
"Ting.." bunyi notifikasi ponsel Alya.
"Hey cantik.. aku menunggu mu di parkiran". Isi notif dari Ben.
"Kau pulang duluan saja Ben, hari ini aku lebur ". Send
"What... Kau rajin sekali, karyawan Training sudah lembur aja". Ejek Ben.
"Bos memberikan pekerjaan tambahan ". Jawab Alya di sertai emot sedih.
"Ha-ha-ha semangat cantik, jika saja pekerjaan kita sama aku pasti sudah membantu mu, sayang aku di definisi keuangan ". Jawab Ben.
"Terimakasih Ben... Aku lelah tapi pekerjaan ini masih banyak ". Lagi-lagi Alya mengirim emot sedih.
"Selesaikan besok saja kalau begitu, jangan memaksakan diri mu cantik ". Notif Ben
"Bagaimana mungkin.. aku di minta untuk menyelesaikan laporan ini sebelum jam 11 malam ". Jawab Alya tak lupa dengan emot menangisnya.
"Lalu bagaimana... Aku ingin membantu mu tapi aku tidak mengerti sama sekali dengan pekerjaan mu". Ben
"Bantu aku dalam doa". Alya menjawab dengan pasrah
"So pasti... Semangat ya". Jawab Ben, tak lupa dengan dua emot love sebagai penyemangat.
"Yah..." Alya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi Alya segera mengerjakan laporan yang masih banyak itu, entah apa lagi yang minta di revisi ulang, setau Alya laporan itu sudah valid tapi entah dimana nya lagi yang minta di revisi.
3 jam berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 08:30 malam, kelaparan tentu saja melanda Alya...
"Jam begini apa kantin masih buka?". Batin Alya.
Alya melirik kesana-kemari, ternyata sepi, suasana kantor juga sangat menyeramkan dengan cahaya remang-remang .
Alya beranjak ingin keluar sebentar membeli makanan... Dan... Oh ternyata di luar sedang hujan deras bersama dengan itu..
"krruuuukkkkk..." Perut Alya juga berbunyi.
"Duh lapar banget..." Alya menyalakan senter ponselnya menuju ke kantin, ia berharap masih ada karyawan disana..
Ternyata kantin kosong, tapi untungnya ada beberapa roti di atas meja kasir juga air mineral, mungkin roti sisa tadi siang yang belum sempat di bereskan orang-orang kantin.
__ADS_1
"Syukurlah..." Batin Alya.
Bergegas Alya pergi dari sana dengan perasaan sedikit gelisah dan takut...
"Pyaaarrrrr....." Alya reflek menutup mulut saat mendengar sesuatu seperti keramik yang di banting.
"Apa itu?". Batin Alya, samar-samar Alya melihat ruangan tuan muda masih menyala, itu berarti beliau belum pulang.
Alya awalnya ingin mengabaikan suara tersebut ia berfikir mungkin itu vas bunga yang terjatuh karena kucing atau apalah Alya tidak perduli, lagian tidak ada pemberitahuan bahwa malam ini Indra akan lembur jadi Alya mengira tidak ada orang di ruang Indra.
"Braakkkkk...." Lagi Alya terkejut mendengar suara seseorang yang seperti sedang di aniaya.
"Ya ampun suara apa itu". Alya dalam hati ketakutan namun suara hati kecilnya lebih dominan yaitu penasaran.
Dengan berjinjit Alya mendekati ruang Tuan Indra...
"Deg..." Alya tercengang.
Dengan pintu yang di biarkan sedikit terbuka Alya menyaksikan Junsen tengah memukuli seseorang dengan brutalnya.
"Ap..apa yang terjadi..." Alya ketakutan setengah mati
Yang terjadi di ruang Indra adalah...
bahkan ada laporan masuk jika beberapa dari kuli bangunan mereka di paksa untuk membawa bekal sendiri setiap hari dan gaji juga tidak sepadan, dengan pekerjaan mereka.
Yah.. salah satu bisnis Indra lainnya yaitu properti... membangun rumah elit dengan harga milliaran yang di peruntukan untuk kalangan sultan, dan bisnisnya kini sudah tersebar di seluruh Indonesia, tidak hanya itu Indra juga memiliki kawasan perumahan tersendiri yang siap huni untuk kalangan menengah yang juga bisa untuk di cicil..
