
Pak Burhan tidak menghiraukan rengekan anaknya, dia juga takut pada Tuan Indra.
"Junsen segera selesaikan semua perkara ini, ambil sertifikat rumah ini kembali!..." Ucap Indra pada Junsen .
"Baik tuan".
"Dan kalian... Semua Barang-barang yang sudah ada di luar bawah masuk kembali, dan letakan di tempatnya seperti semula, ingat jangan ada yang salah!". Ucap Indra tegas pada anak buah pak Burhan.
Mereka tidak mau sebenarnya melakukan itu lantaran takut pada pak Burhan namun saat pak Burhan mengangguk ke arah mereka, mereka hanya pasrah lalu keluar untuk mengembalikan semua barang-barang yang sudah mereka sita tadi dan mengembalikan seperti semula.
"Papi.. ayo lakukan sesuatu.. papi.." bujuk Aldy..
"Kita sebaiknya pulang sekarang, kapan-kapan kita datang lagi kemari". Pak Burhan menarik anaknya agar pergi dari sana.
Pak Burhan tau, Indra bisa dengan mudahnya menghancurkan perusahaan yang sudah ia rintis sejak lama, pak Burhan juga tau bahwa Indra bukanlah tandingannya, apa lagi jika Indra sampai mengusut tuntas mengenai pak Roy yang dia fitnah korupsi, bisa langsung jatuh miskin dia.
"Tidak ada kapan-kapan! Jangan menginjakkan kaki anda di rumah ini lagi!". Indra memperingati dengan tegas saat pak Burhan akan keluar.
Pak Burhan hanya diam sembari memaksa anaknya yang terus merengek tidak ingin keluar dari sana.
"Honey kau tidak apa-apa". Indra membungkus wajah Alya dengan kedua tangannya.
Alya mengangguk, wajahnya sudah sangat merah sekarang.
Tapi Indra melihat ada kegemasan di sana, dia senang melihat Alya yang salting di hadapannya.
"Emm.. bunda buatkan minum sebentar ya.." Bu Nensy dengan sigap berbenah, dia tentu bahagia sekarang...
"Biar aku saja bunda". Jawab Alya
"Ah tidak nak, biar bunda saja ya... Tuan silakan duduk". Bu Nensy dengan cepat menepuk-nepuk sambil membersihkan sofa bekas pak Burhan dan anaknya tadi duduk.
Alya melihat lagi tingkah caper ibunya yang seolah-olah sangat baik dan ramah.
"Bunda..." panggil Alya " tuan Indra minum kopi pahit". Alya memberitahu sebelum Bu Nensy asal membuat minuman.
Bu Nensy mengangguk mengerti..
"Oyah... Baiklah hampir saja bunda buatkan teh manis". Sambil terkekeh.
......................
"Terimakasih". Indra melangkah.. masih mengandeng Alya kemudian mengajak Alya untuk duduk bersama.
Pak Roy menjadi canggung, sekarang dia berhadapan dengan pemuda kaya raya yang sudah membebaskan dia..
__ADS_1
Terimakasih seperti apa yang dapat ia balaskan pada orang ini...
"Ehmm ayah.. dimana kak Owin". Tanya Alya.
Pak Roy baru saja tersadar, ternyata Owin sedari tadi di kunci oleh anak buah pak Burhan di kamarnya agar dia bisa diam dan tidak menghalang-halangi mereka.
"Tunggu sebentar, Ayah akan membukakan pintu untuknya". Jawab pak Roy kemudian pergi ke kamar Owin.
Melihat kepergian ayahnya refleks Alya melepaskan pelukan Indra dan memundurkan diri, seolah menjaga jarak.
"Maaf tuan hal ini terlihat berlebihan". Alya tertunduk.
" Bukankah harus seperti itu untuk meyakinkan kedua orang tua mu!". Indra menarik Alya kembali ke dalam dekapannya.
"Ta..tapi".
"Ssstttt... Masih ingat poin satu perjanjian kontrak!". Bisik Indra.
Alya memutar bola matanya, " perjanjian lagi perjanjian lagi". Kuping Alya menjadi sakit mendengar ancaman itu itu saja yang Indra keluarkan.
