
"Yah suka-suka anda saja yang mulia raja Firaun". Batin Alya.
Melihat kekesalan Alya, Indra merasa puas bahkan gembira luar biasa, puas sekali jika mengusik ketenangan Alya.
"Perbaiki ekspresi wajah mu, aku tidak ingin kau tampil seperti itu saat kita di Amerika... Hmm tunjukkan senyuman seperti ini". Indra mencontohkan senyuman manis Pepsodent.
Alya malah membuang pandangan nya malas sekali melihat tingkah Indra yang menampakkan wajah happy.
"Hey!! Parasit apa kau tidak dengar!!". Teriak Indra.
"Iya tuan..." Segera Alya memberikan senyuman hingga menampakkan gigi giginya, tentu saja senyuman tidak ikhlas.
"Nah gitu dong...". Indra terkekeh.
"Boleh saya mengganti pakaiannya sekarang tuan?". Tanya alya dia sudah sangat kesal
"Okey, sekalian kau boleh bawah pulang semuanya". Jawab Indra.
"Sepertinya tidak perlu tuan". Alya tersenyum miring.
"Kau akan menyesal menolak barang branded gratis... Hmm kalau begitu bawah keluar saja dan buang jika kau mau". Jawab Indra ....
Orang kaya memang selalu bebas menghambur-hamburkan uang, gila aja kali ya membuang dress dan sepatu dengan harga yang fantastis bahkan bisa untuk beli satu mobil Avanza.
"Baik tuan". Jawab Alya.
Ia kemudian berbalik untuk mengganti pakaiannya di kamar sembari mengemasi beberapa dress yang sudah ia keluarkan tadi...
"Saya permisi tuan". Ucap Alya berpamitan saat keluar dari dalam kamar
"Hmm..." Indra mengibas-ngibaskan tangan tanpa menoleh, seolah menjawab iya dengan cueknya.
"Ck...". Alya berdecik bete'.
Sesampainya di bawah, Alya menuju tempat sampah.. awalnya dia ingin membuang dress-dress tersebut namun jika di pikir-pikir pasti harganya masih cukup mahal jika kembali di jual ke mall..
Hitung-hitung jugakan Alya bisa mengirim uang itu kepada Ayahnya...
"Ha-ha-ha Inde cemerlang". Batin Alya.
__ADS_1
Dia kemudian menaniki motornya untuk menuju ke mall.
Tiba di mall Alya baru saja mengeluarkan dress tersebut ke salah satu butik yang menjual barang-barang branded dan benar saja segera pemilik butik menawarkan harga cukup tinggi apa lagi dressnya masih baru, terlihat baru selesai di buat serta masih komplit dengan merk-nya.
Meskipun sebenarnya harganya turun sedikit karena di jual ulang namun Alya sama sekali tidak perlu, yang penting bisa di uangkan pikirnya.
"Terimakasih nona". Ucap Alya pada wanita disana.
"Sama-sama nona". Wanita tersebut tersenyum ramah
Setelah menerima transferan uang Alya segera mengirimkan uang tersebut kepada ayahnya, yang sudah jelas rekening itu di pegang Bu Nensy.
Baru saja selesai mengirim, Alya sudah mendapatkan telfon dari ibunya...
"Bunda". Calling ....
Alya sebenarnya malas menjawab tapi ya sudahlah dia juga penasaran dengan kabar orang rumah
" selamat Siang bunda, ada apa bund?". Ucap Alya tanpa basa-basi.
"Hmm..." Membalas sapaan Alya.
"Aku baik bunda, bagaimana dengan ayah dan.. hmm bunda?". Tanya Alya .
"Kami sehat... Tapi..". Terdengar helaan nafas panjang Bu Nensy
"Tapi apa bund?". Tanya Alya khawatir sedikit.
"Ayah mu sudah di pecat!.. mereka juga mengancam untuk mengembalikan uang yang pernah bunda pinjam, dan mobil perusahaan juga sudah di tarik... hmm Nak tidak bisakah kau kembali ke rumah, dan membicarakan tentang perjodohan ini baik-baik?". Tanya Bu Nensy cukup dengan nada lembut seperti biasa saat merayu.
