Tuan Muda Menyebalkan

Tuan Muda Menyebalkan
permainan baru Indra


__ADS_3

"Terimakasih tuan ". Jawab Alya.


"Yah... Hmm bay the way, karena kau adalah Ahli gizi ku, kau juga harus bekerja ekstra untuk melayani ku bukan!! ". Ucap Indra, terbesit senyuman licik di bibirnya.


"Ekstra? Maksud tuan apa?". Tanya Alya penasaran.


"Aku mau kau tinggal di apartemen bersama ku, dan menjadi pelayan pribadi ku!!!".


"Tidak mau!!!". Jawaban tegas dari Alya.


Indra melotot... Tapi Alya melanjutkan.


"Orang-orang akan berfikir yang tidak-tidak tuan dan saya tidak ingin hal itu terjadi".


"Kau pelayan ku, siapa yang akan berfikir seperti itu hah!". Bentak Indra


"Saya tetap tidak mau jika harus tinggal seatap dengan anda tuan" . Sebagai wanita perawan tentulah Alya memikirkan hal-hal yang aneh.


"Kalau begitu kau harus datang di apartemen ku membersihkan, menyiapkan makanan sebelum berangkat kerja, dan menyediakan makan malam untuk ku!!!". Permintaan semakin aneh pemirsa


"Saya bukan robat yang bisa melakukan semua pekerjaan itu tuan!! Lagi pula anda memiliki banyak pelayan mengapa tidak meminta bantuan mereka!!!". menjawab dengan ketus


"Aku mau kamu yang melakukannya, bukankah tidak seimbang jika penawaran mu tidak bersyarat... Inilah resiko yang harus kau bayar karena tidak ingin di pecat". Jawab Indra.


Lagipula itu juga salah Alya yang bandel, dia terlalu kekanak-kanakan dan selalu mengambil resiko padahal dia sedang berhadapan dengan tuan muda...


Dimana rasa takutnya bahkan sampai berani melawan dan mengancam bos.. ha-ha-ha sungguh naif.


"Baik tuan". Jawab Alya menunduk.


Nyali Alya menciut saat mengingat adegan yang ia lihat tadi..


"Bersihkan itu". Indra menunjuk dengan matanya ke samping Alya di sana ada darah di bawah lantai.


"Hmm baik tuan". Jawab Alya, ketimbang harus di pecat mungkin lebih baik jika Alya menjadi wanita penurut saja sekarang


"Bagus". Senyuman terukir di wajah Indra,


sangat jelas dia menyukai permainan yang baru saja akan di mulai.

__ADS_1


"Ada apa sih sebenarnya dengan ku, mengapa aku menjadi seberani itu pada tuan muda bahkan aku selalu beranggapan bahwa yang aku lakukan itu sudah benar.. sungguh bodoh kau Alya". Alya mengutuki kebodohan-nya.


Entahlah susah untuk di jelaskan, Alya memiliki kepribadian aneh dan susah di jelaskan, gegabah dan cepat mengambil Keputusan tanpa memikirkan konsekuensinya.


Indra mengambil ponselnya di meja kemudian keluar dari ruangan untuk segera pulang...


Posisi di dalam mobil...


"Kau melihat wajahnya tadi?". Tanya Indra pada Junsen yang sedang menyetir.


"Iya tuan". Jawab.


"Dia wanita lucu dan menarik.. keras kepala tapi nyali hanya seumur kacang, aku semakin ingin bermain-main dengannya ". Ucap Indra, di barengi dengan tawa....


tunggu dulu, tawa yang sangat kencang... jika di ingat -ingat kapan ya terakhir kali Junsen mendengar tawa tuannya itu.


Indra membuang pandangannya ke Luar jendela mobil, hatinya entah mengapa merasa senang telah menemukan boneka hidup yang akan ia permainkan sepuasnya.


Sementara Mobil melanju dengan cepat membela kota yang mulai tidak padat...


"Junsen kau tau bukan apa yang akan kau lakukan untuk membuat efek jerah pada gadis naif itu ". Ucap Indra saat hendak keluar dari dalam mobil.


