
Mereka berdua sangat bersedih, mereka di pecat dari pekerjaan yang sudah membesarkan nama mereka namun karena sesuatu dan lain hal mereka terpaksa harus melakukan hal nekat hingga berakhirlah seperti saat sekarang ini .
"Ba..baik tuan, terimakasih untuk kebaikan anda".
"Kalian boleh pergi... Jangan lupa untuk membersihkan luka ... itu!"
"Terimakasih tuan". Mereka segera bangkit untuk pergi.
"Awasi mereka terus hingga dana yang sudah mereka ambil itu kembali..." Bisikan Indra pada Junsen.
Alya yang berada di luar tanpa sadar bergerak ingin bersembunyi ketika kedua karyawan itu keluar namun...
"Tak..tak..tak.." suara heels nya bergema di ruangan yang sepi, membuat Indra dan lainnya saling memandang, Indra menjentikkan tangannya kepada kedua karyawan yang sudah babak belur itu untuk segera pergi, karena itu bukan urusan mereka lagi.
Yah menertibkan karyawan yang berbuat curang adalah rahasia kantor juga adalah hak privasi Indra dan junsen...
Indra melirik dengan sorot mata tajamnya ke arah junsen seolah memberikan isyarat padanya untuk menangkap mata-mata tersebut.
Dengan anggukan mantap Junsen Keluar dari ruang dan menyalakan lampu...
Mata junsen menerawang mencari ke setiap sudut ruangan, tampak sepi tidak ada siapa-siapa disana, namun junsen bukan asisten yang bodoh.
Dengan cepat Junsen merogoh saku jasnya mengambil ponselnya lalu membuka cctv khusus yang tersambung lewat ponselnya.
Tidak berselang lama senyuman miring mengerikan tersungging di bibir Junsen...
Iya kemudian menutup ponselnya lalu menuju ruangan dimana Alya sedang ketakutan sembari mematikan komputernya..
Persetan dengan laporan yang belum selesai, Alya sudah ketakutan dia ingin segera kabur dari kantor, dia takut apabila Indra menangkapnya dan menganiayanya dirinya juga.
"Deg..." Baru saja Alya meraih tasnya untuk segera pergi dari sana namun...
Junsen sudah berada tepat di hadapannya dengan tatapan tajam bahkan dalam hitungan detik lampu menyala dalam ruang remang-remang tersebut.
"Amm..eh... Pak.." Alya tidak tahu harus berkata apa, mulutnya seakan di tutup dan lehernya seperti di cekik.
Junsen tersenyum miring memperlihatkan keganasan wajahnya.
"Sejak kapan kau jadi mata-mata di kantor ini!!!". Ucapnya datar.
__ADS_1
Alya menggeleng "sa.saya tidak sengaja tuan". Jawab Alya ketakutan.
"Apa mau mu? Mengapa kau selalu muncul dalam situasi seperti ini! Siapa yang menyuruh mu melakukan pekerjaan seperti ini!!" Junsen curiga Alya adalah mata-mata yang di kirim perusahaan lain untuk menghancurkan perusahaan Indra Jaya Company.
Alya lagi -lagi menggeleng sambil mengangkat tangan nya "saya sungguh tidak berbohong pak, demi Tuhan saya tidak sengaja melihat semuanya". Jelas Alya makin ketakutan.
"Semua orang yang ketahuan tidak akan mengakui perbuatannya... Sekarang kamu ikut saya ke ruang tuan muda ". Junsen segera menyeret tangan Alya dengan kasar ,
Alya tentu saja pasrah ..mau teriak?... Hahaha sama saja bohong itu akan semakin membahayakan hidupnya.
Tiba di ruangan Indra Alya di lempar begitu saja di bawah kaki Indra...
"Tu.tuan saya tidak bermaksud, saya sungguh tidak sengaja melihat kejadian tadi, saya disini hanya lembur tuan, ada laporan yang.."
"Berisik!!". Indra mengangkat dagu Alya, "oh kau lagi rupanya ". Indra menatap kesal.
Lagi dan lagi itu adalah Alya.
"Apa kau tidak bisa berhenti membuat ulah? ". Indra melepaskan cengkeramannya dengan kasar dari dagu Alya.