"Patuh dan tunduk hanya untuk ku saja!". Indra mengeratkan pelukannya membuat dia dapat merasakan seberapa bergetar gadis di dekapannya saat ini.. jantung Alya juga berpacu lebih cepat dari biasanya..
Dan anehnya Indra menyukai hal ini... Ha-ha-ha dasar modus
"Terimakasih banyak atas kebaikan anda tuan muda". Ucap Alya, dalam pelukan Indra Alya dapat menghirup wangi parfum yang sangat enak wanginya.. parfum itu pasti sangat mahal hingga Alya ingin terus menerus menciumnya.
"Bukan begitu cara berterimakasih honey". Indra semakin mengencangkan pelukannya hingga Alya sepertinya tidak sanggup untuk bernapas...
"Ba.baik tuan". Alya membalas pelukan Indra.
Duh sungguh itu sangat memalukan, dan sekarang Pak Roy dan Owin datang... refleks Alya melepaskan pelukannya, ingin menjauh tapi Indra masih mendekapnya.
"Hmm hmm..." Owin pura-pura berdehem cukup kencang namun itu semua tidak mempengaruhi Indra.
"Alya syukurlah kau datang tepat waktu". Ucap Owin.
"Siapa dia.. ". Indra melihat dengan sinis pada Owin.
Dan diam-diam junsen memperhatikan itu semua "ada apa dengan tuan muda, tingkahnya semakin aneh saja.. sumpah itu memalukan tuan!!". Ingin rasanya junsen meneriaki tuannya agar berhenti mendekap Alya sembari mencium ujung kepalanya.
"Iya kak". Jawab Alya...
Risih tentu saja, Alya rasanya ingin mencakar wajah Indra saat ini, mana sopan santun Indra di depan keluarga Alya, bisa-bisanya dia bertingkah aneh seperti itu..
Dari yang Owin lihat nampak dia juga kesal namun tidak enak bila akan menegur, karena ayahnya terlihat biasa saja, malah sepertinya memaklumi hal itu...
__ADS_1
Hey ada apa dengan orang - orang.
"Maaf tuan agak lama". Bu Nensy datang membawakan minum.
"Tidak masalah Bu". Junsen yang menjawab.
"Silahkan di minum tuan tuan". Bu Nensy sangat bersikap baik,
Owin tidak bertanya lagi siapa Indra karena saat pak Roy membukakan pintu untuknya, dia sudah jelaskan kejadian yang sudah terjadi.
"Terimakasih Bu". Jawab junsen.
"Honey kau tidak ingin mengambilkan kopi itu untuk ku". Indra bernada manja.
"Cih.. kau membuat ku muak tuan, sandiwara apa lagi ini". Geram Alya dalam hati namun sebisa mungkin ekspresi wajahnya terus memperlihatkan senyum.
"Akan aku ambilkan sayang". . .
Segera Alya mengambilnya lalu memberikan kepada Indra ..
"Jangan bilang raja Firaun ini mau di suapi.. oh no, tidak.. tidak aku akan gila jika bersamanya terus menerus seperti ini". Alya menggerutu dalam hati.
Untung saja Indra tidak meminta yang aneh-aneh, dia mengambil gelas itu dari Alya lalu meminumnya.
Setelah itu Indra meletakkan galas itu ke meja kemudian, ia bersandar di kursi sembari menarik Alya agar ikut bersandar di lengannya...
"Sungguh tidak sopan". Batin Alya.
Dari sorot matanya dia meminta maaf kepada keluarnya yang sedari tadi memandang tidak enak ke arah mereka.
Untung saja mereka mengerti dan berpura-pura seolah pemandangan di hadapan mereka sudah hal biasa.
"Hmm... Maaf pak, Bu ". Junsen membuka percakapan.
"Iya tuan". Jawab pak Roy.
"Sebenarnya maksud kedatangan kami kemari adalah untuk melamar anak ibu dan bapak". Junsen to the poin menjelaskan maksud kedatangan mereka..
Sebenarnya bukan itu tapi karena awal mereka datang tadi Indra sudah mengatakan akan menikahi Alya jadi junsen mau tak mau harus meluruskan ucapan tuannya.
"Benarkah... Ini berita yang luar biasa". Jawab Bu Nensy antusias.
"Kapan kalian berencana akan menikah?". Tanya Pak Roy.
next..
__ADS_1