Tuan Muda Menyebalkan

Tuan Muda Menyebalkan
tiba-tiba membeli hadiah


__ADS_3

Diam-diam Alya menangis di atas mobil, dia sama sekali tidak ingin menikah dalam waktu dekat ini, dia mempertaruhkan hidupnya untuk keluar dan pergi dari rumah hanya untuk menghindari perjodohan lalu...


Semudah itu Indra mengatakan untuk menjadikan dia sebagai istri, tidak... tidak ini di luar ekspektasinya dia tidak ingin hal itu terjadi.


Tapi bagaimana dia akan membatalkan hal ini, sementara laki-laki yang dia hadapi sangat berkuasa, dia bisa melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya.


Masalah kedua pun muncul, bagaimana Alya akan menjelaskan hal ini kepada keluarganya, sementara dia sendiri sudah keluar dari rumah.


Alya merasa frustasi, Masalah tidak pernah berhenti datang menghantuinya, apa dewasa harus sekejam itu?, lalu kapan Alya bisa memilih kehendaknya sendiri.


Indra melirik Alya sekilas yang sedang menangis memandangi jendela mobil.


Sejujurnya Indra juga tidak ingin tapi rasa egois itu lebih dominan, Indra bukan tipe orang yang suka menjilat ludahnya sendiri, dan apa yang sudah ia katakan sebisa mungkin hal itu harus terbukti nyata.


Mobil tiba di hotel, tanpa aba-aba Alya dengan kasar keluar dan berlari masuk ke dalam tanpa memperdulikan lagi tuan Indra juga junsen.


Junsen ingin mengatakan sesuatu namun Indra mengirim kode agar tetap diam dan membiarkan Alya sendiri dulu.


"Dia pasti sangat tertekan.. sial apa aku harus setega ini sekarang! hanya untuk balas dendam sakit hati pada Celine, apa aku harus mengorbankan orang lain juga". Batin Indra merasa tidak enak.


Iya berjalan lunglai ke dalam hotel di, pikirannya kacau sangat kacau balau...


Junsen menatap punggung Indra dengan sedih, hari ini terukir lagi sejarah di mana ia melihat betapa menyedihkannya tuan muda saat-saat di lema seperti itu dan satu-satunya cara untuk mengembalikan mood dan membuat Indra lupa sementara permasalahan itu adalah minuman keras.


Junsen merogoh saku celananya, ia kemudian menghubungi seseorang untuk datang membawakan 10 botol wine.


Sementara itu di kamar, Alya menangis sejadi-jadinya, dia mengutuki semua orang yang pernah dia kenal..


Sesak.. sakit dan rasa ingin mati bercampur di kepala Alya, dia tidak ingin ini semua meskipun dia sedikit memiliki rasa kepada Indra namun itu tentu bukanlah rasa cinta melainkan rasa kagum pada sosok yang masih muda, dan sudah masuk dalam jajaran orang berpengaruh di Indonesia.


Semalaman Alya hanya menangis, menangis dan menangis sejadi-jadinya, dia juga tidak mood untuk sekedar makan.


Matanya menjadi bengkak dan suaranya ikut serak...


Semalam ia tidak tidur sama sekali, kelelahan menangis membuatnya tidur begitu saja di ranjang hingga pagi rasa kantuk menyerang...


Dia bahkan enggan untuk di bangunkan meskipun ada ketukan pintu dari luar dan terus memanggil namanya.

__ADS_1


Junsen berbalik kemudian menggelengkan kepala pada Indra.


"Masih tidak ada jawaban?". Tanya Indra yang sedang melipat tangan di dadanya .


"Mungkin dia masih butuh waktu, jangan lupa beritahu dia kita kembali ke Indonesia besok pagi-pagi sekali". Ucap Indra kemudian ia pergi .


"Baik tuan". Junsen menjawab.


Indra keluar dari hotel dan mengemudi sendiri, setelah menghabiskan malam dengan minuman alkohol bersama junsen..