"Tu..tuan..."
Mata Alya melotot saking kagetnya, dia tidak sengaja melakukannya dan apa itu, dia di pecat? Langsung?.
"Tuan.. tolong jangan pecat saya hiksss... Saya butuh pekerjaan ini saya..."
"Saya tidak perduli, dan mengenai hal yang kamu lihat tadi anggap itu tidak pernah terjadi!!!". Ancam Indra.
"Jika tuan memecat saya, saya akan membeberkan rahasia ini ke publik!!".
Wow entah keberanian dari mana itu, Alya bahkan sampai menatap Indra dengan tajam,
Apapun akan Alya pertaruhan demi pekerjaannya di kantor, dia harus menepati janji untuk bisa sukses sendiri, Alya sudah mengambil resiko untuk keluar dari rumah masa iya Alya harus di pecat dengan semudah itu...
Indra membalikkan badan lalu meraih dagu Alya hingga membuatnya mendongak...
"Lakukan jika kau bisa!!!".
"Tuan pikir saya main-main?". Alya balik mengancam.
__ADS_1
Indra tersenyum dingin "kau tau siapa saya?". Ucapnya dengan Dingin.
"Ehmmm..." Alya terdiam sejenak, sambil menelan ludah, Alya tau Indra bisa melakukan apapun yang dia mau.
"Mari buat kesepakatan tuan!". Tawar Alya.
"Wow kau berani berucap seperti itu hah!!". Indra lama-lama tambah geram pada wanita satu ini.
"Saya hanya menginginkan pekerjaan ini tuan, jangan pecat saya dan rahasia anda aman atau media akan segera tau siapa anda yang terkenal baik dan tidak pernah terkena gosip miring". Ucap Alya
"Aku bisa saja membunuh mu jika aku mau, lalu apa yang kau maksud dengan membeberkan ke media tentang rahasia ku!!".
Seketika Alya mengangkat ponselnya yang ia pegang sedari tadi, ternyata dia baru saja merekam perkataan Indra, dan dengan kemampuan Alya hanya akan menekan tombol submit untuk menyebarkan rekaman tersebut...
Mendengar akan hal itu Indra terkejut, Junsen ikut terkejut jika rekaman itu tersebar reputasi Indra bisa hancur, nama baiknya juga akan tercoreng di dunia maya.
"Bagaimana tuan? Anda sudah bermain dengan licik tapi saya juga bisa bermain dengan cerdik bukan". Entahlah keberanian dari Alya Sekarang patut di ancungkan jempol.
apakah itu bisa masuk dalam kategori wanita pemberani...?
Atau Apakah karena didikan keras yang ia dapatkan dari Bu Nensy membuat karakter Alya terbangun, ataukah memang persaingan dunia luar membuatnya tidak bisa banyak diam, dia harus bertahan demi kelangsungan hidupnya bukan.
Indra tersenyum "kau lumayan juga". Indra sepertinya tertarik dengan wanita ini..
Indra sangat tau wanita di hadapannya ini ketakutan setengan mati namun ia masih bisa mengancam dan mengontrol pergerakan tubuhnya yang sedari tadi bergetar ketakutan...
Itu menakjubkan, bahkan dia adalah wanita pertama yang berani mengajukan kesepakatan dengannya, selama ini tidak satu orang pun yang berani bahkan junsen sekali pun akan menurut dan mengiyakan saja perkataan Indra.
Indra berfikir untuk tetap bermain dengan wanita ini, sungguh semakin menarik saja bagi Indra.
"Baiklah, aku tidak akan memecatmu..." Ucap Indra kemudian melepaskan cengkeraman nya dari Alya.
Alya melotot terkejut, apa semudah itu Indra mendengarkan ucapannya? Alya tidak tahu saja jika Indra merencanakan untuk membuat hari-harinya berantakan hingga dia muak dan memilih untuk keluar tanpa harus Indra pecat.
"Apakah tuan bersungguh-sungguh?". Alya memastikan.
"Tentu". menjawab dengan enteng
Junsen di samping tidak habis pikir dengan Indra, ini juga merupakan pengalaman pertama bagi Junsen melihat Indra mengiyakan perkataan orang lain yang merupakan ancaman bagian
__ADS_1
Next.....