
Indra menjadi merasa bersalah sekarang.
Segera ia berjalan menuju meja kerja, lalu mengambil telpon kantor untuk menghubungi dokter perusahaan...
"Iya tuan.."
"Dok keruangan Saya sekarang!".
"Baik tuan".
Segera dokter menuju lift saat sambungan telepon di matikan...
"Tok..tok..tok..."
"Masuk!". Jawab Indra.
"Ceklek..."
"permisi tuan, apa anda sedang sakit?". Tanya dokter dengan raut wajah khawatir sedikit panik...
Indra menggeleng kemudian mengalihkan pandanganya ke arah sofa di ikuti dengan dokter.
"Dia... Pingsan, coba periksa dia". Jawab Indra.
Dokter terheran, ingin mengajukan pertanyaan namun itu sama hal dengan bertanya pada dinding, tidak akan ada jawaban, lagi pula itu pasti adalah urusan pribadi Indra, dokter tidak memiliki hak untuk bertanya.
"Baik tuan". Segera dokter membawa peralatannya ke meja dan mengeluarkan stetoskop dari sana, kemudian lanjut memeriksa.
Indra berdiri Melihat...
"Bagaimana.. dia sakit apa?". Tanya Indra.
Dokter menggeleng "dia kelelahan, dia juga dehidrasi mungkin juga dia belum makan ". Jawab dokter.
"Belum makan?". Indra sedikit merasa bersalah telah mengerjai Alya segitu parahnya.
"Lalu bagaimana?". Tanya nya lagi.
"Saya akan memasangkan infus, untuk mengembalikan cairan yang hilang dan menambahkan vitamin.. setelah sadar nanti dia juga butuh asupan makanan". Jelas ibu dokter, kemudian mengambil selang infus juga mengeluarkan NaCl dari kotak P3K besar yang dia bawah.
" Bawakan makan siang yang banyak ke ruang ku!". Ucap Indra di balik telfonnya menghubungi junsen.
"Tapi..." Junsen ingin bertanya.. karena dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Indra makan dengan lahapnya tadi.
"Tidak pake tapi.. tapi...! cepat... Kau akan tau nanti".
"tut.. tut...Tut..".Panggilan pun berakhir.
Junsen yang kebetulan baru selesai dengan makan siangnya di kantin mengerutkan keningnya saat panggilan telepon berakhir..
__ADS_1
"Tuan muda semakin aneh". Ia menggelengkan kepala lalu beranjak ke meja karyawan kantin yang masih asik melayani karyawan lainnya...
"Bungkuskan aku beberapa makanan". Ucapnya dingin pada pegawai kantin.
"Baik pak". Segera mereka mengikuti perintah...
Yah orang kedua yang mutlak dan harus segera di laksanakan perintahnya adalah junsen, karena dia adalah tangan kanan Indra bahkan pengaruhnya pada perusahaan juga sangat banyak, dia juga sangat di segani dan di takuti karyawan di kantor...
Dia juga memiliki meja makan khusus tersendiri di kantin yang pastinya nyaman ...
"Silakan pak". Pegawai kantin memberikan keranjang yang terbuat dari rotan yang di dalamnya berisi beberapa jenis makanan.
"Hmm.." junsen menerimanya lalu segera ke ruang Indra.
Tiba di sana ia kebetulan berpapasan dengan dokter yang memeriksa Alya, kebetulan ia baru saja keluar dari ruang Indra.
Junsen semakin kebingungan dalam hati bertanya "ada apa?, Masa iya tuan muda sakit?, Atau..." Junsen menduga sesuatu hal terjadi di sana atau jangan-jangan Indra nekat melukai Alya.
Secepat kilat Junsen menyambar gagang pintu lalu mendorongnya dengan keras...
Indra membalikkan badan menatap terkejut pada Junsen...
"Apa yang terjadi tuan?". Tanya Junsen, dia lalu melihat Alya yang sedang berbaring di sofa dengan selang infus di tangannya.
"Dia pingsan..." Jawab Indra singkat lalu melangkah ke meja kerjanya.
"Apa Tuan memukulinya?". Junsen meletakkan keranjang yang ia bawah sembari menata makanan itu di meja.
"Lalu?". Tanya junsen.
