
Posisi di ruang Junsen
"Ada apa?". Tanya junsen, dia sepertinya adalah orang yang paling sibuk dari semua karyawan di kantor ini..
Terlihat begitu banyak laporan di mejanya dan wah... Ruangan junsen begitu aesthetic, dengan buku-buku yang tertata rapi di sudut-sudut ruangan tampak sangat indah, rapi dan bersih.
"Anu.. emm Laporan kemarin pak". Alya terlihat gugup .
Junsen mengangkat kepalanya, menatap Alya dengan malas.. haruskah dia lagi yang di minta untuk membereskan masalah itu..
"Selesaikan segera dan bawah kemari setelah sejam, aku sedang sibuk!".
"Ba..baik pak.. tapi.."
"Tapi apa lagi...?". Kesal junsen, menoleh dengan malas.
"Saya tidak mengerti bagian mana yang harus di revisi ulang pak?". Tanya Alya hati-hati.
Junsen menarik nafas lalu membuangnya dengan kasar, kemudian melihat hanya sekilas laporan tersebut, ternyata tidak begitu sulit "revisi ulang desainnya, tinggal bagian belakang ". Ucapnya.
"Bagian yang ini pak?". Tanya Alya memastikan.
"Menurut mu?". Ketus junsen.
"Ah ya saya mengerti, terimakasih pak". Alya segera beranjak, takut jika ia menemui Omelan Junsen .
Ia keluar menuju ruangan nya namun di tengah jalan Alya menerima panggilan dari nomor baru.
"Siapa?". Gumam nya kemudian dengan ragu mengangkat telepon.
"Halo selamat siang?". Ucap Alya sopan.
"Ke ruangan ku segera!!". Ucap Indra lalu segera memutus sambungan telepon.
"Dasar menyebalkan... Uhhh pekerjaan ku banyak! Waktu juga belum menunjukkan jam makan siang tuan muda !!". Alya menggerutu.
Tapi mau bagaimana lagi, dia tetap harus menemui bos rese nya itu.
"Permisi Tuan, anda memanggil saya?". Ucap Alya takkala berada di ruang Indra.
"hmm... ". Indra menyondorkan surat ke hadapan Alya dengan senyuman sinis.
"Tak ku sangka kau ternyata begitu boros". Ucap Indra, surat itu berisi rincian belanjaan Alya hari ini yang sudah mencapai 30jt berserta barang-barang online lainnya.
"Maaf tuan". Alya tertunduk malu.
__ADS_1
"Kau bahkan belum beberapa jam bekerja dengan ku, tapi pengeluaran mu sudah sebanyak itu CK..CK..CK ". Ucap Indra .
Sebenarnya Indra tidak bermasalah sama sekali dengan hal itu, hanya saja dia mencari-cari alasan agar dapat mengerjai Alya.
"Maaf tuan ". Hanya maaf saja yang Alya ucapkan, jika pun Alya membela diri, bukankah dia tidak memiliki hak itu lagi .
"Kau lupa dengan perjanjian yang lainnya? Ataukah kau tidak membaca seluruh isi kontrak?".
"Sudah tuan". Ucap Alya .
"Bagus! Seperti yang sudah kita sepakati bersama ". Indra menjeda kemudian bangkit lalu mengelilingi Alya...
"Kau harus menuruti semua yang aku katakan bukan... Hmm tidak adil rasanya jika kau dengan laparnya menghabiskan uang ku sementara aku tidak mendapatkan apa-apa". Ucapnya.
"Maksud tuan apa?". Alya takut kalau-kalau Indra berbuat hal di luar nalar.
Indra mengamat-amati lekukan tubuh Alya, bahkan dari kaki hingga ujung rambut, tidak ada kecacatan atau bekas-bekas gigitan nyamuk di sana, tubuh Alya memang bagus, putih bersih dan bagian atas berisi.. sangat bagus dan ideal.
"Tuan jangan bilang kalau..."
"Sssttt.... Singkirkan pikiran kotor mu itu, aku bahkan tidak sudih menyentuh mu". Sela Indra.
Alya bernapas lega, ternyata dugaan nya salah, dan itu bagus karena Alya takut Indra meminta hal aneh apa lagi Alya masih perawan.
