
"Matilah aku". Alya bergumam dengan sedih.
"Kenapa?". Tanya Misel.
Alya segera duduk lagi "tidak apa-apa... Aku akan belajar setelah ini". Jawab Alya
Dia mulai mengerjakan sisa laporan yang harus mereka bahas besok dengan teliti.
Pikiran Alya menjadi benar-benar buntu, dia tidak bisa berfikir dengan jernih, Alya sudah beberapa kali membaca laporan tersebut namun dia sama sekali tidak bisa memecahkan dan menganalisa laporan itu...
"Sepertinya aku harus ke perpustakaan". Gumamnya kemudian mengambil laptop pribadinya untuk mengerjakan laporan tersebut di perpustakaan.
Alya juga harus mencari lagi buku penuntun agar laporannya segera selesai.
Di perpustakaan...
Alya mulai mencari-cari di setiap rak buku-buku tentang investasi, persen dan buku-buku mengenai bisnis investor...
Alya memborong semuanya lalu menaruhnya di atas meja
Tumpukan buku itu membuat Alya kelelahan sendiri melihatnya "apa aku harus membaca semua ini". Gumamnya pelas dengan raut wajah frustasi.
Alya bukan tipe orang yang suka membaca buku apalagi jika itu tentang materi dan lainnya, Alya lebih menyukai membaca novel romantis dari pada membaca buku tentang peluang bisnis.
"Hey cantik..." Ben datang menyapa, dia juga membawa segelas kopi americano dingin untuk Alya.
"Hey Ben". Jawab Alya dengan senyuman..
"Kau terlihat lelah sekali.. kantung mata mu juga menghitam.. apa kau jarang tidur?". Tanya Ben dia duduk di hadapan Alya sembari menyalakan juga labtop nya, mungkin dia juga ada pekerjaan penting yang harus melibatkan perpustakaan untuk mencari buku-buku penunjang lainnya.
"Ya begitulah" . Jawab Alya dengan nada malas seperti loyo..
Bagaimana tidak, semalam baru saja dia mengahadiri pesta pernikahannya dan sekarang dia masuk kerja di tambah besok harus meeting... Sungguh tidak ada sama sekali jam istirahat.
"Apa saja kerjaan mu, mengapa jarang istirahat?". Tanya Ben.
"It..itu.. hmm aku hanya menonton drama sehingga lupa beristirahat ". Dusta Alya, tidak mungkin jika dia mengatakan yang sebenarnya.
Ben menggelengkan kepala "kebiasaan para wanita.. apa bagusnya menonton drama yang isinya pria plastik". Jawabnya
"Ssstttt... Mana ada pria plastik.. jangan ngasal bicara ". Alya memutar bola matanya kesal, meskipun dia sama sekali tidak menonton drama .
"Itu kenyataannya... Oyah sedang apa, trus buku sebanyak ini untuk apa?". Tanya Ben sembari mengambil lalu membuka-buka buku yang Alya tumpuk di meja
__ADS_1
"Aku sedang mempersiapkan materi meeting untuk besok". Alya bermuka lelah melihat tumpukan buku itu.
"Coba ku lihat". Ben bangkit lalu berdiri tepat di samping Alya membaca materi yang dia ketik di labtop.
"Perusahaan farmasi crown prince... Analisis data... Pratinjau keuangan.." Ben membaca sembari mengangguk-angguk.
"Jujur aku sangat bingung, aku juga tidak tau untuk pemaparan materi besok". Alya memijat-mijat kepalanya.
"Apa kau tidak mencoba mencari contoh laporan seperti ini di gudang... Mungkin saja ada?". Ben memberikan solusi.
Alya berfikir sejenak "iya ya.. kenapa aku tidak berfikir seperti itu ". Gumam nya.
"Mau ku temani mencari di gudang?". Ben menawarkan.
"Boleh, tapi bagaimana dengan kerjaan mu?". Tanya Alya.
"Pekerjaan ku kurang lebih sama dengan pekerjaan mu, aku juga berencana untuk mencari contoh laporan di gudang". Jawab Ben.
"Memang apa yang kau kerjakan?". Tanya Alya.
"Aku di minta perusahaan untuk mencari dokumen karyawan yang pernah menangani laporan keuangan kantor tahun 2015, dan materi selanjutnya adalah menghitung ulang dan membandingkan persentase keuntungan perusahaan, membosankan sekali ". Jawab Ben memutar bola matanya.