"Dia dehidrasi... Merepotkan saja!". Gumam Indra, padahal yang membuat Alya kelelahan juga dia.
Junsen mengangguk " lagi pula mengapa juga kertas HVS di bawah kesini, konyol sekali!". Batin junsen.
"Tawari dia makan jika sudah sadar..." Ucap Indra dengan ketus.
Sok sok tidak perduli padahal dalam hati khawatir juga karena dia bermain cukup kelewatan.
"Baik tuan". Jawab junsen.
5 menit keheningan tercipta, Indra sesekali mencuri pandang melihat apakah Alya sudah sadar atau belum...
"Lama juga... Hmm apa dia akan segera sadar?". Tanyanya pada Junsen dengan nada cuek..
"Saya juga kurang tau tuan". Jawab junsen yang sedang duduk di sofa dekat Alya.
"Dehidrasi tidak akan membuat seseorang mati bukan?". Pertanyaan konyol macam apa itu...
"Hal itu bisa saja terjadi tuan.." jawab junsen ngasal.
__ADS_1
Indra mengerutkan kening " jadi maksud mu dia bisa saja meninggal sekarang?". Tanyanya dengan nada khawatir.
Dalam hati junsen tertawa, kondisi Alya baik-baik saja mana mungkin menyebabkan kematian...
"Saya juga tidak tahu tuan". Jawab Junsen..
"Panggil Kevin, dia bisa membuat wanita itu sadar." Ini sudah kali kedua Alya pingsan di hadapan Indra.
Sedetik kemudian Alya perlahan membuka mata, kemudian berkedip berulangkali menatap langit-langit ruangan.
Kepalanya sedikit pusing lantaran kelaparan..
"Nona sudah sadar?". Ucap Junsen..
Mendengar akan hal itu Indra segera bangkit berdiri melihat Alya "syukurlah". Batin Indra tanpa sadar.
"Kepala ku sakit". Alya memegangi kepalanya, sedetik kemudian dia sadar ternyata ada selang infus di tangan nya.
"Kau mungkin lapar, tuh ada makanan sebaiknya makan dulu". Indra menunjuk makanan yang sudah tersusun rapi di meja,
tentu saja dengan nada ketus seperti tidak ikhlas menawarkan ...
Ikhlas sih cuma gengsi adalah hal nomor satu dan harga diri Seorang Indra Herlambang.
"Nona jika sudah agak mendingan sebaiknya anda makan terlebih dahulu". Ucap Junsen, ia juga memberikan air pada Alya.
"Terimakasih pak". Alya menerima air tersebut.
Beberapa saat kemudian Alya mengambil makanan, lalu memakannya..
"Selesai makan kau boleh pulang, hmm junsen antarkan dia ke tempat tinggalnya ". Ucap Indra berpura-pura menatap layar komputer, sok sibuk padahal dia sedang gabut dan malah asal-asalan membuka aplikasi..
"Baik tuan". Ucap Junsen.
"Saya masih ada pekerjaan tuan". Jawab Alya.
"Tidak masalah kau boleh pulang beristirahat, dan bersiap-siap besok kita ke Amerika ".
Alya baru lagi teringat ternyata besok ia harus pergi bersama orang yang teramat menyebalkan itu ke luar negeri.
"Baik tuan". Menjawab dengan malas...
Setelah itu Alya pamit keluar dari ruangan Indra sembari membawa infusnya untuk pergi ke klinik perusahaan, untuk melepas infus di tangan nya, hanya satu lantai dari ruangan Indra dan selanjutnya iya pergi ke meja kerjanya, mengambil tas dan beberapa berkas di lacinya.
Misel melihat Alya sekilas, dalam hati dia sudah tidak mood untuk bicara dengan Alya namun rasa kepo lebih dominan menguasainya.
"Ada apa? Kau terlihat buru-buru?". Tanya Misel agak cuek sembari menatap komputernya seolah jual mahal pada teman sendiri.
"Ah ya.. aku kembali lebih awal, aku sedang tidak enak badan". Jawab Alya dengan senyuman, wajahnya masih pucat sedikit.
__ADS_1
sontak Misel melirik Alya "Kamu sakit?.. tapi tadi kamu sehat-sehat aja kan, kok sekarang kamu pucat banget?". ucapnya tidak sadar, masih punya rasa khawatir juga ya..
next....