"Kalian pikir tikus kotor seperti kalian bisa lolos hah!!". Bentak Junsen.
Sementara Indra dia tengah mengamati mereka sembari bersandar di meja kerjanya dengan tangan terlipat di dada, matanya tajam memandang kedua bawahnya yang sudah berlaku Curang.
"Ampuni kami tuan, kami berjanji akan mengembalikan dana itu secepatnya". Ucap salah seorang dari mereka.
"Dengan cara apa hah!!!".
"Kami akan berusaha tuan". Jawabnya
"Cih... Sebaiknya tikus kotor seperti kalian membusuk saja di dalam sel tahanan!!".
Junsen tak hentinya menghajar mereka, darah juga sudah mulai menetes di bawah lantai, bahkan tangan Junsen yang menonjol pun sudah lecet.
__ADS_1
"Ja..jangan tuan.. anak dan istri saya masih butuh kehidupan jika saya di penjara bagaimana mereka akan hidup". Mereka memohon dengan sangat agar hal ini tidak sampai pada polisi.
"Oh kau masih ingat anak dan istri rupanya, lalu mengapa kau tega memberi anak istri mu uang hasil curian mu hah!!!". Bentak Junsen.
"Saya melakukan hal itu untuk operasi jantung anak saya tuan... Hiksss ji..jika tidak saya akan kehilangan anak semata wayang saya".
Junsen berhenti memukul juga menendang orang yang terkapar di bawah sana setelah mendengarkan penuturnya
"Apa maksud mu?".
"A..anak saya sekarang sedang di operasi jantung di rumah sakit tuan, jantungnya bermasalah dan harus di ganti, saya tidak punya cukup uang untuk membiayai pengobatannya, sehingga saya gelap arah dan melarikan uang perusahaan". Jelasnya.
Junsen dan Indra terdiam sebentar, ia kemudian beralih ke pria di sebelahnya yang sedari tadi diam tak berkutik saat di hajar.
"Lalu bagaimana dengan mu!!". Junsen bertanya pada teman di sebelahnya.
"Hmm.. it.itu uangnya saya pakai untuk membayar hutang orang tua saya di kampung tuan". Jelasnya.
Indra bangkit kemudian melihat mereka yang sudah terkapar bersimbah darah..
"Manusia bodoh, apa dengan mencuri dapat menyelesaikan perkara hah!! Kalian bisa meminjamnya bukan?". Ucap Indra.
"Tidak ada yang bisa meminjamkan uang sebanyak yang kami perlukan tuan... kami tidak memiliki apa-apa untuk di jadikan jaminan ".
"Ji..jika tuan berkenan, kami akan
mengabdikan diri untuk bekerja pada tuan tanpa di gaji jika tuan membebaskan kami". Mereka memohon dengan sangat.
"Ha-ha-ha penawaran yang cukup bagus tapi bagaimana dengan anak dan istri kalian yang masih butuh kehidupan, bukan kah kau melakukan segala cara untuk mereka termasuk membahayakan diri?". Tanya Indra.
"Benar tuan..." Mereka berucap dengan nada sedih.
"Aku akan mengampuni kalian tapi..." Indra berjalan sembari bersedekap tangan di hadapan mereka.
Mereka berdua menunggu dengan sangat ucapan apa yang selanjutnya akan Indra katakan.
"Kalian tidak lagi bekerja dengan ku dan.. aku tidak mau tau setiap bulan kalian harus menyicil setidaknya 20% dari uang yang telah kalian ambil.. ". Jelas Indra.
"Ta..tapi dari mana kami bisa mendapatkan pekerjaan lagi tuan..."
"Itu bukan urusan ku!!!... Aku sudah cukup baik dengan alasan yang kalian katakan untuk tidak menyeret kalian berdua ke sel tahanan, apa kalian pikir aku akan bodoh mempekerjakan lagi orang yang sudah merusak kepercayaan ku hah!". Bentak Indra.
__ADS_1
bersambung