"Maaf bund aku tidak bisa..". Segera Alya menolak.
"Baiklah.. lalu uang sebanyak itu kamu dapatkan dari mana? Bukankah kau belum cukup bekerja satu bulan!". Bu Nensy sangat penasaran, bahkan dia berfikir jangan-jangan Alya sudah berani nakal diri di luar sana...
"Hmm uang itu... It..itu tips dari majikan ku bund,". Jawab Alya ngasal, dia tidak mungkin berkata jujur kali ini.
"Tips sebanyak itu, tidak mungkin?". Pertanyaan Bu Nensy menekan.
"Yah.. aku menemukan benda berharga milik majikan ku yang sudah lama hilang, sehingga majikan ku mengapresiasi dan memberiku banyak tips". Alasan Alya.
__ADS_1
"Benarkah... Kau tidak berbuat aneh-aneh diluar sana kan Alya?". Bu Nensy memastikan.
Meskipun Alya tau itu bukanlah kepedulian Bu Nensy terhadap dirinya namun Alya sedikit merasa senang bahwa ada sedikit ke khawatir dalam pertanyaan itu meskipun sebenarnya Bu Nensy menanyakan hal itu karena dia tidak ingin reputasi keluarganya menjadi jelek di mata orang-orang.
"Alya tau jaga diri kok bund, tidak mungkin Alya nekat berbuat seperti itu". Jawab Alya.
"Baguslah, bay the way dimana kau bekerja, bos mu sangat baik berarti, memberikan tips tidak main-main ". Bu Nensy sangat penasaran
Bos dermawan seperti apa yang memberikan bonus kepada karyawan yang hanya mendapatkan barangnya yang hilang... sedikit tidak masuk akal, pikir Bu Nensy
"Bunda tidak perlu tau soal itu... Oyah sampaikan salam ku pada ayah.. ". Alya segera mengakhiri panggilan.
"Anak kurang ajar.. orang tua belum selesai..." Bu Nensy menggerutu.
Alya tau betul perubahan sikap Bu Nensy, selain karena uang yang ia transfer lumayan banyak, pastilah Bu Nensy akan membujuknya untuk kebali ke rumah, dan yang pasti terkadang Alya luluh dengan bujuk rayu Bu Nensy yang memiliki mulut manis dan licin seperti madu.
Itulah mengapa Alya tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Bu Nensy.
Alya kemudian melangkah, waktu sudah menunjukkan makan siang, sebaiknya Alya mengisi perutnya dulu di mall toh dia masih memiliki kartu kredit dari Indra jadi ya terserah, makan enak di mall sekali-kali lah...
Alya Lalu memesan beberapa jenis makanan dengan harga yang fantastis, bahkan minumannya saja di mulai dengan harga 250k wow Alya hanya melotot melihat itu semua.
Alya mengalihkan pandanganya, ternyata dia memasuki restoran Cina dan menu makanan disana memang adalah menu makan kalangan atas, apa lagi sekarang Alya sedang duduk di meja VVIP.
Sungguh dia tidak tau itu, dia hanya melihat jika meja itu masih kosong dan sangat indah, dia berfikir semuanya sama saja namun ternyata ada perbedaan harga.
Yah Alya tidak pernah makan di restoran mewah, meskipun ia pernah makan sebelumnya di mall namun itu hanya di tempat biasa yang menyediakan roti O.
"Selamat siang nyonya, anda ingin menu makan siang apa?". Ucap karyawan restoran yang menyediakan layanan super terbaik
Bahkan manager restoran pun datang menyapanya.
"Hmm..." Alya canggung, dia tidak terbiasa di perlakukan seperti itu.
"Saya ingin yang ini, ini dan ini... Oyah minumnya yang ini saja". Sungguh Alya hanya menunjuk asal karena dia merasa tidak enak di perlakukan istimewa seperti itu.
"Baik nyonya, silakan nikmati menu spesial dari kami sembari menunggu". Manager datang membawakan menu spesial yang ada di bawah piring, sangat sedikit tapi mewah...
Yah sudah pasti, tempatnya saja mewah begitu...
__ADS_1
BERSAMBUNG.....