"Kau boleh juga..." Ucap Indra sembari mengangguk -ngangguk
"Ikut dengan ku ke Amerika selama 3 hari!!". Jelas Indra
"What... ta..tapi".
"Sssttt ... Masih ingat kontrak?". Indra bertanya sinis
Alya mengangguk pasrah "untuk apa kita ke Amerika tuan?". Tanya Alya .
"Ada urusan, kau ikut saja tidak perlu banyak protes!!". Jawab Indra.
"Baik tuan".
"Apa kau punya pasport ke luar negeri?". Indra kembali duduk di kursinya menatap Alya yang masih berdiri bak patung.
Alya menggeleng "tidak ada tuan".
Boro-boro ada pasport, hey kalian tau Alya tidak pernah pergi kemana-mana selama hidupnya, bahkan ia hanya hapal beberapa jalanan di Jakarta, itupun saat ia bekerja di laundry .
Selama ini Alya di kurung di rumah bahkan saat kuliah banyak teman Alya yang ingin mengajaknya keluar namun Alya menolak karena takut pada Bu Nensy.
__ADS_1
"Oke.. pergilah dengan junsen, untuk mengurusnya segera, besok malam kita sudah harus berangkat!".
"Hah!!".
"Cepat!!". Indra bernada dingin seolah tidak ingin lagi mendengar bantahan atau pertanyaan lain.
"Baik tuan ". Alya mau tak mau menurut saja,
sementara itu Junsen sudah menerima perintah Indra untuk berangkat bersama Alya membuat pasport.
Di dalam mobil...
"Pak boleh saya bertanya?". Alya memberanikan dirinya.
"Katakan ". Jawab junsen.
"Apa sebenarnya yang akan tuan muda kerjakan di Amerika sehingga memanggil saya untuk ikut serta bersamanya, jika itu mengenai pekerjaan bukankah masih banyak senior lainnya yang lebih unggul dari saya?".
"Itu rahasia tuan muda, nona hanya perlu ikut aturannya ". Junsen menjawab dengan dingin.
"Manusia satu ini lama-lama sama menyebalkan nya dengan si yang mulia tuan Indra, dih menyebut namanya saja entah mengapa membuat ku kesal". Entahlah Alya semakin hari nampaknya semakin kesal, bahkan di balik senyuman nya yang lembut dan manis terlihat, menyembunyikan banyak sekali umpatan kedengkian dalam hati.
Alya membuang pandangannya ke jendela mobil, tak sengaja dia melihat pedagang kaki lima yang menjual es keliling...
Seorang bapak-bapak itu juga membawa anaknya yang kira-kira berumur 5th bersamanya, keduanya sedang berteduh di bawah pohon pelindung yang ada di sebrang jalan, karena hari sangat panas.
Senyum terukir di wajah Alya saat melihat bapak tersebut bercanda ria dengan anaknya dalam kesederhanaan... Hal yang pernah dulu ia dapatkan sewaktu kecil dari seorang ayah namun ketika ayahnya menikah lagi semuanya perlahan menghilang begitu saja..
Tidak ingin berlarut dalam lamunan masa lalu, Alya kembali membuka topik, sangat tidak enak rasanya ketika terjadi keheningan di dalam mobil.
"Pak junsen boleh aku bertanya lagi?".
"Katakan!". menjawab dengan datar
"Sudah berapa lama anda bekerja dengan tuan Indra?". Alya
"mungkin Sekitar 8th". Jawaban singkat.
"Pasti banyak proses yang sudah anda lalui bersama, bahkan untuk berada di posisi bapak saat ini pasti tidaklah mudah... Hmm mengenai hal itu saya menjadi penasaran dengan upah yang di berikan tuan muda, saya juga penasaran dengan jam istirahat bapak?.. hmm pasti hanya sedikitkan karena jadwal yang padat ". Tanya Alya.
"Mengenai Upah yang saya dapatkan, sepertinya itu privasi, dan jam istirahat itu juga privasi!". Jawab junsen dengan datar.
"Sudah ku duga, aku akan mendapatkan jawaban seperti ini ..." Batin Alya berteriak kesal.
"Hmm baiklah maafkan saya pak". Jawab Alya..
__ADS_1
Alya kembali membuang pandangan nya ke luar jendela hingga mereka sampai di tempat pembuatan pasport.
Next...