Tuan Muda Menyebalkan

Tuan Muda Menyebalkan
Di pantau


__ADS_3

Alya memilih membersihkan diri kemudian iya bersiap-siap untuk ke kantor...


Setelah semuanya siap Alya keluar dari dalam kamar, sembari menuruni anak tangga, Alya melihat ada pak Yen yang menyambutnya di tangga.


"Selamat pagi nona muda" . Sapa pak Yen sembari tertunduk.


"Selamat pagi pak" menjawab dengan senyuman "Oyah tuan muda kemana pagi-pagi begini, tadi aku tidak melihatnya di kamar?". Lanjut Alya bertanya.


"Tuan muda ada perjalanan bisnis ke luar kota, nanti malam beliau baru akan kembali " jawab pak Yen.


"Ah begitu ya" . Jawab Alya kemudian melangkah dengan kaki yang berat ke meja makan, sungguh malas sekali jika harus terlibat sarapan dengan dua orang di hadapannya.


"Silahkan nona" . pak Yen menarik kursi untuk Alya.


"Terimakasih pak " . Jawab Alya yang di balas anggukan dan senyuman dari pak Yen .


"Wah wah nyonya muda baru bangun ya?". Ucap bu Vanessa menyindir.


Alya tunduk saja sembari mengambil sandwich "ini yang aku tidak suka dari mereka ". Batin Alya.


"Suami sudah pergi kerja, istrinya baru bangun.. ck..ck.. enak sekali ya". Lagi bu Vanessa menyindir.


"Mom aku sudah selesai, aku permisi duluan". Ucap Katrin sepertinya dia buru-buru mungkin sedang ada urusan.


"Okey". Jawab bu Vannesa dengan senyuman.


"Saya juga sudah selesai nyonya, saya permisi ". Alya ikut angkat kaki dari sana, sarapannya juga belum selesai.


"Nona habiskan dulu sarapannya". Panggil pak Yen.


Alya menoleh kemudian menjawab "Terimakasih pak Yen, tapi saya sedang buru-buru, nanti saya lanjutkan sarapannya di kantor ".


Hal itu alya lakukan karena tidak akan tahan dengan sindiran bu Vanessa, dan jalan satu-satunya adalah menghindar.


Alya segera menuju ke kantor di antar oleh supir pribadinya.


"Ini masih pagi tapi mood ku sudah berantakan karena sindiran". Alya terlihat kesal di atas mobil.


Mobil tiba di parkiran kantor...


Alya turun dan langsung masuk ke dalam lift untuk menuju lobby


"Hey Alya.. apa kau sudah sehat?". Tanya Misel yang juga baru sampai dan masuk ke dalam lift.


Alya mengangguk "seperti yang kamu lihat" jawabnya dengan senyuman.


"Syukurlah.. kemarin aku ke apartemen mu tapi kata tetangga kamar mu kau sudah lama tidak kembali ke sana, apa kau sekarang tinggal di rumah lama mu?". Tanya Misel..


Mereka sudah sampai di lobby dan mulai berjalan ke arah meja kerja mereka.


"Oh itu.. iya aku Sekarang sudah jarang di apartemen, biasanya juga aku tinggal di kos Lea teman kerja ku saat di laundry ". Dusta Alya, tidak mungkin dia akan mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Hmm benarkah... Pantas saja, Oyah tadi aku lihat kau turun dari mobil.. hmm mobil siapa?". Tanya Misel karena dia sempat melihat Alya terburu-buru turun dari mobil...


Alya berhenti sejenak "ternyata misel melihat ku". Batinnya.


"Oh itu.. mobil grab langganan ku" . Lagi Alya berdusta.


"Oh grab, aku pikir siapa". Misel terkekeh, sepertinya dia percaya.


"Hey Alya.. hey Misel.." sapa Ben yang datang dengan beberapa dokumen di tangannya...


Posisi alya dan Misel sudah berada di depan meja kerjanya dan siap untuk menyalakan komputer mereka.


"Hey Ben". Jawab keduanya.


"Ada berkas yang perlu kalian tanda tangani.. hmm ini tentang dokumen kehadiran kemarin yang turut serta ke lapangan membagi-bagikan sembako dan bantuan ke sekolah". Jawab Ben.


"Oh... Insentif ya". Jawab Misel nampak senang, dia melihat insentif karyawan lumayan juga satu karyawan di upahi 1jt untuk satu hari membantu di lapangan.


"Yaps..." Jawab Ben


Misel segera tanda tangan, selanjutnya Ben memberikan surat itu kepada Alya...


"Kemarin aku tidak ikut, apa aku juga harus tanda tangan?". Tanya Alya.