Tugas Ben sebagai karyawan training yaitu untuk membandingkan berapa persen keuntungan perusahaan yang telah di peroleh pada tahun 2015 dan data tersebut akan di bandingkan dengan yang sekarang.
Mereka harus meminta izin sekaligus meminta kunci gudang di resepsionis perusahaan.
"Perusahaan sepertinya sedang menghukum karyawannya". Gumam Ben kemudian mereka berdua tertawa..
Misel melihat Alya dan Ben sedang berjalan ke arah gudang ia irih akan hal itu "mengapa mereka semakin dekat". Kesalnya dalam hati
Bukankah salahnya sendiri yang terlalu introvert, pemalu dan tidak tahu bergaul.
Ben membuka pintu gudang...
Mereka masuk lalu terdiam sejenak memandangi rak dengan tumpukan dokumen yang begitu banyak, Alya bahkan berfikir apakah itu gudang atau perpustakaan kedua, mengapa begitu banyak dokumen.
"Lupakan saja, kita bisa sampai malam disini jika harus mencari dokumen nya". Ucap Ben, dia sepertinya sudah membayangkan dirinya mencari satu dokumen disana..
"Ini ibaratkan kita mencari jarum di bawah tumpukan jerami". Alya menjatuhkan dirinya di bawah lantai, belum mencoba mencari namun sudah lelah duluan.
"Kau benar". Ben setuju..
"Hey jangan malas-malasan, aku siap membantu kalian". Misel masuk dengan memasang wajah ceria.
__ADS_1
Alya dan Ben menoleh ke arah pintu, Ben mengertukan keningnya " apa dia memang berdandan secantik itu tadi?". Batin Ben.
Yah setelah melihat Alya dan Ben menuju Gudang, Misel mengambil lipstik dari tasnya beserta bedak lalu mengoles nya tipis-tipis di wajah dengan maksud untuk menarik perhatian Ben.
"Misel kau serius akan membantu kami?". Tanya Alya antusias
"Yaps .." jawab Misel jangan lupakan dengan senyuman yang tidak pernah pudar di wajahnya
"Ada apa dengan mu?". Ben bertanya heran, kenapa dia terus-menerus tersenyum padahal tidak ada yang menarik di gudang.
Misel sontak menurunkan bibirnya hingga berwajah datar seperti biasanya.
"Tidak ada". Jawabnya kesal.
Alya tau Misel sedang berusaha menarik perhatian Ben namun Alya juga tau Ben tidak tertarik sama sekali pada Misel.
"Hey aku akan mulai mencari di sini, Misel dan kau Ben bisa mencari di rak sebelah sana". Ucap Alya mulai mencari-cari di rak dekatnya.
"Oke". Jawab Ben .
Alya mengirimkan kode pada Misel agar memanfaatkan peluang tersebut, Misel mengerti tapi dia malu, mereka terus berinteraksi di belakang Ben dengan bahasa isyarat.
Ben sudah mulai mencari-cari namun Misel masih sibuk memikirkan bagaimana menarik perhatian Ben selanjutnya.
Keajaiban datang dengan sendirinya...
Ben tidak sengaja menarik dokumen di bawah tumpukan karton dan hal itu mengakibatkan karton di atasnya hilang keseimbangan sehingga berjatuhan dan hal itu mengenai Misel...
"Aduh..." Misel merintih, meskipun karton tersebut hanya berisikan kertas-kertas sampah yang tidak terlalu berat
"Kau tidak apa-apa". Ben tertunduk sembari mengusap kepala Misel dengan pelan.
Merona merah... Misel sudah seperti kepiting rebus.
Misel menggelengkan kepalanya matanya tidak berhenti berkedip memandangi Ben.
"Kau yakin". Ben memastikan.
Alya datang mendekat "Hmm... Ben sepertinya Misel perlu di bawah ke UKS, kepalanya pasti sangat sakit iyakan Misel". Alya kemudian mengedipkan sebelah matanya ke arah Misel.
Misel paham akan hal itu lalu mengangguk "kepala ku pusing sedikit". Ucapnya padahal dia sungguh tidak kenapa-kenapa.
BERSAMBUNG
__ADS_1