"Apa tuan sungguh ingin bermain-main dengan nya?". Junsen memastikan.


"Baik tuan".


Akhirnya Indra keluar dari dalam mobil dengan senyuman menghiasi wajahnya, tak biasanya seperti itu, selama ini hanya wajah kaku dan datar saja yang ia perlihatkan namun sekarang..


Apa itu lagi-lagi senyuman... Ha-ha-ha dia mungkin ketularan aneh sama hal dengan Alya.


Masih dengan Indra, entahlah dia menjadi sedikit aneh.


Tak biasanya dia menghabiskan waktu di kamar mandi, apa lagi hanya untuk mempermainkan rambutnya dengan busa sampo.. oh itu sangat konyol bukan.


Sesekali dia seperti anak kecil yang tertawa melihat pantulan dirinya di cermin, apa karena imajinasi untuk mempermainkan Alya begitu banyak di pikiran hingga membuatnya Menjadi aneh.


...****************...


sementara itu...

__ADS_1


Di sisi lain Alya berjalan lunglai ke apartemen nya, dia sedang memikir-mikirkan kejadian tadi, dan betapa bodohnya dia yang berani angkat kepala di depan tuan muda.


"Apa aku resign saja?". Alya bertanya-tanya dalam hati.


Tapi bagaimana, Alya memiliki cita cita yang banyak, jika dia resign maka bagaimana mungkin ia bisa mewujudkan impian tersebut.


Alya membuka pintu apartemennya dengan lesu, tatapannya seperti seorang yang sangat kelelahan, Alya kemudian membuang tasnya ke sembarang arah lalu membuang tubuhnya ke kasur...


Matanya mulai berkaca-kaca, hidupnya tampak semakin sulit sekarang, apa yang ia andalkan, bahkan Alya harus berpura-pura menjadi wanita keras kepala dan sok kuat di hadapan bosnya.


Air mata mulai mengalir, "bunda ini sedikit berat untuk ku" batinnya, Alya teringat pada ibu kandungnya.


Sempat terbersit dalam benaknya untuk menyerah saja namun ketika melihat deretan cita-cita yang sudah ia tulis di secarik kertas di depan cermin membuat dirinya kembali sadar untuk tetap berjuang.


"ini belum saatnya untuk menyerah, aku masih muda seharusnya memiliki hati yang tahan banting ".


Alya memiliki cita-cita untuk membuat bisnis usaha Kafe, impian yang sudah sejak lama ia gumuli.


Alya bangkit dari tempat tidur, mengambil secarik kertas lalu perlahan senyuman terukir di wajahnya saat melihat betapa dulu ia sangat antusias untuk membangun impiannya tersebut.. "jika bagi manusia mustahil tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil" bahkan ada tulisan kecil di bawah secarik kertas tersebut sebagai penyemangat.


"Ini baru awal Alya... Teruslah melangkah masih ada bahagia di hari esok, jika bukan hari esok mungkin besoknya lagi.. ayo semangat". Alya meyakinkan diri lagi di depan cermin.


Kemudian Alya bangkit untuk membersihkan diri, di bawah guyuran air shower Alya tersenyum membayangkan suatu saat ia akan menjadi pengusaha muda yang bisa mewujudkan impiannya tanpa bantuan orang tua.


Alya tertidur saat melihat hari sudah sangat larut, bahkan besok ia harus bangun ekstra pagi untuk berangkat dulu ke apartemen tuan muda yang rese.


...----------------...


"Tring.... tringgg.... Tringggggg...." Bunyi Alarm yang sudah Alya setel semalam.


Pagi hari sudah datang...


Alya baru saja memejamkan mata sebanyak 3 jam, namun ia sekarang harus bangun lagi...


Ada rasa malas namun demi impian Alya tentu harus melawan semua rasa malas dan kantuk yang menyerang


Sudah saatnya untuk bekerja, mewujudkan impian untuk masa depan yang lebih indah, tidak papa untuk saat ini mengorbankan banyak waktu tidur demi masa depan yang cerah.


"Semangat..."

__ADS_1


Alya berangkat ke apartemen Indra pukul 05:30 wita..


Bersambung...


__ADS_2