"Ah benar.. aku hampir lupa, jadi yang tidak ikut berarti tidak dapat insentif... Hmm sabar ya". Ben segera menarik surat tersebut dari meja Alya


"Hey apa tidak boleh curang? Maksud ku apa aku tidak bisa tanda tangan saja, untuk mendapatkan insentif... Uangnya lumayan banget". Gerutu Alya..


Yah tentu saja tuan muda selalu mengawasi dan mengintai pergerakan Alya.


"Hanya masuk angin". Jawab Alya dengan senyuman.


"Syukurlah, aku senang kau baik-baik saja". Jawab Ben..


"Hmm.. hmm mau sampai kapan disini? Sana kembali ke ruang mu". Usir Misel mencoba bercanda tapi dalam hati sedikit cemburu.


"Iya iya..." Jawab Ben kemudian pergi.


"Oyah hari ini masih ada kegiatan turun lapangan ke beberapa panti asuhan, apa kau mau ikut?". Tanya Misel.


"Boleh.. sekalian refreshing, diri ku sudah lama tidak melihat dunia luar". Jawab Alya.


"Hah? Memangnya siapa yang mengurung mu, bukankah kau selalu memiliki waktu bebas". Jawab Misel.


"Ha-ha-ha benar, aku banyak menghabiskan waktu luang ku untuk tidur". Sebenarnya Alya terkurung karena Indra.


"Ck..ck.. dasar". Misel menggelengkan kepalanya.


Selanjutnya mereka berkumpul di ruangan rapat untuk membagi dua Tim karena mobil yang mereka tempati tidak akan muat jika semuanya ikut dalam satu mobil sehingga harus menggunakan dua mobil


Alya memilih untuk ikut di mobil yang berbeda dengan Misel dan Ben meskipun Ben telah mengusulkan untuk mereka bertiga tetap dalam mobil yang sama namun Alya memberikan alasan...

__ADS_1


Maksud dari Alya memberikan alasan dan memilih mobil yang lain adalah agar Misel dan Ben dapat memiliki waktu satu sama lain.


Mereka akhirnya berangkat...


"Ting". Bunyi notifikasi ponsel Alya


Alya melihat nama raja Firaun di layar, segera dia membukanya.


"Bersenang-senang lah honey!!!😡". Notifikasi dari Indra yang di sertai emot marah.


Alya mengerutkan keningnya "apa maksudnya dengan emot marah, apa dia tidak suka aku turun lapangan.. bukankah aku sudah isin jauh-jauh hari". Batin Alya


"Ting". Notifikasi gambar.


Gambar screenshot saat Ben menyentuh keningnya tadi.


Alya kembali membelalakkan matanya "apa dia melihat hal ini di cctv, apa dia cemburu lagi! Itukan tidak sengaja, Cih.. menyebalkan sekali". Batin Alya.


"Ting ". Notifikasi lagi


"Aku akan memotong tangan bajingan itu 😠". Dari Indra .


Alya berdecak ngeri dengan ucapan Indra .


"Suami ku kau pasti telah salah paham, Ben sama sekali tidak sengaja melakukannya". Alya membalas notifikasi.


"Oh tidak sengaja ya... Kau membelanya?". Notifikasi dari Indra.


"Ah Matilah aku.. bukan seperti itu yang aku maksud serigala licik, kau pasti sedang merencanakan sesuatu bukan!". Batin Alya, dia juga kebingungan bagaimana cara menjelaskannya pada Indra yang tukang cemburu buta.


"Tidak suami ku, aku tidak membelanya.. hmm aku pasti sudah gila jika membela pria itu, andalah yang paling terbaik suami ku". Alya mencoba merayu..


"Aku tidak mau tau, jaga jarak dari bajingan itu! Ingat aku memiliki banyak mata-mata di sekitar mu, jangan sampai aku benar-benar memotong tangan pria itu jika berani sekali lagi menyentuh mu!!". Sebuah Peringatan keras dari Indra.


"Aku mengerti suami ku". Alya membalas dengan cepat.


"Ah sial... Bagaimana ini". Alya memijat-mijat keningnya.


Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di panti asuhan...


"Alya coba pegang ini, dan nanti buat laporan dokumentasi kita di lapangan". Ben memberikan sebuah kamera untuk dokumen.


"Okey". Alya mengambil kamera tersebut dengan sangat cepat..


Dia khawatir mata-mata yang Indra kirim untuk mengawasinya melihatnya.


"Kenapa?". Ben bertanya, Maksud pertanyaan Nya adalah "apakah ada yang salah, mengapa sikap Alya seperti berubah, seperti ada yang dia takuti".


"Tidak apa-apa Ben.. Oyah kita harus cepat ". Jawab Alya kemudian pergi berjalan bersama rekan kerja yang lain


Ben tertinggal masih kebingungan tapi setelah itu dia kembali bekerja.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2