
Indra kemudian menelfon junsen..
"Panggil parasit ke ruangan ku!". Ucap Indra di balik telfon.
"Maaf tuan nona baru saja pulang, beliau mengatakan akan pergi bersama temannya ke salon". Jawab junsen.
"Apa!! Kapan? Mengapa tidak meminta izin dari ku dulu!!" Bentak Indra.
"Maaf tuan, tadi nona sedikit buru-buru, saya juga lupa memberitahu anda". Jelas junsen.
"Dasar ceroboh! Dengan siapa dia pergi... Teman yang mana hah!". Tanya Indra dia sudah mencengkram pulpen di tangannya.
"Dengan wanita yang selalu bersamanya tuan, nona Misel namanya". Jelas junsen.
Indra mengangguk-angguk "baiklah ". Segera panggilan telepon di matikan.
"Awas saja kau domba kecil, akan ku terkam kau dan melahap mu hidup-hidup ". Geram Indra sembari memijat-mijat keningnya.
Waktu pun terus berjalan, waktu sudah menunjukkan sore hari saat untuk kembali ke mansion.
Lama Indra menunggu Alya waktu sudah menunjukkan malam saat untuk makan malam bersama.
Di meja makan.
"Kemana istri mu? Sudah dua malam dia tidak ikut makan malam?". Tanya Bu vanessa.
"Aku akan mengurusnya ". Indra hanya memakan buah lalu pergi...
Bu Vanessa dan Katrin memandang dengan kecewa, dan hal itu sukses menambah kebencian mereka terhadap Alya...
Sesaat setelah Indra masuk ke dalam kamar akhirnya Alya sudah tiba di mansion...
"Selamat malam nona muda silahkan". Pak Yen menyambut.
"Terimakasih pak Yen, Oyah ini untuk bapak". Alya memberikan hadiah yang dia beli tadi di luar bersama Misel.
"Tidak perlu nona". Tolak pak Yen.
"Tidak apa-apa pak". Alya memaksa
"Baiklah, terimakasih nona". Pak Yen akhirnya menerima hadiah tersebut meskipun agak ragu.
"Dari mana saja kamu, jam segini baru ada di mansion?". Ucap Bu vanessa dengan nada marah datang menghampiri Alya.
"Tadi ada urusan sebentar di luar nyonya". Jawab Alya.
"Urusan? Apa kau pikir setelah menjadi Istri Indra kau harus seenaknya di sini begitu!". Ketus Bu vanessa.
"Maaf nyonya ".Alya merasa sangat bersalah.
__ADS_1
"Wah rambut mu sepertinya baru, apa kau baru pulang dari salon?". Bu vanessa semakin geram
"Hmm it..itu maaf nyonya, tadi saya mengatar teman saya ke salon sekalian.."
"Alasan!!". Bu vanessa segera menyela.
"Apa kau hanya ingin memanfaatkan anak saya? Cih... Ingat kau bukan siapa-siapa di sini, jangan bertingkah melebihi batas!!". Bu vanessa pun pergi dengan sorot mata tajamnya.
Alya tertunduk, matanya sudah berkaca-kaca sekali, seadanya Misel tidak mengatakan akan melakukan perawatan rambut mungkin mereka tidak akan lama tadi..
Karena tujuan mereka awalnya hanyalah untuk spa, namun semuanya berubah ketika mereka tiba di salon.
Alya melangkahkan kaki menuju ke kamar, dia gemetaran tapi dia tetap harus melangkah maju
"Huuuffff tenang Alya, Omelan adalah sarapan dan makan malam untuk mu, tidak perlu di tanggapi lagi". Batin Alya kemudian terus melangkah.
"Terimakasih pak". Ucap Alya ketika pak Yen berhenti di ujung tangga mengantar Alya.
"Silahkan nona". Pak Yen menundukkan kepala.
Alya segera masuk ke dalam kamar, di sana sudah ada Indra yang menunggunya untuk kembali...
"Matilah aku, aku pasti akan di bunuh". Batin Alya mulai cemas saat mendapati tatapan tajam dari Indra.
"Selamat malam tuan". Ucap Alya dengan ragu juga takut, nada bicaranya gemetar.
"Sa..salon tuan". Jawab Alya sembari menundukkan kepala..