Semalam Indra juga menceritakan semua hal yang membuatnya mengambil keputusan untuk menikahi Alya, junsen menyimak dan hanya diam saja.


Dia tau rasa sakit tuan muda, penantiannya selama belasan tahun sia-sia, dan dia juga mengerti jika Alya hanya akan ia jadikan sebagai alat untuk menyakiti perasaan Celine..


Hanya itu saja yang terlintas di pikiran Indra, dia ingin mengubur dan melupakan Celine dengan melibatkan Alya dalam hidupnya..


Indra berhenti di toko kue coklat, dia melihat beberapa coklat dan bermaksud untuk memberikannya pada Alya sebagai ungkapan maaf...


Indra masuk ke dalam toko coklat itu dengan perasaan senang, dia teringat bagaimana dulu ia selalu menghibur Celine dengan coklat saat wanita itu sedang cemberut, dan bodohnya Indra menyamakan hal itu dengan Alya.


Usai membeli semuanya Indra juga membeli beberapa buket bunga, dan boneka dia berharap Alya menyukai hal itu...


Waktu berlalu dan Indra memilih untuk kembali ke hotel...


"Bagaimana apa dia sudah mau keluar?". Tanya Indra, ternyata junsen juga sudah berada di depan kamar Alya untuk membangunkannya lagi.


Junsen menoleh menatap tuannya dengan heran, junsen menaikan sebelah alisnya "tidak biasanya seperti ini". Batin junsen saat melihat Indra sedang menenteng buket, paper bag dan boneka beruang besar...


Indra mengertukan keningnya, sembari menatap tajam seolah mengatakan pada Junsen "kenapa kau menatap ku seperti itu? Apa ada yang salah".


"Ehmm.." Junsen berdehem.


Sungguh ini pertama kalinya junsen melihat kekonyolan Indra yang terkesan dingin dan cuek " bisa juga tuan muda bersikap romantis ternyata ". Batin Junsen.


Melihat tatapan aneh Junsen membuat Indra tersadar siapa sebenarnya dirinya, masa iya dia melakukan hal itu kepada bawahnya hanya untuk menghibur...


Setelah Indra mengingat-ingat lagi, Ia menjadi malu lalu memasang muka datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan hah! Ini berikan padanya dan paksa dia untuk makan, aku tidak mau sekembalinya ke Indonesia dia jadi kurus kering dan penyakitan". Indra memberikan semua barang bawaannya kepada junsen.


"I.iya tuan". Junsen menerima semua itu sedikit kesulitan.


Segera Indra berbalik badan dan pergi lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Sial... Apa yang tadi itu diri mu hah!". Batin Indra merasa aneh saja pada dirinya.


Alya akhirnya membuka pintu setelah berulang kali Junsen mengetuknya.


Junsen khawatir melihat mata Alya yang bengkak parah serta wajahnya yang pucat..


"Nona tidak apa-apa?". Tanya junsen.


Alya diam saja menatap kosong ke depan..


"Nona pasti lapar... Hmm saya akan


menghubungi pihak hotel agar memberikan layanan kamar". Ucap Junsen namun Alya tetap diam, entahlah dia sangat malas mengeluarkan suara sekarang.


"Oh iya ini untuk nona.. " junsen memberikan coklat, bunga' serta boneka kepada Alya


Alya melihat dengan malas "aku tidak sedang ulang tahun". Alya menjawab dengan nada datar


"Ini dari tuan muda sebagai permintaan maafnya ". Jelas junsen.


"Aku tidak perduli ". Alya membalikkan badan meninggalkan Junsen, beruntung dengan sigap junsen menghalangi pintu dengan kakinya saat Alya hendak menutupnya.


"Saya akan menaruhnya di sini nona". Ucap Junsen kemudian meletakkan semua barang-barang itu dia atas kasur.


Tidak berselang lama pelayan hotel datang membawa beberapa makanan seperti yang Junsen pesan.


"Silahkan di nikmati nona, saya akan keluar". Junsen meninggal Alya dan membiarkan dia sendiri..


Next...


happy reading guys...

__ADS_1


__ADS_2