga baik". Alya tersenyum.
"Baik dari mananya saat dia terus-menerus mempermainkan hati banyak wanita ". Misel seperti kesal pada Ben.
"Hahaha santai saja aku juga tidak tertarik padanya, dia hanya menawarkan tumpangan ".
"Ya ya dan kau mau menerimanya, sebentar lagi kau akan masuk jebakannya". Misel
"Semoga saja hal itu tidak terjadi ". Alya mengetuk-ngetuk kepalanya sambil berkata dalam hati "amit-amit dah pacaran sama playboy ".
Hari itu mereka sibuk-sibuk banyak hal yang mereka kerjakan, Hingga ternyata sudah waktunya untuk membawakan makan siang untuk tuan muda.
Sebelumnya Alya sudah memesan beberapa menu makanan ke kantin untuk tuan muda.
__ADS_1
"Misel aku permisi sebentar ya". Ucap Alya yang di jawab anggukan dari Misel yang masih fokus dengan komputer di depannya.
Setelah mengambil makanan di kantin Alya sekarang tepat berada di depan ruang tuan Indra..
"Huuuffff... Alya ayo.. pasti bisa.. senatural mungkin Oke, anggap saja ini hal biasa". Sungguh Alya mendadak merasa cemas dan sedikit takut.
"Tok..tok..tok.."
"Masuk!". Ucap Junsen dari dalam.
"Permisi pak saya membawa makan siang untuk tuan muda ". Ucap Alya
"Silahkan ". Junsen memberikan instruksi untuk segera menata makanan tersebut di atas meja.
Sementara tuan Indra masih asik dengan sambungan telponnya, posisinya menghadap ke luar jendela dengan satu tangan menggenggam telfon di telinga dan tangan yang lain di masukkan ke dalam saku celana.
Tidak lama Indra membalikkan badan dan "deg..." Wanita parasit lagi pikirnya.
Indra mematikan sambungan telponnya, keningnya masih mengerut melihat kehadiran Alya disana.
"Silakan tuan, menu makan siang hari ini adalah sandwich daging, kimbab, steak salmon dan udang tempura, ada juga tumis brokoli di campur wortel kesukaan tuan muda". Jelas Alya,
Menu makan siang tuan muda sederhana saja tidak terlalu mewah seperti kebanyakan orang kaya lainnya.
"Kau ahli Gizi yang di tunjuk Bu Rika?". Tanya Indra.
"Benar tuan". jawab Alya sembari menunduk
Indra tersenyum miring "masih ingat dengan ku?". Tanya Indra.
Junsen mengangkat kepala berusaha mengingat wajah wanita itu... Tidak lama dia juga mengingat kejadian di malam hari saat mereka hampir menabraknya di jalan.
"Ah.. mungkin tuan salah orang.. saya.."
"Junsen kau ingat wajahnya?, Dia tampak tidak asing bukan?". Indra melirik ke arah junsen.
"Benar tuan, dia wanita yang sempat kita bawah pulang ke mansion Minggu lalu.." Jansen menjawab dengan tatapan tajam pada Alya.
"Tamatlah riwayat ku.." batin Alya mulai kepanasan.
"Junsen pastikan AC nya dingin, sepertinya ada yang mulai kepanasan.." Indra melipat tangan di dadanya sembari tersenyum penuh kebencian.
"Emm.. tu.tuan makanannya akan segera dingin jika tuan tidak makan sekarang". Alya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kau bisa membuatnya lagi bukan?". Jawab Indra terlihat santai namun seperti ingin mempermainkan Alya.
"Tapi tuan..."
bersambung....
lanjut besok ya guys 🥰
__ADS_1