"Apa ke salon memakan waktu sebanyak itu?". Tanya Indra masih dengan nada marah.
"Ma..maaf tuan".
"Mulai sekarang kau tidak boleh keluar! Selain untuk ke kantor selebihnya kau harus tetap di mansion..." Ucap Indra tegas.
"Ba..baik tuan saya mengerti ". Alya mengangguk saja, jika tidak dia pasti akan mendapatkan amukan.
Indra melangkah mendekati Alya " Oyah semua akun yang kau miliki harus di blokir!". Ucapnya.
Alya mengangkat kepalanya menatap Indra dengan heran "kenapa?". Seolah itu yang akan Alya katakan sebagai bentuk protesnya.
"Itu hukuman karena kau tidak berpamitan jika keluar". Jawab Indra.
"Tapi tuan.. saya memiliki banyak kenangan di Instagram.. ". Jawab Alya sedih, sebenarnya Alya membuat akun Instagram itu untuk menyimpan setiap momen berharga yang dia lewati.
"Kenangan? " Indra tersenyum miring mendengar ucapan Alya, dia berfikir kenangan itu ada kaitannya dengan komentar mantan Alya.
"Oh jadi Maksud mu kau memiliki kenangan dengan mantan pacar mu begitu?".
"Bukan begitu tuan".
__ADS_1
"Lalu apa? Kau tidak ingin menghapusnya bukan?". Indra mendekati Alya semakin intens.
"Baik tuan saya akan memblokir akun saya". Karena takut Alya mau tidak mau harus menurut saja.
"Bagus.. lakukan sekarang". Jawab Indra.
"Baik tuan". Alya segera mengambil ponselnya kemudian memblokir semua akun media sosial miliknya.
"Menyebalkan sekali... ". Gerutu Alya kesal dalam hati.
"Sudah tuan". Ucap Alya sesaat setelah ia selesai memblokir semua akun media sosial nya
"Oke, kau boleh membersihkan diri mu sekarang". Indra mempersilahkan Alya ke ruang ganti.
"Baik tuan". Alya melangkah...
Setelah selesai Alya kembali masuk ke dalam kamar, dia melihat Indra sedang duduk bersandar di ranjang sembari memainkan ponselnya.
Alya melangkah pelan lalu menarik selimut untuk berbaring di samping Indra.
"Apa saja kegiatan mu hari ini di salon?". Tanya Indra namun pandanganya tidak beralih dari ponselnya.
"Spa dan melakukan perawatan rambut tuan". Jawab Alya dengan nada malas, sepertinya dia sudah mengantuk berat
"Apa! Spa?". Indra berhenti dari layar ponselnya kemudian menatap Alya dengan tajam.
"Benar tuan..." Alya menjawab sembari menguap, dia mengantuk sekali.
"Cih.. jadi kau membuka baju mu di depan orang lain begitu?... Lalu kemarin kau bilang kau tidak terbiasa". Indra membuang pandangan nya kesal.
"Di ruang spa hanya ada perempuan tuan... Huaaaa". Alya menguap lagi sembari mengucek mata nya, dia benar-benar kelelahan.
"Meskipun perempuan kau dilarang keras membuka bajumu kecuali di hadapan ku, mengerti!!". Kesal Indra.
Indra mengertukan keningnya saat tidak mendapatkan jawaban dari Alya "apa kau tidak deng..." Indra berhenti berbicara saat melihat ternyata Alya Sudah terlelap.
"Cih... Kau bahkan sudah berani tidur mendahului ku!!". Indra kesal namun dia juga bersimpati untuk menyelimuti sedikit kaki Alya yang terbuka.
Lama Indra menatap Alya yang sedang tertidur dengan pulasnya, wajahnya tampak tenang sekali...
"Apa kau sangat kelelahan hari ini honey?". Indra mengecup pipi serta kening Alya.
"Tidurlah, aku tidak akan menganggu". Bisik Indra lalu mengambil remote untuk memadamkan lampu dan menyalakan lampu tidur.
Dia juga menyingkirkan guling yang berada di tengah lalu memeluk Alya dengan erat.
Ada perasaan tenang saat Indra melakukan hal itu, fiks sekarang Indra mengaku kalah, dia jatuh cinta pada istrinya padahal dia sendiri yang sok-soan cuek bahkan selalu mengerjai Alya.
next...
__ADS_1