
"Kita sudah tiba nona". Ucap Junsen.
"Emm ". Alya kemudian turun dari mobil.
"Nona jangan lupa berkas dan data diri anda". Junsen sebelumnya sudah memperingati Alya untuk membawa semuanya.
"Iya pak". Jawab Alya
Selanjutnya Alya membuat pasport dan visa untuk ke luar negeri...
...****************...
Setelah semuanya selesai Alya kembali ke kantor, masih banyak pekerjaan yang menumpuk, di mejanya juga banyak tumpukan laporan yang harus di revisi belum lagi makan siang tuan muda...
"Aaarrrrggghhhh lama-lama aku bisa gila hidup begini". Alya mengacak-acak rambutnya sembari bersandar di kursi.
stress rasanya menerima jadwal yang padat padahal ia masih baru dalam bekerja...
"Kau tidak membawakan makan siang untuk tuan muda, hmm ini sudah waktunya ". Ucap Misel di samping.
"Malas ah... Hufff aku capek!". Alya melihat tumpukan dokumen aja sudah capek apa lagi harus mengantarkan makanan pada tuan menyebalkan.
"Kalau sudah tidak sanggup resign saja". Ucap Misel kemudian beranjak dari tempatnya, ini sudah jam istirahat jadi dia akan ke kantin.
Alya mengerutkan keningnya " segala macam cara telah ku pakai bahkan sampai ngedrama sok kuat di hadapan tuan Indra untuk masuk ke perusahaan ini, dan segampang itu aku akan resign oh tidak..tidak.. itu tidak akan terjadi ". Alya menggelengkan kepala.
Dia kemudian bangkit berdiri, menuju ke kantin untuk mengambil makanan tuan muda.
"Hmm..hmmm". Ben berdehem ketika berpapasan dengan Alya...
"Ben?.."
"Sibuk banget ya sekarang?". Ben tersenyum.
"Iya nih, selain kerja aku juga di tunjuk sebagai ahli gizi bos ".
"Ada-ada saja... Perusahaan masih mampu menggaji orang luar atau ahli gizi profesional lainnya mengapa harus karyawan yang di ambil ". Jawab Ben.
"Nah itu dia, aku juga tidak habis pikir dengan perusahaan ini".
"Apa ini cuma akal-akalan bos biar bisa dekat dengan kamu". Jawab Ben ngasal.
"Husss... Mana mungkin begitu ". Alya
"Ya bisa aja kan, semuanya hanya modus". Jawab Ben, dia playboy kelas kakap jadi dia mengira Indra hanya memanfaatkan situasi untuk mendekati Alya, secara Alya gadis yang cantik dan memiliki daya tarik tersendiri..
"Jangan berfikiran negatif begitu nggak baik... Oyah aku ke ruang bos dulu ya". Alya pamit.
__ADS_1
"Okey, pulang nanti bareng aku ya". Ben melambaikan tangan ketika Alya sudah melangkah kan kaki
Alya menjawab dengan tersenyum sembari mengangguk...
Disisi lain Misel yang melihat itu sedikit irih, dirinya tidak pernah dilirik oleh orang - orang Kantor padahal kepintarannya cukup wow di bandingkan Alya, bahkan Misel bisa dengan hitungan menit menemukan sumber masalah jika ada sesuatu hal yang mengganjal di laporan perusahaan tapi kejeniusannya tidak juga di lirik, malah Alya karyawan biasa selalu mendapatkan perhatian.
Ben juga tidak mengenal Misel padahal mereka bertetangga, sungguh menjengkelkan..
Irih dan dengki menguasai Misel, awalnya dia sangat ingin berteman dengan Alya karena Alya yang terlihat cantik dan menarik tentunya dengan berteman dengan orang seperti itu maka pandangan bisa tertuju padanya namun dugaan itu salah, Alya sekarang malah menjadi saingannya.
"Menyesal aku membantu mu masuk ke dalam perusahaan ini Alya!". Batin Misel.
Sementara itu Alya sudah berada di hadapan Indra yang sedari tadi menatapnya dengan dingin sembari memainkan sebuah pena di tangannya.
"Kau terlambat 7 menit!!". ucap Indra sinis
"Maaf tuan". Alya tertunduk.
"Maaf mu tidak akan berguna jika hanya kata-kata, kau perlu di hukum... dan Sebagai hukumannya bawah kan aku kertas HVS sebanyak 7 Karton dari gudang!!". Ucap Indra mulai menyebalkan.
"Untuk apa tuan?". Tanya Alya.
Membawa Kertas HVS sebanyak 7 Karton dari gudang itu sangat melelahkan dengan jarak lumayan jauh .
"Aku tidak menyuruh mu bertanya!". Jawabnya dingin.
"Baik tuan". Jawab Alya kemudian beranjak dari ruang.
"Ha-ha-ha aku akan terus mengerjai mu sampai kau merasakan tulang-tulang mu remuk hingga kau muak sendiri!!". Senyuman licik terpancar dari Wajah Indra.
Tiba di gudang Alya langsung menendang karton HVS yang sudah tersusun rapi dengan sangat keras, Alya terlihat kesal dengan wajah memerah.
"Aduh...sial." Alya merintih memegangi kakinya.
Alya dengan muka cemberut mulai mengangkat satu persatu Karton HVS menuju ruangan bosnya yang sedang asik dan dengan lahapnya menyantap makan siang....
Junsen yang baru saja masuk ke dalam ruang Indra merasa heran, untuk apa Alya mengangkat karton HVS itu...
"Biarkan dia..." Ucap Indra saat junsen ingin membantu.
"Baik tuan, Oyah dokumen yang anda minta sudah siap tuan, dan tiket pesawat untuk besok juga semuanya sudah siap". Ucap Junsen.
"Bagus... Beristirahatlah, kau mungkin belum makan siang". Junsen terkejut mendengar kata-kata itu, selama ini Indra tidak pernah mengatakan hal itu bahkan dengan raut wajah ceria.
"Baik tuan". Jawab junsen.
Alya selesai membawa karton HVS setelah 30 menit berlalu, sungguh tenaganya terkuras habis, keringat membasahi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Alya masih terlihat ngos-ngosan, belum lagi dia belum makan siang...
"Semuanya sudah selesai tuan sesuai permintaan anda". Ucap Alya lalu mengambil rantang makan siang Indra.
"Sepertinya disana sedikit mengganggu pemandangan, hmm.. taru di sana saja". Indra menunjuk pojok kiri ruangnya yang terdapat akuarium kecil disana.
"Tap..Pi tuan". Alya ingin protes tapi ia ingat di perjanjian tidak boleh membanta.
"Baik tuan". Alya pasrah
Alya memindahkan 7 Karton itu lagi, sungguh tangan dan otot-otot nya sudah sakit sekarang.
10 menit berlalu...
"Sudah tuan". Ucap Alya.
Indra mengangkat kepalanya setelah selesai membaca dokumen yang junsen berikan tadi kemudian ...
"Sepertinya disana juga kurang bagus... Hmm coba pindahkan ke sana". Indra menunjuk pojok kiri yang mengarah ke luar jendela besar.
"kurang ajar!!". muka Alya memerah menahan marah..
"maaf tuan...!!". Alya berusaha menahan umpatan yang akan ia keluarkan
"Cepat ...!".
Alya mengangkat karton itu namun...
Kepalanya sedikit pusing sekarang, dia bahkan tidak memiliki tenaga lagi
Dan akhirnya...
"Bruk..." Alya jahuh pingsan yang membuat Indra terkejut.
"Ada apa dengannya, dia tidak meninggal kan?". Indra mendekat dengan cepat lalu menyentuh Alya, wajahnya sedikit panik.
Indra bernapas lega ketika melihat Alya ternyata hanya pingsan, Indra kemudian tersenyum "bagaimana kau lelah bukan?".
Ucapnya terkekeh...
namun tidak berselang lama
Indra pun tersadar dia tidak tega melihat kondisi Alya yang sudah kecapean bahkan sampai kehilangan kesadaran Akibat perbuatan Nya ia kemudian mengangkat tubuh Alya dan memindahkannya ke sofa.
Indra memandangi wajah Alya yang penuh dengan keringat, wajah gadis itu pucat sepertinya dia dehidrasi...
"Apa aku sudah berlebihan mengerjainya". Batin Indra..
__ADS_1
Dia menjadi semakin merasa bersalah sekarang.
Bersambung...